Hiduplah Berbekal Taqwa

Khothbah Idul Fitri 1 Syawal 1433 H oleh Buya H. Mas’oed Abidin

di Masjid Raya Al Munawwarah Padang

Hari ini 1 Syawal 1433 H,kita telah selesai mengerjakan latihan yang berat, bagi jasmani dan rohani selama bulan Ramadhan. Sebagaimana telah menjadi sunnah setiap tahun, seluruh kaum muslimin, laki laki dan perempuan, besar dan kecil, tua dan muda, orang berpangkat tinggi maupun petani di desa-desa dan nagai-nagari yang jauh, sejak dari Kepala Negara hingga Wali Negari dan Kepala Korong (Jorong dan Taratak), sampai ke rakyat kecil, semuanya berduyun-duyun datang ke tempat shalat, baik pun di dalam masjid atau di tanah lapang, staupun sebagai yang kita alami di pagi hari ini, berduyun duyun berkumpul di sekitar Masjid Raya Al Munawwarah yang kita bangun bersama dan kita ramaikan pula bersama .. Allahu Akbar, Allahu Akbar.

Allah Subhanahu waTa’ala telah memberi kesempatan kepada kita semua di pagi hari ini, peluang sebesar-besarnya, untuk menumpahkan rasa gembira dan syukur kepada Allah Tuhan Yang Maha Esa dengan bentuk demonstrasi spontan. Demonstrasi yang lahir dari kesadaran amat tinggi karena semata ingin membesarkan Allah Yang Maha Besar oleh semua insan yang beriman. Inilah satu demonstrasi yang paling dahsyat … Allahu Akbar. Dalam hadist Nabi Muhammad Shallalahu ‘alaihi wa Sallam yang kita imani sebagai Nabi Akhir Zaman yang menjadi Rahmatan Lil ‘Alamin dianjurkan, walaupun perempuan yang sedang dalam haid sekalipun, hendaklah pergi juga kelapangan. Meskipun dianya tidak turut ikut shalat hari raya, hendaklah dia turut mendengarkan Khuthbah hari raya ini. Allahu Akbar wa Liullahil hamd.

Inilah suatu demonstrasi menahan rasa cinta. Bukan demonstrasi menabur rasa benci. Rasa cinta kepada Allah Yang Maha Agung, Allahu Akbar. Rasa cinta sesama hamba Allah Yang Maha Pengasih. Rasa cinta sesama penghuni bumi untuk meraih kasih sayang penghuni langit. الرَّاحِمُوْنَ يَرْحَمُهُمُ الرَّحْمَنُ، اِرْحَمُوْا مَنْ فِي الأَرْضِ يَرْحَمْكُمُ اللهُ مَنْ فِى السَّمَاءِ                                      رواه أبوداود

Karena ternyata, yang membina kasih sayang akan disayangi oleh Yang Maha Pengasih Maha Penyayang .., maka sayangilah sesama penduduk bumi agar menyayangi kamu pula apa yang ada dilangit. (HR.Abu Daud)

Demonstrasi di pagi ini bukan suatu aksi massa untuk menjilat seorang tirani. Bukan pula gerakan massa yang digerakkan untuk menjatuhkan seorang yang berkuasa. Demonstrasi perpaduan antara rakyat dan pemimpinnya. Perpaduan antara rakyat dan pemerintahnya. Perpaduan antara buruh dengan majikannya. Perpaduan antara atasan dan bawahan. Perpaduan antara sipil dan militer. Bahkan perpaduan antara penghuni perjara dan sipir penjaga penjara dalam sama mengangungkan asma Allah.

Perpaduan umat di hari ini tanpa membedabedakan antara satu dan lainnya. Semata-mata karena mensyukuri nikmat Allah yang ada. Bukan untuk menyatakan tidak puas. Berhimpunnya umat di pagi ini guna memperlihatkan di hadapan hadhirat Allah Azza wa Jalla, bahwa seorang prajurit dan seorang jenderal adalah sama disisi Allah Tuhan Yang Maha Esa.

