Ada Ujian dalam setiap Kebaikan

Ada Ujian dalam setiap Kebaikan, Lewatilah dengan Sukses!
Mereka telah mendahului dalam menikmati ujian berislam

– Demi Islam, Nabi Muhammad ﷺ menerima gangguan dari kerabat, tetangga dan masyarakat di sekitarnya, seperti dari:

Abu Lahab, yang karena ragam kejahatannya, turun surat Al-Qiyamah [75] ayat 31-35:

فلَا صَدَّقَ وَلَا صَلَّىٰ وَلَٰكِن كَذَّبَ وَتَوَلَّىٰ ثُمَّ ذَهَبَ إِلَىٰٓ أَهۡلِهِۦ يَتَمَطَّىٰٓ أَوۡلَىٰ لَكَ فَأَوۡلَىٰ ثُمَّ أَوۡلَىٰ لَكَ فَأَوۡلَىٰٓ

Dan ia tidak mau membenarkan (Rasul dan Al Quran) dan tidak mau mengerjakan shalat; tetapi ia mendustakan (Rasul) dam berpaling (dari kebenaran); kemudian ia pergi kepada ahlinya dengan berlagak (sombong); Kecelakaanlah bagimu (hai orang kafir) dan kecelakaanlah bagimu; kemudian kecelakaanlah bagimu (hai orang kafir) dan kecelakaanlah bagimu.

Uqbah bin Abu Mu’ith yang meletakkan kotoran di antara pundak Nabi ﷺ yang mulia saat beliau sujud, namun kelak jasadnya terhina di sumur Badr

Al-Hakam bin Abu al-‘Ash bin Umayyah, seperti lemparan isi perut domba saat Nabi ﷺ shalat dan juga di dalam periuk di rumah beliau ﷺ

Umayyah bin Abu Mu’ith, yang senang mencela dan mengumpat, baik terang-terangan maupun blak-blakan, dan karenanya turun surat Al-Humazah [104],

ويۡلٞ لِّكُلِّ هُمَزَةٖ لُّمَزَةٍ

Kecelakaanlah bagi setiap pengumpat lagi pencela

Al-Akhnas bin Syariq ats-Tsaqafi, yang senang menyakiti Nabi ﷺ, dan karenanya turun surat Al-Qalam [68] ayat 10-13, menceritakan 9 (sembilan) sifat buruknya:

ولَا تُطِعۡ كُلَّ حَلَّافٖ مَّهِينٍ هَمَّازٖ مَّشَّآءِۢ بِنَمِيمٖ مَّنَّاعٖ لِّلۡخَيۡرِ مُعۡتَدٍ أَثِيمٍ عُتُلِّۢ بَعۡدَ ذَٰلِكَ زَنِيمٍ

Dan janganlah kamu ikuti setiap orang yang [1] banyak bersumpah lagi
[2] hina;
[3] yang banyak mencela;
[4] yang kian ke mari menghambur fitnah;
[5] yang banyak menghalangi perbuatan baik,
[6] yang melampaui batas lagi
[7] banyak dosa;
[8] yang kaku kasar, selain dari itu,
[9] yang terkenal kejahatannya,

– Demi Islam, 2 (dua) puteri tercinta Nabi ﷺ, Ruqayyah dan Ummu Kultsum r.a. rela diceraikan suaminya, Utbah dan Utaibah, anak dari Abu Lahab.

