Peran Adat Minang dalam Isu-Isu Global

Memerankan Adat Budaya Munangkabau Menangani Isu Perubahan Global Dengan Membangun Generasi Unggul Taat Beragama Beretika dan Beradat

GERAKAN MASYARAKAT BERSAMA MENANGANI ISU PERUBAHAN global, mesti dilaksanakan dengan tanggungjawab bersama nan elok dipakai, nan buruak dibuang. Kepemimpinan adalah amanah dan tanggungjawab didalam “Manyuruah babuek baik, malarang babuek jahek, Manunjuak ma-ajari. Managua manyapo. Tadorong mahelo, talompek manyentak, Gawa ma-asak, ma asak lalu ka nan bana. Tak ado karuah nan tak janieh. Tak ado karuik nan tak salasai. Satu gerakan masyarakat bersama untuk mengangkat umat mencapai kejayaan hidup sesuai syari’at Islam. Kreativiti dan inovasi selalu berkait rapat dengan pengurusan sumber daya manusia, komunikasi, kinerja, sinerji dan sebagainya. Akhirnya, kreativitas didukung keikhlasan mencari redha Allah. Maka, Generasi muda masa kini mesti memiliki ilmu berasas epistemologi Islam yang jelas, dalam kata adat disebutkan, “Iman nan tak buliah ratak, kamudi nan tak buliah patah, padoman indak buliah tagelek, haluan nan tak buliah barubah”.

Generasi Muda masa datang mesti memiliki pemahaman luas dengan tasawwur (world view). Dalam kondisi kritis sekalipun, generasi unggul (khaira ummah) itu selalu awas dan berhati-hati, “Bakato sapatah dipikiri, Bajalan salangkah maliek suruik, Mulik tadorong ameh timbangannyo, Kaki tataruang inai padahannya, Urang pandorong gadang kanai, Urang pandareh ilang aka.”

Dalam menghadapi berbagai tantangan perubahan tata nilai dan pergaulan dunia, generasi Muda berkualtias khususnya di Bukittinggi, Sumatera Barat mestinya hidup dengan filosofi adat basandi syarak syarak basandi Kitabullah mesti istiqamah (konsisten) selalu. Para aktivis generasi unggulan perlu meningkatkan kreativitas. Sudah sampai masanya menampilkan wawasan dan perspektif Islam dalam berbagai bidang informasi, TV dan Radio Internet, adalah contoh mutakhir dalam usaha mengatasi halangan dalam menyampaikan informasi alternatif kepada masyarakat dengan lebih efektif dan bersifat global.

Peran amar ma’ruf nahi munkar mesti digerakkan dengan terarah dan terpadu dengan akhlaqul Karimah dalam pengamalan syari’at (sarak mangato adaik mamakai) tujuannya adalah untuk keselamatan dan kesejahteraan hidup manusia. Hilangnya Akhlak disebabkan Agama tidak diamalkan. Ibadah lalai maka nilai etika budaya terabaikan. Akibatnya masyarakat hancur.

KITA MEMERLUKAN BEBERAPA SIKAP untuk membuat keberhasilan (prestasi); berakhlak, berpegang pada nilai-nilai iman dan taqwa, memiliki daya kreatif dan innovatif, menjalin kerja sama berdisiplin, kritis dan dinamis, memiliki vitalitas tinggi, tidak mudah terbawa arus, dengan motivasi yang bergantung kepada Allah. Mengamalkan nilai nilai ajaran Islam sebagai kekuatan spiritual. Dinamis dalam mewujudkan sebuah kemajuan fisik material, tanpa harus mengorbankan nilai nilai kemanusiaan.
Agama Islam menekankan kebersihan badan (jasad) semata, dan juga kebersihan dan kesucian dalam banyak hal:
1. Kebersihan dan kesucian rumah dan pekarangan serta lingkungan sekitar,
2. Kebersihan dan kesucian badan,
3. Kebersihan dan kesucian pakaian,
4. Kebersihan dan kesucian makanan dan
5. Kebersihan serta kesucian jiwa dan raga.
6. Kebersihan jalan, dan Rasulullah SAW mengancam setiap orang yang membuang sampah, membuang bangkai binatang atau apa saja yang dapat mengganggu jalan umum yang dilalui orang banyak.
7. Rasulullah SAW, sangat menjaga kebersihan pakaian, memperhatikan kebersihan dan kesehatan mulut, gigi, sampai hal menjaga kebersihan saat kita bangun dari tidur.
لَوْ لاَ أَنْ أَشُقَّ عَلَى أُمَّتيِ َلأَمَرْتُهُمْ بِالسِّوَاكِ عِنْدَ كُلِّ صَلاَةٍ
“Andai tidak memberatkan umatku, pasti aku menyuruh mereka untuk bersiwak setiap kali akan shalat.” (H.R. Jama’ah)
8. Kebersihan batin bermula dari kebersihan lahir, dan bersihnya lahir pertanda bersihnya batin. Jaga dan peliharalah kebersihan; lahiriyah maupun bathiniyah, pribadi, keluarga maupun lingkungan. Ingatlah! Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang menyintai kebersihan.

Hubungan kekerabatan yang harmonis menjadi modal utama, mengawal pendidikan berkarakter di nagari nagari (khususnya di Bal;ingka) dan Sumatera Barat pada umumnya.