Sama sama hambaNya. Dan yang paling mulia disisi Allah ialah yang bertaqwa kepadaNya. Berkumpulnya umat dipagi ini tumbuh dari lubuk hati yang dalam. Nurani yang penuh iman. Bukan berkumpul untuk merusak atau untuk berbuat maksiat dan durhaka. Berhimpunnya umat penganut agama yang besar ini diramaikan dengan dengungan kumandang takbir,  

Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allah Maha Besar, Allah Maha Agung, wa lillahil hamd.

 

و لِتُكْمِلُوْا العِدَّةَ و لِتُكَبِّرُوا اللهَ عَلَى مَا هَدَاكُمْ  و لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُوْنَ“Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjukNya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur”. (QS.Al Baqarah : 185).

Kita sekarang tengah bersyukur. Syukur pertama ialah karena puasa Ramadhan ditahun ini telah selesai dikerjakan. Moga tiada kurang satu apapun. Bagaimanapun masa ini di antara kita mengeluh karena ekonomi sulit dan kehidupan payah, bahkan diperparah oleh bertumpuknya musibah, namun puasa berjalan terus.

Lebih lebih meriah dengan sipongang suara muazzin  setiap saat waktu shalat masuk. Berdengung dari puncak puncak menara masjid yang tinggi. Kumandangnya menembus awan gemawan biru, menjulang kelangit ketujuh.

Sehingga seluruh isi langit pun tahu, bahwa di pulaupulau Nusantara Indonesia yang berserak kemilau penaka qith’ah minal jannah fil-ardhi separti layaknya sepotong sorga yang terhampar di persada bumi ini, dihuni oleh satu umat besar, pencinta Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang tengah menyeruak mengatasi kemelut yang dihadapi, menyorakkan dengan lantang; “Tuhan kami adalah Allah, tiada bersyarikat DIA, dan untukNYA kami hidup dan kepadaNya pula kami akan kembali, dengan semua amal perbuatan nanti.

 قُلْ إِنَّ صَلاَتِي وَ نُسُكِى وَ مَحَيَاىَ وَ مَمَاتِي ِللهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ – لاَ شَرِيْكَ لَهُ، وَ بِذَلِكَ أُمِرْتُ وَ أَنَا أَوَّلُ الْمُسْلِمِيْنَ“ Katakanlah: Sesungguhnya sembahyangku, ibadatku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam. Tiada sekutu bagiNya; dan demikian itulah yang diperintahkan kepadaku dan aku adalah orang yang pertama-tama menyerahkan diri (kepada Allah)”. (QS.6, al An’am : 162-163).

Setiap insan bertanggung jawab atas semua buah perilakunya sendiri. Allahu Akbar Wa Lillahil hamd.

Hati siapa yang tidak akan kagum, Siapakah mukmin yang tidak akan terharu hatinya, dan manakah seteru Islam yang tidak akan ngeri dan kecut menyaksikan di gedunggedung kementerian, di perusahaanperusahaan besar, di hitelhotel berbintang yang megah, di mall hypermart dan tokotoko serba ada yang besar, di bankbank pusat financial dan komplek-komplek perniagaan itu, setiap hari Jumat, pegawainya yang beragama Islam melaksanakan shalat Jumat di masjid disekitarnya dan di kantornya masing masing. Bahkan di bulan Ramadhan diadakan acara buka bersama, sampai sampai ke kedutaan besar Amerika Serikat di Jakarta. Acara itu diiringi dengan shalat berjamaah. Bahkan tarawih memuliakann bulan mulia Ramadhan ini.

