Maso’ed Abidin, Ulama, Penulis, dan Budayawan Sumbar, Tidak Mau Ketinggalan Teknologi

Berita Buya Mas’oed Abidin di Padang Today 11 July 2013 20:00.

 

Buya Masoed, begitulah ia biasa dikenal. Pria yang bernama lengkap Masoed Abidin bin Zainal Abidin bin Abdul Jabbar ini, adalah seorang putra asli dari ranah Minang. Tepatnya ia lahir di Koto Gadang, Agam, Sumatera Barat, pada 11 Agustus 1935. Buya Masoed adalah seorang sosok yang sangat mencintai agama, dan daerah tanah kelahirannya Minangkabau, yang terkenal dengan adat basandi sarak, sarak basandi kitabullahnya. Hal itu dapat dilihat dari apa yang telah dilakukannya selama ini. Di mana kurang lebih selama 45 tahun umurnya dihabiskan untuk menjalankan dan menyampaikan dakwah di jalan Allah SWT. Saat ini Buya telah berumur 77 tahun.

Dalam tugasnya menyiarkan ajaran islam, Buya Masoed selalu mengedepankan tentang pembelajaran yang menjelaskan bagaimana cara berakhlak yang baik. Dalam hal tersebutlah, ia disebut budayawan, karena dalam setiap penuturannya, ia selalu mengajarkan kepada pendengar dakwah tentang berperilaku menurut adat dan kebudayaan Minangkabau tentunya. Ia juga dikenal sebagai penulis, karena tulisan-tulisan yang telah dimuat di beberapa koran ternama di Sumbar. Juga dikarenakan  sembilan buah buku yang telah ia terbitkan.

Seiring kemajuan zaman, Buya yang pernah mewakili nama Sumbar sebagai peserta Jambore Nasional I Kepanduan ini, juga terus mengikuti trend. Di mana pada era teknologi dan informasi, ia mulai memasuki jejaring sosial dalam pendakwahannya. Melalui internet, Buya Masoed menghampiri umat Islam melalui blognya yang berisi tentang pedoman berperilaku menurut ajaran Islami. Begitupun dengan sarana bertanya dan konsultasi, Buya yang juga merupakan seorang pendiri Ikatan Pemuda Pemudi Minang (IPPM) di Padang Sidempuan ini, juga memiliki akun Facebook. Sehingga dari jejaring sosial itu Buya Masoed mengaku sekurangnya dapat menjawab keluhan dari masyarakat sesuai dengan ajaran Islam.

“Internet adalah media yang harus kita gunakan. Karena internet, pada saat ini bukan lagi suatu barang yang mewah atau pun langka bagi seseorang. Maka dari itu tidak salah jika mencoba mendekati, dan mengajarkan syariat Islam melalui jejaring sosial itu. Karena seperti yang kita ketahui, pengguna internet dimayoritaskan adalah kawula muda yang rentan terhadap keterjerumusan dalam hal yang tidak baik,” pahamnya saat bercerita di kediamannya di jalan Pesisir Selatan, Siteba, Kecamatan Naggalo, Padang.

Melirik tentang perjalanannya, Buya Masoed mengawali pembelajaran agamanya pada Sumatera Thawalib Syekh H. Abdul Muin Lambah, dan Sumatera Thawalib Syakh Ibrahim Musa, Parabek. Awalnya ia mengakui bahwa masuk ke sekolah tersebut karena dipaksa oleh orang tua laki-lakinya bernama Zainal Abidin bin Abdul Jabar Imam Mudo, yang merupakan ulama, imam, dan khatib dalam nagari. “Awalnya memang saya terpaksa, karena disuruh oleh orang tua laki-laki. Namun seiring berjalannya waktu, saya menggeluti dan menyukai hal itu,” kenangnya.

Jangan kira bahwa Buya Masoed tidak memiliki pendidikan formal seperti yang lainnya. Karena selain dua sekolah Thawalib, pendidikan formalnya adalah Sekolah Rakyat (SD), Koto Gadang, dilanjutkan ke SMP Negeri II Bukittinggi, lalu ke SMA A/C Negeri Bukittinggi, FKIP UNITA Padang Sidempuan, dan FKIP UISU Medan. Ia menyelesaikan pendidikan formalnya di UISU dengan gelar Drs. Dalam masa perkuliahannya, ia mengaku belajar dalam berorganisasi. Di mana ia dipilih menjadi ketua Himpunan Mahasiswa Islam (HMI), cabang Padang Sidempuan yang diangkat dalam kongres HMI kesembilan. Selain itu, ia juga dipilih menjadi Sekretaris Umum Komda Pelajar Islam Indonesia (PII) Tapanuli Selatan. Setelah melalang buana di daerah tetangga yaitu Sumut, pada tahun 1967 akhirnya Buya Masoed memutuskan untuk kembali ke Sumbar.

Perjalanan tidak berhenti di situ, dua tahun ia berada di kampung halaman, tepatnya pada tahun 1969 ia diminta Walikota Bukittinggi mendirikan tempat pembinaan kerohanian bagi pegawai Pemko Bukittinggi. Hal itu untuk mengimbangi, dikarenakan masa-masa itu merupakan masa pergolakan yang dilakukan oleh Partai Komunis Indonesia (PKI). Setahun kemudian, seakan cemburu karena Buya Masoed secara geografis merupakan putra Kabupaten Agam, pada tahun 1970 Bupati Agam juga meminta Buya Masoed juga memberikan pembinaan di lingkungan pegawai Kabupaten Agam. Begitulah lanjutan perjalanannya sampai pada tahun 1973.

Karena ia merupakan seorang yang aktif pertama dalam pembangunan RS Ibnu Sina di Bukittinggi, yang dipimpin oleh Mansur Daud Datuk Palimo Kayo yang mendirikan Majelis Ulama (MU) Sumbar. Pada 2006, akhirnya ia diundang untuk memberikan dakwah di Masjid Raya Bukittinggi. Di mana pada saat itu untuk menjadi pendakwah di masjid itu adalah hal sangat sulit, karena harus melalui proses penyaringan yang ketat. Pada tahun yang sama, ia juga terpilih menjadi Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia perwakilan Sumbar.

Pada saat ini, tahun 2013, ayah 13 orang anak dari dua orang ibu ini, juga masih terus menjalankan dakwahnya dalam menyiarkan Islam. Ia juga mengaku pada saat ini telah mendapatkan kedudukan tertingginya, bahkan lebih tinggi saat ia menjabat sebagai ketua Majelis Ulama (MU) Sumbar. Kedudukan itu adalah sebagai Ketua Umum Masjid Raya Al-Munawarah di Siteba, yang pada saat ini telah menjadi tahun keenam jabatannya. “Inilah jabatan yang paling tinggi yang pernah saya miliki,” suaranya. (*)

 

 

Leave a Reply