Peranan Guru Taman Kanak-kanak Dalam Membangun Generasi Islami

Muqaddimah.

Sudah lama kita mendengar ungkapan, “jadilah kamu berilmu yang mengajarkan ilmunya, atau belajar (muta’alliman), atau menjadi pendengar (mustami’an). Dan sekali jangan menjadi kelompok keempat, yang tidak memiliki aktifitias keilmuan sama sekali. Yakni tidak mengajar, tidak pula belajar, serta enggan untuk mendengar”.

Peran Guru adalah sesuatu pengabdian mulia dan tugas sangat berat.

Kemuliaannya terpancar dari keikhlasan membentuk anak manusia menjadi pintar, berilmu dan mampu mengamalkan ilmunya, untuk kebaikan diri sendiri, kerluarga, dan kemaslahatan umat dikelilingnya.

Tugas itu berat, karena umat hanya mungkin dibuat melalui satu proses pembelajaran dengan pengulangan terus menerus (kontiniutas) serta pencontohan (uswah) yang baik. Maka, tidak dapat tidak pekerjaan ini memerlukan ketaletenan dan semangat yang prima.

Keberhasilan akan banyak ditopang oleh kearifan yang dibangun oleh kedalaman pengertian serta pengalaman dalam membaca situasi serta upaya membentuk kondisi yang kondusif (mendukung) disekitar kita. Pemahaman ini sangat perlu ditanamkan tatkala kita mulai melangkah ke alaf baru.

 

Alaf Baru.

Alaf Baru, atau Millenium Baru yang diawali dengan abad keduapuluh satu, ditandai :

(a). mobilitas serba cepat dan modern,

(b). persaingan keras dan kompetitif,

(c). komunikasi serba efektif, dunia tak ada jarak seakan global village,

(d). akan banyak ditemui limbah budaya kebaratan westernisasi.

Alaf baru ini diyakini hadir dengan tantangan global yang tidak bisa di cegah. Pertanyaan yang segera meminta jawaban adalah, “Sudahkah kita siap mengha dapi perubahan zaman yang cepat dan penuh tantangan ini?”

Semua elemen masyarakat sangat berkewajiban memper­siapkan generasi baru yang siap bersaing dalam era global terse but.

Globalisasi membawa banyak tantangan (sosial, budaya, ekonomi, politik dan bahkan menyangkut setiap aspek kehidupan kemanusiaan.

Globalisasi menjanjikan pula harapan dan kemajuan seperti pertumbuhan ekonomi yang pesat, menjadi alat menciptakan kemakmuran. Masyarakat. Indonesia sebagai bagian dari Asia Tenggara, sebelum terjadinya krisis ekonomi 1997, dampaknya masih terasa hingga hingga sekarang, selama tiga dasawarsa 1967-1997 pernah mengalami pertumbuhan ekonomi yang semu secara pesat.

Bank Dunia memasukkan kedalam “The Eight East Asian Miracle”,menjadi macan Asia bersama: Jepang, Taiwan, Korea Selatan, Hong Kong, Thailand, Singapura, Malaysia.[1]

Globalisasi membawa perubahan prilaku, terutama pada generasi muda (para remaja). Para remaja cenderung bergerak menjadi generasi buih yang terhempas dipantai menjadi dzurriyatan dhi’afan. Generasi buih adalah suatu generasi yang berpeluang menjadi “X-G” the loses generation, tidak berani ikut serta didalam berlomba melawan gelombang samudera globalisasi.

Penyimpangan prilaku menjadi ukuran atas kemunduran moral dan akhlak.

Hilangnya kendali para remaja, berakibat ketahanan bangsa akan lenyap dengan lemahnya remaja. Penyebab utama karena;

  • · rusaknya sistim, pola dan politik pendidikan.
  • · diperparah oleh hilangnya tokoh panutan,
  • · berkembangnya kejahatan orang tua,
  • · luputnya tanggung jawab lingkungan masyarakat,
  • · impotensi dikalangan pemangku adat,
  • · hilangnya wibawa ulama,
  • · bergesernya fungsi lembaga pendidikan menjadi bisnis,
  • · profesi guru dilecehkan.

