Memikirkan Masa Depan Pariwisata Sumatera Barat

Assalamualaikum wa Rahmatullah wa Barakatuh.
Salam buat dunsanak Yth.

Mau kelola object wisata di nagari awak harusnya selalu menjaga kaidah “MATO CONDONG KA NAN RANCAK, SALERO CONDONG KA NAN LAMAK”.

Rumus Rancak tu adolah MAMEH, SEGEH, KAMEH, dan JIMEK.

Rumus LAMAK tu hanyalah SASUAI DEK AWAK KATUJU DEK URANG.

Sasuai dek awak, modal kita tersedia banyak .. BUDAYA MINANGKABAU, ADAT ISTIADAT MINANGKABAU, KEINDAHAN ALAM, ENAK KULINER YANG BERAGAM, SENI TARI SILEK DAN LAGU, Alhamdulillah tidak ada kekurangannya.

Perlu pendidikan Masyarakat bagaimana menerima wisatawan yang datang, muluik manih kucindan murah sanang bergaul dengan samo gadang, hormat kepada urang nan datang.

Pertanyaan mendasar sudahkah objek wisata awak mamakaikan konsep budaya diatas?.

Cobalah Amati Lebih Dalam.

Basis pengembangan pariwisata kita sejatinya adalah PERILAKU …
nyatanya kita belum siap.

Ada hal lain di Sumbar — khususnya — bahwa masyarakat kita belum paham pariwisata.

Kesalahannya, antara lain core nya hanya pemda dan skpd semata …
Bahkan terlihat ada arah PENGUASAAN bukan kepada PEMBINAAN ..
Secara ekonomis belum menjanjikan.
Apa yang tadinya adalah tradisional sejatinya itulah orisinal milik masy Sumbar.
Tapi kurang tersentuh.
Mohon maaf.

Pengamatan terakhir kita ternyata 3S tourisme tidak lagi banyak pengaruhi para wisatawan manca negara kecuali sebagian domestic saja.

Mereka sudah mulai mencari apa yang tak ada di negeri asal mereka.
Cultural tourism dan Ritual & Religious Tourism banyak diminati selain kecantikan alam yang Alami.

Mereka amat mendambakan KEBEBASAN GERAK TAK TERHAMBAT KOMUNIKASI

Soal bahasa kendala Sumbar yang lainnya.

 

Wassalam Buya HMA

Leave a Reply