Dan pada 1 Syawal 1433 H ini, bagai ombak di lautan beralun bergelombang, umat manusia berduyun-duyun menuju tempat shalat hari raya Idul Fitri. Tiada berbeda lagi orang besar dan orang kecil, prajurit dan jenderal. Hingga semua pejabat, dari presiden sampai rakyat jelata, ulama dan hukamak, bersusun bersaf, berbaris khusyuk menundukkan kepala, bertekun hati yang tawadhuk, merendah diri kehadapan Allah Ta’ala, mengumandangkan seruan Allahu Akbar … Hanya DIA Allah Yang Maha Besar, DIA Yang Maha Kuasa, Maha Agung. Maka yang paling utama di antara kamu adalah yang paling bertaqwa kepadaNYA. Allahu Akbar Wa Lillahir hamd.

Syukur Yang Berlapis.  Khusus dagi kita bangsa Indonesia di tahun ini (1433H/2012M), syukur kita berlapis-lapis. Dua hari yang lalu, kita semua merayakan Hari Kemerdekaan RI ke 67, mengingatkan kita akan sejarah besar bangsa ini dengan Proklamasi Kemerdekaan RI, 17-08-1945 oleh Soekarno Hatta. Dikala itu juga di bulan Ramadhan. Masa itu kini berulang kembali. Di bulan Ramadhan pula kita peringati hari Proklamasi Kemerdekaan RI ke 67.Berlapis syukur kita kepada Allah, dan kesyukuran itu wajib kita jaga dan pelihara. وَ إِذْ تَأَذَّنَ رَبَّكُمْ لَئِنْ شَكَرْتُمْ َلأَزِيْدَنَّكُمْ وَ لَئِنْ كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيْدٌ“dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), Maka sesungguhnya azab-Ku sangatlah pedih”. (QS. 14, Ibrahim : 7).

Inilah hari Idul Fitri yang kita lakukan sebagai suatu ibadah rutin tiap tahun.

Setelah sebulan penuh melatih jiwa taqarrub ilaa Allah dengan ibadat shaum di siang hari, malam bertanggang dengan tarawih dan tadarus, bermunajat dan beriktikaf guna mencapai kemurnian jiwa dan diikuti zakat fitrah untuk fakir miskin, agar dihari ini mereka ikut bergembira berhari raya.

أ غنوهم عن السوأل في هذ ا ليوم

Kayakan mereka para dhu’afak yang larat melarat itu dari kehinaan meminta minta di hari raya ini.

Agar mereka para dhu’afak itu merasakan nikmat hari raya, tidak ada yang lapar lagi.

Khusus bagi kita bangsa Indonesia, hari ini menyimpan sejarah. Renungkanlah, berabad lamanya negeri ini dibawah penjajah. Berbagai penderitaan telah dirasakan bangsa. Dari penindasan hingga pembuangan. Berapa lama pula bangsa dikuasai paham tak bertuhan, atheis materialism.

Berjibun penderitaan umat. Difitnah diadu domba sampai kepada dikucilkan. Maka bersyukurlah kita ketika kekuatan cengkeraman itu hilang sirna karena kesatuan yang dimiliki bangsa ini.

Dimanakah rahasia kekuatan kita ini? Adakah pada senjata dan peluru kendali. Adakah pada bedil meriam dan kapal perang? Sama sekali tidak. Kalau hendak mengaji rahasia kekuatan ini lebih mendalam, lihatlah kedalam bathin. Tengoklah kedalam jiwa bangsa yang kokoh. Kekuatan kesatauan yang berurat berakar pada cinta negeri dan tanah air. Kekuatan yang lahir karena mahabbah. Yakni kecintan dan keyakinan kepada Keesaan Allah Tuhan Yang Maha Kuasa.Kita kuat karena kuatnya Iman dan akidah kita. Allahu Akbar wa Lillahil hamd.

Saudaraku Kaum Muslimin Ingatlah sejak 800 tahun yang lalu, atau sejak 1400 tahun yang lalu, gema Al-Quran telah sampai kenegeri ini. Kepulau pulau kita yang indah ini. Nenek moyang kita sejak beratus tahun, walau tidak pernah bertemu dengan Rasulullah Saw, namun mereka telah menyatakan iman pada ajaran Nabi Muhammad itu.

