Membangkitkan Kesadaran Kolektif Akan Nilai Agama Islam di dalam Norma Dasar Adat di Minangkabau

  • Adatdan Budaya Minangkabau  dibangun  di atas Peta Realitas

 

Adat Minangkabau dibangun di  atas ”Peta Realitas”, yakni Adat yang bersendi kepada “Nan Bana”.Dikonstruksikan secara kebahasaan. Direkam terutama lewat bahasa lisanberupa pepatah, petatah petitih, mamang, bidal, pantun, yangsecara keseluruhan dikenal sebagai Kato Pusako. Ditampilkan lewatberbagai upacara Adat serta kehidupan masyarakat se-hari-hari.

 

 

Kato Pusako menjadi rujukan didalam penerapan perilaku di dalamkehidupan masyarakat Minangkabau. Pokok pikiran ”alam takambang jadi guru”meletakkan landasan  filosofis AdatMinangkabau atas dasar pemahaman yang mendalam tentangbagaimana bekerjanyaalam semesta serta dunia ini termasuk manusia dan masyarakatnya. Merekatelah menjadikan alam semesta menjadi ”ayat dari Nan Bana”.

 

 

Dalam peta realitasnya, terungkap di dalam ”kato”yang menjadi mamangan masyarakatnya, di antaranya di dalam Fatwa adat menyebutkan, “Alang tukang tabuang kayu,Alang cadiak binaso adat, Alang alim rusak agamo, Alang sapaham kacau nagari.Dek ribuik kuncang ilalang, Katayo panjalin lantai, Hiduik jan mangapalang, Koktak kayo barani pakai. Baburu kapadang data, Dapeklah ruso balang kaki, Bagurukapalang aja, Bak bungo kambang tak jadi”. 

 

Denganperkataan lain, Adat yang bersendi kepada “Nan Bana” sekaligusjuga Pedoman serta PetunjukJalan Kehidupan (PPJK) Masyarakat Minangkabau.

 

Karena itu Membina perilaku beradat danberagama di Minangkabau menjadi kerja utama setiap individu di dalam nagarihingga dusun dan taratak, sebagaimana diungkapkan ;

 

Rarak kalikih dekmindalu,  tumbuah sarumpun josikasek,  Kok hilang raso jo malu, bakkayu lungga pangabek” 

 

dan

 

Nak urang KotoHilalang,  nak lalu ka pakan baso,  malu jo sopan kalau lah hilang,  habihlah raso jo pareso”.

 

 

 

  • Merenda Adat Minangkabau

 

 

Para pemikir telah mengakui dan memahami keberadaan Nan Bana,Nan Badiri Sandirinyotermasuk Alam Terkembang Jadi Guru.[1] Selanjutnyamenjadikan alam semesta menjadi ”ayat dari Nan Bana” atau ayat kauniyah.

 

Konsep ”Adaik basandi ka mupakaik,mupakaik  basandi ka alua, alua basandika patuik, patuik basandi ka Nan Bana, Nan Bana Badiri Sandirinyo”menunjukkan bahwa sesungguhnya para filsuf dan pemikir yang merenda AdatMinangkabau telah mengakui keberadaan ”Nan Bana, Nan BadiriSandirinyo”. Artinya, kekuasaan dan kebenaran hakiki ada pada kekuasaanTertinggi. Di dalam ajaran Islam dipahamkan dan bahwa Nan Bana (al Haqqu) itu berada ditangan Allah Ta’ala semata (wahdaniyah, Sendiri). Ini dapat dimaknai sebagailandasan masyarakat bertauhid.

 

 

 

  • KehidupanMasyarakat Minangkabau adalah Beradat Beradab dan Beragama

 

 

Kegiatan hidup masyarakat Minangkabaudipengaruhi oleh berbagai lingkungan tatanan (”system”) pada berbagaitataran (struktur). Tatanan Nilai dan norma dasar sosial budayaorang Minang menjadi Pandangan Dunia dan Pandangan Hidup (PDPH)dari orang Minang.

