Pelajaran Besar Awal Surah Ibrahim

Surah Ibrahim ayat : 1

 الر كِتَابٌ أَنْزَلْنَاهُ إِلَيْكَ لِتُخْرِجَ النَّاسَ مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ بِإِذْنِ رَبِّهِمْ إِلَى صِرَاطِ الْعَزِيزِ الْحَمِيدِ

Artinya :

Alif, laam raa. (Ini adalah) Kitab yang Kami turunkan kepadamu supaya kamu mengeluarkan manusia dari gelap gulita kepada cahaya terang benderang dengan izin Tuhan mereka, (yaitu) menuju jalan Tuhan Yang Maha Perkasa lagi Maha Terpuji.  

 

Alif Lam Ra, termasuk huruf-huruf abjad yang terletak pada permulaan beberapa surah Alquran. Ada dua hal yang perlu dibicarakan tentang huruf-huruf abjad yang disebutkan pada permulaan beberapa surah dari Alquranul Karim itu, yaitu apa yang dimaksud dengan huruf ini, dan apa hikmahnya menyebutkan huruf-huruf ini?

Tentang soal pertama, maka para mufassir berlainan pendapat,

1.  Ada yang menyerahkan saja kepada Allah, dengan arti mereka tidak mau menafsirkan huruf-huruf itu. Mereka berkata, “Allah sajalah yang mengetahui maksudnya.” Mereka menggolongkan huruf-huruf itu ke dalam golongan ayat-ayat mutasyabihat.

2.  Ada yang menafsirkannya. Mufassirin menafsirkan ini berlain-lain pula pendapat mereka, yaitu:

 

  • Ada yang berpendapat bahwa huruf-huruf itu adalah isyarat (keringkasan dari kata-kata), umpamanya Alif Lam Mim. Maka “Alif” adalah keringkasan dari “Allah”, “Lam” keringkasan dari “Jibril”, dan “Mim” keringkasan dari Muhammad, yang berarti bahwa Alquran itu datangnya dari Allah, disampaikan oleh Jibril kepada Muhammad.
  • Pada Alif Lam Ra; “Alif” keringkasan dari “Ana”, “Lam” keringkasan dari “Allah” dan “Ra” keringkasan dari “Ar-Rahman”, yang berarti: Saya Allah Yang Maha Pemurah.
  • Ada yang berpendapat bahwa huruf-huruf itu adalah nama dari surah yang dimulai dengan huruf-huruf itu.
  • Ada yang berpendapat bahwa yang dimaksud dengan huruf-huruf abjad ini adalah huruf-huruf abjad itu sendiri. Maka yang dimaksud dengan “Alif” adalah “Alif”, yang dimaksud dengan “Lam” adalah “Lam”, yang dimaksud dengan “Mim” adalah “Mim”, dan begitu seterusnya.
  • Huruf-huruf abjad hijaiyah itu untuk menarik perhatian, karena dibalik atau sesudah huruf itu aka nada pemberitahuan Allah Yang Maha Kuasa, diantaranya tentang mukjizat Al Quran.

Menurut para mufassir huruf-huruf abjad disebut Allah pada permulaan beberapa surah dari Alquranul Karim, hikmahnya adalah untuk “menantang”. Tantangan itu bunyinya kira-kira begini: Alquran itu diturunkan dalam bahasa Arab, yaitu bahasa kamu sendiri, yang tersusun dari huruf-huruf abjad, seperti Alif Lam Mim Ra, Ka Ha Ya Ain Shad, Qaf, Tha Sin dan lain-lainnya.

Maka kalau kamu sekalian tidak percaya bahwa Alquran ini datangnya dari Allah dan kamu mendakwakan datang dari Muhammad, yakni dibuat oleh Muhammad sendiri, maka cobalah kamu buat ayat-ayat yang seperti ayat Alquran ini. Kalau Muhammad dapat membuatnya tentu kamu juga dapat membuatnya.”

Maka ada “penantang”, yaitu Allah, dan ada “yang ditantang”, yaitu bahasa Arab, dan ada “alat penantang”, yaitu Alquran.

Para mufassir yang berpendapat bahwa huruf-huruf abjad itu disebut oleh Allah pada permulaan beberapa surah dari Alquran untuk menantang bangsa Arab itu, adalah berdasar “istiqra” artinya menyelidiki masing-masing surah yang dimulai dengan huruf-huruf abjad itu. Dengan penyelidikan itu mereka mendapat fakta-fakta sebagai berikut:

1.  Surah-surah yang dimulai dengan huruf-huruf abjad ini adalah surah-surah Makiyah (diturunkan di Mekah), selain dari dua buah surah saja yang Madaniyah (diturunkan di Madinah), yaitu surah Al-Baqarah dan Ali Imran yang dimulai dengan Alif Lam Mim. Penduduk Mekah ketika itu tidak percaya bahwa Alquran itu adalah dari Allah. Mereka mendakwakan bahwa Alquran itu buatan Muhammad semata-mata.