 طُوْ بَي لِمَنْ يَرَانِى وَأمَنَ بِي , ثُمَّ طُوْ بَي  لِمَنْ أمَنَ وَ لَمْ يَرَانِى“Berbahagialah orang orang yang telah sempat melihat wajahku, lalu ia beriman kepada ku (Muhammad SAW); tetapi lebih berbahagia lagi (7x) bagi barangsiapa yang beriman kepadaku, padahal dia belum pernah melihat wajahku”. 

Hadist ini diucapkan Rasulullah Saw dihadapan para sahabat beliau yang 124 banyaknya, yang telah diberi nikmat oleh Allah dapat melihat wajah Beliau. Termasuk Abu Bakar, Umar, Utsman, Ali dan sahabat utama lainnya. Tetapi beliau ingatkan lagi, bahwa kelak dikemudian hari, nun di tempat yang jauh, setelah Beliau meninggalkan dunia fana ini, akan ada umat mengimani ajaran Islam, mengerjakan perintah dan menghentikan larangannya, walaupun umat itu tidak pernah bertemu wajah dengan Beliau. Allahu Akbar wa Lillahil hamd

Itulah kita yang berada sekarang disini. Sesudah melaksanakan shaum sebulan Ramadhan, bertakbir, menunaikan zakat fitrah, dan shalat idul fithri, berbaris menyusun shaaf mengerjakan shalat dengan merendahkan diri kepada Allah Subhanahu. Semata mengikuti ajaran dan sunnah Rasulullah Saw. Kita ini umat Muhammad yang tidak dapat melihat wajah Beliau. Tetapi kitapun mencintai Rasulullah sebagaimana umat dan sahabat Beliau terdahulu mencintai Rasulullah Saw. Walau amalan kita masih kurang disbanding umat terdahulu, namun kita tetap mencintai Beliau, Muhammad Rasulullah Saw. Ingatlah sesaat sebelum Rasulullah Saw meninggal, beliau pernah mengatakan ; فَإِ نَّ مَوْ عِدَ هُمُ الْحُوْ ضُ

Disana kelak kita akan berjumpa. Di pinggir telaga yang bernama “al Haudh”. Dipinggir jalan menuju sorga. Ketika orang bertanya kepada Beliau, bagaimana Beliau akan dapat menandai umat yang banyak laksana buih di laut atau seperti pasir di pantai, bermilyar-milyar jumlahnya dari zaman telah berganti zaman. Beliau menjawab, bahwa “aku dapat mengenali mereka, sebab si maa hum fii wujuhihim min atsaris-sujuud. Ada tanda pada wajah mereka. Tanda bekas sujud kepada Tuhan Allah Yang Kuasa. Allahu Akbar wa Lillahil hamd.  

 

Ajaran Nabi Muhammad adalah tauhid dengan akhlak mulia masuk kedalam perilaku dan budaya anak bangsa di negeri ini. Akhlak itu menjadi bukti dari keimanan yang menjadikan bangsa ini bersatu dalam kerukunan dan persaudaraan. Akhlak menjadi bukti keimanan sempurna. أَكْمَلُ الْمُؤْمِنِيْنِ إِيْمَانا أَحْسَنُهُمْ خُلُقًا، اَلْمُوَطِؤُّوْنَ أَكْنَافًا، الذِين يَألَّفُوْن و يُؤْلَفُوْنَ                             رواه الطبراني و أبو نعيمSesempurna iman seorang mukmin itu adalah yang paling baik (ahsan) akhlaknya, yang saling melindungi, saling peduli berbagi dan bersatu serta menyatukan. (HR. ath-Thabarany dan Abu Nu’aim)

Melatih diri menjadi orang Mukmin memang payah. Keunggulan hanya ada pada kuat dan teguhnya iman. Islam tidak bangga dengan banyak bilangan yang lupa kualitas diri.