 

Tatanan  ini menjadi WARISAN BUDAYA  yang dibangun berdasar  Petatah Petitih (klasifikasi), peradaban  (historis),  Peta realitas alam  (inti pemahaman dalam idea) danKeyakinan  Agama Islam  (anutan kepercayaan),Warisan Budaya ini jelas sekali tampak pada Aspek Perilaku, padabentuk-bentuk khusus tabiat, Lagu, rituals, kelembagaan, Struktur masyarakatdan pengorganisasian kegiatan di Minangkabau itu. Disamping itu warisan budayatersebut terang pula terlihat pada Aspek-Aspek Fisik seperti padabenda bersejarah, peralatan,  senjata,bangunan bersejarah dan hasil Kerajinan  (Works of art).

 

PDPH Masyarakat Minangkabau terungkap dalamSENI BUDAYA diantaranya pada karya seni masyarakatnyaseperti seni musik (saluang, rabab),seni pertunjukan (randai), seni tari (tari piriang), dan senibela diri (silek dan pamenan). Juga di benda-bendabudaya (karih, pakaian pangulu, mawara dll), bangunan (rumah bagonjong),serta artefak lain-lain mewakili ungkapan fisik dari konsep pandangan perilaku Adat Minangkabau. sehingga masing-masing menjadi lambangdengan berbagai makna. Pandangan Hidup ini memengaruhiseluruh aspek kehidupan masyarakatnya dalam sikap umum danperilakuserta tata-cara pergaulan masyarakat yang menjadi landasanpembentukan pranata sosial budaya, yang melahirkan berbagai  lembaga formal maupun informal (sepertiTungku Tigo Sajarangan, urang nan 4 jinih).

 

 

 

  • Kesadaran Kolektif KesepakatanBersama

 

 

PandanganHidup beradat menjadi pedoman dan petunjuk perilaku bagi setiap dan masing-masing anggota masyarakat didalam kehidupan sendiri-sendiri danbersama-sama.

 

Konsepdasar Adat Minangkabau (Adat Nan Sabana Adat) ini menjadi kesadaran kolektif berupa Pandangan Dunia danPandangan Hidup (PDPH) manusia dan masyarakat Minangkabau.

 

 

KonsepPDPH yang merupakan inti Adat Minangkabau (Adat Nan Sabana Adat) memengaruhi sikap umum dan tata-cara pergaulan, adatistiadat yang lebih dikenal sebagaiAdat nan Diadatkan dan Adat nan TaradatAdatNan Sabana Adat adalah Kaedah Alam, sifatnya tidak berubah sepanjang waktudisebut “ indak lakang dek paneh indak lapuak dek hujan “ , inilah yangdisebut “ Sunnatullah “ yaitu KetentuanAllah Pencipta Alam Semesta, dalam filsafat ilmu disebut fenomena alam.

 

  • Alam telah diciptakan sempurna  dengan hukum-hukum yang jelas sunnatullah (nature wet) hukumalam   لا تبديل لخلق الله
  • Dipakai sebagai timbangan yang asli (cupak usali) karenabegitulah sifat alam (manusia, hewan, tumbuhan, air, tanah, api, angin)diciptakan Allah SWT.
  • Cupak usali adalah yurisprudensi yaitu pedoman untuk memepat(menara) cupak buatan (hukum yang dibuat manusia), dikenal dengan  alam takambang jadi guru,  dalam bahasa filsafat ilmu disebut “analogi“,dilafalkan dalam pahatan kato (yaitu kalimat pendek luas maknanya), itulah “ katodahulu  “ ,  nilainya berada pada domain Hakekat.

 

 

 

 

  • PERPADUANADAT DAN SYARAK.

 

 

Firman Allah menyatakan, “Hai manusia, sesungguhnya Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-lakidan seorang perempuan dan menjadikan kamu berkabilah-kabilah(bangsa-bangsa)dan berpuak-puak (suku-suku) supaya kamu saling kenal mengenal…”, (QS.49, al Hujurat : 13).

Nabi Muhammad SAW memesankanbahwa “Perbedaan di tengah-tengah umatku adalah rahmat” (Al Hadist). Dan“innaz-zaman qad istadara”, bahwa sesungguhnya zaman berubah masaberganti (Al Hadist).

 

Fatwa adat di Minangkabaumengungkapkan  “Pawang biduak nak rangTiku, Pandai mandayuang manalungkuik, Basilang kayu dalam tungku, Di sinan apimangko hiduik”.  

