10 Etika Bersosial Media

Ingatlah akan 10 (sepuluh) etika yang mesti diperhatikan dalam interaksi muamalah terutama dalam memanfaatkan media sosial

1. Muraqabah

Etika pertama yakni merasa selalu diawasi oleh Allah. Apapun yang kita pakai dan berikan dalam hubungan interaksi sosial (muamalah ma’an-Naas), termasuk niat dibalik postingan tersebut, sadarilah bahwa semua itu selalu diketahui oleh Sang Maha Tahu. Dengan selalu merasa diawasi oleh Allah, maka pastilah kita takut melanggar batasan-batasan agama dalam memanfaatkan media sosial dizaman milenia ini.

Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman, “ Jika kamu menampakkan sesuatu atau menyembunyikannya, maka sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala sesuatu. ” (QS. Al-Ahzab: 54).

2. Hisab

Ingatlah selalu bahwa ada hisab atau perhitungan atas setiap apa yang kita lakukan, meski seberat dzarrah. Setiap kalimat, foto, video yang kita pakai dalam interaksi sosial, akan dipertanyakan kelak di akhirat. Allah berfirman, “ Maka barangsiapa mengerjakan kebaikan seberat Dzarrah, niscaya dia akan melihat balasannya. Barangsiapa mengerjakan kejahatan sebesar Dzarrah, niscaya dia akan melihat balasannya. ” (QS. Az-Zalzalah: 7-8).

3. Istifadah

Yakni menggunakan sarana yang ada untuk diambil manfaatnya. Jika interaksi media sosial bermanfaat bagi kehidupan kita, maka tak ada salahnya untuk memanfaatkannya. Namun jika membawa lebih banyak kerugian daripada manfaatnya, maka etika seorang muslim pastilah menghentikan aktivitas tersebut.

Rasulullah bersabda, “ Di antara tanda baiknya keislaman seseorang adalah ia meninggalkan perkara yang tidak bermanfaat baginya. ” (HR. At Tirmidzi).

4. Bertanggung jawab

Menggunakan media sosial berarti kita bertanggung jawab atas semua yang diposting ke publik, termasuk saat follow, share, Iike, retweet, repost, comment dan lain sebagainya. Seorang muslim beretika baik akan berhati-hati dalam menyampaikan sesuatu atau menanggapi sesuatu. “ Dan janganlah kamu mengikuti sesuatu yang tidak kamu ketahui. Karena pendengaran, penglihatan dan hati akan diminta pertanggung jawabannya. ” (QS. Al-Isra’: 36)

5. Menjaga batasan pergaulan

Batasan ini terkhusus pada hubungan antara pria dan wanita. Meski tidak bertatapan langsung, interaksi pertemanan (khusus media sosial milenia) mampu membawa jerat-jerat penyakit hati di setiap interaksi lawan jenis. Maka batasilah interaksi dengan lawan jenis yang bukan mahram dan yang tak ada keperluan penting dengannya.

6. Memperhatikan pertemanan

Berteman mestilah mempertimbangkan kebaikan dengan timbangan ilmu syar’i. Jangan Bermudah-mudahan mengikuti seseorang yang tak jelas kebaikannya. Ibnu Mas’ud pernah memberikan nasihat, ” Jika engkau sekedar menjadi pengikut kebaikan, maka itu lebih baik daripada engkau menjadi panutan dalam kejelekan.” (Kitab Al Ibanah).

7. Wasilah

Etika muslim berikutnya yakni menjadikan interaksi sosial sebagai penghantar atau sarana atau wasilah kepada kebaikan. Artinya, manfaatkan muamalah untuk menebar kebaikan. Sebagai contoh, biasakanlah mengambil rujukan kepada ayat-ayat Al-Qur’an, hadits, kata mutiara para shahabat Rasulullah, permasalahan agama dan lain sebagainya.

8. Tidak lalai

Inilah yang sering luput jika sudah asyik bermain dan mudah terlalaikan hingga waktu yang berharga terbuang begitu saja.

9. Mengumpulkan kebaikan

Etika muslim dalam berinteraksi sosial dengan menjadikannya sebagai sarana pengumpul ilmu dan kebaikan. Rasulullah bersabda, “ Barangsiapa yang memberi teladan dalam agama ini suatu kebaikan, maka baginya pahala setiap orang yang mengamalkannya hingga hari Kiamat tanpa mengurangi pahala mereka sedikitpun. ”

10. Ikhlas

Selalu menjaga keikhlasan menjadi salah satu etika yang harus dilakukan muslimin saat berinteraksi sosial. Termasuk didalamnya agar tidak dengan maksud ria. Rasulullah bersabda, “ Barangsiapa yang mampu merahasiakan amal salehnya, maka hendaknya ia lakukan. ” (HR. Al Khatib)

Ibnu Rajab pernah berkata, “Tidaklah seseorang yang ingin dilihat itu mencari perhatian makhluk. Akan tetapi mereka melakukannya akibat kejahilan (kebodohan) diri akan keagungan Sang Khalik.” semoga bermanfaat dan jadi pertimbangan dalam hubungan interaksi informasi.

Leave a Reply