Natsir: Berhati-hatilah Menghadapi Gerakan Pemurtadan

Dokumen surat Pak Natsir kepada Buya Fachruddin Hs. Datuk Majo Indo pada 20 Januari 1968, yang mengingatkan agar berhatihati menghadapi gerakan pemurtadan oleh pihak Salibiyah.

Djakarta, 20 Djanuari 1968.

Jth.

Saudara Fachruddin H.S.Dt. Madjo Indo

Assalamu’alaikum w.w.

Dalam perdjalanan saja berkeliling di Sumbar ada satu hal jang menarik perhatian saja, tetapi waktu itu tak ada kesempatan bagi saja untuk memikirkannja lebih mendalam, apalagi untuk membitjarakannja dengan taman-teman kita secara bertenang.

Oleh karena itu baiklah saja tuliskan, agar dapat dipikirkan bersama diantara teman-teman kita jang akrab, jang bertanggung jawab (“bakorong-ketek”).

Ada persoalan rumah-rumah rakjat, jang sedang ditempati oleh anggota tentara. Rakjat meminta rumah-rumah mereka kembali. Terutama di Agam.
Fihak Pemerintah bukan tidak mau mengembalikan akan tetapi, kemana anggota tentara akan ditempatkan, oleh karena belum ada asrama. Bukan pula tidak mau mendirikan asrama, akan tetapi beaja pembangunan tidak ada.
Akibatnja : fihak masjarakat merasa tidak puas oleh karena didesak oleh soal-soal sosial, seperti soal keluarga jang hendak pulang dari rantau, soal anak kemanakan jang hendak dikawinkan, dan hal-hal semacam itu jang menghendaki perumahan”.

Di Bukittinggi ada agen dari missie asing (Baptis), jang mempunyai banjak uang. Bisa mendirikan sekolah, rumah sakit, geredja, asrama, apa sadja. Dan taktik-srategi jang mereka tempuh sekarang ini, dalam kampanje Kristianisasi mereka dimana-mana, tentu djuga di Sumbar ini, ialah menggunakan keunggulan mereka dibidang materie dan alat-alat modern itu, untuk mendapatkan satu basis operasi mereka ditengah-tengah ummat Islam.Apalagi di tempat jang “strategis”, seperti ditengah-tengah masjarakat Aceh, masjarakat Bugis, masjarakat Kalimantan, masjarakat Pasundan dan masjarakat Minang “nan basandi sjara’- basandi adat”itu.

Dalam rangka ini mereka melakukan segala matjam daja upaja, setjara gigih. Tidak bosan-bosan, dan tidak malu-malu.

Apabila mereka mengetahui bahwa ada suatu kesulitan sosial ekonomis seperti jang dikemukan tadi itu, maka mereka tidak akan ragu-ragu “mengulurkan tangan” untuk “memetjahkannja”. Asal dengan itu mereka mendapat basis jang permanen, untuk operasi mereka dalam djangka pandjang. (Bak Ulando minta tanah !). Untuk ini mau sadja apa jang dikehendaki. Mau rumah sakit? –Mereka bikinkan rumah sakit jang up-to-date. Mau asrama? – Mereka bikinkan. Mau kontrak atau perdjandjian jang bagaimana? – Mereka bersedia teken…

Dipulau Sumba rakjat memerlukan air, pemerintah belum sanggup mengadakan djaringan irigasi dan saluran air minum?- Mereka bangun djaringan irigasi dan saluran air minum itu.

Di Flores rakjat menghadjatkan benar hubungan antara pantai ke pantai, sedangkan pemerintah belum sanggup memenuhi keperluan rakjat itu? – Mereka adakan hubungan itu dengan kapal motor-motor ketjil.

Memang Flores, Sumba dan Timor (Kupang) merupakan satu mata rantai jang penting sekali dan satu rantai jang membelit dari Pilipina (Katholik).

Manado, Toraja, Ambon, dan Nusatenggara Timur. Dan disebelah Barat rentetan pulau-pulau di Lautan India sebelah Barat Sumatera Barat sampai Lampung.

Akan tetapi semua kegiatan mereka dalam menjempurnakan rantai ini dan menumbuhkan basis-basis di tengah-tengah kepulauan Sumatera, Djawa, Kalimantan mereka lakukan atas nama perikemanusiaan semata-mata dan membantu membangun “Indonesia jang modern”.

Saja kuatir, kalau-kalau mereka sudah berpikir kearah itu, dalam rangka mentjari djalan lain, setelah rentjana jang semula sudah terbentur. Kalau mereka berfikir dan melangkah kearah itu maka mereka akan dengan sekaligus bisa memperoleh posisi jang lebih kuat dari jang telah sudah. Mereka akan dapat meng-adu golongan-golongan jang tidak setudju dengan :

a. Keluarga-keluarga jang ingin lekas rumahnja dikembalikan.

b. Fihak Tentara (Pemerintah) jang ingin lekas memetjahkan soal asrama.

c. Golongan-golongan dalam masjarakat jang ingin mendapat tempat berobat jang moden, lebih modern dan rapi, daripada rumah sakit pemerintah jang sudah ada di Bukittinggi sendiri. Mereka ini akan bertanja-tanja kenapa kita harus menolak satu amal dari Baptis itu, jang ingin membantu kita secara cuma-cuma? Bukankah itu fanatik namanja?