 

ASPEK SIMBOLIS  ABS-SBK sebenarnya adalah SyarakMangato Adaik Mamakai, Alam Takambang Jadi Guru.[2]

 

Nilai-nilai ajaran Islam mengajarkan agar setiap Muslim wajib mengagungkan Allah dan menghargainikmatNya yang menjadi sumber dari rezeki, kekuatan, kedamaian dan membimbingmanusia keluar dari kegelapan menuju cahaya.

اللَّهُ وَلِيُّالَّذِينَ ءَامَنُوا يُخْرِجُهُمْ مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ  وَالَّذِينَ كَفَرُوا  أَوْلِيَاؤُهُمُ الطَّاغُوتُ  يُخْرِجُونَهُمْ  مِنَ النُّورِ إِلَى الظُّلُمَاتِ

Allah adalah pelindung bagi orang-orang yang beriman yangmengeluarkan mereka dari berbagai kegelapan kepada nur(hidayah-Nya). Danorang-orang kafir itu pelindung-pelindung mereka ialah taghut ( sandarankekuatan selain Allah) yang mengeluarkan mereka daripada nur (hidayah Allah)kepada berbagai kegelapan. (Al-Baqarah,257).

 

 

  • Nilai  Islam mudah mengakar ke dalam kehidupan masyarakat  Minangkabau, sehingga terkenal  kuatagamanya dan kokoh adatnya, pada berbagai lingkungan tatanan (”system”)dan pada berbagai tingkat tataran (structural ).
  • Palingmendasar adalah tatanan nilai dan norma dasar sosial budayaberupa Pandangan Dunia dan Pandangan Hidup (PDPH).
  • Orang yang tidak beradatdan tidak beragama Islam, kedudukannya disebut tidak berbudi pekerti atau indak tahu di nan ampek =  Samaartinya dengan bodoh.

 

 

 

PranataSosial Budaya atau batasan-batasan perilaku manusia yang lahir atas dasarkesepakatan bersama menjadi ”kesadaran kolektif” di dalam pergaulan masyarakatberupa seperangkat aturan main dalam menata kehidupan bersama. Setelah masukIslam ke Minangkabau maka batasan perilaku itu bersandikan Syarak danKitabullah.

Sebagaimasyarakat beradat dengan adat bersendi syariat dan syariat yang bersendikanKitabullah, maka kaedah-kaedah adat itu memberikan pelajaran strategi dalampenerapannya. Diantaranya ;

 

 

  • Mengutamakan prinsip hidup keseimbangan. Islam menghendaki keseimbangan antara rohani dan jasmani. “Sesungguhnyajiwamu (rohani-mu) berhak atas kamu (supaya kamu pelihara) dan badanmu(jasmanimu) pun berhak atasmu supaya kamu pelihara” (Hadist). Keseimbangantampak di ranah ini, “Rumah gadang gajah maharam, Lumbuang baririk di halaman,Rangkiang tujuah sajaja, Sabuah si bayau-bayau, Panenggang anak dagang lalu,Sabuah si Tinjau lauik, Birawati lumbuang nan banyak, Makanan anak kamanakan.Manjilih ditapi aie, Mardeso di paruik kanyang.
  • Nilai nilaiIslam mengajarkan “Berbuatlah untuk hidup akhiratmu seolah-olah kamuakan mati besok dan berbuatlah untuk hidup duniamu, seolah-olah akan hidupselama-lamanya”  (Hadist).
  • Nilai Islam menanamkan kesadaran bahwa “bumiAllah amatlah luasnya”sehingga mudah untuk digunakan sesuaifirman Allah, “Maka berpencarlah kamu diatas bumi, carilah karunia Allahdan (di samping itu) banyaklah ingat akan Allah, supaya kamu mencapaikejayaan”.  (QS.62, AlJumu’ah : 10).
  • Kesadaran ini tertancap dalam pada Pranata Sosial Budaya Minangkabau yaknibatasan-batasan perilaku manusia atas dasar kesepakatan bersama yang menjadi”kesadaran kolektif” di dalam pergaulan masyarakat berupa seperangkat aturanmain dalam menata kehidupan bersama.
  • Setelahmasuk Islam maka pranata social Minangkabau itu bersandikan kepada SyariatIslam dan Kitabullah. Supaya jangan tetap tinggalterkurung dalam lingkungan yang kecil, dan sempit (QS.4, An Nisak : 97)maka wujudlah kearifan “Karatau madang dihulu babuah babungo balun.Marantaubuyuang dahulu dirumah paguno balun”. Kemudianmeng-introdusirtenaga mereka kembali kemasyarakatnya merasakan denyutnadi kehidupan danberurat pada hati umat itu.  Ditanamkan pentingnya kehati-hatian “Ingeksa-balun kanai, Kulimek sa-balun abih, Ingek-ingek nan ka-pai, Agak-agak nanka-tingga”.
  • Memiliki jati diri, self help dengan tulangdelapan kerat walau dengan memakai cara amat sederhana sekalipun”lebih terhormat”, daripada meminta-minta dan menjadi beban oranglain. Membiarkan diri hidup dalam kemiskinan dengan tidak berusaha adalahsalah. “Kefakiran (kemiskinan) membawa orang kepada kekufuran.

