ORANG MINANGKABAU HIDUP BERBEKAL MORIL DAN MATERIL

 

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَا قَدَّمَتْ لِغَد
Artinya,
Wahai orang yang beriman, hendaklah kamu bertaqwa kepada Allah, dan hendaklah setiap diri merenungkan apa yang telah dilakukannya untuk hari esok (hari akhiratnya)
(QS.al Hasyr : 18).

BILA KITA DALAMI Dasar Falsafah Minangkabau, ada 3 rahmat yang diberikan Tuhan kepada nenek moyang Minangkabau yaitu PIKIRAN, RASA (dalam diri manusia), dan KEYAKINAN (dalam agama yang diyakini), yaitu ISLAM.

Dengan berbekal MORIL dia bisa hidup MENYESUAIKAN DIRI DI MANA SAJA DI TANAH PERANTAUANNYA.

Dengan MATERIL mampu BERUSAHA MENURUT UKURAN KEAHLIAN masing-masing.

Dengan kedua bekal itu pula ADA KEWAJIBAN MEMBIMBING GENERASI MEREBUT SUKSES DUNIA dan AKHIRAT, sesuai BIMBINGAN SYARAK (agama Islam).

Orang Minangkabau adalah PANDAI dan PANDAIPANDAI serta ahli-ahli politik karena mendapat pepatah dari leluhurnya dengan TUJUAN TERCAPAINYA KEBAHAGIAAN BERSAMA MELALUI MUSYAWARAH MUFAKAT.

Di alam Minangkabau pemimpin harus berbuat adil. RAJA ADIL RAJA DISEMBAH, RAJA TIDAK ADIL RAJA DISANGGAH.

Di dalam MENCAPAI TUJUAN ada bimbingan pepatah,
“IBARAT MENGAMBIL RAMBUT DALAM TEPUNG”,
TEPUNG TIDAK TERSERAK, RAMBUT TIDAK PUTUS.
Ini maknanya ARIF.

Hampir seluruh sektor kehidupan DILENGKAPI DENGAN PETATAH PETITIH yang bila digali kembali, maka yakinlah bahwa orang MINANGKABAU akan LEBIH UNGGUL DALAM SELURUH KEHIDUPAN di daerah lainnya.

Dasar FALSAFAH HIDUP orang Minangkabau MEMANG LUAS. MELIPUTI SUSUNAN MASYARAKAT, PENGELOLAAN MASYARAKAT, PEREKONOMIAN MASYARAKATNYA.

Keduniaan dan keakhiratan agar sempurna mesti diatur dalam suatu sistem pergaulan hidup, yang tujuannya untuk menjadikan kebahagian di dunia dan di akhirat.

AJARAN ISLAM adalah PANDANGAN dan JALAN HIDUP (philosophy and way of live) sebagaimana yang diajarkan oleh Allah Pencipta Alam di dalam Kitabullah.

Diajarkan sebuah kenyataan bahwa MANUSIA MAKHLUK YANG MEMILIKI FISIK, RUHANIAH, RASIONAL, SOSIAL, dan mempunyai KEYAKINAN atau BERAQIDAH, yang dalam SYARAK (syariat Islam) disebut BERTAUHID. Kalau didalami orang MINANGKABAU mempunyai AGAMA (aqidah dan syariat) dan ADAT (tata laku, pergaulan, hubungan masyarakat).

KESIMPULAN sebenarnya adalah bahwa AGAMA dan ADAT menjadi amat penting perannya untuk DAPAT MEMPERTAHANKAN MANUSIA SEBAGAI MANUSIA dan MASYARAKAT yang BERMAKNA dan BERMARTABAT.

Tanpa AJARAN ISLAM dan ADAT MINANGKABAU yang menekankan pentingnya KEBERSAMAAN, KEKELUARGAAN, SEIYA SETIDA dengan MENGAMALKAN AGAMANYA ISLAM, maka perilaku kehidupan masyarakatnya akan kacau.

Berpedoman kepada khabar Kitabullah (Alquran), manusia Minang bisa saja berubah menjadi ibarat pasir di tepi pantai, ibarat buih di atas air bah, ibarat hewan di rimba balantara, BAHKAN MUNGKIN LEBIH HINA lagi, MANAKALA AGAMANYA ISLAM DITINGGALKAN.

Pedoman dan pendekatan wahyu penting diperhatikan supaya sumber daya manusia jangan tergelincir kepada yang membinasakan manusia dan alam lingkungannya.

Pandangan materialisme, sekularisme, individualisme, hedonisme, nihilisme, liberalisme dilahirkan oleh otak manusia, terutama di era global tidak mau lagi memperhatikan petunjuk wahyu dan agama.

Bahkan semua pandangan isme itu mulai terlihat menghindar dari daya yang dimiliki manusia sendiri, yaitu hati nurani dan perasaan luhur.

Kondisi ini berakibat fatal bagi perkembangan ruhaniyah manusia, berpengaruh sangat kepada watak kepemimpinan, yang cepat putus asa, melawan arus kehidupan, bahkan bunuh diri dan sebagainya.

Karena itu, ABSSBK mestinya MENJADI POLITICAL WILL yang kalau diterapkan akan PUNYA DAYA FLEKSIBILITAS dan DINAMIS serta PRINSIP-PRINSIP yang akan MENJAMIN EKSITENSI MANUSIA TETAP SEBAGAI MANUSIA, yaitu makhluk yang BERMORAL dan RELIGIUS.*

PENGINTEGRASIAN ini PENTING DIUPAYAKAN untuk MENGHADAPI TANTANGAN KEHIDUPAN MODERN dan ARUS GLOBALISASI DI ZAMAN MILENIAL INI.

Moga Bermanfaat
Wassalam
Buya MAbidin Jabbar
Buya Hma Majo Kayo
#BuyaHMA

Leave a Reply