HINDARILAH PENYAKIT MALAS

Surau Singgalang
(HU Singgalang, Syiar Ramadhan, Sabtu 3 Agustus 2013 (26 Ramadhan 1434H), hal.A-6)

Oleh Mas’oed Abidin

 

Rasulullah SAW bersabda, “Lakukanlah amal itu sebatas kesanggupanmu. Sesungguhnya Allah tidak akan bosan sehingga kalian merasa bosan, dan sesungguhnya amal yang paling disukai Allah ialah amal yang dikerjakan terus menerus sekalipun sedikit.” (HR.Muttafaqun ‘Alaih).

Adalah satu penyakit hati yang menghambat mengerjakan amalan yang baik yakni malas dan lamban beramal padahal sebelumnya rajin dilakukan, bahkan ada pelaksanaan amaliyah yang sebelumnya baik ternyata belakangan tidak pernah dilakukan lagi. Seperti jika di bulan Ramadhan yang mubarak ini rajin mendatangi masjid untuk shalat berjamaah namun setelah Ramadhan pergi berangkat pula sikap rajin dan berubah menjadi malas beribadah. Hal seperti itu sangatlah tidak baiknya. Kemalasan dapat tumbuh karena bersikap ghuluw atau ekstrim dan berlebihan memaksakan diri melakukan amaliyah ibadah tanpa mempertimbangkan kondisi fisik, kesehatan maupun psikis yang akhirnya melahirkan sifat malas lalai atau futuur. Rasulullah SAW bersabda: “Jauhilah sikap ghuluw (belebih-lebihan) dalam beragama, karena sesungguhnya orang sebelum kamu telah binasa akibat sikap itu.” (HR. Ahmad).

Malas dapat lahir karena melampaui batas kewajaran dalam hal makan minum. Abu Sulaiman dalam kitab Ihyaa’ ‘Ulumuddin mengatakan, “Barangsiapa yang terlalu (berlebihan) kenyang maka ia akan mudah ditimpa penyakit hati yakni : hilangnya rasa nikmat, tidak mampu memetik hikmah, lenyap rasa kasih sayang, malas dalam beribadah, dan menguatnya dorongan nafsu syahwat.” Karena itu hendaklah selalu menjaga tidak memisahkan diri dari berjamaah. Jangan senang hidup menyendiri. Kebersamaan akan melahirkan sikap berbagi. Kebersamaan mendorong sikap rajin membantu sesama. Rasulullah SAW bersabda: “Berjamaahlah kalian, karena sesungguhnya syetan menyertai orang yang sendiri, dan dia akan menjauhi orang yang berdua. Barangsiapa yang ingin masuk ke taman surga hendaklah ia komitmen dengan jamaah.” (H.R. Tirmidzi).

Kemalasan dapat tumbuh karena tubuh dimasuki yang haram atau syubhat. Rasulullah bersabda : “ Tubuh yang tumbuh dari sesuatu yang haram, maka ia lebih banyak tempatnya di neraka. ” (H.R At Tirmidzi). Menghindari yang diharamkan akan mamacu rajin mencari yang halal. Memotivasi diri giat berusaha. Menjauhi yang diharamkan adalah pertanda selalu ingat akan kehidupan akhirat. Tanamkan dalam diri bahwa kematian pasti datang. Rasulullah SAW bersabda: “Dulu aku melarang kalian berziarah kubur, namun sekarang berziarahlah, karena hal itu akan menjadikan sikap zuhud di dunia dan akan mengingatkan pada akhirat. ”(H.R. Ahmad). Maka janganlah menyepelekan kewajiban harian. Jangan menunda dan lalai mendirikan shalat wajib ataupun shalat rawatib. Senangilah tilawah al Qur’an. Jangan mengabaikan keperluan jasmani dalam beribadah. Jauhilah perbuatan dosa dan kemaksiatan. Tekunlah dalam berusaha dengan baik, jujur dan halal. Berupayalah menghadiri majelis-majelis ilmu. Bergaullah dengan orang-orang yang shaleh dan ahli ibadah. Jalankan ajaran agama secara sungguh. Hindarkan diri dari sikap berlebihan dan mubazir. Inilah amalan berketerusan walaupun Ramadhan telah pergi kelak.

Menipisnya keyakinan kepada hari akhir akan membawa seseorang berlarut-larut melakukan maksiat dan meremehkan dosa-dosa kecil. Rasulullah SAW bersabda: “Jika seorang mukmin melakukan dosa, berarti ia telah memberi setitik noda hitam pada hatinya. Jika ia bertaubat, tidak meneruskannya, dan memohon ampunan, maka hatinya kembali berkilau. Akan tetapi jika ia berulang-ulang melakukan hal itu, maka akan bertambah pula noda hitam yang menutupi hatinya, dan itulah ‘Ar Raan’ sebagaimana yang difirmankan ‘Azza wa Jalla, ‘Sekali-kali tidak (demikian), sebenarnya apa yang selalu mereka usahakan itu menutupi hati mereka.” (H.R. Ahmad dan Ashhaabus Sunan). Semoga kita terhindar dari penyakit malas beramal khairat. Amin. ***

Leave a Reply