 

Prilaku umat juga berubah.

Interaksi dan ekspansi kebudayaan asing bergerak secara meluas.

Pengaruh budaya asing berkembang pesat, seperti ;

a. pengagungan materia secara berlebihan (materialistik),

b. pemisahan kehidupan duniawi dari supremasi agama(sekularistik),

c. pemujaan kesenangan indera mengejar kenikmatan badani(hedonistik).

Ketiga perangai dimaksud merupakan penyimpangan sangat jauh dari budaya luhur, yang pada akhirnya berpeluang besar melahirkan Kriminalitas, perilaku Sadisme, dan Krisis moral secara meluas.

Hilangnya keseimbangan moral (dis-equilibrium) dalam tatanan kehidupan bermasyarakat menyebabkan krisis-krisis, diantaranya ;

a. Krisis nilai. Akhlaq, etika individu dan moral sosial berubah drastik. Prilaku luhur bergeser kencang kearah tidak acuh. Kadang-kadang sudah mentolerir sesuatu yang sebelumnya disebut maksiat.

b. Krisis konsep pergeseran pandang (view) cara hidup, dan ukuran nilai jadi kabur. Sekolahan yang merupakan cerminan idealitas masyarakat tidak bisa dipertahankan.

c. Krisis kridebilitas dengan erosi kepercayaan. Pergaulan orang tua, guru dan muballig dimimbar kehidupan mengalamikegoncangan wibawa.

d. Krisis beban institusi pendidikan terlalu besar.Tuntutan tanggung jawab moral sosial kultural dikekang oleh sisitim dan aturan birokrasi. Kesudahannya, membelenggu dinamikainstitusi, akhirnya impoten memikul beban tanggung jawab. Krisis relevansi program pendidikan mendukung kepentinganelitis non-populis, tidak demokratis. Orientasi pendidikan beranjak dari mempertahankan prestasi kepada orientasi prestise, keijazahan.

e. Krisis solidaritas, dan membesarnya kesenjangan miskin kaya, dan kesempatan mendapatkan pendidikan tidak merata, kurangnya idealisme generasi remaja tentang peran dimasa datang.

 

Pergeseran budaya dengan mengabaikan nilai-nilai agama telah melahirkan tatanan hidup berpenyakit sosial kronis, antara lain ;

a. kegemaran berkorupsi.

b. Aqidah masyarakat bertauhid namun akhlak tidak mencerminkan akhlak Islami.

c. Melalaikan ibadah.

 

Antisipasi.

Umat mesti mengantisipasi dengan penyesuaian-penyesuaian agar tidak menjadi kalah. Dalam persaingan dimaksud, beberapa upaya semestinya disejalankan dengan ;

a. Memantapkan watak terbuka,

b. Pendidikan moral berpaksikan tauhid, mengamalkan nilai-nilai amar makruf nahi munkar seperti tertera dalam QS.31, Lukman:13-17.

c. Integrasi moral yang kuat, berakhlak dan memiliki penghormatan terhadap orang tua, mempunyai adab percakapan ditengah pergaulan,

d. Pendalaman ajaran agama tafaqquh fid-diin, dan berpijak pada nilai-nilai ajaran Islam yang universal, tafaqquh fin-naas.

e. Perhatian besar terhadap masalah sosial atau umatisasi, teguh memilih kepentingan bersama dengan ukuran moralitas taqwa, responsif dan kritis terhadap perkembangan zaman,

f. Mengenal kehidupan duniawi yang bertaraf perbedaan, memacu penguasaan ilmu pengetahuan,

g. Kaya dimensi dalam pergaulan mencercahkan rahmatan lil ‘alamin menampilkan kecerahan bagi seluruh alam.

h. Iman dan ibadah, menjadi awal dari ketahanan bangsa.

