Strategi Lembaga Adat dalam Membangun Sinergitas Pengimpelementasian atau Penerapan “Adaik Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah”

H. Mas’oed Abidin

 

PATUT SEKALI KITA BERSYUKUR, bahwa nikmat Allah dapat kita rasakan – di antaranya kembali kepemerintahan nagari–, membuka lebih banyak kesempatan bergerak lebih leluasa dan bertanggungjawab dalam menerapkan nilai-nilai tamadun budaya Minangkabau – ABS-SBK — yang terikat kuat dengan penghayatan Islam.
Namun,

Ada beberapa kendala — dalamimpelementasi atau penerapan kembali nilai-nilai budaya tersebut ;
hubungan muda‑mudi yang terbiasa meniru kekiri kanan,
hubungan kekerabatankeluarga mulai menipis,
peran ninik mamakhanya dalam batas‑batas seremonial,
peran manajemen sukutidak berfungsi.
peran substantif dariulama, dalam pembinaan akhlak anak nagari kerap kali tercecerkan, peran pendidikanakhlak berdasarkan prinsip-prinsip budaya adat berdasarkan ABS-SBK menjadikabur dan melemah pula.

Menata pemerintahan nagari denganprinsip ABS-SBK sangat dituntut pribadi‑pribadi yang utuh dan unggul, denganmemiliki iman dan taqwa, berlimu pengetahuan dan juga diperlukan keterampilanmenguasai teknologi, berjiwa wiraswasta, ber‑moral akhlak terpuji, beradat yangmengenali dan melaksanakan adat istiadat selingkar nagari dan pusako selingkarkaumnya dan beragama dengan mengamalkan ajaran Islam dengan sungguh sungguh.

***

Karena yang akan kitakembangkan adalah “hidup modern dan maju dengan keimanan yang kokoh”sebagai implementasi atau penerapan ABSSBK dimasa ini mesti ada UPAYAPEMBENTUKAN KARAKTER DALAM IMPLEMENTASI FILOSOFI Adat Basandi Syarak (ABS), Syarak BasandiKitabullah (SBK) dengan Membangkitkan Kesadaran Kolektif Akan Nilai Agama Islamdi dalam Norma Dasar Adat di Minangkabau untuk Membangun Generasi Unggul Tercerahkan.
Konsekwensinya,penyediaan sumber daya manusia berkualitas — mesti ada tampilan penggerakpembangunan nagari berbekal teoritikus yang tajam dan effektif, bersikap qanaahdan istiqamah di bidangnya – jauh hari sudah siap sebelum social reformdilaksanakan. Bila kesiapan ini tidak ada, maka kegiatan penerapan kehidupanberadat yang dicitakan itu akan mengundang kerawanan sosial – terutama bila pendudukdi nagari yang disetarakan dengan “desa-desa” yang selama lebih 17 tahun dimasalalu — dan akan dicoba lagi di tahun tahun berikutnya dalam sistimpemerintahan yang akan ada ketika perubahan UU 32 diterapkan nantinya – perlukesiapan dan kesiagaan dalam penerapan dan penjagaan struktur lembaga adat di nagari.

Membinaperilaku beradat dan beragama di Minangkabau menjadi kerja utama setiapindividu di dalam nagari hingga dusun dan taratak.
Tenaga untuk membina nagari inidiperlukan “opsir-opsir lapangan” yang memahami secara mendalam struktur nagariitu, terutama dalam lingkungan adat istiadatnya di “salingka nagari” itu.Mereka semestinya ;
tenaga terampil yangbersedia berkecimpung di tengah‑tengah umat dan masyarakatnya, berilmu dan berpengalaman, mahir membaca “buku masyarakat” yang berisi seluruh kelikatmasyarakatnya, sehingga dapat merasakan denyut nadi kehidupan anak nagarisehingga dapat berurat ke hati umat di nagari-nagarinya itu.

***

Rakyat kecil di nagari-nagari — dimasa derasnya arus globalisasi yang menggeser pola hidup masyarakat di bidangsosial, ekonomi, politik dan juga budaya ini — senantiasa menjadi sasaranempuk dan umpan dari satu perubahan berbalut westernisasi kebarat-baratan dangerakan pembudayaan di luar prinsip ABS-SBK – dan acap kali mereka tersasarsesat jalan, hanya karena kurangnya pemahaman terhadap adat dan syarak (agamaIslam). Hal ini terjadi tentu saja diantaranya karena ketiadaan bekalan adatdan agama Islam. Itulah penyebab utamanya.

