ORANG MINANGKABAU BERADAT DAN BERAGAMA ISLAM ADALAH MASYARAKAT UNGGUL

unggul

Masyarakat Unggul dan Tercerahkan dicetak dengan Menanamkan Nilai-Nilai Ajaran Islam dan Adat Budaya.

Khusus bagi Masyarakat Adat Minangkabau digali dari Al-Qur’an, membentuk peribadi yang hidup dengan penuh kesadaran akan keberadaan Allah Ta’ala dengan segenap aspek hubungan-Nya dengan manusia dan segenap makhluk Ciptaan-Nya dan berdaya fikir.

Berarti membuat Peta Kenyataan sesuai Petunjuk Ajaran Allah Ta’ala yang diuraijelaskan oleh Alquran dan ditafsirterapkan oleh Rasul lewat Sunnah sebagai Teladan Utama (Uswatun Hasanah) –.

Secara batinnya antara adat dan agama saling melengkapi dari yang genap sampai yang ganjil.

Sangat menarik pemakaian angka-angka di Minangkabau, lebih nyata bilangan genap, realistis seperti ”kato nan ampek (4), undang-undang nan duopuluah (20), urang nan ampek jinih, nagari nan ba ampek suku, cupak nan duo (2), cupak usali jo cupak buatan, rumah basandi ganok, tiang panjang jo tonggak tapi, basagi lapan (8) atau sapuluah (10) artinya angka genap.

Dan manakala agama Islam telah datang ke ranah ini, di ajarkan pula pitalo langik nan tujuah (7), sumbayang nan limo wakatu, rukun Islam nan limo (5).

Adat Minangkabau dinamis, menampakkan raso (hati, arif, intuitif) dan pareso (akal, rasio, logika), hasil nyata dari alam takambang jadi guru, makin kokoh dengan keyakinan yang diisi oleh agama Islam yang benar (haq dari Rabb).

Orang Minangkabau terdorong untuk menguasai ilmu dan mencari dengan “merantau” sebagai ujud pengamalan Firman Allah:
“ …. Mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan diantara mereka beberapa orang untuk memperdalam ilmu pengetahuan mereka tentang agama (syariat) dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya (dengan cara-cara mengamalkannya pada setiap perilaku dan tindakan dengan kehidupan beradat), apabila mereka telah kembali kepadanya – kekampung halamannya –, supaya mereka itu dapat menjaga dirinya.”
(QS.IX, at Taubah, ayat 122).

Tidak ada yang lebih indah daripada budi dan basabasi.
Yang dicari bukan emas dan bukan pula pangkat, akan tetapi budi pekerti yang paling dihargai.
Hutang emas dapat di bayar, hutang budi dibawa mati.
Agar jauh silang sengketa, perhalus basa dan basi (budi pekerti yang mulia).
Jika ingin pandai rajin belajar, jika ingin tinggi (mulia), naikkan budi pekerti.

Penerapan Adat Bersendi Syariat, Syariat Bersendi Kitabullah ini mengharuskan kehidupan perorangan serta pergaulan masyarakat Minangkabau berakar dari dan berpedoman kepada Al-Quran serta Sunnah Rasullullah.
Atau dijelaskan dengan adagium “Syarak Mangato Adaik Mamakaikan” …

Dengan demikian, Adat Bersendi Syarak – Syarak Bersendi Kitabullah dapat membentuk lingkungan sosial-budaya yang akan melahirkan masyarakat Minangkabau yang unggul tercerahkan dengan kekuatan akidah dan akhlak menurut Kitabullah.

“Panggiriak pisau sirauik, Patungkek batang lintabuang, Satitiak jadikan lauik, Sakapa jadikan gunuang, Alam takambang jadikan guru ”.

Dengan melaksanakan Adat Bersendikan Syariat (Islam) dan Syariat yang Bersendikan kepada Kitabullah, akan lahir sikap cinta dan sikap positif menjaga batas-batas patut dan pantas.

Insyaallah terbentuk umat yang kuat, sehat fisik, sehat jiwa, sehat pemikiran, dan sehat social, ekonomi, konstruktif (makruf).

“Pariangan jadi tampuak tangkai,
Pagarruyuang pusek Tanah Data,
Tigo Luhak rang mangatokan.
Adat jo syara’ jiko bacarai,
bakeh bagantuang nan lah sakah,
tampek bapijak nan lah taban”

“Tasindorong jajak manurun,
tatukiak jajak mandaki,
Adat jo syarak jiko tasusun,
Bumi sanang padi manjadi.

Adat Miangkabau akan punah dan tidak lagi diamalkan ketika agama Islam tidak diamalkan oleh etnis wangsa Minangkabau ini.
Sebaliknya dakwah Islam akan melemah bila mendakwahkannya tidak pula memakaikan adat istiadat etnis wangsa Minangkabau itu di daerahnya sendiri

Leave a Reply