ANDO SUMANDO

Istilah ini muncul apabila seseorang telah melangsungkan acara perkawinan berdasarkan tata cara adat dan agama.

Dalam tradisi orang Minangkabau, dikenal adanya dua tata cara perkawinan, yaitu perkawinan menurut syara’ (agama) dan perkawinan menurut adat.

Perkawinan menurut agama adalah perkawinan yang dilaksanakan dengan mengucapkan aqad nikah (ijab dan qabul) di hadapan qadhi.

Perkawinan demikian belum diartikan sebagai sesuatu yang telah selesai menurut alam pikiran orang Minangkabau, dan kedua orang yang telah dinikahkan itu belum boleh hidup berumah tangga sebagaimana layaknya sepasang suami isteri.

Kedua anak manusia yang telah menikah baru dibolehkan serumah setelah dilaksanakannya upacara perkawinan secara adat. Dari perkawinan secara adat inilah munculnya istilah ando sumando.
(Lihat. A.A. Navis, Alam Takambang Jadi Guru Adat dan Kebudayaan Minangkabau, 1984: 197, Temprint; Jakarta).

Ando secara bahasa bisa diartikan menerima atau menanti.
Ketika dihubungkan dengan suatu perkawinan di Minangkabau, maka yang dimaksud dengan ando adalah pihak keluarga wanita yang menerima kehadiran seorang suami bagi anak kemenakannya, karena Minangkabau menganut sistem matrineal-matrilokal.

Kata sumando di Minangkabau sebagai penerimaan dari kelurga perempuan terhadap seorang menjadi suami anak kemenakannya.

Oleh karena kepentingan perkawinan lebih berat cendrung ke arah kerabat pihak perempuan, maka posisi sumando beserta kerabatnya lebih tinggi.

Layanan terhadapnya bagai manatiang minyak panuah.
Artinya, merupakan sebuah kewajiban bagi pihak ando untuk menjaga perasaan sumando agar tidak tersinggung seperti orang membawa minyak dalam talam, bila tergoyang sedikit saja, maka akan tumpah.

Ibarat menjaga hati seorang tamu yang sangat dimuliakan, demikian pula orang sumando dipandang sebagai tamu, bukan sebagai anggota kerabat. Bahkan disebagian daerah masih didapati kebiasaan kepada sumando tidak diberikan tanggungjawab apapun.

Kesulitan rumah tangga pun kadangkala tidak boleh diceritakan kepadanya.

Walaupun demikian,“sumando” juga tidak bisa bebas dari penilaian, karena itu dalam kehidupan sehari-hari di Minangkabau terdapat empat macam penilaian orang terhadap sumando, antara lain:

(1) sumando bapak paja, yaitu sumando yang bertingkah sebagai pejantan semata, yang tidak menghiraukan kehidupan dan keadaan isterinya.

(2) sumado kacang miang, yaitu sumando yang tingkah lakunya membuat onar dan pecah belah di rumah isterinya. Lazim pula disebut sumando langau hijau yang suka pada keadaan yang kotor dan busuk.

(3) sumando lapiak buruak, yaitu sumando yang tingkah lakunya menguras harta benda isterinya.

(4) sumando niniak mamak, yaitu sumando yang menghiraukan suka duka kehidupan rumah tangga isterinya, dalam arti dia mampu memposisikan dirinya untuk mengemban tugas sebagai seorang sumando di tengah keluarga isterinya untuk manyisik nan umpang, maamba nan runtuah (mencarikan jalan keluar dari segala masalah yang dihadapi) keluarga isterinya bila dia mempunyai kemampuan untuk itu.

Dari kesemua tipe sumando di atas, tipe sumando yang terakhir inilah yang paling baik menurut adat Minangkabau.
(Lihat. A.A. Navis, 1984:212).

Leave a Reply