Ketahanan umat bangsa terletak pada kekuatan ruhaniyah keyakinan agama dengan iman taqwa dan siasah kebudayaan.

Intinya adalah tauhid. Implementasinya akhlaq.

Maka umat masa kini hanya akan menjadi baik dan kembali berjaya, bila sebab-sebab kejayaan umat terdahulu dikembalikan. Bertindak atas dasar mengajak orang lain untuk menganutnya. “Memulai dari diri sendiri, mencontohkannya kepada masyarakat lain”, (Al Hadist). Inilah cara yang tepat.

Bila penduduk negeri beriman dan bertaqwa dibukakan untuk mereka keberkatan langit dan bumi (QS.7,al-A’raf:96).

 

Dakwah Risalah.

Ajakan kepada umat itu, tidak lain adalah seruan kepada Islam. Yaitu agama yang diberikan Khaliq untuk manusia, yang sangat sesuai dengan fithrah manusia itu. Islam adalah agama Risalah, yang ditugaskan kepada Rasul, dan penyebaran serta penyiarannya dilanjutkan oleh da’wah, untuk keselamatan dan kesejahteraan hidup manusia [2].

Perintah untuk melaksanakan tugas-tugas da’wah itu, secara kontinyu diturunkan oleh Allah SWT seperti,

a) Supaya menyeru kejalan Allah, dengan petunjuk yang lurus (QS.Al-Ahzab, 33 : 45-46).

b) Seruan untuk menyembah Allah, kepada seluruh manusia . Perintah untuk menyeru Allah, tidak boleh musyrik, supaya meminta kepadaNya dan persiapan diri untuk kembali kepada-Nya (QS.Al Qashash, 28 : 87).

 

Pelaksananya setiap muslim.

Setiap mukmin adalah umat da’wah pelanjut Risalah Rasulullah yakni Risalah Islam. Umat yang menjadi harapan masyarakat dunia, semestinya meniru watak-watak, yang ditunjukkan oleh penda’wah pertama, Rasulullah SAW [3]

Untuk itu diperlukan setiap saat meneladani pribadi Muhammad SAW yang berguna sekali membentuk effectif leader di Medan Da’wah. Da’wah itu, menuju kepada inti dan isi Agama Islam (QS. Al Ahzab, 33 : 21).

Keberhasilan suatu upaya da’wah (gerak da’wah) memerlukan pengorganisasian (nidzam) (Al Hadist).[4]

Perangkat dalam organisasi selain dari orang-orang, adalah juga peralatan.

Satu dari peralatan terpenting adalah penguasaan kondisi umat, tingkat sosialnya dan juga budaya mereka ini bisa terbaca dalam peta da’wah (Yusuf Qardhawi, 1990). Peta da’wah, bagaimanapun kecilnya, memuat data-data tentang keadaan umat yang akan diajak tersebut.

Generasi Handal.

Perkembangan kedepan banyak ditentukan oleh peranan remaja sebagai generasi penerus dan pewaris dengan kepemilikan ruang interaksi yang jelas menjadi agen sosialisasi guna menggerakkan kelanjutan survival kehidupan kedepan.

Kita memerlukan generasi yang handal, dengan beberapa sikap;

a. daya kreatif dan inno vatif, dipadukan dengan kerja sama berdisiplin,

b. kritis dan dinamis, memiliki vitalitas tinggi,

c. tidak mudah terbawa arus, sanggup menghadapi realita baru di era kesejagatan.

d. memahami nilai‑nilai budaya luhur,

e. siap bersaing dalam knowledge based society,

f. punya jati diri yang jelas, hakekatnya adalah generasi yang menjaga destiny,

g. individu yang berakhlak berpegang pada nilai-nilai mulia iman dan taqwa,

h. motivasi yang bergantung kepada Allah, yang patuh dan taat beragama akan berkembang secara pasti menjadi agen perubahan,

i. memahami dan mengamalkan nilai‑nilai ajaran Islam sebagai kekuatan spritual, yang memberikan motivasi emansipatoris dalam mewujudkan sebuah kemajuan fisik‑material, tanpa harus mengorbankan nilai‑nilai kemanusiaan.

