Keras bagai Batu, Lembut Laksana Sutra

Padang Ekspres • Rabu, 14/12/2011 12:07 WIB

Pemimpin atau calon pemimpin perlu belajar banyak dari sosok M Natsir, Buya Hamka dan Syafruddin Prawiranegara. Mereka berpihak sepenuhnya kepada kebenaran, dan berpegang teguh terhadap kebenaran. Bila berprinsip mereka keras seperti batu, lembut laksana sutra saat bersilaturahmi dengan umat.

Ulama Sumbar, Buya Mas’oed Abidin tahu betul bagaimana seorang Hamka bersikap, terutama saat menjadi ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI). Ketika pemerintah era Soeharto memerintahkan MUI mencabut fatwa haram perayaan Natal bersama pada 7 Maret 1987, ia secara tegas mengatakan lebih baik mundur dari jabatannya daripada harus mencabutnya.

Kemudian, lanjut Buya Mas’oed, sebagai pemimpin Buya Hamka sosok yang tidak punya dendam. Perasaian hidup dijebloskan ke penjara era Soekarno, serta pencekalan-pencekalan lainnya, tidak lantas membuatnya membenci presiden pertama Indonesia itu. Dengan kebesaran jiwanya, Buya Hamka menyembahyangkan jenazah Soekarno.

”Buya Hamka itu, batareh kalua dan batareh ka dalam. Artinya, sikap dan perbuatannya patut ditiru dan dicontoh. Ini yang tidak ada pada pemimpin sekarang.

Kalaupun tidak bisa meniru sesempurna Rasulullah, maka tirulah Buya Hamka,” kata pengurus MUI Sumbar ini.

Batareh kalua maksudnya, apa yang disampaikannya itu pula yang dikerjakan. Sama perkataan dengan perbuatan. Sedangkan batareh ka dalam, meski mendekam dalam penjara ilmunya tetap terpakaikan dan keluar dalam bentuk karya besar, yaitu tafsir Al Azhar.

Guru Besar IAIN Imam Bonjol, Prof Duski Samad menilai, nilai-nilai kepahlawan Buya Hamka, M Natsir, dan Syafruddin Prawiranegara berpihak kepada kebenaran. Sewaktu kebenaran dilecehkan orang, mereka tampil ke depan mempertahankannya. Bukan seperti sekarang, orang memperjuangkan atau berpihak kepada kebenaran karena ada kepentingan.

Selain itu, tutur Duski Samad, para pahlawan tersebut cinta kepada ilmu. Mereka menyadari betul, guna ilmu ini bagi perjuangan bangsa dan negara. Membuat orang berguna dan membebaskan dari kebodohan, serta kemiskinan. Orang-orang berilmu tersebut memanfaatkan ilmunya bagi kemajuan umat, untuk perbaikan nasib bangsa dari keterjajahan.

Buya Hamka misalnya, sosok multitalenta yang menguasai berbagai ilmu pengetahuan, orator ulung, dan sederet talenta lainnya. Di samping itu, beliau tampil sebagai penulis yang kharismatik dengan karya-karya yang memberi pencerahan bagi masyarakat.

”Inilah yang membedakan beliau dari orang lain. Sesibuk apa pun beliau dalam aktivitas hariannya, tetap membaca dan menuliskan pikiran-pikirannya. Karena buku baginya adalah pusaka yang abadi. Kalau kita lihat di masa sekarang, sangat jarang kita temukan pemimpin yang memiliki kesempatan membaca dan menulis tersebut. Mereka selalu disibukkan dengan rutinitas sehari-hari yang membuatnya tidak memiliki kesempatan untuk menuliskan pikiran-pikirannya bagi bangsa dan negara,” ujarnya.

Selanjutnya, kata Duski Samad, pahlawan itu sosok yang kuat terhadap isu-isu kemanusiaan. Mereka memiliki empati dan cepat tanggap terhadap persoalan-persoalan kemanusiaan. Bagi mereka, hak-hak kemanusiaan tidak boleh tercederai.

Dalam hidup bermasyarakat, dengan kultur yang berbeda-beda, Buya Hamka, Natsir, dan Syafruddin Prawiranegara sangat pluralistis. Menyadari perbedaan itu sebagai sebuah keniscayaan. Namun, tetap istiqamah terhadap hal-hal yang menyangkut akidah.

Di sini terlihat, bagaimana kerasnya mereka dalam mempertahankan akidah, dan betapa lembutnya dalam bertoleransi di luar persoalan akidah dan keyakinan tersebut.

Leave a Reply