Ayat dari Nan Bana

Pokok pikiran ”alam takambang jadi guru” menunjukkan bahwa para filsuf dan pemikir Adat Minangkabau (Datuk Perpatih Nan Sabatang dan Datuk Katumanggungan, menurut versi Tambo Alam Minangkabau) meletakkan landasan filosofis Adat Minangkabau atas dasar pemahaman yang mendalam tentang bagaimana bekerjanya alam semesta serta dunia ini termasuk manusia dan masyarakatnya.  Mereka telah menjadikan alam semesta menjadi ”ayat dari Nan Bana”.

Secara jujur, kita harus mengakui bahwa adat tidak mungkin lenyap, manakala orang Minangkabau memahami dan mengamalkan fatwa adatnya.

“Kayu pulai di Koto alam,
batangnyo sandi ba sandi,
Jikok pandai kito di alam,
patah tumbuah hilang baganti”.

Secara alamiah (natuurwet) adat itu akan selalu ada dalam prinsip.
Jika patah akan tumbuh (maknanya hidup dan dinamis),
mengikuti perputaran masa yang tidak mengenal kosong.
Setiap kekosongan akan selalu terisi,
dengan dinamika akal dan kekuatan ilmu (raso jo pareso).
Diperkuat sendi keyakinan akidah tauhid,
bahwa yang hilang akan berganti.
Apa yang ada di tangan kita akan habis,
apa yang ada di sisi Allah akan kekal abadi.
Di sini kita menemui kearifan menangkap perubahan yang terjadi,
“sakali aie gadang, sakali tapian baralieh,
sakali tahun baganti, sakali musim bakisa”.

Setiap perubahan tidak akan mengganti sifat adat,
selama adat itu berjalan dengan aturan Allah SWT.
Penampilan adat di alam nyata mengikut zaman dan waktu.

“Kalau d balun sabalun kuku,
kalau dikambang saleba alam,
walau sagadang biji labu,
bumi jo langit ado di dalam”.

Keistimewaan adat ada pada falsafah adat mencakup isi yang luas.
Ibarat tampang manakala ditanam, dipelihara, tumbuh dengan baik,
semua bagiannya (urat, batang, kulit, ranting, dahan, pucuk, yang melahirkan generasi baru pula, menjadi satu kesatuan besar, manakala terletak pada tempat dan waktu yang tepat.

Perputaran harmonis dalam “patah tumbuh hilang berganti”,
menjadi sempurna dalam “adat di pakai baru, kain dipakai usang”.

Adat adalah aturan satu suku bangsa.
Menjadi pagar keluhuran tata nilai yang dipusakai.
Bertanggungjawab penuh menjaga diri dan masyarakat kini,
jikalau tetap dipakai, dan akan mengawal generasi yang akan datang.

Leave a Reply