Hakikat Martabat Kaum Perempuan

Oleh ; H. Masoed Abidin

 

Islam sangat menghormati kedudukan perempuan, Sorga ditelapak kaki Ibu, artinya bahwa “Keridhaan Allâh terletak pada keridhaan kedua orang tua (ayah dan ibu).

Agama Islam telah mengembalikan fitrah kaum perempuan dari kebiasaan jahiliyah yang telah mengingkari kesucian kaum perempuan, dan menganggap kedudukan perempuan sangat rendah. Bila dibimbing oleh nilai-nilai ajaran agama yang luhur (Dinul Islam), maka kaum perempuan, sumber sakinah (bahagia). Merajut kasih dengan rahmah. Menyajikan tenteram dengan mawaddah. Citra perempuan Minangkabau sangat sempurna diperankan pada posisi sentral IBU = Ikutan Bagi Ummat. Ibu adalah inti keluarga yang mendidik pertama dari generasi yang dilahirkannya.

”Adapun yang disebut perempuan, memakai tertib dengan sopan. Mamakai baso jo basi. Tahu ereng dan gendeng. Memakai rasa dan periksa, malu dan sopan. Menjauhi sumbang dan salah. Mulut manis, tutur bahasa disenangi. Kata baik kucindan mudah, pandai bergaul  sama besar. Hormat kapada ibu bapa. Khidmat kepada orang tua, patuh kepada suami, Takut kepada Allah, mengikut perintah sunnah Rasulullah.

Tahu dengan Korong dan kampung. Mengenal tumah tangga. Tahu  menyuri mengulindan. Takut budi akan terjual. Malu di paham akan tergadai. Tahu di mungkin dengan patut. Meletakkan sesuatu pada tempatnya.

Tahu tinggi dan rendah, bayang-bayang sepanjang badan. Boleh ditiru ditauladani. Menjadi suri tauladan kain, akan cupak tauladan betung. Meleleh boleh dipalit, menetes dapat ditampung. Setitik dapat dilautkan, sekepal dapat digunungkan, oleh orang se nagari.” Inilah, harkat perempuan di Ranah Bundo, mulia dan bermartabat.

Perempuan Minang disebut padu isi dengan lima sifat utama; benar,  jujur, pandai, fasih terdidik, dan bersifat malu. Anak orang Koto Hilalang, Hendak lalu ke Pekan Baso, Malu dan sopan kalau dah hilang, habislah rasa dan periksa. Al hayak nisful iman = malu adalah paruhan dari Iman.

Leave a Reply