Peta Budaya Minangkabau itu tergambarpada ASPEK SIMBOLIS ABS-SBKyang disebut Syarak Mangato Adaik Mamakai, Alam Takambang Jadi Guru sebagaisatu WARISAN BUDAYA yang dibangun berdasarkan PetatahPetitih (klasifikasi), peradaban (historis), Peta realitas alam (inti pemahaman hukum alam) dan Keyakinan Agama Islam (anutankepercayaan). Kehidupan sosial berteras kebersamaan atau musyawarah– sebagai salah satu landasan yang mengemuka di dalam prinsip ABS-SBK – dalamkeseharian mulai bergeser menjadi individualis dan konsumeristis – atau hanya condongberjuang memelihara kepentingan sendiri sendiri – baik itu dalam menatapemerintahan nagari ataupun kekeluargaan masyarakatnya.

Khusus dalam strata pemerintahan nagarilebih disebabkan karena kurang pemahaman dan lemahnya penegasan polapelaksanaan undang-undang dan Perda tentang pemerintahan di nagari diSumatera Barat.
Tidak jarang terjadi setiap nagaritumbuh dengan sikap bernafsi-nafsi dan condong kepada melupakan nasib oranglain – yang tentu saja tidak pernah terbayangkan adanya di dalam prinsipABS-SBK itu –. Bahkan di alam kebebasan ini pulangtumbuh persaingan antar nagari — tanpa kawalan – yang dengan pasti bergerakkepada “yang kuat akan bisa bertahan dan yang lemah akan mati sendiri”.

***

Penerapan implementasi ABSSBKsebenarnya bertujuan agar yang kuat membantu yang lemah, dengan adagium saciokbak ayam sa dancieng bak basi, barek samo mamikue, ringan samo manjinjieng,artinya terlahir sinerjitas didalam membangun nagari masing masing.

Tantangan sosial, budaya, ekonomi,politik dan lemahnya penghayatan agama di nagari-nagari dewasa ini hampir tidakterelakkan.Meruyak sampai ke semua tatanan.Sebagai contoh maraknya pekat hingga ke taratak-taratak terpencil seperti tuak,arak, judi, dadah, pergaulan bebas di kalangan kaula muda, narkoba, danbeberapa tindakan kriminal dan anarkis, merusak tatanan keamanan, mengaburkanprinsip-prinsip ABS-SBK, padahal pengendali kemajuan sebenarnya adalah agamadan budaya umat (kita menyebutnya ABS-SBK dalam tataran umatisasi).[1]

Semestinya kita sangat memahami bahwa kekuatanuntuk mengantisipasi semua tantangan social itu secara turun adalah budayatamaddun dalam masyarakat kita – yang tidak lain adalah Adat Basandi Syarak,Syarak Basandi Kitabullah –.

Masyarakat Ber-Adat Beradab Hanya Mungkin Jika Dilandasi Kitabullah.Secara jujur, kita harus mengakui bahwa adat tidakmungkin lenyap, manakala memahami fatwaadat, “Kayu pulai di Koto alam, Batangnyo sandi ba sandi, Jikok pandai kito di alam, patah tumbuah hilang baganti”.

Secara alamiah (natuurwet) adat ituakan selalu ada dalam prinsip. Jika patah akan tumbuh (maknanya hidup dandinamis). Menjadi dominan ketika dikuatsendikan oleh keyakinan agama akidahtauhid, dengan bimbingan kitabullah (Alquran) bahwa yang hilang akan berganti.Apa yang ada di tangan kita akan habis, apa yang ada di sisi Allah akan kekalabadi.

Dilaksanakannya adagium AdatBasandi Syarak Syarak, dan Syarak Bansandi Kitabullah (ABS-SBK) makatali hubungan antara Adat Sebagai Pedoman serta Petunjuk Jalan Kehidupandibuhul-eratkan dengan ajaran Islam yang menekankan kepada akhlak mulia(karimah). Oleh sebab itu “Pariangan jadi tampuaktangkai, Pagarruyuangpusek Tanah Data, Tigo Luhak rang mangatokan. Adat jo syara’ jiko bacarai, bakeh bagantuangnan lah sakah, tampek bapijak nan lahtaban”.

