Buya Mas’oed Abidin, Pasca Tragedi Priok Keteladanan Pemimpin dan Perbaikan Karakter Bangsa

 

Babinrohis Nakertrans

 

Tokoh Agama Sumatera Barat (Sumbar), Buya Mas`oed Abidin meminta ada keteladanan dari pemimpin dan perbaikan karakter bangsa agar  Tragedi Priok Berdarah tidak terulang di masa datang di tempat manapun di Indonesia. “Segera perbaiki dan perlu ada ketauladan, karena pokok pangkalnya ada disana. Sekarang, setelah terjadi maka benahilah secepatnya,” kata mantan Ketua Dewan Dakwah Islam Indonesia (DDII) Sumbar itu di Padang, Sabtu, mengomentari bentrok masyarakat dengan Satpol PP di Koja Rabu lalu.

Buya menilai insiden yang menimbulkan korban jiwa itu terjadi karena manusia mengedepankan kepuasan hawa nafsu dan hilangnya kearifan, serta telah dihinggapi penyakit anarkis. “Kita harus arif dan tidak mengulangi jejak yang sama di lain waktu dan pada tempat yang berbeda di Republik Indonesia,” katanya.

Dia meminta sistem pendidikan negeri ini diubah dalam jangka panjan, sementara pendidikan karakter berbangsa mesti dikedepankan untuk menguatkan basis akhlak dan etika serta nilai-nilai mulia agama lainnya.  Menurut Wakil Ketua MUI Sumbar itu, penguasa harus tahu bagaimana semestinya bertindak, sebaliknya rakyat mesti mengerti bagaimana bereaksi.

“Kita sedih dengan perlakuan yang diterapkan masyarakat karena hilang kesabaran. Aparat juga hilang kearifan,” katanya. Oleh karena, pendidikan karakter berbangsa tidak dapat ditawar-tawar dan penguatan jiwa pembauran, kerukunan antar sesama tak boleh lagi ditunda-tunda.

Buya Mas`oed Abidin mengingatkan semua elemen supaya inseden `Priok Berdarah` dijadikan pembelajan agar tak mengulangi jejak yang sama di tempat manapun pada negeri tercinta ini. “Kita harus arif dan tidak mengulangi jejak yang sama di lain waktu dan pada tempat yang berbeda di Republik Indonesia,” kata Mantan Ketua Dewan Dakwah Islam Indonesia (DDII) Sumbar itu, ketika diminta pandangannya di Padang, Jumat.

Insiden berdarah Priok antara masyarakat dengan Satpol PP di kawasan Makam Mbah Priok pada (14/4) saat rencana eksekusi bangunan di seputar Makam tokoh Islam yang menyebabkan tiga tewas dan puluhan luka-luka sehingga menjadi perhatian publik.

“Kita sudah kehilangan karakter, watak berbangsa dan bernegara, tapi dihinggapi penyakit amuk dan anarkis,” ujarnya. Sistem pendidikan di negeri ini dalam jangka panjang perlu dirubah, dan pendidikan karakter berbangsa mesti dikedepankan. Basisnya adalah akhlak mulia dan etika religi serta nilai-nilai mulia dari ajaran agama. Menurut Wakil Ketua MUI Sumbar itu, penguasa harus tahu mana dana bagaimana semestinya bertindak dan rakyak pun mesti mengerti bagaiman bereaksi. Namun, fakta yang terjadi insiden `Priok Berdarah` tak terlepas dari cara pendidikan, makanya ini harus dijadikan pembelajaran bagi semua.

“Kita sedih dengan perlakuan yang diterapkan masyarakat karena hilang kesabaran. Aparat juga hilang kearifan. Bila sudah begini siapa lagi yang harus disalahkan?,” katanya mempertanyakan.

Leave a Reply