HATI HATILAH DENGAN HADIST YANG DHA’IF ATAU LEMAH

 

Umat Muslim dianjurkan berhati2 dengan hadits palsu/maudhu (sebagai alat fitnah untuk memecah belah umat Islam):

HADITS MAUDHU

Para Ulama berbeda pendapat dalam menentukan status hadits maudhu.

– Pertama, kelompok yang berpendapat hadits maudhu merupakan hadits dha’if yang tingkat kedha’ifannya paling parah serta paling rusak nilainya.
Kelompok ini diwakili Ibnu Shalah dan diikuti oleh jumhur muhadditsin.

– Kelompok kedua diwakili oleh Ibnu Hajar Asqolani, yang berpendapat bahwa hadits maudhu bukan merupakan hadits Nabi, baik berupa ucapan, perbuatan ataupun ketetapan.

Tingkatan-tingkatan Hadits Maudhu;
Di kalangan para ulama, terdapat perbedaan pandangan dalam menentukan bobot ke-maudhu-an.

PERBEDAAN INI TIMBUL KARENA ADANYA PERBEDAAN PENDEKATAN ATAU METODE PENILAIAN (jelimet tidak sederhana penilaian derajat hadits; Shahih, dha’if, maudhu).

Menurut Imam Adz-Dzahabi, hadits maudhu mempunyai 3 tingkatan:

1) Hadits Maudhu yang nilai ke-maudhu-annya disepakati secara bulat oleh para Muhadditsin.

2) Hadits maudhu yang nilai ke-maudhu-annya ditetapkan berdasarkan kesepakatan mayoritas ulama (walau ada ustadz yang mengatakan agama bukan mengikuti mayoritas), bukan kesepakatan bulat seluruh ulama.

3) Hadis maudhu (wahm al maudhu). Sebagian muhaddisin lain menilai hadits yang dusta (kidz).

Awal Kemunculan Hadits Maudhu;
Muncul persoalan kapan mulai terjadi pemalsuan hadits atau kapan mulai muncul hadits maudhu. Ada tiga pendapat diantara para muhadditsin.

1) ada yang menyatakan bahwa pemalsuan hadits dan munculnya riwayat maudhu mulai terjadi sejak periode Nabi saw. Pendapat ini dengan argumen ulama muhaddisin, didasarkan pada konsekwensi logis atas sinyalemen dari hadits Nabi saw yang mengungkapkan ancaman keras terhadap setiap orang yang berupaya melakukan pendustaan terhadap Nabi saw.

Hadits, Abu Hurairah r a berkata, bahwa Rasulullah saw bersabda;
‘Barang siapa berdusta terhadap diriku secara sengaja, dia pasti akan disediakan tempat kembalinya di neraka.’

Menurut muhadditsin yang menganut pendapat pertama, tentu hadits tersebut Kemunculan didahului oleh adanya gerakan2 yang lebih dilakukan untuk pendustaan terhadap Rasul, dan ini diketahui oleh Rasul, sehingga Rasulullah saw bersabda seperti dalam hadits tsb.

2) Pemalsuan hadits baru terjadi pada tahun 40 H.
Pendapat kedua ini diungkapkan oleh Akram al Umari. Ia menyatakan bahwa gerakan pemalsuan hadits mulai terjadi sejak paruh kedua dari kekhalifahan Utsman Ibn Affan. Sejak kekhalifahan Utsman timbul situasi yang sangat khaos, timbul pertentangan dan perpecahan di kalangan umat islam (al fitnah). Timbul fitnah yang membara untuk memerangi Utsman dan muncul sifat dendam yang menghilangkan keikhlasan. Dalam situasi demikian timbulah pemalsuan hadits, antara lain seperti riwayat Ibn Addis yang meriwayat kan ucapan Rasulullah saw, bahwa sanad Utsman lebih sesat dari Ubaidah.

3) Pendapat ketiga diungkap oleh Abu Syuhbah dan Abu Zahu, kedua ulama ini mendasarkan pendapatnya pada masa terjadinya penyusupan musuh2 Islam ketika umat Islam melemah dan mulai terjadi masa al-fitnah pada periode Khalifah Utsman.

Masa kekacuan dimanfaat kan oleh kaum ZINDIK dengan menghembuskan PAHAM SALING MENGADU DOMBA.
Kelompok Syi’ah dihembusi hadits palsu paham2 yang mengagungkan Ali.
Kelompok Khawarij dihembusi hadits palsu faham2 yang mempertajam permusuhan Ali dan Muawiyah, dll. Gerakan2 ini dilakukan oleh orang-orang Zindik yang menyusup masuk Islam untuk memecah belah umat Islam dari dalam, dengan cara membuat hadis (palsu) yang sesuai dengan paham kelompok yang saling berlawanan.
Peringatan Sekedar tambahan saja;

– Pada masa kolonial yang meniru cara kaum Zindik adalah Snouck Hougronye.
– Di era kemerdekaan dengan situasi sekarang ini bukan tak mungkin muncul NEO ZINDIK
– Kita tetap waspada, jangan terpancing dengan isues2 adu domba. HORMATI PERBEDAAN JANGAN DIPERTAJAM.

Wallahualam bis Shawaab

Leave a Reply