 Rasulullah bersabda ;

تَدَاعَى عَلَيْكُمُ اْلأُمَمُ كَمَا تَدَاعَى اْلأُكُلَهُ عَلَى قَصْعَتِهَا. قَلُوْا : أَوَمِنْ قِلَّةٍ فِيْنَا يَا رَسُوْلَ اللَّهِ, قَالَ بَلْ أَنْتُمْ كَثِيْرٌ غُثَاءٌ كَغُثَاءِالْسَّيْلِ. وَلَيَنْزِغَنَّ اللّهُ تَعَلى مِنْ قُلُوْبِ عَدُوِّكُمُ الْمَهَابَةََ مِنْكُمْ وَلَيُرْزِقَنَّكُمُ الْوَهْنَ. قَالُوْا وَمَاالْوَهْنُ يَا رَسُولَ اللّهِ ؟ قَالَ صلعم حُبُّ الدُّ نْيَآ وَكَرَاهِيَّةُ الْمَوْتِ

رواه الْلإمام أحمد

“Menyeru kepadamu musuh laksana serbuan semut lelatu memakan kayu mumuk. Lalu orang bertanya ; “Apakah karena kita sedikit pada waktu itu, Ya Rasulullah? Beliau menjawab; “Bahkan kamu pada waktu itu banyak sekali, tetapi laksana buihnya air bah waktu banjir saja. Telah dicabut oleh Allah Ta’ala dari hati musuh-musuh kamu “rasa segan” kepada kamu dan kamu kian lama kian lemah. Lalu mereka bertanya lagi; “Apakah penyebab kami jadi lemah, Ya Rasulullah?” Beliau menjawab; “Karena cintamu telah lekat kepada dunia dan kamupun menjadi takut akan mati”. (HR.Imam Ahmad).

Demikianlah keadaan kita kini. Allahu Akbar … Bilangan kita banyak. Nilai tidak ada. Menjadi budak hawa nafsu syahwat. Berlomba mengejar kekayaan, walaupun tidak halal. Mulut untuk mengatakan yang benar telah disumbat. Bukan dengan racun. Melainkan dengan emas dan uang. Kita kehilangan agama dan kehilangan budi. Hidup bergelimang korupsi.

“Dan apabila Kami telah bermaksud hendak merusakkan suatu negeri, maka Kami beri kuasalah orang orang yang ingin hidup mewah, lalu mereka membuat fasiq dan durhaka padanya. Lantaran itu pastilah berlaku pada mereka kehendak Tuhan, lalu Kami hancurkanlah mereka sehancur-hancurnya.” (QS.Al Isra’:16).

Dalam kalangan kaum muslimin memang masih ada orang yang ikhlas menegakkan Agama karena Allah. Tetapi, karena lingkungan sekeliling telah hancur, masyarakat tidak peduli hakikat ajaran agama. Maka orang orang yang ikhlas itu tersisih ketepi. Terpencil jauh.

Larislah di tengah masyarakat perkataan bahwa cukuplah Agama untuk shalat dan dzikir saja. Agama kurang sesuai lagi untuk dibawa ketengah masyarakat modern. Agama mulai dianggap ketingalan zaman. Setinggi-tingginya Agama jadi buah bibir, bukan buah hati. Malah dunia ini akan maju, tidak perlu ada tuhan.Na’udzubillah …  

Allahu Akbar, Allahu Akbar, wa Lillahil hamd.

Islam adalah agama yang mewajibkan kita beramar ma’ruf bernahyi munkar. Mewajibkan kita menyeru dan mengajak berbuat yang baik. Melarang dari berbuat jahat. Tidaklah takut dan cemas orang yang beramar ma’ruf bernahyi munkar itu hendak menyatakan sesuatu yang diyakini benar. Tempat takut satusatunya hanya semata mata Allah Subhanahu wa Ta’ala.  Dasar hidup muslim adalah Tauhid. Menyerahkan segenap kepercayaan kepada Allah Azza wa Jalla.

Kepercayaan ini menempatkan takut hanyalah kepada Dia.