 

 

  • PemesraanNilai-Nilai Islam kedalam Filosofi Budaya Minangkabau

 

Sesudah masuknya Islam terjadi semacamlompatan kuantum (”quantum leap”) di dalam budaya Minangkabau.Bertumbuh-kembangnya manusia-manusia unggul dan tercerahkan. Munculnyatokoh-tokoh yang berperan penting dalam sejarah kehidupan masyarakat adatMinangkabau di kawasan ini. Semata karena nilai yang dibawa oleh ajaran Islamyang mudah mengakar ke dalam kehidupan masyarakat di Minangkabau.

OrangMinangkabau terkenal kuat agamanya dan kokoh adatnya. Seorang anak Minangkabaudi mana saja berdiam tidak akan senang di sebut tidak beragama, dan tidakberadat.

Orang yangtidak beradat dan tidak beragama Islam, di samakan kedudukannya dengan orang tidakberbudi pekerti atau indak tahu di nan ampek.[3]

 

AdatMinangkabau dinamis, menampakkan raso (hati, arif, intuitif) dan pareso(akal, rasio, logika), hasil nyata dari alam takambang jadi guru,makin kokoh dengankeyakinan yang diisi oleh agama Islam yang benar (haqdari Rabb).  Bagi setiap orang yang secara serius ingin berjuang dibidang pembangunan masyarakat nagari, pasti akan menemui di nagari satu iklim(mental climate) yang subur bila pandai menggunakan dengan tepat.

 

Adakekuatan agama, tamadun, budaya, adat istiadat, dan budi bahasa yang baik.  Lah masak padi rang Singkarak,  masaknyo ba tangkai-tangkai, sa tangkaijarang nan mudo. Kabek sa balik buhue sintak, payahlah urang nak ma ungkai,tibo nan punyo rarak sajo. Diperlukan orang-orang yang ahli dibidangnya untuk menatap setiap peradaban yang tengah berlaku dalam adaiksalingka nagari. Alah bakarih samparono, bingkisan rajo Majopaik, Tuah basabab ba karano, pandai ba tenggang di nan rumik.Satu realitaobjektif  adalah ;  Siapa yang paling banyak menyelesaikanpersoalan masyarakat ,  pasti akanberpeluang banyak mengatur masyarakat.

 

 

  • Penguatan peran Ninik Mamakdalam Tungku Tigo Sajarangan

 

Beberapa model perlu dikembangkan dikalangan para ninik mamak Tungku Tigo Sajarangan yang menjadi pendidikmasyarakat dikelilingnya (anak kemenakannya). Perlu dikuatkan pemurnianwawasan fikir, kekuatan zikir, penajaman visi, mengembangkan keteladanan uswahhasanah, sabar, benar, memupuk rasa kasih sayang danpendalamanspiritual religi.

 

 

Maka PeranTungku Tigo Sajarangan sesungguhnya adalah ;

  1. Menjalin dan membuat kekuatan bersama untuk menghambat gerakan yang  merusak Sarak (agama Islam).
  2. Menimbulkan keinsafan mendalam di kalangan rakyat anak nagari tentang perlunya penghakiman yang adil sesuai tuntutan sarak dalam syariat Agama Islam.
  3. Meningkatkan program melahirkan masyarakat penyayang yang tidak aniaya dalam tatanan kekerabatan.
  4. Menanamkan tata kehidupan saling kasih mengasihi dan beradab sopan santun sesuai adat basandi sarak, sarak basandi Kitabullah.