2.  Sesudah menyebutkan huruf-huruf abjad itu ditegaskan bahwa Alquran itu diturunkan dari Allah, atau diwahyukan oleh-Nya. Hanya ada 9 surah yang dimulai dengan huruf-huruf abjad itu yang tidak disebutkan sesudahnya penegasan bahwa Alquran itu diturunkan dari Allah.

3.  Huruf-huruf abjad yang disebutkan itu adalah huruf-huruf abjad yang banyak terpakai dalam bahasa Arab.

Dengan demikian dapatlah dikatakan bahwa para mufassir yang mengatakan bahwa huruf-huruf abjad ini didatangkan Allah untuk “tahaddi” (menantang) adalah memakai tariqah (metode) ilmiah, yaitu “menyelidiki dari contoh-contoh, lalu menyimpulkan daripadanya yang umum”. Tariqah ini disebut “Ath-Thariqat Al-Istiqra’iyah” (metode induksi).

Ada mufassir yang berpendapat bahwa abjad ini didatangkan oleh Allah pada permulaan beberapa surah-surah Alquranul Karim untuk menarik perhatian.

Memulai pembicaraan dengan huruf-huruf abjad adalah suatu cara yang belum dikenal oleh bangsa Arab di waktu itu, karena itu maka hal ini menarik perhatian mereka.

Pendapat yang menyerahkan saja kepada Allah karena Allah saja yang mengetahui, tidak diterima oleh kebanyakan mufassirin ahli-ahli tahqiq (yang menyelidiki secara mendalam). (Lihat Tafsir Al-Qasimi j.2, hal. 32).

Alasan-alasan mereka ialah:

  • Allah sendiri telah berfirman dalam Alquran:

بِلِسَانٍ عَرَبِيٍّ مُبِينٍ

Artinya: Dengan bahasa Arab yang jelas. (Q.S. Asy Syu’ara’: 195).

Maksudnya Alquran itu dibawa oleh Jibril kepada Muhammad dalam bahasa Arab yang jelas. Dari ayat ini dapat dipahami bahwa ayat-ayat dalam Alquran itu adalah “jelas”, tak ada yang tidak jelas, yang tak dapat dipahami atau dipikirkan, yang hanya Allah saja yang mengetahuinya.

  • Di dalam Alquran ada ayat-ayat yang menunjukkan bahwa Alquran itu menjadi petunjuk bagi manusia. Di antaranya firman Allah:

ذَلِكَ الْكِتَابُ لأ رَيْبَ فِيهِ هُدًى لِلْمُتَّقِينَ

Artinya: Kitab Alquran ini tidak ada keraguan pada-nya, petunjuk bagi mereka yang bertakwa.”  (Q.S. Al-Baqarah: 2)

 

Firman-Nya lagi:

قُلْ مَنْ كَانَ عَدُوًّا لِجِبْرِيلَ فَإِنَّهُ نَزَّلَهُ عَلَى قَلْبِكَ بِإِذْنِ اللَّهِ مُصَدِّقًا لِمَا بَيْنَ يَدَيْهِ وَهُدًى وَبُشْرَى لِلْمُؤْمِنِينَ

Artinya: “Katakanlah (wahai Muhammad), “Barangsiapa  yang menjadi musuh Jibril maka (ketahuilah) bahwa dialah yang menurunkan (AlQuran) kedalam hatimu dengan izin Allah, membenarkan apa apa (Kitab-kitab) yang terdahulu, dan menjadi petunjuk serta berita gembira bagi orang-orang yang beriman.” (Q.S. Al-Baqarah: 97)

 

Firman-Nya lagi:

هَذَا بَيَانٌ لِلنَّاسِ وَهُدًى وَمَوْعِظَةٌ لِلْمُتَّقِينَ

Artinya: (Alquran) ini adalah penerangan bagi seluruh manusia dan petunjuk serta pelajaran bagi orang-orang yang bertakwa.” (Q.S. Ali Imran: 138).

Dan banyak lagi ayat-ayat yang menerangkan bahwa Alquran itu adalah petunjuk bagi manusia, tentu harus jelas dan dapat dipahami. Hal-hal yang tidak jelas tentu tidak dijadikan petunjuk.

