ALQURAN MENGENAI BAGIAN DEPAN OTAK MANUSIA

Ketahuilah, Sesungguhnya! jika dia tidak berhenti (dari berbuat kesalahan dan kekufuran), niscaya Kami akan menyentakkan ubun-ubunnya. Yaitu ubun-ubun yang mendustakan lagi durhaka (penuh dosa).[QS.96, Al ‘Alaq :15-16]

Kata ilmu pengetahuan, jpeg-image-227c397273-pixelsbahwa motivasi dan pandangan ke depan untuk berencana dan gerakan-gerakan untuk berinisiatif dari manusia itu terjadi pada bagian anterior dari BELAHAN DEPAN, PREFRONTAL AREA.

Iptek pula menyebutkan bahwa, dalam hubungannya dengan keterlibatannya dalam motivasi, PREFRONTAL AREA juga dipahamkan sebagai pusat fungsi AGRESI…

Selanjutnya, Area bagian otak ini bertanggung jawab untuk perencanaan, pemotivasian, dan pencetus perilaku baik dan buruk, dan bertanggung jawab untuk mengabarkan kebohongan dan
mengatakan kebenaran.

Dengan begitu, tepatlah untuk menyatakan bahwa bagian depan kepala sebagai berdusta dan penuh dosa ketika seseorang berbohong atau melakukan dosa seperti yang dikatakan Quran dengan kata-kata NASHIYAH = Ubun-ubun adalah bagian depan dari kepala. (bagian depan kepala) yang berdusta, penuh dosa itu.

ALQURAN BERKISAH TENTANG LAUTAN

Ilmu pengetahuan Modern kini telah menemukan bahwa tempat-tempat di mana ada dua laut yang berbeda sifatnya telah bertemu. Keduanya membaur dengan adanya suatu penghalang di antara keduanya.
Penghalang ini telah membagi dua laut yang berbeda sifat dan suhunya, pada perbedaan yang nyata-nyata, pada suhu, salinitas kadar garamnya, asin dan tawarnya, dan pada kepadatannya sendiri-sendiri.

Air laut Mediterrania ketika memasuki Atlantik di atas Gibraltar masih dengan karakteristiknya yang hangat, asin dan kurang padat, karena penghalang yang memisahkan di antara mereka.

Alquran menjelaskan dengan tuntas, “Dia mengalirkan dua laut yang keduanya bertemu. Di antara keduanya ada BATAS yang tidak dilampauinya.[QS.55, Ar Rahman:19-20]

 

Ilmu pengetahuan Modern telah menemukan bahwa dalam teluk-teluk (kuala),
di mana air segar dan air garam (asin) bertemu, situasinya agak berbeda dari yang ditemukan di tempat-tempat di mana dua laut bertemu.
Telah ditemukan bahwa yang membedakan air segar dari air asin di teluk-teluk adalah suatu zona pycnocline dengan suatu kepadatan berbeda yang dapat ditandai antara dua lapisan.
Pembatas atau zona pemisahan ini mempunyai suatu salinitas yang berbeda dari air segar dan dari air asin.

Alquran menjelaskan tuntas, “Dan Dialah yang mempertemukan dua laut; yang satu tawar lagi segar, dan yang lain asin lagi pahit. Dan Dia menjadikan di antara keduanya ada penghalang dan PEMBATAS YANG TIDAK TERLAMPAUI.[QS.25, Al Furqan:53]

 

Kegelapan di laut-laut dan lautan-lautan dalam ditemukan sekitar kedalaman 200 meter dan di bawahnya.
Pada kedalaman ini, hampir tidak ada cahaya.
Di bawah kedalaman 1000 meter cahaya tidak ada sama sekali.

Para ilmuan telah menemukan bahwa ada gelombang-gelombang internal yang “terjadi pada pertemuan kepadatan antara lapisan-lapisan dengan kepadatan-kepadatan yang berbeda.”

Gelombang-gelombang internal menutup air-air dalam dari laut-laut dan lautan-lautan karena air-air dalam memiliki suatu kepadatan yang lebih tinggi daripada air-air di atasnya.
Gelombang-gelombang internal berlaku seperti gelombang-gelombang permukaan. Gelombang-gelombang internal tidak dapat dilihat dengan mata manusia, tetapi mereka dapat dideteksi dengan mempelajari perubahan-perubahan suhu dan salinitas pada suatu lokasi tertentu.