– *Demi Islam/, Paman ‘Utsman bin ‘Affan r.a. bersabar ketika diselubungi tikar dari daun korma dan diasapi dari bagian bawah

– *Demi Islam/, pemuda Mush’ab bin ‘Umair r.a. bertahan saat dikurung ibunya, tidak diberi makan, hingga diusir dari rumah, dan kulitnya pun mengelupas

– Demi Islam, keluarga Yasir mendapatkan ujian berat. Isterinya, Sumayyah r.a., Muslimah pertama yang wafat ditikam Abu Jahal, diikuti Yasir, dan sehingga memaksa Ammar yang disiksa dengan tubuh dibenamkan ke pasir dan batu panas di bagian dada mengucapkan kalimat kufr dengan terpaksa, dan karenanya turun surat An-Nahl [16] ayat 106:

من كَفَرَ بِٱللَّهِ مِنۢ بَعۡدِ إِيمَٰنِهِۦٓ إِلَّا مَنۡ أُكۡرِهَ وَقَلۡبُهُۥ مُطۡمَئِنُّۢ بِٱلۡإِيمَٰنِ وَلَٰكِن مَّن شَرَحَ بِٱلۡكُفۡرِ صَدۡرٗا فَعَلَيۡهِمۡ غَضَبٞ مِّنَ ٱللَّهِ وَلَهُمۡ عَذَابٌ عَظِيمٞ

Barangsiapa yang kafir kepada Allah sesudah dia beriman (dia mendapat kemurkaan Allah), kecuali orang yang dipaksa kafir padahal hatinya tetap tenang dalam beriman (dia tidak berdosa), akan tetapi orang yang melapangkan dadanya untuk kekafiran, maka kemurkaan Allah menimpanya dan baginya azab yang besar.

– Demi Islam, Bilal bin Rabah r.a., saat masih menjadi budak Umayyah bin Khalaf, dipermainkan dengan kalung tali dileher dan ditarik anak-anak sehingga membiru urat-urat lehernya, bahkan dipukuli tongkat, duduk kelaparan di bawah terik mentari, hingga ditelentangkan dengan batu besar di atas dadanya, namun hanya ucapan yang mulia keluar dari lisannya: “Ahad, Ahad, dan beliau dibebaskan Abu Bakar r.a. dengan nilai 5 (lima) keping perak

– Demi Islam, Aflah Abu Fakihah r.a., budak Bani Abd ad-Dar, diseret di atas tanah dengan ikatan kaki yang kencang

– Demi Islam, Khabbab bin al-‘Aradh r.a., budak Ummu Ammar binti Siba’ al-Khuza’iyah, juga ditelentangkan di atas padang pasir dengan sebuah batu di atas tubuhnya, hingga ia tidak bisa berdiri lagi

– Demi Islam, begitu banyak sahabat Nabi yang mulia lainnya, generasi awal Islam, Assābiqūna al-Awwalūn, harus terbiasa menikmati ragam ujian yang sangat berat. Semoga Allah meridhai mereka, dan meridhai siapapun yang mengikuti jalan mereka.

Allah ﷻ berfirman dalam Surat At-Taubah [9] ayat 100:

وٱلسَّٰبِقُونَ ٱلۡأَوَّلُونَ مِنَ ٱلۡمُهَٰجِرِينَ وَٱلۡأَنصَارِ وَٱلَّذِينَ ٱتَّبَعُوهُم بِإِحۡسَٰنٖ رَّضِيَ ٱللَّهُ عَنۡهُمۡ وَرَضُواْ عَنۡهُ وَأَعَدَّ لَهُمۡ جَنَّٰتٖ تَجۡرِي تَحۡتَهَا ٱلۡأَنۡهَٰرُ خَٰلِدِينَ فِيهَآ أَبَدٗاۚ ذَٰلِكَ ٱلۡفَوۡزُ ٱلۡعَظِيمُ

Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) dari golongan muhajirin dan anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan merekapun ridha kepada Allah dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya selama-lamanya. Mereka kekal di dalamnya. Itulah kemenangan yang besar.

Mari cintai agama ini, cintai Nabi yang mulia ﷺ, cintai para shahabat, cintai orang-orang yang memuliakan agama ini. Semoga kita dapat membersamai mereka yang telah mewakafkan seluruh sisa umurnya untuk menjadi manusia yang mulia di akhirat.

Bārakallāh fīkum.

Leave a Reply