Semestinya dipahami bahwa kekuatan hubungan ruhaniyah(spiritual emosional) dengan basis iman dan taqwa akan memberikan ketahanan bagi umat.

Hubungan ruhaniyah ini akan lebih lama bertahan daripada hubungan struktural fungsional.

Generasi baru yang mampu mencipta akan menjadi syarat utama keunggulan. Keutuhan budaya bertumpu kepada individu dan masyarakat yang mampu mempersatukan seluruh potensi yang ada.

Generasi muda akan menjadi aktor utama dalam pentas kesejagatan di alaf (millenium) baru. Karena itu, generasi muda (remaja) harus dibina dengan budaya yang kuat berintikan nilai-nilai dinamikyang relevan dengan realiti kemajuan di era globalisasi.

Generasi masa depan (era globalisasi) yang diminta lahir dengan

a. budaya luhur (tamaddun),

b. berpaksikan tauhidik,

c. kreatif dan dinamik,

d. memiliki utilitarian ilmu berasaskan epistemologi Islam yang jelas,

e. tasawwur (world view) yang integratik dan umatik sifatnya (bermanfaat untuk semua, terbuka dan transparan).

Sumbangan Ummat Islam.

Prakarsa umat Islam di Indonesia terhadap perguruan Islam, lazimnya disebut Madrasah atau Pesantren, sangat signifikan bahkan sangat dominan. Sepanjang sejarah pendidikan Islam di Indonesia, khususnya di Minangkabau sejak lama, dalam pendirian, pengembangan, pemberdayaan pendidikan madrasah sangat besar.

Buktinya bertebaran pada setiap daerah, bahkan sampai kepelosok kampung-kampung. Sumatera Thawalib, Madrasah Diniyah Islamiyah, baik tingkat awaliyah, tsanawiyah, bahkan ‘aliyah, sudah dikenal sejak lama. Sebagai contohnya ditemui dimana-mana.[5]

Pendidikan yang akan dikembangkan adalah pendidikan akhlak, budi pekerti.

Maka akhlak karimah (budi pekerti sempurna) adalah tujuan sesungguhnya dari proses pendidikan, dan menjadi wadah diri dalam menerima ilmu-ilmu lainnya.

Ilmu yang benar membimbing umat kearah amal karya, kreasi, inovasi, motivasi yang shaleh (baik).

Dapat diyakini bahwa Akhlak merupakan,

– jiwa pendidikan,

– inti ajaran agama,

– buah dari keimanan.

 

Pendidikan dan Dakwah

Mendidik tidak dapat dipisah dari satu gerakan dakwah.

Menggalang saling pengertian, koordinasi sesamanya mempertajam faktor-faktor pendukungnya, membuka pintu dialog persaudaraan (hiwar akhawi). Ada baiknya di pelajari pembentukan efektif leader dari Rasulullah SAW dan ini merupakan salah satu kunci keberhasilan da’wah Rasulullah.

Aktualisasi dari nilai-nilai Al-Qur’an itu, hanya bisa diselesaikan dengan satu gerak amal nyata yang berkesinambungan (kontinyu), berkapasitas terhadap seluruh aktivitas kehidupan manusia, melalui ;

kemampuan bergaul, mencintai, berkhidmat, menarik,

mengajak (da’wah) , merapatkan potensi barisan (shaff),

mengerjakan amal-amal Islami secara bersama-sama (jamaah),

 

Gerakan ini membuahkan agama yang mendunia (globalisasi agama). Usaha ini akan menjadi gerakan antisipatif terhadap arus globalisasi negatif pada abad-abad mendatang. Al-Qur’an telah mendeskripsikan peran agama Allah (Islam) sebagai agama yang kamal (sempurna) dan nikmat yang utuh, serta agama yang diridhai (QS.Al Maidah, 5 : 3).