Sehingga terasa tanggung jawab besar dalam menegakkan kebenaran dan menolak segala perbuatan munkar.

Barangsiapa diantara kamu ada melihat sesuatu perbuatan yang munkar, hendaklah tegur dengan tangannya. Jika tidak sanggup menegur dengan tangan, hendaklah tegur dengan lidahnya dan jika tidak sanggup pula menegur dengan lidah, hendaklah dengan hati. Tetapi dengan hati itu adalah yang selemah lemah iman.”.

 

Inilah yang terjadi. Akibatnya hilang keberanian menegur dan menyatakan suatu perbuatan itu salah. Tidak berani dengan lidah, karena lidah sudah terhimpit. Tinggal hanya mengeluh dengan hati sebagai pertanda dari iman yang telah lemah. Kalimat Tauhid itu tidak berdaulat lagi dalam hati.

Selalu dirasakan ada situasi yang sengaja dibuat agar iman bertambah lama bertambah lemah. Bahkan umat muslimin yang jumlahnya banyak makin terjauh dari nilai nilai Islam yang luhur.

Maka tiada lain upaya yang tersisa adalah kembali “menegakkan Iman” dari diri dan keluarga serta lingkungan kecil dan besar agar kemulian Muslim tidak hilang dari negeri ini. 

Allahu Akbar Wa Lillahil Hamd.

Wahai kaum Muslimin. Tidak ada satu perjuangan dalam dunia ini yang tidak menghadapi kesukaran. Tidak ada seorang Nabi dan Rasul pun yang tidak menempuh penderitaan. Namun tujuan mereka tidak pernah berubah karena penderitaan itu. Percaya kepada Allah dan beriman kepada Nya adalah pangkal segala nur, penerang dari segala cahaya.  “ Allah semata pelindung bagi orang-orang yang beriman; Dia mengeluarkan mereka dari kegelapan (kekafiran) kepada cahaya (iman). Dan orang-orang yang kafir, pelindung-nya ialah syaitan, yang mengeluarkan mereka daripada cahaya kepada kegelapan (kekafiran). Mereka itu adalah penghuni neraka. Mereka kekal di dalamnya.” (QS.AlBaqarah:257).

Dengan mengangkat Allah menjadi Wali, menjadi pemimpin, jiwa pun mendapat terang, mendapat cahaya yang tidak akan pernah padam. Kekuatan Allah muthlak melebihi dari segala kekuasaan dalam ala mini. Adapun kekuasaan manusia amat terbatas. Rencana manusia dapat digagalkan oleh rencana Allah. Kekuasaan Firaun menghadapi Musa bukan dialam peperangan, karena senjata tidak ada pada Nabi Musa.Kejatuhan Firaun adalah karena tenggelam di tengah laut. Nabi Musa sendiri pun tidak akan berdaya membuat balasan seperti itu. Kejadian itu semata karena kekuasaan Allah Azza wa Jalla. Inilah rahasia doa Rasulullah Saw ketika berada dalam penganiayaan manusia di Thaif.

 Ya Tuhanku, saya ini lemah, maka kuatkanlah; Saya ini rendah maka muliakanlah; Saya ini miskin, maka kayakanlah saya.”

Allahu Akbar wa lillahil hamd.

Oleh sebab itu wahai kaum Muslimin, hendaklah kita berjihad memperkuat iman dan keyakinan kita akan kekuasaan Allah Yang Maha Kaya.

Jihad bukanlah semata-mata berkelahi, berperang, huru-hara dan melawan pemnerintah yang sah. Arti jihad adalah kerja keras memperdalam iman, memperteguh keyakinan.