  • Dalam ayat yang lain Allah berfirman pula:

وَلَقَدْ يَسَّرْنَا الْقُرْآنَ لِلذِّكْرِ فَهَلْ مِنْ مُدَّكِرٍ

Artinya: “ Dan sesungguhnya telah Kami mudahkan Alquran untuk pelajaran, maka adakah orang yang mau mengambil pelajaran?” (Q.S. Al-Qamar: 17, 22, 32, dan 40).

Pendapat yang menafsirkan bahwa huruf-huruf abjad itu adalah keringkasan dari suatu kalimat banyak para mufassir yang tidak dapat menerimanya. Keberatan mereka karena tidak ada kaidah atau patokan tertentu untuk ini. Di samping pendapat bahwa Alif Lam Mim artinya ialah: Allah, Jibril, Muhammad, ada pula yang mengartikan “Allah, Latifun, Maujud” (Allah Maha Halus lagi Ada). (Dr. Mahmud Syaltut, Tafsir al Qur’anul Karim, hal. 73).

Pendapat yang menafsirkan bahwa huruf-huruf abjad pada permulaan surah ini adalah nama surah, juga banyak pula para mufassir yang tidak dapat menerimanya dengan alasan bahwa surah-surah yang dimulai dengan huruf-huruf itu kebanyakannya adalah mempunyai nama lain. Umpamanya surah Al-Baqarah, Ali Imran, Maryam dan lain-lain. Hanya ada empat buah surah yang sampai sekarang tetap dinamai dengan huruf-huruf abjad yang terdapat pada permulaan surah-surah itu, yaitu: Surah Thaha, surah Yasin, surah Shad dan surah Qaf. (Dr. Mahmud Syaltut, Tafsir al Qur’anul Karim, hal. 73).

Pendapat yang menafsirkan bahwa maksud huruf-huruf abjad itu didatangkan oleh Allah untuk “menantang” (tahaddi) dipegang oleh sebahagian mufassirin ahli tahqiq. (Di antaranya: Az Zamakhsyari, Al Baidawi, Ibnu Taimiah, dan Hafizh Al Mizzi, lihat Rasyid Rida, Tafsir Al Manar jilid 8, hal. 303 dan Dr Shubhi As Salih, Mabahis Ulumi Qur’an, hal 235. Menurut An Nasafi: pendapat bahwa huruf abjad ini adalah untuk menantang patut diterima. Lihat Tafsir An Nasafi, hal. 9).

Pendapat yang menafsirkan bahwa huruf-huruf abjad ini adalah untuk “menarik perhatian” (tanbih) pendapat ini juga diterima oleh ahli tahqiq. (Tafsir Al Manar jilid 8 hal. 209-303).

Disimpulkan bahwa “yang dimaksud dengan huruf-huruf abjad yang disebutkan oleh Allah pada permulaan beberapa surat dari Alquran hikmahnya adalah untuk “menantang” bangsa Arab serta menghadapkan perhatian manusia kepada ayat-ayat yang akan dibacakan oleh Nabi Muhammad saw.”

Dalam ayat pertama Surat Ibrahim ini, firman Allah SWT muncul sesudah Alif Lam Ra menjelaskan masalah penting mengenai Alquran dan mengenai maksud tujuan diturunkan Alquran kepada Nabi Muhammad SAW.

Ditegaskan bahwa Allah SWT menurunkan Alquran kepada Rasulullah agar dengan petunjuk dan peraturan-peraturan Alquran itu Rasulullah SAW dapat memberikan tuntunan dan bimbingan kepada umat sehingga mereka dapat dikeluarkan dari kegelapan kepada cahaya yang terang benderang atau dari kesesatan dan kejahilan dibimbing kepada jalan yang benar dengan ilmu pengetahuan serta peradaban yang tinggi sehingga mereka memperoleh ridha Allah dan kasih sayang Allah SWT di dunia dan di akhirat.

Penegasan tentang fungsi Alquran ini adalah sangat penting sekali apalagi kita hubungkan dengan ayat-ayat yang lalu, di mana Allah SWT telah menyebutkan adanya orang-orang yang mengingkari Alquran baik sebagian maupun keseluruhannya. Selanjutnya dalam ayat ini diterangkan, bahwa Rasulullah SAW dapat menjelaskan tugas tersebut dengan izin dan bantuan dari Allah SWT memberikan jalan yang mudah, dan menguatkan tekad menghadapi segala rintangan.

Alquran adalah jalan lurus penuh petunjuk yang dibentangkan Allah Yang Maha Kuasa dan Maha Terpuji.

