PUASA RAMADHAN WUJUD DARI KEHIDUPAN BERAKHLAK MULIA

Agama Islam sebagai agama rahmatan lil-alamin yang sempurna di dalamnya berisi aturan yang mengatur seluruh aspek kehidupan manusia, melalui keyakinan tauhid bahwa tiada tuhan yang berhak di sembah selain Allah dan kemudian memerintahkan penganutnya — bahkan manusia seluruhnya — agar hidup dan bergaul dengan akhlak yang mulia.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dijadikan suri tauladan di dalam pengamalan akhlak mulia ini dengan sebuah pujian sesuai firman Allah ;

وَإِنَّكَ لَعَلى خُلُقٍ عَظِيمٍ

“Sesungguhnya engkau (wahai Muhammad) benar-benar berbudi pekerti yang luhur”
(QS. al-Qalam : 4).

Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam pula menasehatkan dalam sabda beliau ;

وَخَالِقِ النَّاسَ بِخُلُقٍ حَسَنٍ

“Pergaulilah manusia dengan akhlak mulia”.
(HR. at-Tirmidzi no. 1987 dari Abu Dzar, dan beliau menilai hadits ini hasan shahih).

Akhlak mulia adalah berbuat baik kepada orang lain, menghindari sesuatu yang menyakitinya dan menahan diri ketika disakiti.
Tindakan itu amat kentara dalam pengamalan puasa Ramadhan.

Diantara pelaksanaan akhlak mulia dalam kehidupan (muamalah) bermasyarakat adalah dengan ;

1. Melakukan kebaikan kepada orang lain.
Seperti, berkata jujur, membantu orang lain, bermuka manis dan lain sebagainya.

2. Menghindari sesuatu yang menyakiti orang lain.
Umpamanya, tidak mencela, tidak berkhianat, tidak berdusta dan menghindari diri dari perbuatan buruk yang semisalnya.

3. Menahan diri tatkala disakiti.
Seperti dalam contohnya, tidak membalas keburukan dengan keburukan serupa.

Berlaku dan berbuat dengan akhlak mulia adalah sebenarnya berdakwah dengan memberikan contoh amalan diri dalam praktek nyata atau yang lazim dikenal dengan dakwah bil hâl.
Bahkan justru yang terakhir inilah yang lebih berat dibanding dakwah dengan lisan dan lebih mengena sasaran.
(Lihat Munthalaqat ad-Da’wah wa Wasa’il Nasyriha, Hamd Hasan Raqith (hal. 97-99))

Berdakwah dengan akhlak mulia sangat penting sebagai qudwah hasanah atau potret keteladanan diri dan perilaku yang baik di tengah masyarakat, yang sama artinya dengan menerjemahkan semua teori-teori kebaikan yang dikenal dan disenangi oleh semua manusia dalam amaliah atau perbuatan nyata.

Inilah yang disebut bahwa amalan nyata lebih mangkus dari hanya sekedar ucapan yang dilontarkan.

Moga kita dapat mengamalkan akhlak yang mulia ini dalam latihan Ramadhan dengan mempraktekkan akhlak mulia dalam pergaulan ditengah umat manusia serta mampu menahan amarah dan pengendalian keinginan nafsu menuju kepada kebenaran menggapai redha Allah ….

Amin

Leave a Reply