Imam Ibnu Taiymiyah didalam Kitab Zaadul Ma’ad membagi jihad kepada empat perkara. Jihad yang paling ringan, adalah menghadapi musuh di medan perang.  Jihad yang lebih besar dari itu ialah menghadapi orang munafik, yang pepat diluar pancung didalam dan yang berkeras menentang musuh dengan mulutnya, tetapi bersekongkol dengan musuh dalam perbuatannya. Jihad ketiga yang lebih besar ialah jihad melawan setan iblis yang selalu memperdayakan kita, hendak membelokkan jalan hidup kita dari yang benar kepada yang salah.  Dan jihad yang paling besar, paling dahsyat ialah melawan diri sendiri, memerangi kehendak kehendak buruk yang ada dalam diri, memerangi sifat pengecut dan pencemas, memerangi pemalas, loba tamak dan rakus membentuk sikap menipu dan korupsi. Semuanya ada dalam diri kita masing-masing.

Kita wajib berjihad melawan dan menentangnya. Agar pergaulan hidup selamat. Agar Negara kita aman sejahtera. Agar kita kelak dapat berjalan di atas Shiratal Mustaqim dengan selamat.

 

Maka kalau tauhid telah pecah, harga diri kita tidak ada lagi. Kekayaan hakiki bukan kaya akan harta, yang ditumpuk dari sumber mana saja, tanpa mempedulikan halal dan haram.

Kaya harta kalau tidak disokong oleh Iman akan membawa celaka. Akan membawa bencana kepada diri.Kalau kita telah mempersekutukan Tuhan dengan yang lain, tujuan dari kehidupan ini akan menjadi samar. Akhirnya gelap dan jatuh hancur. Maka kemerdekaan yang sejati tidak aka nada lagi. Bukan bangsa lain yang akan menjajah kita, tetapi nafsu angkara murka dan syaithaniyah yang bersemayam di dalam hati yang akan menjajah lebih dahsyat.  Allahu Akbar wa Lillahil hamd.

Orang Islam yang mempunyai kesadaran penuh dengan agamanya, yang mendalam kesadaran tauhidnya, tidaklah dia akan merasa enggan untuk mengamalkan jihad itu. Karena perjalanan agama tidak akan pernah bersemangat, kalau semangat juang tidak ada lagi. Nabi Muhammad Saw pernah bersabda ;

Dari seorang sahabat Nabi bernama Suhail bin Hanif al-Badry yang ikut dalam perqang Badar, bahwasanya Nabi Saw pernah bersabda; “Barangsiapa yang memohon kepada Allah Ta’ala supaya dia mencapai mati syahid dengan sempurna, akan disampaikan dia oleh Allah ketempat para Syuhadak itu, meskipun dia akan mati di tempat tidurnya sendiri.” (Dirawikan oleh Muslim).

Syahid yang seperti ini adalah yang tidak berubah pendirian. Walau bagaimanapun gejolak pada alam ini. Walau dengan segala upaya orang berupaya mengubah jalan pikirannya, sehingga yang salah harus dibenarkan.Namun orang bertauhid tetap tegak pada pendirian yang benar atas dasar Laa ilaaha Illa Allah.Tiada yang benar melainkan kebenaran Allah. Tiada yang ditakuti melainkan hanya Allah. Allahu Akbar wa lillahil hamd.

Tauhid ini yang pasti kita tegakkan kembali.

Orang yang bertauhid tidak akan pernah sangsi dalam menghadapi hari esok.

Bahkan orang yang bertauhid tidak akan pernah takut menghadapi maut

yang pasti akan datang menjelang.

Sebab maut bagi orang yang beriman adalah Liqaa Allah.

 Pertemuan dengan Allah.

Berjumpa dengan kekasih yang Maha Kasih.

Itulah puncak cinta dan puncak cita seorang Mukmin.

Orang yang teguh imannya kepada Allah,

dia akan berarti dalam hidup walaupun jumlahnya sedikit.

Merekalah pemenang.

“Berapa banyak terjadi golongan yang sedikit dapat mengalahkan golongan yang banyak dengan izin Allah. dan Allah beserta orang-orang yang sabar.” (QS.al Baqarah :249).