“Dan siapakah yang lebih baik agamanya dari pada orang yang menyerahkan dirinya kepada Allah secara ikhlas, yakni orang Muslim, merekapun mengerjakan kebaikan-kebaikan” (QS. An Nisak, 4 : 125).

Karena itu setiap Muslim, dengan nilai-nilai Al Qur’an wajib mengemban missi yang berat dan mulia (mission sacre), yaitu merombak kekeliruan ke arah kebenaran. Inilah yang dimaksud secara hakiki “perjalanan kepada kemajuan (al madaniyah, modernitas)”.

Semuanya berkehendak kepada gerak yang kontinyu, utuh dan terprogram. Hasilnya tidak mungkin diraih dengan kerja sambilan. Karena buah yang dipetik adalah sesuai dengan bibit yang ditanam. Begitu suatunatuur-wet (sunnatullah, = undang-undang alami).

Dalam langkah da’wah Ila-Allah, setiap muslim berkewajiban menapak tugas tabligh (menyampaikan), kemudian mengajak (da’wah) kemudian mengwujudkan kehidupan agama yang mendunia (dinul-harakah al-alamiyyah). Inilah tugas dan peran “umat da’wah” menurut nilai-nilai Al-Qur’an (QS. Ali Imran, 3 : 104 ).

“Perjalanan kepada kemajuan” ini tidak perlu ditunggu waktu sampai besok, kerjakan dari sekarang mana yang bisa dikerjakan,dan mulailah dengan apa yang ada, karena yang ada itu sebenarnya sudah amat cukup untuk memulai. Begitu mabda’ (prinsip) satu gerak amal yang disebut “harakah Islamiyah” di masa persaingan ketat sekarang.

Setiap Muslim harus memulai melakukan perbaikan (ishlah).Dimulai dengan,

(1). Ishlahun-nafsi, yaitu perbaikan kualitas diri sendiri, sebagaimana arahan Rasulullah “Mulailah dari diri kamu kemudian lanjutkan kepada keluargamu dan kepada lingkunganmu” (Al Hadist).

(2) Islahul-ghairi yaitu perbaikan kualitas terhadap lingkungan menyangkut masalah keluarga, hubungan sosial masyarakat, sosial ekonomi, kebudayaan dan pembinaan alam lingkungan yang dikenal sebagai pembangunan yang bersifat sustainable development atau pengembangan pembangunan yang berkesinambungan.

Da’wah ini tidak akan berhenti dan akan berkembang terus sesuai dengan variasi zaman yang senantiasa berubah. Jumlah pendidikan Islam (madrasah, taman kanak-kanak Islam) berkembang atas inisiatif masyarakat Muslim ditengah komunitasnya. Ekspansi ormas Islam seperti Muhammadiyah, Perti dan lainnya gesit sekali. Fenomena diakhir abad keduapuluh menggambarkan telah terjadi stagnasi yang signifikan.[6]

 

 

Jika kondisinya demikian, peran serta bagaimana yang dituntut kepada masyarakat ? Rasanya tidak adil kalau pihak pemerintah menuntut lebih banyak dari masyarakat, khususnya dalam bidang dana dan daya (tenaga pengajar).

  • · Langkah awal menanamkan kesadaran tinggi (to create the high level awareness), kesadaran tentang perlunya perubahan dan dinamik yang futuristik. Langkahnya perlu dengan penggarapan secara sistematik dan pen-dekatan proaktif mendorong terbangunnya proses pengupayaan (the process of empowerment).
  • · Langkah kedua melakukan tahapan perencanaan dengan rangka kerja yang terarah, terencana mewujudkan keseimbangan dan minat (motivasi) dan gita kepada iptek, keterampilan dan pemantapan siyasah. Aspek pendidikan dan latihan adalah faktor utama dalam peng-upayaan. Konsep-konsep visi, misi, selalu terbentur dalam pencapaian oleh karena lemahnya metodologi dalam operasional pencapaiannya.
  • · Langkah ketiga memantapkan tahapan pelaksanaan aktualisasisecara sistematis (the level of actualization). Bila pendidikan ingin dijadikan modus operandus disamping kurikulum ilmu terpadu dan holistik, sangat perlu pembentukan kualita pendidik (murabbi) yang sedari awal mendapatkan pembinaan. Pendekatan integratif dengan mempertimbangkan seluruh aspek metodologis berasas kokoh tamaddun yang holistik dan bukan utopis.

