KEKUATAN SEBUAH DOA

الدُّعَاءُ سِلاَحُ المُؤْمِنِ وَ عِمَادُ الدِّيْنِ وَ نُوْرَ السَّمَاوَاتِ وَ اْلأَرْضِ

“Doa adalah senjata orang mukmin, tiang agama dan cahaya langit dan bumi.” (HR. Al Hakim, dari Ali bin Abi Thalib r.a.)

Doa adalah permohonan seorang hamba kepada Tuhannya. Doa adalah sarana penting bagi manusia sebagai makhluk yang memiliki berbagai kecemasan.

Doa adalah pengakuan akan kelemahan manusia di hadapan Khaliqnya.
Doa adalah curahan keinginan yang ditujukan langsung kepada Allah Azza wa Jalla.

Setiap muslim mengenal apa yang disebut doa.
Setiap orang bila berada dalam kesusahan selalu jujur pada dirinya dan berdoa.

Doa adalah sebuah pengakuan seseorang akan kelemahannya.
Enggan berdoa, niscaya dia termasuk orang sombong.
Inilah manusia yang melampaui batas.

« Ketahuilah! Sesungguhnya manusia benar-benar melampaui batas karena dia melihat dirinya serba cukup. » (Q.S Al ‘Alaq: 6-7)
Seringkali manusia lupa berdoa ketika sedang diliput kesenangan. Sering lupa dengan sumber nikmat itu. Ketika musibah timpa bertimpa, mulailah ia merunduk meratakan dahi, menghiba bermunajat, memohon, dan merintih.

« Dan apabila Kami memberikan nikmat kepada manusia, ia berpaling dan menjauhkan diri, tetapi apabila ia ditimpa malapetaka maka ia banyak berdoa. » (Q.S Fusshilat: 51)

Doa adalah upaya mendekatkan diri kepada Allah. Di saat berdoa, lahir satu keyakinan kuat bahwa Allah Maha Mendengar dan Maha Kuasa atas segalanya.

Timbul suatu dorongan untuk meningkatkan amal ibadah dan amal shaleh.
Ini semestinya menjadi tujuan utama dari sebuah doa.
Nilai yang lebih hakiki dari doa adalah perubahan diri menjadi lebih baik dan lebih shaleh..

Terkabul sebuah doa bukanlah semata-mata karena tangisan atau rintihan munajahnya.
Terkabul sebuah doa ada syarat disertai penyucian diri (tazkiyatun nafsiy) sehingga diri terjauh dari murka Allah dan dekat dengan ridha Nya.

Abu Ishaq pernah ditanya,
« Mengapa doa kami tidak dikabulkan, padahal Allah telah berfirman:
”Berdoalah kepada-Ku niscaya akan Aku perkenankan bagimu.” Ibrahim bin Adham menjawab:
“Karena hati telah mati.”
Ditanya « Apa penyebab hati itu bisa mati »,
Ibrahim bin Adham menjawab, Ada delapan hal penyebab matinya hati itu …. ;

1. Kalian mengetahui hak Allah, tetapi tidak melaksanakan hak- Nya ,
2. Kalian membaca Al Qur’an tetapi tidak mengamalkan hukum-hukum-Nya,
3. Kalian mengatakan cinta Rasulullah SAW, tetapi kalian tidak mengamalkan Sunnahnya,
4. Kalian mengatakan takut mati, tetapi kalian tidak mempersiapkan diri untuk menghadapinya,
5. Allah berfirman: “Sesungguhnya syetan itu adalah musuh bagimu, maka jadikanlah ia musuhmu.” (Q.S. Fathir: 6), tetapi kalian mendukungnya dalam maksiat,
6. Kalian mengatakan takut api neraka, tetapi kalian menyampakkan jasad kalian ke dalamnya,
7. Kalian mengatakan cinta surga, tetapi kalian tidak berusaha untuk mendapatkannya, dan
8. Apabila kalian berdiri di hamparan kalian, maka kalian melemparkan aib-aib kalian di belakang punggung kalian, dan kalian gelar aib-aib orang lain di hadapan kalian, lalu dengan demikian kalian membuat Tuhan kalian murka,

Maka bagaimana mungkin Dia mengabulkan doa kalian?”
Sebelum bermunajat ke hadirat Ilahi, alangkah bijaksananya memeriksa lebih dahulu perilaku diri.

Sehingga murka Allah dapat dihindari, agar doa terkabul dan amal pun diridhai. Ketika semua orang cemas dengan hampirnya bencana setiap saat, maka upaya yang paling sempurna adalah hampirkan pula diri lebih dekat kepada Allah Azza wa Jalla

فَفِرُّوا إِلَى اللَّهِ إِنِّي لَكُمْ مِنْهُ نَذِيرٌ مُبِينٌ
“Maka segeralah kembali kepada (menaati) Allah. Sesungguhnya aku seorang pemberi peringatan yang nyata dan Allah untukmu.” (Q.S. Adz Zariyat : 50)

إِنَّ الَّذِينَ ءَامَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ أُولَئِكَ هُمْ خَيْرُ الْبَرِيَّةِ
“Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal shaleh, mereka itu adalah sebaik-baik makhluk.” (Q.S. Al Bayyinah: 7)

اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَ المُؤْمِنَاتِ وَ المُسْلِمِيْنَ وَ اْلمُسْلِمَاتِ، اَلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَ اْلأَمْوَاتِ. رَبَّنَا اغْفِرْلَنَا وَِلإِخْوَانِنَا الَّذِيْنَ سَبَقُوْنَا بِاْلإِيـْـمَانِ وَلاَ تَجْعَلْ فيِ قُلُوْبِنَا غِلاًّ لِلَّذِيْنَ آمَنُوْا رَبَّنَا إِنَّكَ رَءُوْفٌ رَحِيْمٌ.

اللَّهُمَّ اصْلِحْ لَنَا دِيْنَنَا الَّذِي هُوَ عِصْمَةُ أَمْرِنَا، وَ اصْلِحْ لَنَا دُنْيَانَا الَّتيِ فِيْهَا مَعَاشِنَا، وَ اصْلِحْ لَنَا آخِرَتِنَا الَّتيِ إِلَيْهَا مَعَادُنَا، وَ اجْعَلِ اْلحَيَاةَ زِيَادَةً لَنَا فيِ كُلِّ خَيْرٍ، وَاجْعَلِ المَوْتَ رَاحَةً لَنَا مِنْ كُلِّ سَرٍ، رَبَّنَا آتِنَا فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَ فِى الآخِرَةِ حَسَنَةً وَ قِنَا عَذَابَ النَّارِ. رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّا إِنَّكَ أَنْتَ السَّمِيْعُ العَلِيْمِ وَ تبُ ْعَلَيْنَا إِنَّكَ أَنْتَ التَّوَّابُ الرَّحِيْمِ.

سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ العِزَّةِ عَمَّا يَصِفُوْنَ وَ سَلاَمُ عَلَى الْمُرْسَلِيْنَ وَ اْلحَمْدُ للهِ رَبِّ العَالَمِيْنَ.

Leave a Reply