IMARAH MASJID

Surau Singgalang

(HU Singgalang, Syiar Ramadhan,Sabtu 27 Juli 2013 – 19 Ramadhan 1434H, hal.A-6)

 

Memakmurkan masjid masa ini adalah menetapkan visi untuk menentukan program pembinaan  yang akan dilakukan. Pengelolaan Masjid berkehendak kepada gerak yang kontinyu, utuh dan terprogram. Hasilnya tidak mungkin di raih dengan kerja sambilan. Dalam langkah dakwah menuju redha Allah, setiap muslim berkewajiban menapak tugas tabligh (menyampaikan). Selanjutnya dakwah atau mengajak dan mewujudkan ajakan itu dalam kehidupan agama yang mendunia. Adalah satu keniscayaan belaka bahwa peran masjid atau surau akan berkembang terus sesuai dengan variasi zaman yang senantiasa berubah. Namun, pengelolaannya tetap di bawah konsep mencari ridha Allah.

Masjid adalah sarana menegakkan ibadah dan menyusun umat. Islam tegak dengan jalinan jamaah. Suburnya ibadah dan mu’amalah dengan Khaliq serta mu’amalah dengan makhluk. Ini kaji yang sudah terang perintah wajibnya. Masjid adalah warisan Risalah Islam berfungsi sebagai pangkalan Umat dengan membina jamaahnya, menambah wawasan agamanya, meninggikan kecerdasan, menanamkan akhlaq, mendinamiskan jiwanya dan memberikan pegangan bagi para anggota masyarakat guna menghadapi persoalan hidup. Langkah langkah terencana amat berguna bagi mendukung percepatan pembangunan komunitas masyarakat Muslim di lingkungannya sendiri. Mestinya langkah itu berawal dari mengakui keberadaan mereka, menjunjung tinggi puncak-puncak kebudayaan mereka, menyadarkan mereka akan potensi besar yang dimiliki, mendorong kepada satu bentuk kehidupan yang bertanggung jawab dengan nawaitu lillahi Ta’ala. Inilah tuntutan Dakwah Ila-Allah.

Tugas dakwah yang terlaksana di masjid haruslah mencakup menyeru kejalan Allah dengan petunjuk yang lurus. Menyeru manusia untuk menyembah Allah agar manusia tidak menjadi musyrik. Menyeru manusia agar beribadah mempersiapkan diri untuk kembali kepadaNya. Tugas ini menjadi program utama pengelolaan masjid dengan manhaj-nya adalah Alquran dan Sunnah Rasulullah SAW. Pengorganisasian masjid perlu ada Da’i – Imam, Khatib, Tuanku, alim ulama  –. yang meneladani peribadi Muhammad SAW dalam membentuk effectif leader menuju kepada inti agama Islam adalah tauhid dan implementasinya adalah Akhlaq. Umat pun disadarkan mendatangi masjid dengan berpakaian sopan dan indah. Allah SWT telah memberikan bimbingan, ”Hai anak Adam, pakailah pakaianmu yang indah di Setiap (memasuki) mesjid. Makan dan minumlah, dan janganlah berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan.” (QS.7 Al A’raf ayat 31). Dengan demikian umat akan kembali berjaya melalui kebersihan dan keindahan, sehingga umat binaan masjid mampu mengisi seluruh sisi aktivitas kehidupan dengan kemampuan bergaul, menyintai, berkhidmat secara bersama-sama, sehinga membuahkan agama yang mendunia. Usaha ini akan menjadi gerakan pengelolaan masjid purna yang mampu mengantisipasi arus globalisasi negatif dan sudah semestinya menjadi visi pengelolaan masjid dalam program  kembali ba surau.

Khulasahnya, dalam mengelola masjid perlu  peningkatan manajemen yang lebih accountable dari segi keuangan maupun organisasi. Sumber finansial masyarakat dapat di pertanggung jawabkan lebih efisien. Peningkatan kualitas pembinaan melalui masjid dapat dicapai. Segi organisasi dapat hidup terus bergairah giat dan dapat menjawab tantangan zaman. Pengembangannya berorientasi kepada mutu. Pembinaan masjid dengan program pendidikan, majlis ta’lim dan ekonomi umat dikembangkan menjadi lembaga center of exellence menghasilkan generasi berilmu komprehensif dengan pengetahuan agama, berbudi akhlaq serta terampil. Pengembangan masjid dan surau seharusnya dapat menjadi inti dan pusar dari learning society, masyarakat belajar. Sasaran pengelolaan masjid semestinya dapat membuat anak nagari menghasilkan generasi baru yang terdidik, berkualitas, capable, fungsional, integrated di tengah kehidupan bermasyarakatnya di semua zaman. Insyaallah.

Leave a Reply