 

Dengan begitu amat diharapkan lahir generasiMinangkabau yang berkualitasmengutamakan manhaj-ukhuwah  ; bulek aie dek pambuluah bulekkato ka mupakaik.”

 

Mengamalkan budaya amal  jama’i ; kok gadang indak malendo, kok cadiek indak manjua,  tibo di kaba baik bahimbauan, tibo di kababuruak bahambauan. Manyuruah babuek baik, Malarang babuek jahek,Mahirik mambantang, manunjuak ma-ajari. Managua manyapo, Tadorong mahelo,talompek manyentak, Gawa ma-asak, ma asak lalu ka nan bana. Tak ado karuahnan tak janieh. Tak ado kusuik nan tak salasai.

Sehingga lahirlah generasi muda yang dapatmeniru kehidupan lebahkuat persaudaraannya, kokohorganisasinya,  berinduk dengan baik,terbang bersama membina sarang, baik hasil usahanya, dapat dinikmati olehlingkungannya.

 

 

Ringkasnya Membangun kembali masyarakat beradat sopan santun, dengancara ;

 

  • Menghidupkan kembali peraturan bagi tiap sukuuntuk melengkapi kembali perangkat sukunya, dan memerankan kekerabatan kaum.
  • Memperkuatperan generasi muda dengan kualifikasi keilmuan, kejujuran, kesetiaan kepadanegara, serta memiliki keahlian mengelola nagari dalam pemerintahan nagari.
  • Mengusahakantumbuhnya kesadaran membantu mengembangkan pembangunan kampung halaman melaluisumbangan pemikiran dan bantuan lainnya, guna penguatan  perangkatpemerintahan Nagari.

 

 

  • Sama Bekerja dan Bekerja SamaSaciok bak ayam Sadancieng bak basi

 

Kehidupan  KEBERSAMAAN (ijtima’iy) masyarakat MADANImempunyai hak dan kewajiban masing-masing, memiliki hati yangtenteram. Tujuan perhimpunan atau perkumpulan seperti adanya lembaga “TungkuTigo Sajarangan” di nagari nagari adalahmembentuk ikatan yang tenteram,bahagia dan berkekalan (sustainability) dalam aturan-aturan dan ketentuanagama (etika religi)  menurut syariatIslam.

 

Semua orang berkeinginan untuk hidupbahagia, kekal dan langgeng. Perintah Agama Islam menyebutkan, Hendaklahengkau berjamaah.  

 

Dengan  berhimpun bermasyarakat (ijtima’iy) dapatdicapai kesatuan, kekompakan dankebahagiaan  dengan cara :

  1. Saling Mengerti antaraSesama, untuk menjalin komunikasi masing-masing.  Tidak akan memaksakan egonya, karenaperbedaan suku atau adalah karunia Allah, Kebiasaan masing-masing, Selera,kesukaan atau hobi, Pendidikan, Karakter/sikap pribadi secara proporsional baik dari masing-masing,maupun dari orang-orang terdekatnya, seperti orang tua, teman ataupunsaudaranya, dan yang relevan dengan ketentuan yang dibenarkan syari`at.
  2. Saling Menerima.  Satu team work akan terbinadengan saling menerima satu sama lain. Satu kesatuan kelompok adalah ibaratsatu tubuh dengan beragam kehendak. Dengan keredhaan dan saling pengertian,beragam warna merah dicampur akan menampilkan keindahannya.
  3. Saling Menghargai, dalamPerkataan dan perasaan, Bakat dan keinginan masing-masing. Sikap salingmenghargai adalah sebuah jembatan menuju kuatnya satu team work.
  4. Saling Memercayai, akanmelahirkan kemerdekaan berfikir, inovasi dan kreasi mencapai kemajuan.Keselarasan akan lebih meningkat, serta hal ini merupakan amanah Allâh.
  5. Saling Menyintai,  akan memunculkan beberapa halseperti, lemah lembut dalam bicara, selalu menunjukkan perhatian,bijaksana dalam pergaulan, tidak mudah tersinggung, dan perasaan (batin)masing-masing akan selalu tenteram

 

PandanganHidup masyarakat Minangkabau sejakdahulu, telah melahirkan angkatan-angkatan“generasi emas”, dengan mengamalkan tatanan dan nilai adatdan keyakinan yang berjalin berkelindan dengan sebuah adagium “Adat Basandi SyarakSyarak Basandi Kitabullah”(ABS-SBK), telahmenjadi pegangan yang menata seluruhkehidupan masyarakat Minangkabau dalam kenyataan yang sesungguhnya.