Alquran empat belas abad silam telah menjawab tuntas, “atau seperti kegelapan di laut yang dalam yang diliputi gelombang demi gelombang yang di atasnya awan kegelapan yang tindih menindih.
Apabila seorang manusia meregangkan tangannya, ia tidak dapat melihatnya…
[QS.24, An-Nuur:40]

ALQURAN MENJELASKAN MENGENAI PERKEMBANGAN EMBRIO MANUSIA

 

Dan sungguh Kami telah menciptakan manusia dari sari tanah.
Kemudian Kami menjadikannya sebagai sebuah tetes cairan dalam
dalam sebuah tempat yang kukuh terpelihara.
Kemudian Kami menjadikan tetes cairan menjadi sebuah alaqah (lintah, sesuatu yang bergantung, gumpalan darah),
lalu Kami menjadikan alaqah itu menjadi sebuah mudghah (kunyahan, gumpalan)
[QS.23,Al Mukminuun:12-14]

Arti lain dari kata alaqah adalah “sesuatu yang bergantung“…
Tempat bergantung dari embrio, selama tahap alaqah, dalam rahim
sang ibu.

Dalam membandingkan sebuah lintah terhadap embrio pada tahap permulaan (alaqah) kita menemukan kesamaan di antara keduanya.
Juga, embrio pada tahap ini mendapatkan makanan dari darah sang ibu, sama
seperti lintah yang manghisap darah lainnya.

Embrio yang menggantung selama tahap-tahap awal dalam kandungan ibu.
(Sekitar umur 15 hari) Ukuran sebenarnya dari embrio itu adalah sekitar 0,6 mm.

 

 

Dan sungguh Kami telah menciptakan manusia dari sari tanah.
Kemudian Kami menjadikannya sebagai sebuah tetes cairan dalam sebuah tempat yang kukuh terpelihara.
Kemudian Kami menjadikan tetes cairan menjadi sebuah alaqah (lintah, sesuatu yang bergantung, gumpalan darah),
lalu Kami menjadikan alaqah itu menjadi sebuah mudghah (kunyahan, gumpalan)
[QS.23, Al Mukminuun :12-14]

Kita mendapati bahwa penampakan eksternal dari embrio dan kantongnya selama
masa permulaan (alaqah) adalah sama dengan segumpal darah. Ini karena adanya
jumlah yang relatif besar dari darah yang ada dalam embrio selama tahap ini.
Darah dalam embrio tidak bersirkulasi hingga akhir minggu ketiga.

Jadi embrio seperti segumpal darah pada tahap ini !
Embrio pada tahap mudghah menyamai penampakan dari sebuah substansi
seperti kunyahan karena gerigi pada punggung embrio yang “agak menyerupai bentuk bekas gigi pada sebuah benda yang dikunyah.”

Apabila membandingkan penampakan dari suatu embrio pada tahap mudghah
dengan sepotong permen karet yang telah dikunyah, kita mendapati kesamaan antara keduanya.

 

ALQURAN BERCERITA MENGENAI KARAKTERISTIK INDERA KULIT MANUSIA

 

Dr. Tagata Tagasone berkata dengan terkejut setelah melihat kebenaran Alquran dalam kaitannya dengan ilmu pengetahuan.
Beliau bersorak Laa Ilaaha Illallah Muhammad Rasul Allah! Artinya menerima kebenaran Islam.

Orang ini mengucapkan Syahadat dan menyatakan diri menjadi seorang muslim. Ini terjadi pada waktu Konferensi Medis Saudi ke-8 yang diadakan di Riyadh.
Professor Tagata Tagasone, mantan Kepala Departemen Anatomi dan Embriologi di Universitas Shiang Mai di Thailand. Beliau pernah menjadi Dekan dari Bagian Medicine dari Universitas tersebut.


Ketika Professor Tagasone mempelajari berbagai artikel yang berhubungan dengan ayat-ayat Quran dia begitu terpesona.
Beberapa pertanyaan dalam bidang spesialisasinya diajukan kepadanya.
Salah satunya mengenai penemuan-penemuan modern tentang karakteristik indera kulit.
Dr. Tagasone menjawab: Ya jika luka bakar itu dalam.
Dinyatakan kepada Dr. Tagasone: Anda akan tertarik untuk mengetahui bahwa dalam buku ini, yaitu Kitab suci Quran, terdapat sebuah referensi 1400 tahun yang lalu yang mengacu kepada saat penghukuman orang-orang kafir oleh api neraka dan dinyatakan bahwa ketika kulit mereka rusak,
Allah menjadikan kulit lainnya untuk mereka sehingga mereka merasakan hukuman oleh api itu, menunjukkan pengetahuan mengenai akhir-akhir syaraf di kulit, dan ayat tersebut adalah:

“Sesungguhnya orang-orang yang kafir kepada tanda-tanda Kami, kelak akan Kami masukkan mereka ke dalam neraka.
Setiap kali kulit mereka hangus, Kami ganti kulit mereka dengan kulit yang lain, supaya mereka merasakan azab.
Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana
(QS.4, An Nisak:56).