Akibat-akibatnja akan timbul lagi pergolakan antara pro dan kontra dalam masjarakat minang. Ini akan mengakibatkan lumpuh kembali semangat-pembangunan jang sudah ada sekarang ini, semangat keseluruhan.

Keputusan Menteri Agama No. 54 tahun 1968 itu, mendasar sikap tidak-setudjunja tidak-setudjunja terhadap pendirian rumah sakit Baptis itu, atas kekuatiran akan timbul pertentangan-pertentangan antara golongan-golongan agama di Sumbar, jang dapat mengganggu ketertiban dan keamanan, apabila rumah sakit Baptis itu diteruskan mendidirikannja. Akan tetapi sebenarnja, sebelum itupun, pertengkaran antara pro dan kontra sudah akan bisa mengganggu apa jang disebut ketertiban dan keamanan itu, sekurang-kurangnja banjak jang bertubrukan, banjak perasaan jang akan tersinggung, banjak emosi jang akan berkobar. Sekali lagi.

Ini semua akan melumpuhkan semangat pembangunan Minang kabau setjara keseluruhan jang berkehendak kepada ketenteraman djiwa dan kebulatan hati.

Alangkah sajangnja ! Baru melangkah, ka-tataruang pulo !….

8. Bagai mana tjaranja, mengelakkan musibah ini?

Saja pikir-pikir ini bisa, apabila kita menghadapi ketiga-tiga persoalan itu setjara integral, jaitu soal:

a. Rumah masjarakat jang sedang ditempati oleh anggota tentara,
b. Soal asrama untuk tentara,
c. Soal kekurangan rumah sakit jang bermutu lebih baik.

Jaitu dengan mendjadikan pembangunan asrama tentara, dan mendirikan rumah sakit Islam atau setidak-tidaknja peningkatan mutu rumah sakit Bukittinggi sebagai “projek bersama antara pemerintah dengan masjarakat”.

Sepintas lalu memang “aneh” kedengarannja. Tapi apabila jang aneh ini kita laksanakan akan besar sekali mamfaatnja.

Dalam arti politis kita dapat menundjukkan bahwa kita dapat mempererat hubungan antara pemerintah dengan rakjat atas dasar jang sehat dan menghilangkan kesan bahwa kita hanja bisa menolak sadja akan tetapi djuga sanggup menundjukkan djalan alternatif jang lebih baik.

Dari sudut sosial kita dapat mengatasi kesulitan daripada sebagian masjarakat kita jang memerlukan sangat rumah mereka kembali.

Dari sudut membentengi Agama dengan itu kita dapat lebih tegas dan radikal mengatakan kepada missie-missie asing itu :

“Kami orang Islam tidak memerlukan tuan-tuan datang kesini”.

Haraplah hal ini kita tjoba-tjoba sama-sama pikirkan. Mungkin move jang “aneh” ini tidak akan begitu aneh, bila kita memperhatikan, bagaimana Dandim Padang umpamanja dapat membuka kunci hati dan kekuatan rakjat untuk meringankan beban pembuatan parit pantai laut, dengan bantuan batu dan pasir, dan bagaimana viaduct Saruoso dapat dibangun dengan ongkos jang djauh lebih murah daripada kalkulasi secara modern, dan bagaimana Bupati Pasaman bisa menjelenggarakan kurang lebih 80 projek irigasi dsb, dsb…

Bisakah, sekarang umpamanja kita meminta kepada Penguasa (Militer dan Sipil) di Sumbar, untuk merentjanakan berapa biaja jang diperlukan untuk asrama tentara itu menurut kalkulasi jang normal. Jakni asrama jang mentjukupi sjarat (kalaupun tidak semewah jang mungkin akan ditawarkan oleh Baptis itu).

Berapa prosenkah kiranja jang dapat ditjarikan oleh Pak Gubernur Sumbar sebagai sumbangannja Pemerintah Tk. I untuk maksud tersebut.

Sesudah itu berapakah kiranja jang dapat dikumpulkan setjara suka rela dari masjarakat, berupa sumbangan bahan-bahan dan tenaga?

Kemudian restan kekurangannja, dipintakan dari Hankam (Pusat di Djakarta. Kata dari orang jang tangannja sudah berisi lebih tadjam.

Adapun panitia projek rumah sakit diteruskan djuga. Projek ini lebih “flexible”. Bagi kami di Djakarta akan lebih mudah membantu projek rumah sakit dari pada merintiskan djalan untuk asrama.

Apalagi dengan didjadikannja Bukittinggi sekarang ini sebagai salah satu pusat pemberantasan T.B.C, dengan alat-alat jang modern, dan tambahan tenaga-tenaga dokter, maka dalam soal perawatan orang sakit kita akan dapat bernafas agak lega.

Pendeknja, harapan kami, ialah tjobalah saudara-saudara kita di Sumbar mempertimbangkan dan mendjeladjahi persoalan ini dengan teliti dan bidjaksana.

Saja ingin sekali mendengar pertimbangan-pertimbangan Saudara tentang ini. Walaupun sekedar akan melepaskan was-was………..

W a s s a l a m,

dto

Mohammad Natsir

Leave a Reply