RAJA BAGUINDA RAJA BOANSA PENDIRI KERAJAAN SULU PHILIPINA SELATAN, SAPIEH BALAHAN MINANGKABAU

Menelusuri jejak kasih Raja Bagainda yang pernah menjadi Raja Boansa dan keturunannya mendirikan kerajaan Sulu Philipna. Sapiah balahan Minang ini ada baiknya kita telusuri.

Susur galur salasilahnya bagaimana. Romantika perjalanannya dari Minang ke Arab kemudian diutus ke dunia melayu menyebarkan islam.

Tentang sekilas jejak kasih perjalanan Raja Bagainda ini, pernah dibentangkan dalam Seminar Internasional Temu Sastrawan Numera (Nusantara Melayu Raya) dilaksanakan Pemerintah Kota Padang ub. Dinas Pariwisata Kota Padang, 16-18 Maret 2012.

Secara singkat sekali dibentangkan sebagai berikut ;

Rajo Bagindo di Philipina dikenal dengan nama Rajah Baguinda (Raja Baginda a Malayan prince from Menangkabaw atau seorang pangeran melayu Minangkabau).

Raja Baguinda (Rajo Bagindo – gelar kehormatan dan pimpinan kaum adat yakni kepala suku kampai di Minangkabau ada di Balun Kerajaan Alam Surambi Sungai Pagu dan terdapat juga di Taluak Banda Sapuluah ( di Batangkapas, Pesisir Selatan).

Rajo Bagindo ini pernah belajar ke Arab lalu menjadi da’i besar (misionaris Islam) Arab mendapat tugas menyebarkan Islam ke Nusantara, tahun 1390 sampai di Mendanao dan memperkuat Islam di sana sampai tahun 1460.

Ketika Rajo Bagindo menjadi Raja Buansa, dalam perjalanan penyebaran Islam di Philipinan berikutnya dan yang berbasis di Malaka, disebut pula nama Abu-Bakr yakni a muslim scholar from Malacca (seorang sarjana Malaka) datang ke Sulu dan ke Buansa, Philipina 1450 melalui Palembang dan Brunei.

Di Buansa Abu Bakr (sarjana muslim Malaka) ini tinggal bersama Rajo Bagindo lalu menikah dengan putri Rajo Bagindo (Raja Buansa itu) yang bernama Dayang-dayang (Princess/ Putri Raja) Paramisuli.

Kemudian mantu Rajo Bagindo ini mendirikan kesultanan Sulu (he organizes and formed the sultanate of Sulo) diberi gelar Sultan Sharif.

Cerita ini terdapat dalam Silsilah Sulu:
“After that time came Sayid Abu Bakr from Palembang to Bruney and from there to Sulu.
When he arrived near the latter place he met some people and asked them:
“Where is your town and where is your place of worship?”
They said, “At Bwansa.”
He then came to Bwansa and lived with Rajah Baginda.
The people respected him, and he established a religion for Sulu.
They accepted the new religion and declared their faith in it.
After that Sayid Abu Bakr married Paramisuli, the daughter of Rajah Baginda, and he received the title of Sultan Sharif”

Nah … inilah secuil sejarah trah Minangkabau yang merantau ke mana mana memajukan masyarakat dimana dia bermukin, “di mano bumi di pijak di sana langik di junjuang, di situ pulo adaik ba pakaikan” … yakni “muluik manih, kucindan murah, pandai ba gaaue samo gadang, nan ketek ba sayangi, nan gadang bahormati, samo gadang lawan ba iyo, nan tuo ba mulie kan” … maka sikap watak Minangkabau seperti ini mampu menjelajah dan menundukkan hati manusia untuk mengikuytinya, sehingga dengan dakwah Islam yang dibawa dan dipakainya, yakni “akhlakul karimah” maka diapun disenangi dan akhirnya mampu membuat komunitas besar sampai kepada kerajaan sampai sekarang ….

Masyaallah

Leave a Reply