Tercerabutnyaagama dari diri masyarakat Sumatera Barat –Minangkabau –, akan berakibat besarkepada perubahan perilaku dan tatanan masyarakatnya, karena “adatnya bersendisyarak, syaraknya bersendi kitabullah” dan “syarak (=agama) mangato(=memerintahkan) maka adaik mamakai (=melaksanakan)” –“Tasindorong jajak manurun, tatukiak jajakmandaki, Adat jo syarak jiko tasusun, Bumi sanang padi manjadi. Namun sekarang, dalampengamalan keseharian masyarakat Sumatera Barat sudah sulit dijumpai.

***

Peranan alim ulamadi Minangkabau yang disebut sebagai “suluah bendang dalam nagari” sejakdulu adalah membawa umat melalui informasi dan aktifiti kepada keadaan yang lebih baik secaraimplementatif bergerak dengan cara ;
Kokoh dengan prinsip,
Qanaah dan istiqamah – konsistensi—dalam tugas,
Berkualitas, dengan iman dan hikmah.
Ber-‘ilmu dan matang dengan visi dan misi.
Amar makruf nahyun ‘anil munkar, teguh dan professional.
Research-oriented berteraskan iman dan ilmu pengetahuan.
Mengedepankan prinsip musyawarah sebelum mufakat.

Insya Allah dengan sinerjitassedemikian akan merajut khaira ummah yang berkualitas di dalammasyarakat nagari yang pacak menghadapi kompleksitas di alaf baru dengankekuatan budaya dominan. Sebab GAMBARAN BUDAYAMINANGKABAU BERDASARABS-SBK memengaruhi Sikap Umum(Nan Rancak / Elok, Tanah Ulayat, Harta milik kaum, Hukum/Cupak,Tigo Tungku Sajarangan, Balai Adat, Surau/musajik, Taratak dan Nagari) sertajuga memengaruhi Tata-cara Pergaulan Masyarakat (Musyawarah/mupakaik,Adat istiadat, Sistim kekeluarga-an, hubungan kekerabatan Matrilinial, perandan posisi Pangulu, Mamak, Tungganai, Pidato Adaik, Komunikasi informal danjuga Komunikasi non-verbal).

Suatu kecemasan bahwa sebahagiangenerasi yang bangkit kurang menyadari tempat mereka berpijak, hilang pedoman,amat sedikit contohan dan tidak pula ada tempat bertanya.
Juga, kelemahanmendasar ditemui karena ;
Melemahnya jati diri,
Kurangnya komitmen kepada nilai-nilai luhur agama dan adatyang menjadi anutan bangsa,
Dipertajam oleh tindakan isolasi diri,
Perbudakan politik, ekonomi, sosial budaya,
Lemahnya minat menuntut ilmu — yang menutup peluang untukberperan serta dalam kesejagatan.[2]
Kondisional semakin parah karena adanya pihak-pihak lainmemulai geraknya dengan uluran tangan pemberian, gerakan pemurtadan anutanagama dan sebagainya yang berakibat kepada melemahnya sinerjitas adat didalammembangun kehidupan anak nagari.

***

Pemantapan tamaddun, agama dan adatbudaya yakni “syarak mangato adaik mamakaikan” adalah merupakan TatananNilai dan Norma Dasar Sosial Budaya yang dibentuk oleh Nilai-nilai Islam sebagai pandangan hidup yangmenjadi landasandasar pengkaderan re-generasi di nagari di Minangkabau. Tata nilai ini dijagamelalui Sinerjitas dalam kawalanpelaksanaan oleh lembaga ”tigo tungku sajarangan” yang menata dan mengawasi kebijakan umum yakniadat nan teradatkan, adat istiadat,adat nan diadatkan.Norma Dasar Sosial Budaya ini Menjadi aturan dalam kegiatan kehidupan “anak nagari” diMinangkabau,yang dengannya dipelihara dan dijaga tumbuhnya generasi pengganti yang lebihsempurna, melalui beberapa langkah yang terpadu. Seperti ;

Mengupayakan berlangsung proses timbang terima kepemimpinandalam satu estafetta alamiah — patah tumbuh hilang berganti – karenakesudahannya yang dapat mencetuskan api adalah batu pemantik api juga.[3]
Teguh dan setia melakukan pembinaan – retransformasi adatbasandi syarak-syarak basandi kitabullah yang sudah lama di miliki –
Mampu berinteraksi dengan lingkungan secara aktif – artinyaada kesiapan melakukan dan menerima perubahan dalam tindakan yang benar –karena sebuah premis syarak mengatakan bahwa segala tindakan dan perbuatan akanselalu disaksikan oleh Allah, Rasul dan semua orang beriman.[4]