 اللٌه أكبر اللٌه أكبر اللٌه أكبر اللٌه أكبر اللٌه أكبر اللٌه أكبر, اللٌه أكبرولله الحمد.. اللٌه أكبركبيرًا والحمد لله كثيرًا وسبحان الله بكرةً وأصيلآ الْحمدُ لله الذي وَفَّقَنَا لإِتْمَامِ الشَّهْرِ الصِّيَامِ رمضان وَأَعَانَنَا عَلَى الْقِيَامِ لَيلِه. وَجَعَلَنَا خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ للنَّسِ. أَحْمَدُهُ عَلَى تَوْفِقِهِ وَهِدَايَتِهِ. أشهدُ أن لآإِله إللهُ وَحدهُ لآشريكَ لَهُ الْمَلِكُ الْحَقُّ الْمُبِيْنَ. وَأشهدُ أنَّ سَيِّدِنَا ونَبِيَّنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ  ورَسُولُهُ خَاتَمُ النَّبِيِّيْنَ.   اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَ المُؤْمِنَاتِ وَ المُسْلِمِيْنَ وَ اْلمُسْلِمَاتِ، اَلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَ اْلأَمْوَاتِ. رَبَّنَا اغْفِرْلَنَا وَِلإِخْوَانِنَا الَّذِيْنَ سَبَقُوْنَا بِاْلإِيـْـمَانِ وَلاَ تَجْعَلْ فيِ قُلُوْبِنَا غِلاًّ لِلَّذِيْنَ آمَنُوْا رَبَّنَا إِنَّكَ رَءُوْفٌ رَحِيْمٌ  اللَّهُمَّ اصْلِحْ لَنَا دِيْنَنَا الَّذِي هُوَ عِصْمَةُ أَمْرِنَا، وَ اصْلِحْ لَنَا دُنْيَانَا الَّتيِ فِيْهَا مَعَاشِنَا، وَ اصْلِحْ لَنَا آخِرَتِنَا الَّتيِ إِلَيْهَا مَعَادُنَا، وَ اجْعَلِ اْلحَيَاةَ زِيَادَةً لَنَا فيِ كُلِّ خَيْرٍ، وَاجْعَلِ المَوْتَ رَاحَةً لَنَا مِنْ كُلِّ سَرٍ  رَبَّنَا آتِنَا فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَ فِى الآخِرَةِ حَسَنَةً وَ قِنَا عَذَابَ النَّارِ رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّا إِنَّكَ أَنْتَ السَّمِيْعُ العَلِيْمِ وَ تبُ ْعَلَيْنَا إِنَّكَ أَنْتَ التَّوَّابُ الرَّحِيْمِ

Itulah Khutbah yang dapat saya berikan pada hari yang berbahagia ini.

Terutama saya tujukan kepada diri saya sendiri dan kepada saudara saudaraku kaum muslimin semua.

Teranglah sudah bahwa syaithan dan para pengikutnya akan selalu berusaha segenap daya, bagaimanapun bentuknya mengembalikan jiwa musyrik dalam hati kita, sebab tauhid itu amat mencemaskan syaithan dan mencemaskan hati orang pengikut syaithan itu.

Namun, orang bertauhid akan tetap berdiri pada kebenaran, walaupun dia akan tinggal sendirian.  Orang bertauhid akan tetap saja berani mengatakan yang benar itu benar, dan menyatakan yang salah itu adalah salah. Walau senjata yang ada padanya hanyalah lidah dengan kekuatan Iman. Orang bertauhid hidup terus, walaupun telah hancur tulang belulangnya dalam kubur.  Sedangkan orang musyrik, berarti telah mati, walaupun tampaknya dia berjalan berkeliaran di tengah-tengah masyarakat.

سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ العِزَّةِ عَمَّا يَصِفُوْنَ وَ سَلاَمُ عَلَى الْمُرْسَلِيْنَ وَ اْلحَمْدُ للهِ رَبِّ العَالَمِيْنَ. وَ لَذِكْرُ اللهِ أَ ْكـبَرُ.

Wassalamu’alaikum wa rahmatullahi wa barakatuh.

Leave a Reply