IQRA’, PERINTAH PERTAMA KEPADA RASULULLAH

Surau Singgalang
(HU.Singgalang, Syiar Ramadhan, Rabu 31 Juli 2013 (23 Ramadhan 1434H), hal.A-6)

oleh Masoed Abidin Jabbar

Iqra’ (bacalah) denqan menyebut nama Tuhanmu yang menciptakan. Dia telah Menciptakan manusia dari segumpal darah. Iqra’ (bacalah), dan Tuhanmu lah yang Paling Pemurah, sang Mengajar (manusia) dengan perantaraan kalam. Dia Mengajarkan kepada manusia apa sang tidak diketahuinya. (Q. Al ‘Alaq: 1-5). Wahyu Allah ini diturunkan di saat Muhammad saw hampir mencapai usia empat puluh tahun. Di masa itu masyarakat dilingkungan beliau hidup dalam kejahiliyahan dan kemusyrikan. Dalam kondisi seperti itu Muhammad memilih mengasingkan diri di suatu gua yang tidak terlalu jauh dari Makkah yakni gua Hira di Jahal Nur.

Mengasingkan diri ini termasuk satu didikan Allah atas beliau yang dipersiapkan untuk menerima urusan besar membimbing umat dengan keyakinan tauhid dan akhlak mulia. Di gua Hira wahyu Allah SWT untuk pertamakali turun kepada Muhammad saw diawali perintah untuk membaca (iqra’ = bacalah). Perintah tersebut tidak ditujukan pada obyek tertentu. Perintah ini memiliki makna yang bersifat umum. Perintah ini tidak pula bersifat mutlaq tetapi muqayyat atau bersyarat.

Perintah iqra atau membaca ayat wahyuniyah ini bukanlah membaca yang bebas nilai. Perintah iqra mesti dengan bismi rabbika alladzi khalaq yakni dengan nama Tuhan yang Maha Menciptakan. Inilah beda nyata membaca bernilai ibadah dengan membaca biasa yang sering berisi kesia-siaan. Perintah iqra (bacalah) menghendaki perpindahan dari pasif menjadi aktif dan dari diam kepada gerak. Membaca yang tertulis, sehingga pengetahuan bertambah.

Bacalah yang diajarkan oleh Jibril utusan Tuhan sampai mengerti dan memahami rahasia alam agar menjadi sadar dan mendapatkan cahaya iman. Membaca Al-Qur’an berarti menimba ilmu dari Al Qur’an. Membaca tidak sekedar mengeja tanpa meresapi maknanya. Perintah iqra’ atau membaca serta memahami ayat-ayat Allah sebagai kalamullah yang termaktub dalam Al Qur’anul Karim (al Aayaat al Qauliyyah) serta membaca ayat-ayat Allah yang terbentang luas di alam semesta (al Aayaat al Kauniyah).

Dalam Al Qur’an ratusan ayat memerintahkan agar melihat, memerhatikan, memikirkan, merenungkan dan perintah semakna membaca untuk meraih cahaya iman. Untuk itu manusia dibekali dengan instrumen atau alat melalui pancaindra penglihatan, pendengaran, penciuman, perasaan yang menempati posisi sangat penting untuk menangkap pesan tentang benda-benda dan keadaan dilingkungan sekelilingnya.

Manusia pula dibekali akal yang memiliki kemampuan mengumpul data, menganalisa, mengolah dan membuat kesimpulan dari yang telah tertangkap oleh pancaindra. Kemudian dilengkapi dengan ilham bagi insan yang melakukan musyahadah melalui perenungan zikrullah, ibadah dan taqarrub mendekatkan diri kepada Allah SWT.

Terakhir adalah hidayah atau wahyu Allah yang membimbing manusia agar tidak terperdaya oleh indra dan akal yang terbatas kemampuannya. Wahyu memberikan kepastian kepada akal untuk tidak menerawang tanpa arah yang dapat membawa manusia tersesat dari kebenaran yang sesungguhnya. Wahyu adalah pengetahuan dan kebenaran tertinggi. Wahyu datang dari Dzat Yang Maha Tahu segala rahasia alam semesta. Wahyu Allah adalah kebenaran yang bersifat mutlaq.

Berkembangnya budaya peradaban manusia di era globalisasi modern maka kondisi masyarakat juga mengalami perubahan sangat drastis. Tuntutan hidup dalam segala aspek menggiring manusia kepada penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi sebagai prasyarat imperatif bagi perkembangan dan inovasi peradaban semua ras manusia. Kewajiban untuk belajar tidak dapat dielakkan. Belajar kepada alam secara rasional dengan bimbingan kalamullah. Di sinilah baru manusia dapat meraih kebahagiaan dunia dan akhirat. Insyaallah.***

Leave a Reply