MEMBIDIK PELANCONG LEBARAN, SAMBIL MENUAI INFLASI

Cuplikan Pendapat Buya di Berita Harian Haluan Minggu, 28 Juli 2013 00:25

 

Mudik, berjubel, salang-tenggang, inflasi, silaturahmi, hedonisme, konsumerisme, bergembira plus menggerutu sepanjang jalan di pusat kemacetan akhirnya menjadi warna baru berlebaran kita.“Tapi karena ini sesuatu yang sulit dihambat lajunya, maka yang terpenting sekarang adalah bagai mana semua pihak berusaha meniminalisasi mudaratnya,” kata Buya Mas’oed Abidin menyangkut pergeseran nilai dalam lebaran ini.

Menurut buya, tentu ada sisi negatifnya. Nah itulah yang perlu jadi perhatian semua kalangan. Kepulangan orang rantau hendaknya sama-sama membawa kebaikan. Yang pulang tidak menggerutu berkepanjangan dan menyalahkan orang di kampung yang tak pintar mengatur negeri, sebaliknya yang di kampung janganlah terputus pula kekaribkerabatan lantaran kemacetan lebaran ini. “Memang ada tren baru, perantau pulang tidak lagi menginap di rumah dunsanak di kampungnya, melainkan di hotel di Padang atau di Bukittinggi. Ke kampung hanya sekedar menyilau pusara leluhur. Ini dialami oleh keluarga-keluarga yang kerabat dekatnya sudah makin punah atau tak lagi tinggal di kampung itu. Tapi kita anjurkan, dunsanak jauh yang di kampung hendaknya berusaha mendekatkan kembali tali karib-kerabat itu dan mengajak saudara yang dari rantau (yang tak punya dunsanak dakek) untuk menginap di rumahnya. Ajaklah mereka pulang ke rumah dunsanaknya,” kata Buya Mas’oed.

Leave a Reply