LAA TAGHDAB! JANGAN SUKA MARAH!

 

Siapapun kita, tentu pernah merasakan marah, bahkan terkadang tidak bisa mengendalikan diri karena emosi yang sudah memuncak. Memang sifat marah merupakan tabiat manusia, karena manusia memiliki nafsu yang cenderung ingin selalu dituruti dan tidak mau ditolak keinginannya.

Saat seseorang marah, maka tubuhnya akan bergejolak dan tekanan darahnya naik sehingga ia akan mudah terserang penyakit, baik fisik maupun psikis. Oleh sebab itu, Rasulullah Shallallahu ‘Alayhi Wa Sallam menganjurkan kaum muslim agar menghindari sifat marah.

Seseorang layak marah jika ada pelanggaran terhadap kesucian dan hukum Allah ‘Azza Wa Jalla.

Dalam Kitabullah amarah digambarkan dengan kekuatan setan yang mengalahkan manusia dan mendorongnya melakukan perbuatan-perbuatan yang keji.

Untuk menghindari amarah dibutuhkan kontrol jiwa disertai dengan iman yang kuat kepada Allah ‘Azza Wa Jalla.

Jangan biasakan menjauhi amarah dengan mengkonsumsi obat penenang, karena obat tersebut berdampak buruk bagi kesehatan.

Jika seseorang sudah kecanduan obat penenang, maka ia akan sulit untuk menghindarinya.

Dalam sebuah hadits yang shahih, Rasulullah Shallallahu ‘Alayhi Wa Sallam bersabda,

لَيْسَ الشَّدِيدُ بِالصُّرَعَةِ ، إِنَّمَا الشَّدِيدُ الَّذِى يَمْلِكُ نَفْسَهُ عِنْدَ الْغَضَبِ

“Bukanlah orang kuat (yang sebenarnya) dengan (selalu mengalahkan lawannya dalam) pergulatan (perkelahian), akan tetapi orang kuat (yang sebenarnya) adalah yang mampu mengendalikan dirinya ketika marah.”
(HR Bukhari) [1]

Dalam Hadits lain Nabi bersabda:

لا تغضب ولك الجنة
“Jangan suka marah, dan bagimu surga. ” (HR At Thabrani)

Rasulullah Shallallahu ‘Alayhi Wa Sallam juga menjelaskan tentang keutamaan orang yang dapat menahan amarahnya, Beliau Shallallahu ‘Alayhi Wa Sallam bersabda,

مَنْ كَظَمَ غَيْظًا وَهُوَ قَادِرٌ عَلَى أَنْ يُنْفِذَهُ دَعَاهُ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ عَلَى رُؤُوْسِ الْخَلاَئِقِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ حَتَّى يُخَيِّرَهُ اللهُ مِنَ الْحُوْرِ الْعِيْنِ مَا شَاءَ

“Barangsiapa menahan amarah padahal ia mampu melakukannya, pada hari Kiamat Allah akan memanggilnya di hadapan seluruh makhluk, kemudian Allah menyuruhnya untuk memilih bidadari yang ia sukai.”

(HR Ahmad, At Tirmizi, Abu Dawud dan Ibnu Majah) [2]
——
Footnote :

[1] Shahih. HR. al-Bukhari no. 5763 dan Muslim no. 2609.

[2] Hasan. HR. Ahmad (III/440), Abu Dawud no. 4777, at-Tirmidzi no. 2021, dan Ibnu Majah no. 4286 dari Sahabat Mu’adz bin Anas al-Juhani Radhiyallahu anhu. Dihasankan oleh Syaikh al-Albâni dalam Shahîh al-Jâmi’ish Shaghîr no. 6522).

Leave a Reply