***

Secara umum pemeranan syarak di tengahpembangunan masyarakat nagari adalah dengan cara ;

Menghidupkan kembali sikap perilaku yang menjadi modal utamamembangun nagari dengan alas musyawarah dan saling menghargai. Sulit membantahbahwa hilangnya akhlak menjadi salah satu sumber malapetaka yaitu punahnyakeamanan. Indikasi melemahnya syarak diantaranya berkurangnya minat menyerahkananak-anak ke Surau-surau, Majelis Ta’lim, TPA, MDA, bahkan melemahnya frekuensipengajian-pengajian Al-Qur’an, dan merebaknya kebiasaan meminum minuman keras(Miras) pada sebahagian – kecil (?) — kalangan muda-remaja di nagari-nagaridan berkembangnya keinginan bergaul bebas di luar tatanan dan batas-batas adatdan syarak (agama) –.
Menjalin dan menjamin keikut sertaan semua komponen dariLembaga Adat di Nagari dan seluruh stake holder (urang nan ampek jinih)yang ada di tengah masyarakat,
Memulai dari penataan akhlak masyarakat anak nagari menurutkaedah syarak mangato adat mamakai. Diakui bahwa acapkali penataankembali ini tidak terikuti oleh pembinaan yang intensif, antara lain disebabkan:
Kurangnya tenaga tuangku, imam khatib dan alim ulama yangberpengalaman – mungkin berkurangnya jumlah mereka di nagari-nagari atau karenaperpindahan ke kota kota lainnya,
Kurangnya minat menjadi imam-khatib dan alim ulama di nagari,
Terabaikannya kesejahteraan alim ulama di nagari-nagari –secara materil yang tidak seimbang dengan tuntutan yang diharapkan olehmasyarakat dari seorang da’i – di antara jalan keluarnya dapat diupayakanpemerkasaan mereka dengan jalan pelembagaan musyawarah, dan penetapan anggarannagari atau sumber tetap dari masayarakat –, karena umumnya imam-khatibbukanlah pegawai nagari yang memiliki penghasilan bulanan yang tetap – telahdianggarkan dalam APBD –padahal mereka senantiasa dituntut oleh tugasnya untukselalu berada di tengah umat di nagari yang dibinanya. Memang tantangan dakwahselalu berhadapan dengan tantangan yang sangat banyak, namun uluran tangan yangdidapat hanya sedikit.
Lemahnya pengetahuan dan pemahaman urang nan ampek jinihtentang peranan fungsinya dalam pembinaan anak nagari sesuai dengan adaiksalingka nagari nya.

***

Penguatan lembaga kemasyarakatan yangada di nagari mesti di sejalankan dengan kelompok umara’ – pemegang kendalipemerintahan nagari — yang adil, serta memerankan Tungku Tigo Sajarangandalam menghadapi setiap perubahan yang terjadi dengan spirit membangunkembali masyarakat nagari sebagai bagian dari kecintaan kepada nagari masingmasing.

Peran utama dalam menjalankan sinerjitas antar lembaga adat di nagariterlihat pada ;
Menjalin dan membuatkekuatan bersama untuk menghambat gerakan yang merusak Syarak (agama Islam).
Menimbulkan keinsafanmendalam di kalangan rakyat anak nagari tentang perlunya penghakiman yang adilsesuai tuntutan syarak dalam Agama Islam.
Meningkatkan programmelahirkan masyarakat penyayang yang tidak aniaya dalam tatanan kekerabatan.
Menanamkan tatakehidupan saling kasih mengasihi dan beradab sopan santun sesuai adatbasandi syarak syarak basandi Kitabullah.

***

Mengembalikan Minangkabau keakar budayanyayakni ABS-SBK – atau anutan syariat agama Islam — tidak boleh dibiar terlalai,karena akibatnya akan terlahir bencana.

Amatlah penting untuk mempersiapkangenerasi umat di nagari nagari yang mengenali ;
keadaan masyarakat nagari, aspek geografi, demografi,
sejarah, kondisi sosial, ekonomi, latar belakang masyarakatnagari itu,
tamadun, budaya, dan adat-istiadat dan berbudi bahasa yangbaik – nan kuriak kundi nan sirah sago, nan baik budi nan indah baso –.

