Memahami Syarak Mangato Adat Mamakai

Masyarakat adat bersendikan Kitabullah, memahami bahwa kaedah adat dipertajam makna dan fungsinya oleh kuatnya peran syariat.

Tauhid mendorong manusia memaksimalkan seluruh daya pikir, daya cipta, daya upaya, menjadi modal dasar untuk menata kehidupan dengan mendorong karya amal manusia lahir bathin. Motivasi berawal dari paradigma tauhid yang benar.

Menempatkan tauhid sebagai landasan berpikir, beramal, bertindak, dalam seluruh aspek kehidupan, politik, ekonomi, sosial budaya, akan menjalin hubungan vertikal yang langgeng antara makhluk dengan Khalik, tampak pada perilaku ikhlas, tawadhuk, tawakkal mencari redha Allah.

Hasil utama dari syarak mangato adat memakai adalah wujudnya “rahmatan lil-‘alamin”, yakni tatanan kebahagian dan rahmat untuk seluruh alam ini.

1. Mengutamakan prinsip hidup berseimbang

وَإِنْ تَعُدُّوا نِعْمَةَ اللَّهِ لا تُحْصُوهَا إِنَّ اللَّهَ لَغَفُورٌ رَحِيمٌ

“Dan jika kamu menghitung-hitung ni’mat Allah, niscaya kamu tidak dapat menentukan jumlahnya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Pengampun lagi maha Penyayang” (QS.16, An Nahl : 18).

2. Allah telah menjadikan bumi mudah untuk di gunakan. Maka berjalanlah di atas permukaan bumi, dan makanlah dari rezekiNya dan kepada Nya lah tempat kamu kembali. (QS.62, Al Jumu’ah : 10).

Merantau di Minangkabau adalah sesuatu pelajaran dalam perjalanan hidup,

Karatau madang di hulu
babuah babungo balun.
Marantau buyuang dahulu
di rumah paguno balun.

Akan tetapi, selalu ditanamkan pentingnya kehati-hatian,

Ingek sa-balun kanai,
Kulimek sa-balun abih,
Ingek-ingek nan ka-pai,
Agak-agak nan ka-tingga.

3. Mencari nafkah dengan “usaha sendiri”, dengan tulang delapan kerat dan cara amat sederhana sekalipun “lebih terhormat”, daripada meminta-minta dan menjadi beban orang lain. Membiarkan diri hidup dalam kemiskinan tanpa berupaya adalah salah ,
“Kefakiran (kemiskinan) membawa orang kepada kekufuran (ke-engkaran)” (Hadist).

4. Tawakkal dan tidak boros adalah satu bentuk keseriusan dan tidak “hanya menyerahkan nasib” tanpa berbuat apa-apa, “Bertawakkal lah kamu, seperti burung itu bertawakkal” (Atsar dari Shahabat). Artinya, pemahaman syarak menanamkan dinamika hidup yang tinggi.

5. Kesadaran kepada ruang dan waktu. “Kami jadikan malam menyelimuti kamu (untuk beristirahat), dan kami jadikan siang untuk kamu mencari nafkah hidup”. (QS.78, An Naba’ : 10-11)

6. Arif akan adanya perubahan-perubahan dengan pandai mengendalikan diri, agar jangan melewati batas, dan berlebihan,

Ka lauik riak mahampeh,
Ka karang rancam ma-aruih,
Ka pantai ombak mamacah.
Jiko mangauik kameh-kameh,
Jiko mencancang, putuih – putuih,
Lah salasai mangko-nyo sudah.

7. Pemahaman syarak menekankan kepada kehidupan yang dinamis, mempunyai martabat (izzah diri), bekerja sepenuh hati, menggerakkan semua potensi yang ada, dengan tidak menyisakan kelalaian ataupun ke-engganan.

Tidak berhenti sebelum sampai.
Tidak berakhir sebelum benar-benar sudah.

Leave a Reply