REFLEKSI PERINGATAN MAULID, MENELADANI RASULULLAH SAW

Oleh: H.Mas’oed Abidin

Salah satu refleksi peringatan maulid adalah mengambil keteladanan Nabi Muhammad SAW yang telah mengeluarkan umat manusia dan lembah kemiskinan harta, kemiskinan ilmu, kemelaratan mental (akhlak) maupun spritual (hakekat uluhiyah dan rububiyah).

Muhammad SAW mengentaskan umat dari kemiskinan harta dengan memacu kepada usaha individu dengan memberi bibit untuk ditanam bukan menyediakan nasi untuk dimakan.

Petunjuk yang tersirat dalam beberapa sabda Rasulullah SAW.
Di antaranya:

“Bekerjalah kamu untuk duniamu seakan-akan-akan hidup selamanya dan berusahalah kamu untuk akhiratmu seakan-akan kamu akan mati esok hari.
(H.R. Ibnu ‘Asakir)

Dalam kehidupannya Rasulullah telah memberi contoh.
Beliau SAW tidak pernah menolak pengemis yang datang ke rumahnya.
Bahkan sering para pengemis diberi bibit kurma untuk ditanam sehingga sang pengemis dapat memberi makan anak cucunya.

Rasulullah SAW sangat menghargai makna sebuah kerja.
Etos kerja Islam merupakan manifestasi kepercayaan muslim yang memiliki kaitan dengan tujuan hidup yang hakiki, yaitu ridha Allah SWT dalam meraih prestasi di Dunia dan Akhirat.

Nabi Muhammad SAW mendorong umat agar tidak miskin ilmu.

Rasulullah SAW mengingatkan,
“Barangsiapa yang menginginkan dunia haruslah dengan ilmu, dan barang siapa yajig menginginkan akhirat haruslah dengan ilmu, dan barang siapa yang menginginkan kedua-keduanya haruslah dengan ilmu”.
(H.R. Murrafaqun ‘Alaih).

Dengan ilmu yang diredhai Allah maka seseorang dianggap sebagai pewaris Nabi, dan dengan ilmu kebahagiaan di dunia akhirat dapat di raih.

Nabi Muhammad Saw mendorong agar manusia tidak menjadi miskin mental.

Apabila jiwa atau mental sehat, dengan sendirinya akan memancar bayangan kesehatan itu pada perilaku kehidupan sehari-hari.

Risalah Islamiyah adalah suatu anugerah bagi umat manusia.
Nabi Muhammad SAW telah berhasil membawa masyarakat jahiliyah yang miskin mental menjadi masyarakat yang luhur, berakhlak. memiliki sopan santun dan tata krama dalam pergaulan dan penuh peradaban, dengan menghidupkan empat sikap utama ;

a. Syaja‘ah artinya berani pada kebenaran dan takut pada kesalahan dan dosa.

b. ‘Iffah artinya pandai menjaga kehormatan diri lahiriah dan batiniyah.

c. Hikmah artinya tahu rahasia diri dan pengalaman hidup, dan memiliki ilmu.

d. ‘Adalah artinya adil walaupun pada diri sendiri.

Muhammad SAW adalah figur teladan yang diidolakan.
Setiap langkahnya selalu dibawah kontrol Ilahi adalah mutiara berharga, menjadi landasan akhlak yang ditaati umatnya.

Tiada seorangpun yang dapat meragukan keagungan peribadi Rasulullah SAW.

Keperibadian yang dijadikan contoh teladan dalam segala hal.
Rasulullah sebagai seorang suami yang teladan, sebagai ayah teladan, sebagai guru teladan, sebagai tokoh teladan, sebagai abli strategi teladan, sebagai ahli ekonomi teladan, sebagai pejuang hak-bak asasi manusia teladan, dan sebagai kepala negara yang teladan.

Keteladanan yang mampu mengubah situasi dan kondisi masyarakat.

Keteladanan yang mampu mereformasi sistem dan tatanan yang ada, ke arah yang lebih baik dan tujuan yang mulia, yakni baldatun thayyibatun wa rabbun ghafuur (negeri yanq makmur dan penuh ampunan Tuhan).

Nilai-nilai keteladanan menjadi warisan paling berharga bagi umat manusia, tanpa terkecuali.

Setiap ayunan langkah, setiap nawaitu yang bulat, setiap pernyataan yang di ikrarkan dan setiap perbuatan yang dilakukan merupakan cerminan dari keteladanan RasululIah saw. dalam kehidupan.

Leave a Reply