***

Khulasahnya ;

Membangun Sinerjitas yang menjadiStrategi Lembaga Adat Dalam Pengimpelementasian atau Penerapan “Adaik BasandiSyarak, Syarak Basandi Kitabullah” – ABSSBK dalam Tatanan LingkunganPEMERINTAHAN & MASYARAKAT NAGARI di Sumatera Barat di mulai dengan Memerankan kembali semua organisasi ataulembaga informal di nagari-nagari dan Membina kerja sama (sinerjitas) dalambentuk musyawarah dan kegotong royongan membangun nagari dan masyarakatnya,serta menyeiringkan dengan refungsionisasi peran alim ulama cerdik pandai“suluah bendang dalam nagari”.
Membangun kesadaran masyarakatnagari melaksanakan tata kehidupan berdasarkan prinsip ABS-SBK denganmempererat sistem komunikasi dan koor dinasi antar komponen masyarakat dinagari yang tampak dengan jelas pada pola pembinaan dan kaderisasi kepimpinan dalam semua organisasi LembagaAdat di Nagari yang akan menjadi pengikat anak nagari lebih kuat, sehinggamerupakan kekuatan sosial yang efektif dan sinerjis di nagari tersebut.
Pemerintahan Nagari mesti berperanmenjadi media pengembangan anak nagari — bukan sebaliknya — dan PemerintahanNagari juga menjadi fasilitator dalam memasyarakatkan (sosialisasi) budaya adatdan syarak (Islami) sesuai dengan prinsip “adat basandi syarak, syarakbasandi Kitabullah” melalui mengefektifkan media pendidikan anak nagaridalam pembinaan umat untuk mencapai derajat pribadi taqwa, serta merencanakandan melaksanakan kegiatan dalam hubungan hidup bermasyarakat sesuai tuntunansyarak (Agama Islam).
Di nagari mestinya dilahirkan mediapengembangan minat menata kehidupan dalam aspek ekonomi, sosial, budaya,politik dan agama Islam dalam rangka mengembangkan tujuan kemasyarakatan yangadil dan sejahtera melalui gerakan ekonomi kreatif.

***

Terakhir tentulah merupakan keharusanuntuk mengembangkan dakwah yang sejuk — dakwah Rasulullah bil ihsan — denganprinsip yang jelas, tidak campur aduk (laa talbisul haq bil bathil),menyatu antara pemahaman dunia untuk akhirat — keduanya tidak bolehdipisah-pisah –.

Sebagaimana dipahami bahwa Adat Minangkabau dinamis, menampakkan raso (hati, arif, intuitif) dan pareso (akal, rasio,logika),hasil nyata darialam takambang jadi guru. Keyakinan Islam menekankanpentingnya sikap malu (haya’ – raso pareso), dengan dasar iman kepada Allah,yakin kepada akhirat, mengenali hidup akan mati, beraqidah (tauhid). Inilah yangmenjadi Benteng kuat menjaga umat menjadi cerdas.[5]

Cobalah di dalamidan bahkan sangat menarik pemakaian angka-angka di Minangkabau, lebih nyatabilangan genap, realistis seperti ”kato nan ampek (4),undang-undang nan duopuluah (20), urang nan ampek jinih, nagari nan baampek suku, cupak nan duo (2), cupak usali jo cupak buatan, rumahbasandi ganok (genap), tiang panjang jo tonggak tapi, basagi lapan (8)atau sapuluah (10) artinya angka genap. Datang agama Islam, di ajarkan pula pitalolangik nan tujuah (7), sumbayangnan limo wakatu, rukun Islam nan limo (5).

***

Belajar kepadasejarah amatlah perlu adanya gerak dakwah dan pembangunan yang terjalin dengannet-work (ta’awunik) yang rapi (bin-nidzam), untuk penyadaran kembali generasiIslam di nagari-nagari di Minangkabau tentang peran syarak (Syari’at Islam)dalam membentuk tatanan hidup duniawiyah yang baik.

Pranata sosial MasyarakatBeragama yang Madani di Sumatera Barat yang didiami masyarakat adat Minangkabausemestinya berpedoman (bersandikan) kepada Syarak dan Kitabullah. Agama Islam yang bersumber kepada Kitabullah (AlQuranul Karim) dan Sunnah Rasulullah itu pelaksanaan atau pengamalannya terekam pada Praktek Ibadah,Pola Pandang dan Karakter Masyarakatnya, Sikap Umum dalam Ragam Hubungan Sosialpenganutnya.