 

Jadi apakah anda sepakat bahwa ini adalah referensi akan pentingnya akhir-akhir syaraf indera di kulit, 1400 tahun yang lalu?
Dr. Tagasone menjawab: Ya saya setuju.
Pengetahuan mengenai penginderaan ini telah diketahui jauh sebelumnya.
Karena telah dinyatakan bahwa jika seseorang bersalah, maka ia akan dihukum dengan membakar kulitnya dan lalu Allah menaruh kulit baru padanya, menutupnya, untuk membuatnya mengetahui bahwa ujian itu menyakitkan. Ini berarti mereka mengetahuinya bertahun-tahun lalu bahwa indera penerima rasa sakit tentulah ada di kulit, sehingga ditaruh kulit yang baru atasnya.

Kulit merupakan pusat sensitivitas terhadap luka bakar.
Apabila kulitnya terbakar api seluruhnya, ia akan kehilangan sensitivitasnya.
Inilah alasan bahwa Allah akan menghukum orang-orang kafir pada Hari Pembalasan dengan mengembalikan kulit mereka waktu ke waktu, dan Dia-lah Yang Maha Perkasa dan Maha Agung.

Ditanyakan kepadanya: “Apakah mungkin ayat ini datang kepada Nabi Muhammad (sallallahu ‘alaihi wa sallam), dari sumber manusia?’
Professor Tagasone menyatakan, bahwa ini tidak mungkin datang dari sumber manusia manapun.

Tetapi dia masih menanyakan sumber pengetahuan itu dan darimana Muhammad kemungkinan menerimanya?
Jawabannya adalah ‘Dari Allah, Yang Maha Agung dan Maha Perkasa. ’
Lalu ia bertanya: ‘Tetapi siapakah Allah itu?’
Jawabannya: Dia-lah Pencipta semua yang ada ini.
Apabila anda menemukan kebijaksanaan maka itu adalah karena datang hanya dari Dia Yang Maha Bijaksana.

Apabila anda menemukan pengetahuan mengenai penciptaan alam semesta, adalah karena alam semesta itu ciptaan dari Dia yang memiliki seluruh pengetahuan.
Apabila anda menemukan kesempurnaan dalam komposisi dari ciptaan-ciptaan tersebut, maka ini adalah bukti bahwa ini adalah bukti bahwa ini adalah ciptaan dari Dia Yang Maha Mengetahui.
Dan apabila anda merasakan bahagia, maka ini adalah fakta bahwa ini karunia hidayah Yang Maha Penyayang.
Sama halnya, apabila anda merasa bahwa ciptaan tunduk pada suatu perintah yang terpadu dan saling terikat dengan kukuh, maka ini bukti bahwa itu adalah ciptaan dari Sang Pencipta, Yang Maha Agung dan Maha Perkasa.

Beberapa rujukan buku-buku yang ditulis para ilmuan, antara lain :
1. Essentials of Anatomy & Physiology, Seeley and others, Page: 211
2. A brief guide to understanding Islam with colorful illustrations,
I. A. Ibrahim, Page:6, 16
3. Priciples of Oceanography, Davis, Page: 92-93
4. Oceanography, Gross, Page:205,242, 244.
5. Oceans, Elder and Pernetta, Page: 92-93
7. Alaqah : Bloodsucker (Pg.92), Suspended (Pg.745), Clot (Pg.146).
Elias Modern Dictionary, E-A, 1992
8. Mudghah : Chewed (Pg.137) Elias Modern Dictionary, E-A, 1992
9. The developing Human, Moore and Persaud, 5th ed., Page:8
10. Human Development as described in the Quran and Sunnah,
Moore and others, Page:36, 37-38,
11. The developing Human, Moore and Persaud, 5th ed., Page: 8, 65

Leave a Reply