 

Pemberdayaan Ummat.

  1. Dalam pemberdayaan manajemen pendidikan, yakni dalam peningkatan managemen yang lebih accountable, baik dari segi keuangan maupun organisasi. Melalui peningkatan ini, sumber finansial masyarakat dapat dipertanggung jawabkan secara lebih efisien dan peningkatan kualitas pendidikan dapat dicapai. Segi organisasi lebih menjadi viable (dapat hidup terus, berjalan, bergairah, aktif dan giat) dan juga durable (dapat tahan lama) sesuai perubahan dan tantangan zaman.
  2. Peran serta masyarakat dalam pengembangan dengan quality oriented., berkualitas unggulan, sehingga mendorong madrasah menjadi lembaga center of exellence, yang menghasilkan anak didik berparadigma ilmu yang komprehensif, yakni pengetahuan agama plus keterampilan.

Peningkatan peran serta masyarakat dalam pengelolaan sumber sumber belajar yang terdapat didalam masyarakat sehingga sistim pendidikan Islam tidak terpisah dan menjadi bagian integral dari masyarakat Muslim keseluruhan.

Melalui pengembangan ini madrasah bisa menjadi core, inti, mata dan pusar dari learning society, masyarakat belajar. Sasarannya, membuat anak didik menjadi terdidik, berkualitas, capable, fungsional, integrated ditengah masyarakatnya.

Setiap Muslim harus jeli (‘arif) dalam menangkap setiap pergeser­an yang terjadi karena perubahan zaman ini. Harus mampu menjaring peluang‑peluang yang ada, sehingga memiliki visi jauh ke depan. “Laa tansa nashibaka minaddunya”, artinya “jangan sampai kamu melupakan nasib/peranan kamu dalam percaturan hidup dunia (Q.S. 28: 77).

 

Membentuk Sumber Daya Ummat.

Kita berkewajiban membentuk Sumber Daya Manusia (SDM) menjadi Sumber Daya Umat (SDU) yang bercirikan kebersamaan dengan nilai asas “gotong royong”, berat sepikul ringan sejinjing, atau prinsipta’awunitas.

Untuk itu, beberapa model perlu dikembangkan dikalangan para pendidik.

  • · pemurnian wawasan fikir disertai kekuatan zikir,
  • · penajaman visi,
  • · perubahan melalui ishlah atau perbaikan,
  • · mengembangkan keteladanan uswah hasanah,
  • · sabar, benar, dan memupuk rasa kasih sayang melalui pengamalan warisan spiritual religi.
  • · Menguatkan solidaritas beralaskan pijakan iman dan adat istiadat luhur, “nan kuriak kundi nan sirah sago, nan baik budi nan indah baso

Intensif menjauhi kehidupan materialistis, “dahulu rabab nan batangkai kini langgundi nan babungo, dahulu adat nan bapakai kini pitih nan paguno”.

 

Langkah Kedepan.

a. pembinaan human capital melalui keluasan ruang gerak mendapatkan pendidikan,

b. pembinaan generasi muda yang akan mewarisi pimpinan berkualiti, memiliki jati diri, padu dan lasak, integreted inovatif.

c. Mengasaskan agama dan akhlak mulia sebagai dasar pembinaan generasi muda.

d. Langkah drastik mencetak ilmuan Muslim yang benar-benar beriman taqwa.

e. Pembinaan minat dan wawasan generasi muda kedepan yang bersatu dengan akidah, budaya dan bahasa bangsa.

f. Secara sungguh-sungguh mewujudkan masyarakat madani yang berteras kepada prinsip keadilan (equity) sosial yang terang.

