Malabiehi Ancak-Ancak, Mangurangi Sio-Sio

Sebagai sebuah proses, ajaran agama Islam tidak berdiri sendiri, sehingga terhindar dari bersinggungan dengan lalu lintas ide atau pemikiran yang ada di sekitarnya.

Bahkan, ajaran Islam telah dan ikut mengkoreksi pemikiran yang berkembang dan serta merta menjelaskan mana yang tidak sesuai dan kemudian berupaya mengubah dan membawa kepada kondisi positif.

Islam tidak boleh dipahami secara eksklusif, yang berada dalam ruang lingkup pergaulan sebuah komunitas sosial yang tertutup dari dunia sekitarnya.

Dalam hal ini Minangkabau dapat dijadikan contoh penelitian dalam sebuah peta realitas sosial dan kehidupan berbudaya yang menyandarkan kepada keyakinan agama Islam.

Memang panjang jalan yang mesti ditempuh.
Sampai sekarang pun belum berakhir.
Cuma sudah berenti pada kesepakatan kolektif yang harus diungkapkan dengan senafas, yaitu adagium ;
“Adaik basandi syara’_Syarak basandi Kitabullah, Syara’ Mangato Adaik Mamakaikan” ….

Karena, diyakini bahwa ajaran Islam sesungguhnya bersifat inklusif yang dapat dipahami oleh semua orang.

Dalam hal ini, tidak dapat ditolak perkembangan dakwah yang diminati di nagari-nagari di Minangkabau adalah dakwah inklusif yang terbuka untuk semua orang.

Pemikiran baru terhadap adat dan syara’ sangat diperlukan dalam rangka pencerahan problematika sosial, budaya, ekonomi dan politik dalam masyarakat Minangkabau.

Pemikiran itu terutama untuk benteng bagi anak nagari dari pelunturan kadar budaya akibat proses westernisasi kebudayaan.

Perpaduan adat dan syara’ yang bersumberkan ajaran Islam (Kitabullah) menjadi satu antitesis terhadap kondisi yang tumbuh karena westernisasi borderless tersebut.

Gerakan dan pemikiran Dakwah Islam merupakan pemikiran ahlul salaf, yang bertujuan melahirkan umat pertengahan (umathan wasathan) seperti dikemukakan ajaran Alquran ;

“Dan demikian (pula) Kami telah menjadikan kamu (umat Islam), umat yang adil dan pilihan agar kamu menjadi saksi atas (perbuatan) manusia dan agar Rasul (Muhammad) menjadi saksi atas (perbuatan) kamu.” (QS. al Baqarah : 143)

Sebagai pemikiran aplikatif dari problemtika sosial yang ada, maka penerapan idea (pemikiran) yang dijiwai oleh syara’ (Islam) – di Minangkabau dipakai dua kosa kata “basandi” dan “babuhue” menjadi sebuah keperluan mutlak yang diharapkan masyarakat saat ini.

Kita menyadari bahwa “frustrasi social” yang melahirkan agresi dalam segenap bidang kehidupan dilahirkan oleh kesenjangan. Amat terasa tersirat dalam tulisan dan pikiran Prof. Musril Zahari di atas. Atau karena tidak sejalannya antara sebuah ide dengan aplikasi ide tersebut.

Kesenjangan ini, dapat diatasi oleh pembentukan masyarakat self help, selfless help dan mutual help di atas.
Dan modal itu ada dalam kaidah hidup masyarakat Minangkabau selama ini “saciok bak ayam sadancieng bak basi” dan ungkapan lain yang semakna dengan itu …

Upaya menjembatani kesenjangan tersebut hanya dapat dilakukan melalui upaya nyata dengan “Berorientasilah kepada ridha Allah SWT.”

Kata kata ridha merupakan maqam (tingkatan) terakhir dalam tingkatan rohani kehidupan tasauf (pembersihan diri). Berjalan menuju redha Allah (dakwah ilaa Allah) hanya dapat dicapai melalui ‘al-qalb al-salim” (hati yang tenteram dan sejahtera).

Kebaikan hati awal langkah untuk mencapai kebaikan jiwa dan jasad, “Sesungguhnya di dalam jasad terdapat segumpal mudhghah (benda darah), jika ia sehat maka baiklah seluruh jasad, dan jika ia fasad maka rusaklah seluruh jasad. Ketahuilah bahwa ia adalah hati” (Hadith riwayat Bukhari).

Kebaikan hati menjadi titik tolak kehidupan yang sempurna. Kebersihan hati manusia akan membuka peluang besar untuk menerima perintah Allah dengan sempurna. Inti dari perjalanan menuju redha Allah sebenarnya adalah perjalanan hati (rihlah qalbiyah) menuju kebaikan. Mempertahankan kebaikan hati dengan melaksanakan kewajiban ibadat yang ikhlas kepada Allah sampai kematian datang menjelang.

Ini kerja berat yang selama ini diserahkan kepada peran “Suluah Bendang di Nagari”

Di saat pergulatan penetrasi budaya, peran ulama suluah bendang di nagari-nagari menentukan di dalam membuat generasi Minangkabau masa datang yang bertanggung jawab. Suatu pengabdian mulia tetapi dengan tugas sangat berat. Kewajiban kita untuk selalu memberi ingat kepada generasi pengganti di Minangkabau. Agar mereka menjadi berani hidup dan punya bekal yang cukup bilamana kelak ajal datang menjelang.

Karena itu, “Budi” adalah sebuah dasar utama untuk dapat melaksanakan prinsip adat di Minangkabau.

Indak nan merah pado kundi,
Indak nan bulek pado sago,
Indak nan indah pado budi,
Indak nan elok pado baso”.

Anak ikan dimakan ikan,
gadang di tabek anak tanggiri.
Ameh bukan pangkekpun bukan,
budi sabuah nan di haragoi.

Dulang ameh baok balaie,
batang badi baok pananti,
Utang ameh dapek di baie,
utang budi babaok mati.

Pucuak pauah sadang ta jelo,
panjuluak bungo galundi.
Nak jauh silang sangketo,
pahaluaih baso jo basi.

Ingatlah ananda, bahwa masyarakat Minangkabau sangat menghargai kesantunan berbahasa yang sopan.

Anjalai tumbuh di atas munggu,
Sugi-sugi di rumpun padi.
Kalau hendak pandai sungguh-sungguhlah berguru,
Kalau mau tinggi, naiakkanlah budi.

Demikian dan moga bermanfaat adanya ….
Wassalam

Leave a Reply