MENELADANI NABI MUHAMMAD SAW

Surau Singgalang
(HU Singgalang, Syiar Ramadhan, Kamis 1 Agustus 2013 (24 Ramadhan 1434H), hal A-6)

Oleh Masoed Abidin

« Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladari yang baik bagi kalian (yaitu) bagi orang-orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia dia banyak menyebut Allah. » (QS. Al Ahzab : 21).

Ayat ini adalah petunjuk untuk meneladani Rasulullah saw. Yang berarti mentaati dan menyintainya. Adalah kewajiban setiap muslim selaku umatnya untuk dapat meneladani suri teladan dari Rasulullah SAW terutama bagi orang-orang yang senantiasa berharap rahmat Allah di dunia dan mengharap keselamatan di hari kiamat serta orang-orang yang selalu mengingati Allah baik berzikir dengan lidahnya maupun dalam hatinya. Muslim yang mengharap rahmat Allah akan selalu menghambakan dirinya kepada Allah. Perintah Allah senantiasa dilaksanakan sehingga dirinya terhindar dari apa yang dilarang oleh Allah SWT. Mengikuti dan meneladani Rasulullah saw adalah bukti bahwa seseorang itu menyintai Allah Subhanahu wa Ta’ala. Mengikuti sunnah dan meneladani Rasulullah akan menumbuhkan kecintaan Allah atas hambaNya dan bahkan menghapus dosa-dosa hambaNya.

Rasulullah SAW. diutus untuk segenap umat manusia dengan membawa wahyu yang Allah turunkan kepadanya untuk menyeru manusia kepada kebenaran dan memberikan peringatan dengan sifat yang mulia.

Diantara sifat mulia yang beliau miliki adalah sifat shidiq yang dengannya beliau digelari Al Amin yakni orang yang dapat dipercaya. Shidiq (as shidqu) artinya benar atau jujur. Sifat shidiq tampak dalam tiga hal. Pertama Shidqul qalb yaitu benar hati atau kejujuran hati nurani yang hanya dapat dicapai dengan iman kepada Allah SWT dan bersih dan segala macam penyakit hati dan didukung oleh sifat ihsan. Selanjutnya Shidqul hadits yaitu benar atau jujur dalam ucapan perkataan bahwa ucapannya adalah kebenaran terhindar dari bohong dan dusta.

Terakhir adalah Shidqul ‘amal yaitu benar perbuatan atau beramal shaleh sesuai dengan syari’at Islam. Sifat shidiq mengantarkan seseorang ke pintu kebahagiaan di dunia maupun di akhirat. Rasulullah saw bersabda: “Hendaklah kamu semua bersikap jujur, karena kejujuran membawa kepada kebaikan dan kebaikan membawa ke surga. Seseorang sang telah jujur dan mencari kejujuran akan ditulis oleh Allah sebaqai seorarig yang jujur (shidiq). Dan jauhilah sifat bohong, karena kebohongan membawa kepada kejahatan, dan kejahatan membawa ke neraka. Oranq yang se1a1u berbohonq dan mencari-cari kebohongan, akan ditulis oleh Allah sebaqai pembohonq (kadzdzab)”. (HR. Bukhari).

Sikap jujur atau shiddiq membawa manusia kepada bertindak benar dalam pergaulan atau Shidqul mu‘amalah dalam berinteraksi sosial ditengah masyarakat dan dalam keluarganya. Jujur dalam bermu’amalah menghindari sifat sombong dan riya’. Segala sesuatu dilakukan diatas alas lillahi ta‘ala yang diarahkan kepada siapa saja tanpa memandang kekayaannya, kedudukan atau status lainnya. Allah SWT berfirman: “Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatupun. Dan berbuat baiklah kepada dua ibu bapak, karib kerabat, anak yatim, orang-orang miskin, tetangga yang dekat dan tetangga yang jauh, teman sejawat, ibnu sabil, dan sahayamu. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membangga-banggakan diri.“ (Q.S. An Nisaa’ 36).

Sebelum melakukan sesuatu seorang muslim menimbang secara matang apakah tindakannya benar dan mendatangkan manfaat bagi orang lain. Mereka memiliki Shidqul ‘azam atau perencanaan benar yang akan dilakukan dengan bertawakkal kepada Allah SWT sesuai firmanNya, “Apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya.“ (Q.S. Ali Imran:159).

Karena itu, sifat shidiq dalam diri seseorang sangat berharga. Apabila seseorang telah kehilangan sifat shidiq, maka hilanglah arti dirinya, karena tiada lagi yang mau mempercayainya. Allahu a‘lam bishawab. ***

Leave a Reply