Dalam keniscayaan ini, maka kekerabatan yang erat menjadi benteng yang kuat dalam menghadapiberbagai tantangan. Kekerabatan tidak akan wujud dengan meniadakan hak-hak individu orang banyak.

***

Pembentukan karakter atau watakberawal dari penguatan unsur unsur perasaan, hati (qalbin Salim) yangmenghiasi nurani manusia dengan nilai-nilai luhur yang tumbuh mekardengan kesadaran kearifan dalam kecerdasan budaya serta memperhalus kecerdasanemosional serta dipertajam olehkemampuan periksa evaluasipositif dan negatif atau kecerdasanrasional intelektual yang dilindungi oleh kesadaran yang melekat padakeyakinan (kecerdasan spiritual) yakni hidayah Islam. Watak yangsempurna dengan nilai nilai luhur (akhlaqul karimah) ini akan melahirkantindakan terpuji, yang tumbuh dengan motivasi (nawaitu) yang bersih (ikhlas).

Tidak ada yang lebih indah daripadabudi dan basabasi. Yang dicari bukan emas dan bukan pula pangkat, akan tetapibudi pekerti yang paling dihargai. Hutang emas dapat di bayar, hutang budidibawa mati. Agar jauh silang sengketa, perhalus basa dan basi (budi pekertiyang mulia). Jika ingin pandai rajin belajar, jika ingin tinggi (mulia), naikkan budi pekerti.

Begitulah semestinya peranan danstrategi lembaga lembaga Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah(ABS-SBK) dalam menapak perubahan – membangun kembali masyarakat nagari – diabad ini.

Padang, 24 Juni 2013 / 15 Sya’ban 1434 H.

Catatan kaki ;

[1] ‘alaikum anfusakum, laa yadhurrukum mandhalla idzah-tadaitum(QS.5:105), wa man yusyrik billahi fa qad dhalla dhalaalan ba’idan(QS.4:116), fa dzalikumullahu rabbukumul-haqqu, fa madza ba’dal-haqqiilladh-dhalaal ? fa anna tushrafuun (QS.10, Yunus:32).

[2] Lihat QS.9:122, supaya mendalami ilmupengetahuan dan menyampaikan peringatan kepada umat supaya bisa menjaga diri(antisipatif).

[3] Q.S 47;7, artinya, ” Jika KamuMenolong ( Agama ) Allah, Niscaya Dia Akan Meno long Kamu. Kemudian, “KamuHanya Akan Dapat Pertolongan Dari Allah Dengan (Menolong) Kaum Yang LemahDiantara Kamu”. (Al-Hadist). Suatu aturan menuruti Sunnah Rasuladalah, “ … Tiap‑Tiap Kamu Adalah Pemimpin, Dan Tiap‑Tiap Pemimpin Akan DiMinta Pertanggungan Jawab Atas Pimpinannya” (Al-Hadist). Jadinya,kewajiban kepemimpinan menjadi tanggung jawab setiap orang.

[4] QS.53:39-41

[5] Sebagai hasil penelitian sejarah, Dobinmenyebutkan bahwa, sejak abad 17 di Minangkabau, surau telah mengajarkan kepadamasyarakat… “agar menerima lima pokok Islam dan hidup sebagaiorang Islam yang baik” … dan dinyatakan pula bahwa salah satu fungsisurau adalah mengajarkan silat Melayu … dan seorang guru biasanyamempunyai sejumlah pemuda yang bisa dipersenjatai dan disiapkan untukmenghadapi bentrokan … Dan, dengan tindakan (kesiapan) itu, paraperampok menjadi takut merampok dan menjual orang-orang tahanan mereka … diantaranya di Ampek Angkek sejak pertengahan 1790 di bawah kepemimpinansurau (Tuanku Nan Tuo) menjadikan negerinya mengalami kemajuan besardalam pengaturan urusan dagang, yang kemudian dilanjutkan murid beliau yangtersebar, di antaranya Jalaluddin mendirikan surau di Koto Lawas(Koto Laweh) di lereng Gunung Merapi sebagai nagari penghasil akasia dan kopi,untuk “membangun masyarakat mulsim” yang sungguh-sungguh …Demikian ditulis oleh Christine Dobin, dalam bukunya “Gejolak Ekonomi, Kebangkitan Islam, dan Gerakan Paderi, Minangkabau 1784-1847”, edisi Indonesia,Komunitas Bambu, Maret 2008, ISBN 979-3731-26-5, di halaman 198 – 225.

Leave a Reply