Sungguh suatu nikmat yang wajib disyukuri. “Lain syakartum la adzidannakum“, bila kamu mampu menjaga nikmat Allah (syukur), niscaya nikmat itu akan ditambah.

Khatimah.

a. Kemenangan hanya disisi Allah. Sesuai Firman Allah yang artinya, “(Ingatlah!), ketika kamu memohon pertolongan kepada Rabb-mu, lalu diperkenankan-Nya bagimu : “Sesungguhnya Aku akan mendatangkan bala bantuan kepadamu dengan seribu malaikat yang dating berturut-turut”.Dan Allah tidak menjadikannya (mengirimkan bantuan itu), melainkan sebagai kabar gembira dan agar hatimu menjadi tenteram karenanya. Dan kemenangan itu hanyalah dari sisi Allah. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana” (QS.8, Al-Anfal : 9-10).

b. Allah akan menolong setiap orang yang membantunya. Firman Allah menyebutkan : Artinya, “Jika Allah menolong kamu, maka tidak adalah orang yang dapat mengalahkan kamu; jika Allah membiarkan kamu (tidak memberikan pertolongan), maka siapakah gerangan yang dapat menolong kamu selain dari Allah sesudah itu ? Karena itu hendaklah kepada Allah saja orang-orang Mukmin bertawakkal” (QS.3, Ali “Imran : 160).

c. Kuatkan hati, karena Allah selalu beserta orang yang beriman.Sesuai Firman Allah Artinya, “Jikalau kamu tidak menolongnya (Muhammad) maka sesungguhnya Allah telah menolongnya, yaitu ketika orang kafir (musyrikin Makkah) mengeluarkannya (dari Makkah) sedang dia salah seorang dari dua orang ketika keduanya berada dalam gua, diwaktu dia berkata kepada temannya “Janganlah kamu berduka cita, sesungguhnya Allah beserta kita” Maka Allah menurunkan ketenangan-Nya kepada Muhammad dan membantunya dengan tentara yang kamu tidak melihatnya, dan Allah menjadikan seruan orang-orang kafir itulah yang rendah. Dan kalimat Allah itulah yang tinggi. Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana”. (QS.9, at-Taubah : 40).

 

Upaya ini dapat dilakukan dengan cara ;

  • · memulai dari lembaga keluarga dan rumah tangga,
  • · memperkokoh peran orang tua, ibu bapak ,
  • · fungsionalisasi peranan ninik mamak dan unsur masyarakat secara efektif,
  • · memperkaya warisan budaya, setia, cinta dan rasa tanggung jawab patah tumbuh hilang berganti
  • · menanamkan aqidah shahih (tauhid), dan istiqamah pada agama yang dianaut,
  • · menularkan ilmu pengetahuan yang segar dengan tradisi luhur (Apabila sains dipisah dari aqidah syariah dan akhlaq akan melahirkan saintis tak bermoral agama, konsekwensinya ilmu banyak dengan sedikit kepedulian )
  • · Menanamkan kesadaran, tanggung jawab terhadap hak dan kewajiban asasi individu secara amanah
  • · penyayang dan adil dalam memelihara hubungan harmonis dengan alam
  • · melazimkan musyawarah dengan disiplin dan teguh politik, kukuh ekonomi
  • · bijak memilih prioritas pada yang hak sebagai nilai puncak budaya Islam yang benar. Sesuatu akan selalu indah selama benar.

 

Budaya adalah wahana kebangkitan bangsa. Maju mundurnya suatu bangsa ditentukan oleh kekuatan budayanya.

Demikianlah, semoga Allah senantiasa membimbing kita dengan Hidayah-Nya, amin.