NASEHAT AHLI HIKMAH Siapa yang ingin menjadi kaya, maka hendaknya ia selalu senang dengan apa yang diberikan Allah kepadanya, baik berupa harta benda, kedudukan, maupun yang lainnya. Siapa yang ingin pandai dalam urusan agamanya, maka hendaknya mau menerima kebenaran dari Allah yang disampaikan oleh siapapun dan dimanapun datangnya. Barangsiapa ingin menjadi seorang yang bijak, maka hendaknya dia menjadi orang yang berilmu. Barang siapa ingin aman dari gangguan manusia, hendaknya dia tidak menceritakan aib orang lain. Agar peradaban membawa kemaslahatan dan menyejahterakan umat maka bimbingan agama menjadi penyempurna rahmat Allah bagi manusia. Kewajiban setiap diri memelihara jasmani dengan menjaga kesehatannya. Akal mesti dikembangkan dengan ilmu pengetahuan. Agama wajib dilaksanakan dalam realitas kehidupan. Perintah Allah dengan Alquran mesti diyakini sebagai pedoman hidup yang paripurna.

Sayidina Ali bin Abi Thalib pernah berkata: “Rezki yang tidak diperoleh hari ini masih dapat diharapkan perolehannya lebih banyak di hari esok, tetapi waktu yang berlalu hari ini, tidak mungkin kembali esok”. Artinya, jalani kehidupan haruslah dengan iman dan taqwa kepada Allah SWT. Jika umur tidak diisi taqwa, hidup akan hampa, tidak bermakna dan sia-sia.
Dalam sebuah hadits yang bersumber dari Abu Dzar Al Ghifari, Rasulullah SAW bersabda: “Yang berakal selama akalnya belum terkalahkan oleh hawa nafsunya, berkewajiban mengatur waktu-waktunya. Ada waktu yang digunakan untuk bermunajat dengan Tuhannya. Ada waktu yang digunakan untuk melakukan introspeksi (menghitung diri). Ada waktu yang digunakan untuk memikirkan ciptaan Allah (belajar). Ada pula waktu yang digunakan khusus untuk diri (dan keluarga) guna memenuhi keperluan makan dan minum.” (Diriwayatkan oleh lbnu Hibban).
“Allah SWT telah memerintahkan kita untuk menggunakan waktu dalam empat hal”. Dalam hal yang dapat menyelamatkan agama kita, berupa ketaatan kepada Allah. Manusia wajib menjaga waktunya ; (a). yang difardhukan oleh Allah seperti shalat, zakat, puasa, haji, dan seterusnya. (b). yang dianjurkan oleh Allah berupa amalan-amalan nafilah (sunnah), seperti tilawatil Qur’an, sedekah, zikir, dan membaca shalawat nabi. Dalam hal-hal yang memberikan manfaat kepada kita, untuk mencari rezki yang halal bagi kita dan keluarga yang kita tanggung, wajib memanfaatkan waktunya. Jika hal itu dilakukan dengan ikhlas, maka akan menjadi amal ibadah. Dalam hal yang mendatangkan manfaat kepada orang lain, merupakan bagian dari silaturrahim dalam bentuk pendekatan (qurbah/taqarrub) diri yang paling agung, maka manusia berkewajiban menyediakan waktunya. Dalam hal mengganti sesuatu yang hilang dari kita, yaitu waktu istirahat, manusia wajib menyediakan waktu untuk menyegarkan kembali semangat dengan istirahat (irhanaa ya Bilaal bis-shalah), dan berwisata (siruu fil-ardhi) dengan cara bermanfaat dan positif.
Jika kita menyimak ungkapan bijak, “Umurku berkurang setiap hari.. .Sedang dosa terus bertambah… Bagaimana mungkin aku bisa memikulnya…” رَبَّنَا اغْفِرْلَنَا وَِلإِخْوَانِنَا الَّذِيْنَ سَبَقُوْنَا بِاْلإِيـْـمَانِ وَلاَ تَجْعَلْ فيِ قُلُوْبِنَا غِلاًّ لِلَّذِيْنَ آمَنُوْا رَبَّنَا إِنَّكَ رَءُوْفٌ رَحِيْمٌ رَبَّنَا آتِنَا فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَ فِى الآخِرَةِ حَسَنَةً وَ قِنَا عَذَابَ النَّارِ

 

Dalam Al-Quran kita temukan kisah tentang Luqman yang menasehati anaknya tentang kewajiban-kewajiban utama manusia. Ada tiga kewajiban manusia yang harus ia penuhi. Kewajiban manusia kepada Allah . (Q.S Luqman:13) Kewajiban anak kepada orang tua (Q.S. Luqman: 14) Kewajiban kepada sesamanya (Q.S. Luqman:18 – 19)

Leave a Reply