Gagasan dan Gerak Dakwah Natsir: Persoalan Besar Berawal dari yang Kecil

Padang-Singgalang 13 Februari 2013. “Ketika masalah kecil-kecil tidak diselesaikan, maka dia akan mengundang masalah besar.” Itu sebuah pesan kecil yang dinukilkan Buya Mas’oed Abidin dalam bukunya berjudul, “Gagasan dan Gerak Dakwah Natsir” yang akan segera diluncurkan dalam waktu dekat.

Buya menilai, pesan M. Natsir itu kini sudah banyak dijumpai dalam kehidupan sehari-hari. Bahkan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Banyak persoalan bangsa yang terjadi berawal dari masalah kecil yang tidak segera diselesaikan, kemudian meruyak dan berubah menjadi besar.

Tapi Buya dalam bukunya memang tak hendak membahas persoalan bangsa di era kini. Melainkan membeberkan betapa perjuangan M. Natsir memberikan makna besar bagi bangsa ini, khususnya bagi Sumatera Barat. Gerak dakwahnya tak sebatas kata-kata, melainkan diwujudkan dengan sebuah kenyataan. “Dakwah Pak Natsir tak sekedar gagasan, melainkan dilakukan dengan sebuah gerakan”, sebut ulama Sumbar ini.

Selama ini, dalam pandangannya, ada yang memiliki gagasan tapi tidak diwujudkan dengan sebuah gerakan. Kalau pun ada gerakan, tapi tidak dilandasi gagasan yang cerdas dan cemerlang. “Jadi tidak seperti Pak Natsir yang mengkolaborasikan gagasan dan gerak sekaligus. Sebagai contoh, dia berhasil menggerakan untuk mendirikan sebuah Rumah Sakit Ibnu Sina,” ujarnya.

Pendirian rumah sakit itu menurut Buya seperti yang dituturkan dalam bukunya memang hanya melalui sebuah surat yang ditujukan kepada alim ulama dan pemuka masyarakat di Sumbar. Surat ini pun direspon positif oleh Gubernur Sumbar, H. Harun Zein, karena sesuai pesannya kehadiran rumah sakit itu bisa mengantisipasi gerak misionaris yang akan menggerogoti umat Islam di Ranah Minang. Kehadiran Rumah Sakit Islam menurut Natsir dlaam suratnya yang ditulis lengkap di dalam buku itu diyakini akan mampu membuat ketetapan hati umat terhadap agama Islam.

Dalam buku ini, Buya Mas’oed yang kelahiran Koto Gadang, 11 Agustus 1935 itu juga menceritakan bagaimana Natsir mendorong madrasah kembali dihidupkan. Caranya dengan menghidupkan masjid membina jama’ah, menumbuhkan minat seluruh masyarakat untuk memiliki kekuatan iman dan tauhid. Mewujudkan itu harus dimulai dari kalangan generasi muda.

Tak cuma itu, buk yang dibuat setelah masa pengumpulan data oleh Buya Mas’oed Abidin selama 20 tahun tersebut juga menggambarkan sosok Natsir sebagai tokoh Masyumi. Namun, Buya Mas’oed menyebut buku setebal 438 halaman itu belum menggambarkan keseluruhan kisah sang tokoh yang belum lama ini dinobatkan sebagai Pahlawan Nasional ini.

Redaktur Pelaksana Singgalang, Sawir Pribadi memujikan hadirnya buku ini, karena memang belum banyak generasi muda Sumbar khususnya dan Indonesia umumnya yang mengenal sosok Natsir. “Buku ini sangat tepat hadir untuk memberikan pemahaman tentang pentingnya seorang Natsir bagi bangsa ini,” ujarnya yang didampingi Koordinator Liputan, Gusnaldi Saman. (104)

Leave a Reply