Buya Mas’oed Abidin bertemu Dubes Amerika

Haluan – Rabu,24 Agustus 2016 – 04:57:31 WIB

WAKIL Duta Besar Amerika Serikat (AS) untuk Indonesia, Brian McFeeters foto bersama dengan sejumlah tokoh Sumbar beserta unsur Bundo Kanduang, perguruan tinggi, budayawan, dan media massa, usai dialog dan makan siang bersama, Selasa (23/8) di Museum Adityawarman, Padang.

Wakil Duta Besar Amerika Serikat (AS) untuk Indonesia, Brian McFeeters ternyata tertarik mem­pelajari Minangkabau. Tidak saja soal budaya dan sejarahnya, namun juga soal garis keturunan matrilinealnya (garis keturunan ibu, red).

Hal itu diungkapkan Brian McFeeter dalam acara diskusi singkat sembari makan siang bersama dengan sejumlah tokoh Sumbar, Selasa (23/8) di Museum Adityawarman, Padang.  Hadir dalam acara

itu, Buya Mas’oed Abidin, Buda­yawan Darman Moenir, Rektor IAIN IB Prof. Dr. Eka Putra Wir­man, Ketua PW Muhammadiyah Sumbar Shofwan Karim, Owner Harian Singgalang Basril Djabar, Pemimpin Umum Harian Haluan Zul Effendi, Pemred Padang Eks­pres Nasrian Bahzein, Sekretaris Bundo Kanduang Rosleni Nur, dan rombongan Duta Besar Ame­rika Serikat.

“Saya sangat tertarik dengan Minangkabau karena satu-satu­nya suku di Indonesia ini yang memakai sistem garis keturunan berdasarkan ibu (matrilineal). Disamping itu juga, banyak tokoh Indonesia yang mendunia dulu itu berasal dari Minang seperti Muhammad Hatta, Syahrir, Ham­ka dan Tan Malaka,” kata Brian.

Brian mengatakan, saat ini nama orang Minang di dunia sangat harum. Di setiap daerah di dunia ini, dipastikan ada orang Minang dan rata-rata mereka adalah orang-orang yang sukses. Hal inilah yang mendorongnya mempelajari Minangkabau untuk mengetahui apa kunci orang minang ini bisa menjadi besar.

“Semua wilayah di dunia ini pasti ada orang Minang. Mereka hidup dan sukses di sana. Karena itulah saya tertarik untuk me­ngetahui bagaimana pendidikan, sosial, budaya, ekonomi, tradisi dan filosofi Minangkabau agar bisa mengetahui kunci sukses mereka,” katanya.

Menyambut niat Brian terse­but, Basril Djabar mengatakan harumnya nama orang Minang tidak terlepas dari tokoh-tokoh nasional yang berjuang men­dirikan Negara Indonesia. Peng­hargaan Indonesia terhadap tokoh seperti Muhammad Hatta, Sutan Syahrir, Hamka, Agus Salim, M. Yamin dan yang lainnya itu berdasarkan pemikiran mereka yang jauh  ke depan. Meski begitu, moral, mental dan kejayaan orang Minang pernah runtuh setelah pergolakan PRRI berkecamuk di Sumatera Tengah (Sumbar, Riau, Jambi) tahun 1958-1961.

Dubes Amerika Tertarik Pelajari Minangkabau

“Kontribusi orang Minang dalam mendirikan Indonesia ini sangat besar. Makanya harum di mata masyarakat Indonesia dan dunia. Rata-rata pemikiran me­reka jauh ke depan terutama Muhammad Hatta, M. Yamin dan Sutan Syahrir. Tetapi, orang Minang pernah depresi berat setelah terjadinya perang saudara tahun 1958-1961 yang lalu akibat menyuarakan demokrasi, oto­nomi daerah dan anti komunis,” kata Basril Djabar.

Menurutnya, tidak lama pasca PRRI, perlahan orang Minang kembali bangkit. Sejumlah tokoh minang nasional dan daerah, ber­sama Gubernur Sumbar HA­run Zain diteruskan oleh Gubernur Hasan Basri Durin, mulai mem­bangun moral dan daerahnya yang telah hancur. Secara terpadu, mereka memfokuskan penataan masyarakat berbasis sosial dan kebudayaan.

“Baru sekitar tahun 70-an orang Minang kembali memba­ngun mental dan daerahnya yang hancur akibat perang saudara. Di tangan Gubernur Harun Zein yang diteruskan sampai pemimpin saat ini, harga diri dan pemikiran orang Minang mulai diperhitung­kan lagi oleh dunia,” tuturnya.

Sementara itu Sekretaris Bun­do Kanduang, Rosleni Nur menu­turkan, kunci sukses orang mi­nang tidak terlepas dari budaya dan filosofi yang erat dengan Perem­puan dan Islam. Pasalnya yang mendidik anak di rumah adalah perempuan dan dalam islam juga menganjurkan demikian.

“Bagaimana kesehatan, watak, pendidikan dan keimanan seo­rang anak itu tanggung jawabnya adalah ibu. Dalam Islam juga demikian. Seorang ayah tidak boleh memarahi anak jika ia bersalah. Ayah hanya boleh me­ma­rahi ibu karena itu tanggung jawabnya. Nantinya, barulah ibu yang memberikan peringatan atau pembelajaran kepada sang anak sampai mengerti. Dengan adanya kelembutan dan kasih sayang dari seorang ibu itulah, rata-rata rasa sosial dan pemikiran orang mi­nang ini cepat berkembang dan maju,” kata Rosleni.

Kemudian, tradisi merantau adalah sebuah pembelajaran agar mengenal dunia lebih luas. Di daerah yang dituju, nantinya orang Minang akan bersaing dan bertahan sambil belajar hal-hal baru yang ditemuinya. Namun, sebelum merantau biasanya orang minang dibekali terlebih dahulu ilmu bela diri, pengetahuan umum dan agama sebagai modal hidup dirantau orang.

“Jika merantau, orang minang tidak dibekali dengan materi. Mereka pergi itu hanya bermodal bela diri, pengetahuan umum dan agama. Dengan modal itulah me­reka mengembangkan dirinya agar bisa hidup dan sukses di rantau orang,” katanya. (h/mg-ang)

Leave a Reply