 

Dalam periode keemasan itu, Minangkabaudikenal sebagai lumbung penghasil tokoh dan pemimpin, baik dari kalangan  alim ulama ”suluah bendang anak nagari”maupun ”cadiak pandai” (cendekiawan pemikir dan pemimpin sosialpolitik), yang berkiprah di tataran nusantara serta dunia internasional. [4]

 

 

 

  • Memperkuat ikatan KekerabatanSuku dan Kaum

 

Kekerabatan yang erat telah menjadi bentengyang kuat dalam menghadapi berbagai tantangan.Kekerabatan tidak akan wujud denganmeniadakan hak-hak individu orang banyak. Nilai-nilai ajaran Islam mengajarkanagar setiap Muslim wajib mengagungkan Allah dan menghargai nikmatNya yangmenjadi sumber dari rezeki, kekuatan, kedamaian dan membimbing manusia keluardari kegelapan menuju cahaya.

 

GenerasiMinangkabau dengan filosofi adat basandi syarak syarak basandi Kitabullahmampubertahan. Wataknya didukung pemahaman nilai-nilai Raso Pareso. Kemudiandikuatkan dengan keyakinan Islam. Melalui pengamatan ini tidak dapat disangkal bahwa Islam telahberpengaruh kuat di dalam Budaya Minangkabau.

 

Pranata sosial Masyarakat Beragama yangMadani di Sumatera Barat yang didiami masyarakat adat Minangkabau semestinyaberpedoman (bersandikan) kepada Syarak dan Kitabullah. Agama Islam yang bersumber kepada Kitabullah (AlQuranul Karim) dan Sunnah Rasulullah itu, maka pelaksanaan atau pengamalannya tampak atau direkam dalamPraktekIbadah, Pola Pandang dan Karakter Masyarakatnya, Sikap Umum dalam RagamHubungan Sosial penganutnya. Dalam keniscayaan ini, maka kekerabatanyang erat  menjadi benteng yang kuatdalam menghadapi berbagai tantangan. Kekerabatan tidak akan wujud dengan meniadakan hak-hak individu orang banyak.

 

 

 

  • Masyarakat Ber-Adat Beradab Hanya Mungkin Jika Dilandasi Kitabullah

 

Pembentukan karakteratau watak berawal dari penguatan unsur unsur perasaan, hati (qalbinSalim) yang menghiasi nurani manusia dengan nilai-nilai luhur yangtumbuh mekar dengan  kesadarankearifan  dalam kecerdasan budayaserta memperhalus kecerdasan emosional serta dipertajam oleh kemampuan periksa  evaluasi positif dan negatif  ataukecerdasan rasional intelektual yangdilindungi oleh kesadaran yang melekat pada keyakinan (kecerdasan spiritual)yakni hidayah Islam.

 

Watak yang sempurna dengan nilai nilailuhur (akhlaqul karimah) ini akan melahirkan tindakan terpuji, yang tumbuhdengan motivasi (nawaitu) yang bersih (ikhlas).

 

Secarajujur, kita harus mengakui bahwa adat tidak mungkin lenyap, manakala  memahami fatwa adat, Kayu pulai diKoto alam, Batangnyo sandi ba sandi, Jikok pandai kito di alam, patah tumbuahhilang baganti”.

 

Secaraalamiah (natuurwet) adat itu akan selalu ada dalam prinsip. Jika patah akantumbuh (maknanya hidup dan dinamis). Menjadi dominan ketika dikuatsendikan olehkeyakinan agama akidah tauhid, dengan bimbingan kitabullah (Alquran) bahwa yanghilang akan berganti. Apa yang ada di tangan kita akan habis, apa yang ada disisi Allah akan kekal abadi.

 

Dilaksanakannyaadagium Adat Basandi Syarak Syarak, dan Syarak Bansandi Kitabullah(ABS-SBK)maka tali hubungan antara Adat sebagai Pedoman serta Petunjuk JalanKehidupan dibuhul-eratkan dengan ajaran Islam yang menekankan kepadaakhlak mulia (karimah).