ENAM WATAK MASYARAKAT BERTAUHID YANG MANDIRI DAN berprestasi ; 1. IMAN, 2. ILMU, 3. Kerukunan, Ukhuwah dan Interaksi, 4. Akhlaq, Moralitas sebagai Kekuatan Ruhiyah, 5. Badunsanak, sikap Gotong royong (Ta’awun), 6. Menjaga Lingkungan sebagai Social Capital, menerapkan Eko Teknologi. Islam mengakui bahwa keberadaan akal di samping sebagai sarana pengolah ilmu pengetahuan, juga merupakan alat tempat berpijaknya manusia diberi agama. Bahkan diakui pula bahwa usaha akal ini sebagai sumber hukum Islam yang ketiga setelah Al-Qur’an dan Sunnah. Akal bisa difungsikan dan dimanfaatkan bila telah dikembangkan sedemikian rupa dengan ilmu. Agama Islam memuliakan akal memegang beberapa prinsip, “Belajar seumur hidup, menuntut ilmu di mana dan kapan saja, mencari ilmu dengan sungguh-sungguh, mendasarkan kepada ilmu untuk memperoleh kebahagiaan di dunia dan di akhirat. Konsekuensi dari keilmuan itu Allah meninggikan derajat orang yang berilmu. Manusia Wajib Menuntut Ilmu طَلَبُ الْعِلْمِ فَرِيْضَةٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ وَ مُسْلِمَةٍ “Menuntut ilmu wajib bagi setiap muslim baik laki-laki maupun perempuan” (H.R. ibnu Majah)

Islam adalah agama yang identik dengan Ilmu Pengetahuan. Al Qur’an sebagai Kitab Suci dan pedoman bagi umat sejak awal turun berbicara tentang ilmu, hal ini tampak jelas apada ayat pertama yang diturunkan Allah kepada Nabi Muhammad SAW, « Bacalah dengan menyebut nama Tuhanmu Yang telah Menciptakan, Tuhan yang menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah dan Tuhanmu Maha Mulia, Yang mengajakan (manusia) dengan perantaraan Qalam. Yang mengajarkan manusia apa-apa yang tidak ia ketahui. » (Q.S. Al ‘Alaq: 1-5). Watak yang sempurna dengan nilai nilai luhur (akhlaqul karimah) ini akan melahirkan tindakan menumbuhkan mahabbah (rasa cinta) serta rindu kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala ;
ثلاث من كن فيه وجد طعم الايمان : من كان الله ورسوله احب اليه مما سواهما ومن احب عبدا لا يحبه الا الله ومن يكره ان يعود فى الكفر بعد ان انقذه الله منه كما يكره ان يلقى فى النار.
“ Ada tiga perkara, barangsiapa terdapat pada dirinya, maka dia akan merasakan lazatnya keimanan : Orang yang mencintai Allah dan RasulNya lebih daripada selain keduanya, orang yang mencintai seorang hamba hanya karena Allah, dan orang yang benci untuk kembali kepada kekufuran setelah Allah menyelamatkannya sebagaimana dia benci untuk dilempar ke dalam neraka. (Hadith riwayat Bukhari, Muslim, Tarmizi dan Nasa^i).

WAKTU ADALAH MODAL UTAMA MANUSIA. Apabila tidak dipergunakan dengan baik, waktu akan terus berlalu. Ketika waktu berlalu begitu saja, jangankan keuntungan yang akan diperoleh, modalpun hilang. Banyak sekali hadits Nabi SAW mengingatkan manusia agar mempergunakan waktu dan mengaturnya sebaik mungkin. Diantara hadits-hadits Nabi SAW tersebut :
نِعْمَتَانِ مَغْبُوْنٌ فِيْهِمَا َكثِيْرٌ مِنَ النَّاسِ، الصِّحَّةُ وَ الفَرَاغُ
“Dua nikmat yang sering disia-siakan banyak orang: Kesehatan dan kesempatan (waktu luang).” (H.R. bukhari melalui Ibnu Abbas r.a)
Tanamkan Rasa Selalu diawasi oleh Allah. Mukmin sejati dalam berbagai bidang kehidupannya selalu berkaitan dengan akidah, ibadah.
Semua hubungan sosial, kekeluargaan, moral maupun yang berkaitan dengan sifat emosional, intelektual, profesional dan sifat-sifat jasadi (fisik), selalu didasari dan dirasakan bernilai aqidah dan penghayatannya didalam kehidupan menjadi satu yang difardhukan. Akhlaq Qurani menjadi bukti mendarah dagingnya Islam didalam diri. Sunnah telah memberikan perhatian mendalam kepada masalah nilai aqidah ini.
ذاق طعام الا يمان من رضي بالله ربا وبا لا سلا م دينا وبمحمد رسولا.
“Yang merasakan lazatnya iman adalah orang yang redha terhadap Allah sebagai Tuhannya, dan redha terhadap Islam sebagai agamanya dan redha terhadap Muhammad sebagai Rasul.” (Hadith riwayat Muslim dan Tarmizi.)

Etika Profesional Generasi Unggul adalah selalu bertanggung jawab dalam setiap geraknya. Tanggung jawab tersebut mencakup ; Tanggungjawab Kepada Allah, Tanggungjawab Kepada Diri, Tanggungjawab Kepada Ilmu, Tanggungjawab Kepada Profesi, Tanggungjawab Kepada Masyarakat, Tanggungjawab Kepada Sejawat, Tanggungjawab Kepada Keluarga. Nilai-nilai ideal kehidupan itu akan terlihat pada, (1). adanya rasa memiliki bersama, (2). kesadaran terhadap hak milik, (3). kesadaran terhadap suatu ikatan kaum dan suku, (4). kesediaan untuk pengabdian, (5). terjaga hubungan positif akibat hubungan pernikahan, hubungan semenda menyemenda, bako baki, ipa bisan, andan pasumandan, dan hubungan mamak kamanakan .

Wallahu a’lamu bis-shawaab. Wabillahit taufiq wal hidayah.

Padang, 9 Dzulqa’edah 1436 H / 24 Agustus 2015 M

Leave a Reply