 

 


[1] Dalam bidang ekonomi ini, negara‑negara Asean menikmati pertumbu han rata‑rata 7‑8 % pertahun, sementara Amerika dan Uni Eropa hanya berkesempatan menikmati tingkat pertumbuhan ekonomi rata‑rata 2,5 sampai 3 % pertahun. Populasi Asean sekarang 350 juta, diperkirakan tahun 2003 saat memasuki AFTA, populasi ini akan mencapai 500 juta (Adi Sasono, Cides, 1997).

Sayang sekali, pertumbuhan ekonomi ini tidak dapat dipelihara. Maka scenario pertumbuhan untuk tahun 2019, atau APEC, dimana termimpikan kawasan ini akan menguasai 50,7 % kekayaan dunia, Amerika dan Uni Eropa hanya 39,3% dan selebihnya 10 % dikuasai Afrika dan Amerika Latin (Data Deutsche Bank, 1994), tampaknya jauh panggang dari api.

Bila mimpi ini menjadi kenyataan, apa artinya semua ini? Kita akan menjadi pasar raksasa yang akan diperebutkan oleh orang‑orang di sekeliling. Bangsa kita akan dihadapkan pada “Global Capitalism”. Kalau kita tidak hati‑hati keadaan akan bergeser menjadi “Capitalism Imperialism” menggantikan “Colonial ism Imperialis” yang sudah kita halau 50 tahun silam. Dengan “Capitalism Imperialism” kita akan terjajah di negeri sendiri tanpa kehadiran fisik si penjajah.

 

[2] Tugas seperti ini, menjadi tugas para Rasul sebelumnya. Menjadi sempurna dan lengkap dengan keutusan Muhammad. Maka, manusia (umat) menjadi penerus dan pelaksana da’wah itu terus menerus sepanjang masa (QS. Ar-Ra’d, 13 : 35). Ditegaskan dalam kalimat sederhana tapi padat, bahwa da’wah kita adalah Da’wah Ila-Allah (QS. Ali Imran, 3 : 104).

[3] (Mohammad Natsir, Tausiyah 24 tahun Dewan Dakwah, Media Dakwah, Jakarta 1992, Da’wah kita adalah Da’wah Ila-Allah).

[4] Menurut bimbingan Rasulullah bahwa al haqqu bi-laa nizham yaghlibuhu al baathil bin-nizam bermakna bahwa yang hak sekalipun, tetapi tidak mengindahkan pengaturan (organisasi) senantiasa akan di kalahkan oleh yang bathil tetapi dijalankan terorganisir. Allah menghendaki, kelestarian Agama ini dengan kemampuan mudah, luwes, elastis, tidak beku dan tidak bersifat bersitegang.

 

[5] Para thalabah lulusan madrasah dan pendidikan sistim surau, umumnya berkiprah dikampung halaman setelah selesai menuntut ilmu, dengan mendirikan sekolah-sekolah agama, bersama-sama dengan masyarakat, memulainya dari akar rumput. Pemberdayaan potensi masyarakat digerakkan secara maksimal dan terpadu untuk menghidupkan pendidikan Islam, untuk mencerdaskan umat dan menanamkan budi pekerti (akhlak Islami), seiring dengan berlakunya kaedah adat bersendi syarak, syarak bersendi Kitabullah. Semuanya didorong oleh pengamalan Firman Allah,“Tidak sepatutnya bagi orang Mukmin itu pergi semuanya kemedan perang. Mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan diantara mereka beberapa orang untuk memperdalam ilmu pengetahuan mereka tentang agama dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya, apabila mereka telah kembali kepadanya, supaya mereka itu dapat menjaga dirinya.”(QS.IX, at Taubah, ayat 122).

[6] Merosotnya peran kelembagaan pendidikan madrasah di Minangkabau dalam bentuk surau, mendorong para elit untuk mengadopsi istilah pondok pesantrenyang semula nyaris diidentikkan dengan perguruan tradisional di Jawa.

 


			

Leave a Reply