 

Rentangsejarah membuktikan bahwa penerapan ABS-SBK telah memberikan lingkungan sosialbudaya yang subur bagi seluruh anggota masyarakat dalam mengembangkan segenappotensi dan kreativitasnya sehingga terciptalah manusia dan masyarakatMinangkabau yang unggul dan tercerahkan.

 

Walauberada dalam lingkungan yang sulit  penuhtantangan, sejak zaman kolonialisme hingga ke masa-masa perjuangan, budayaMinangkabau dengan ABS-SBK terbukti mampu menciptakan lingkungan yangmenghasilkan jumlah yang signifikan tokoh-tokoh yang menjadi pembawa oborperadaban di kawasan ini.

 

Keunggulannyaada pada falsafah adat yang mencakup isi yang luas. Akhlak karimah berperan dalam kehidupan yang mengutamakankesopanan dan memakaikan rasa malu, sebab malu jo sopan kalau lah hilang,  habihlah raso jo paresodalamterapan ABS-SBK secara “murni dankonsekwen”. (LihatQS.16, an-Nahl : 96.).

 

 

  • Simpulan Simpulan Budi danBasabasi

 

MasyarakatUnggul dan Tercerahkan dicetak dengan Menanamkan Nilai-Nilai Ajaran Islam danAdat Budaya. Khusus bagi MasyarakatAdat Minangkabau digali dari Al-Qur’an, membentuk peribadi yang zikir, — yakni hidupdengan penuh kesadaran akan keberadaan Allah Ta’ala dengan segenap aspekhubungan-Nya dengan manusia dan segenap makhluk Ciptaan-Nya , danberdaya fikir, —  Berartimembuat Peta Kenyataan sesuai Petunjuk Ajaran Allah Ta’ala yang diuraijelaskan Alquran dan ditafsirterapkan oleh Rasullewat Sunnah sebagai Teladan Utama (Uswatun Hasanah.

 

Maka secara batinnya antara adat dan agamasaling melengkapi dari yang genap sampai yang ganjil.[5]

AdatMinangkabau dinamis, menampakkan raso (hati, arif, intuitif) dan pareso(akal, rasio, logika), hasil nyata dari alam takambang jadi guru, makinkokoh dengan keyakinan yang diisi oleh agama Islam yang benar (haq dariRabb).

 

 

  • Sebagai ujud pengamalan Firman Allah:

 

وَمَا كَانَالْمُؤْمِنُونَ لِيَنْفِرُوا كَافَّةً فَلَوْلاَ نَفَرَ مِنْ كُلِّ فِرْقَةٍمِنْهُمْ طَائِفَةٌ لِيَتَفَقَّهُوا فِي الدِّينِ وَلِيُنْذِرُوا قَوْمَهُمْ إِذَارَجَعُوا إِلَيْهِمْ لَعَلَّهُمْ يَحْذَرُونَ

 

Tidak sepatutnya bagi orang Mukmin itu pergi semuanyakemedan perang. Mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan diantara merekabeberapa orang untuk memperdalam ilmu pengetahuan mereka tentang agama(syariat, syarak) dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya (dengan cara-caramengamalkannya pada setiap perilaku dan tindakan dengan kehidupan beradat),apabila mereka telah kembali kepadanya – kekampung halamannya –, supaya merekaitu dapat menjaga dirinya.” (QS.IX, at Taubah, ayat 122).  

 

 

Tidak ada yang lebih indah daripada budidan basabasi. Yang dicari bukan emas dan bukan pula pangkat, akan tetapi budipekerti yang paling dihargai. Hutang emas dapat di bayar, hutang budi dibawamati. Agar jauh silang sengketa, perhalus basa dan basi (budi pekerti yangmulia). Jika ingin pandai rajin belajar, jika ingin tinggi  (mulia), naikkan budi pekerti.

 

 

  • Khulasahnya,penerapan ABS-SBK mengharuskan kehidupan perorangan serta pergaulan masyarakatMinangkabau berakar dari dan berpedoman kepada Al-Quran serta SunnahRasullullah. Dengan demikian, ABS-SBKdapat membentuk lingkungan sosial-budaya yang akan melahirkanmasyarakat Minangkabau yang unggul tercerahkan dengan kekuatan akidah dan akhlak menurut Kitabullah.

 

Panggiriakpisau sirauik, Patungkek batang lintabuang, Satitiak jadikan lauik, Sakapajadikan gunuang, Alam takambang jadikan guru ”.

