Zakat dan Penyucian Harta

Suaro Surau Singgalang
(HU Singgalang, Syiar Ramadhan, Selasa 30 Juli 2013 (22 Ramadhan 1434H) hal. A-6)

Oleh Masoed Abidin

Hampir menjadi tradisi daerah kita menyeiringkan ibadah puasa dengan pembayaran zakat. Malah para hartawan menjadikan bulan Ramadhan sebagai bulan perhitungan zakat dan membagikan kepada mustahik dibulan ini. Sesungguhnya tindakan seperti ini adalah pilihan terbaik sesuai firman Allah, “Ambillah zakat dari sebagian harta mereka. Dengan zakat itu kamu membersihkan dan mensucikan mereka, dan mendo’alah untuk mereka. Sesungguhnya do’a kamu itu (menjadi) ketentraman jiwa bagi mereka. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (Q.S At Taubah: 103).

Pengertian Zakat menurut bahasa bermakna tumbuh, berkembang, bertambah, subur, menyucikan atau membersihkan. Menurut istilah zakat adalah mengeluarkan sebagian harta yang sudah mencapai nisab kepada orang-orang yang berhak menerimanya (mustahiq) sesuai syarat yang telah ditentukan.

Hendaklah dipahami sesungguhnya pemilik seluruh alam raya dan seluruh isinya adalah Allah Rabbul ‘Alamin. Termasuk pemilik hakiki harta yang sedang ada di tangan kita. Seseorang yang beruntung dengan kekayaan itu pada hakikatnya hanya menerima titipan amanat untuk dibelanjakan sesuai kehendak pemilik hakiki yakni Allah Azza wa Jalla.

Zakat, infaq dan shadaqah mempunyai ketentuan sesuai ketetapan Sang Pemiliknya yaitu Allah SWT yang diperuntukkan bagi kebaikan seluruh hamba Allah serta kesejahteraan umat bersama.

Imam Qurthubi mengatakan, “mengeluarkan zakat oleh seseorang muzakki adalah menjadi bukti kebenaran iman orang yang mengeluarkannya. Menjadi bukti pula bahwa dianya bukan golongan orang munafik.

Bahkan menjadi bukti kebenaran cintanya kepada Allah serta tanda kesungguhan mengharapkan pahala atas apa yang telah diberikan Allah kepadanya”. Sesungguhnya harta kekayaan bukan untuk kebanggaan. Harta memiliki nilai tertinggi pada manfaatnya bagi orang lain dilingkungannya. Konsep Islam dalam memerangi kemiskinan dimulai dengan menolak kekikiran, memerangi pemborosan, dan membatasi kemewahan dengan sikap qanaah.
Allah Subhanahu wa Ta’ala mengancam dengan keras orang yang kikir dalam membelanjakan hartanya di jalan Allah. “…Dan orang-orang yang menyimpan emas dan perak dan tidak menafkahkannya pada jalan Allah, maka beritahukanlah kepada mereka, (bahwa mereka akan mendapatkan) siksa yang pedih. Pada hari dipanaskan emas dan perak itu dalam neraka jahannam, lalu dibakar dengannya dahi mereka, lambung dan punggung mereka (lalu dikatakan) kepada mereka : “Inilah harta bendamu yang kamu simpan untuk diri kamu sendiri, maka rasakanlah sekarang (akibat dari) apa yang kamu simpan itu”. (Q.S. At Taubah : 34-35).

Rasulullah bersabda, “Jauhilah kekikiran. Sesungguhnya kekikiran telah membinasakan orang sebelum kalian. Kekikiran telah mendorong mereka menumpahkan darah dan menodai kehormatan mereka.” (HR. Muslim, Abu Dawud, Nasa’i, Ibnu Hibban dan Al Hakim).

Dengan memahami kaidah agama jelaslah pelaksanaan zakat mengikis sifat-sifat kikir dalam diri seseorang. Melatih sifat-sifat dermawan. Mengantarkan kepada mensyukuri nikmat Allah. Meninggikan kualitas keperibadian. Menumbuhkan ketentraman bagi penerima dan pemberi zakat, infaq dan shadaqah. Ujungnya mengembangkan kekayaan pemiliknya.

Pengembangan ini dapat ditinjau dari dua sisi. Pertama sisi spritual, berdasarkan firman Allah dalam surat Al Baqrah ayat 276 : “Allah memusnahkan riba dan menyuburkan sedekah atau zakat.”

Kedua sisi ekonomis-psikologis, yaitu ketenangan batin dari pemberi zakat, shadaqah dan infaq akan mengantarkannya berkonsentrasi memikirkan usaha pengembangan hartanya.

Bagi penerima zakat atau infaq dan shadaqah akan mendorong terciptanya daya beli baru dan niscaya akan mendatangkan keuntungan baru bagi pemberi zakat atau infaq dan shadaqah tersebut. Wallahu a’lamu bis-shawab.***

Leave a Reply