 

Dengan melaksanakan ABSSBK lahir sikap cinta ke nagari. Tumbuh sikap positif menjaga batas-batas patut dan pantas.Terbentuk umat yang kuat, sehat fisik, sehat jiwa, sehat pemikiran, dan sehatsocial, ekonomi, konstruktif (makruf).

 

Pariangan jadi tampuaktangkai, Pagarruyuang pusek Tanah Data, Tigo Luhak rang mangatokan. Adat josyara’ jiko bacarai, bakeh bagantuang nan lah sakah, tampek bapijak nan lahtaban”

 “Tasindorong jajak manurun, tatukiak jajakmandaki, Adat jo syarak jiko tasusun, Bumi sanang padi manjadi.

 

 

 

Catatan Kaki ;

  1. Parafilsuf dan pemikir Adat Minangkabau (Datuk Perpatih Nan Sabatang danDatukKatumanggungan, menurut versi Tambo Alam Minangkabau).Mengungkapkannya ke dalam pepatah,petatah petitih, mamang, bidal, pantun, yang berisi gagasan-gagasan bijak, sebagai Kato Pusako.
  2. Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah merupakanhasil kesepakatan — Piagam Sumpah Satie Bukik Marapalam — dari  dua arus besar (”main-streams”)Pandangan Dunia dan Pandangan Hidup (PDPH) Masyarakat Minangkabau yang sempatmelewati konflik yang melelahkan.Sejarah membuktikan, kesepakatan yang bijak itu telah memberikanpeluang tumbuhnya beberapa angkatan ”generasi emas” selama lebih satu abadberikutnya. Karena itu, Peristiwa sejarah PiagamSumpah Satie BukikMarapalam dapatdisikapi dan diibaratkan bagaikan “siriah nan kambali kagagangnyo, pinang  nan kambali katampuaknyo,yaitu dari Adat yang pada akhirnya bersendikan kepadaNanBana, Nan Badiri Sandirinyo, disepakati menjadi  “Adat Basandi SyarakSyarakBasandi Kitabullah”(ABS-SBK).
  3. Sama artinya dengan bodoh.
  4. Sebagai hasil penelitian sejarah, Dobin menyebutkanbahwa, sejak abad 17 di Minangkabau, surau telah mengajarkan kepada masyarakat… “agar  menerimalima pokok Islam dan hidup sebagai orang Islam yang baik” … dan dinyatakanpula bahwa salah satu fungsi surau adalah mengajarkan silat Melayu… danseorang guru biasanya mempunyai sejumlah pemuda yang bisa dipersiapkan untukmenghadapi bentrokan … Dan, dengan tindakan (kesiapan) itu, paraperampok menjadi takut merampok dan menjual orang-orang tahanan mereka … diantaranya di Ampek Angkek sejak pertengahan 1790 di bawah kepemimpinansurau (Tuanku Nan Tuo) menjadikan negerinya mengalami kemajuan besardalam pengaturan urusan dagang, yang kemudian dilanjutkan murid beliau yangtersebar, di antaranya Jalaluddin mendirikan surau di Koto Lawas(Koto Laweh) di lereng Gunung Merapi sebagai nagari penghasil akasia dan kopi,untuk “membangun masyarakat muslim” yang sungguh-sungguh …Demikian ditulis oleh Christine Dobin, dalam bukunya “Gejolak Ekonomi, KebangkitanIslam, dan Gerakan Paderi, Minangkabau 1784-1847”, edisi Indonesia,Komunitas Bambu, Maret 2008, ISBN 979-3731-26-5, di halaman 198 – 225.
  5. Sangat menarik pemakaianangka-angka di Minangkabau, lebih nyata bilangan genap, realistis seperti ”katonan ampek (4), undang-undang nan duopuluah(20),urang nan ampek jinih, nagari nan ba ampek sukucupak nan duo(2), cupak usali jo cupak buatan, rumah basandi ganok, tiang panjangjo tonggak tapi, basagi lapan (8) atau sapuluah (10)artinya angka genap. Datang agama Islam,di ajarkan pula pitalo langik nan tujuah (7), sumbayang nan limo wakatu, rukunIslam nan limo (5), Maka secara batinnya antara adat dan agama salingmelengkapi dari yang genap sampai yang ganjil.

Leave a Reply