Membangun Generasi Unggul Taat Beragama Beretika dan Beradat di Sumatera Barat

GENERASI MUDA DI SUMATERA BARAT MESTI DIBENTUK MENJADI GENERASI UNGGUL atau Khkhaira Ummah yang akan memikul amanah peran pelopor perubahan (agent of changes) dengan berbekal keyakinan dan keimanan kepada Allah SWT. Generasi Unggul dimaksud adalah generasi yang peduli serta selalu melaksanakan misi amar makruf nahyun anil munkar ditengah lingkungannya, sesuai Firman Allah yang menyebutkan ciri khas sebagai berikut ;

“kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya ahli kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka, di antara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik.” (QS.Ali Imran : 110).

Generasi Unggul harus tumbuh menjadi kelompok yang penuh dengan keimanan kepada Allah. Generasi Unggul adalah pemilik akal budi yang jernih. Berkemampuan menghadapi berbagai tantangan global. Mereka memiliki jati diri sesuai fitrah anugerah Allah, yakni Beriman, Beretika, Berakhlak dan Beradat Istiadat yang selalu mengajak kepada kebaikan serta melarang dari kemungkaran.

Tantangan masa kini memang sangat berat, karena derasnya infiltrasi budaya sekular yang menjajah mentalitas manusia. Selain itu, ada juga perkembangan kebiasaan baru yang disebut the globalization life style yang salah pasang. Akibatnya subur tumbuh budaya lucah yang menonjolkan keindahan sebatas yang dilihat, didengar, dirasa, disentuh, sensual, erotik dan seronok. Lebih jauh, mengarah kepada sikap hedonis, kadang-kadang ganas (anarkis). Bahaya lainnya adalah, kebiasaan menengggak miras, pergaulan bebas dan kecanduan madat dan narkoba. Hal sedemikian itu terjadi karena mengabaikan batasan-batasan perilaku luhur yang telah menjadi ”kesadaran kolektif” di dalam pergaulan masyarakat berupa seperangkat aturan dalam menata kehidupan bersama.

Oleh sebab hal sedemikian itu, Strategi membangun masyarakat beradat itu akan berhasil manakala selalu kokoh dengan prinsip, qanaah dan istiqamah. Berkualitas dengan iman dan hikmah. Berilmu dan matang dengan visi dan misi. Amar makruf nahyun ‘anil munkar dengan teguh dan professional. Research-oriented berteraskan iman dan ilmu pengetahuan. Mengembalikan Minangkabau keakar Islam tidak boleh dibiar terlalai agar tidak lahir bencana.

BUDAYA MINANGKABAU DIBANGUN DI ATAS PETA REALITAS, yakni Adat yang bersendi kepada “Nan Bana”, direkam lewat bahasa lisan berupa pepatah, petatah petitih, mamang, bidal, pantun, yang dikenal sebagai Kato Pusako yang menjadi rujukan di dalam penerapan perilaku masyarakat Minangkabau. Para filsuf dan pemikir Adat Minangkabau meletakkan landasan filosofis Adat Minangkabau atas dasar pemahaman yang mendalam tentang bagaimana bekerjanya alam semesta serta dunia ini termasuk manusia dan masyarakatnya, yang diungkap dalam ”kato” yang menjadi mamangan masyarakatnya, melahirkan Fatwa adat menyebutkan, “Alang tukang tabuang kayu, Alang cadiak binaso adat, Alang alim rusak agamo, Alang sapaham kacau nagari. Dek ribuik kuncang ilalang, Katayo panjalin lantai, Hiduik jan mangapalang, Kok tak kayo barani pakai. Baburu kapadang data, Dapeklah ruso balang kaki, Baguru kapalang aja, Bak bungo kambang tak jadi”.

Filsul dan pemikir yang merenda Adat Minangkabau telah mengakui dan memahami keberadaan Nan Bana, Nan Badiri Sandirinyo, dan menjadikan alam semesta menjadi ”ayat dari Nan Bana” atau ayat kauniyah yang membimbing kepada kesadaran kolektif berupa Pandangan Dunia dan Pandangan Hidup (PDPH) masyarakat Minangkabau yang memengaruhi sikap umum dan tata-cara pergaulan, adat istiadat yang lebih dikenal sebagai Adat nan Diadatkan dan Adat nan Taradat. Salah satu keunggulan dinamika agama dalam tatanan kehidupan kemasyarakatan adalah penguatan peran perkerabatan dalam implementasi tatanan adat budaya Minangkabau. Ajaran syarak (Islam) mendorong sikap untuk maju. Namun tatanan nilai yang baik itu dapat berubah karena longgar menjaga tatanan adat istiadat. Rapuhnya akhlak anak generasi akan merusak bangunan kehidupan. Budaya Minangkabau membentuk generasi nan kuriek kundi nan sirah sago, nan baik budi nan indah baso. Urgensi Ajaran Islam sesuai sabda Rasul Allâh SAW mengingatkan bahwa, “Ada tiga faktor membinasakan manusia yaitu mengikuti hawa nafsu, kikir yang melampaui batas dan mengagumi diri sendiri (‘ujub).” (HR. al-Tirmidziy). Pengabaian pesan Rasulullah ini akan menumbuhkan penyakit social yang kronis. Penyakit Masyarakat ini menjadi lebih parah karena umat menjauh dari aqidah tauhid sehingga tumbuh perilaku tidak berakhlak Islami serta suka melalaikan ibadah. Solusi sebenarnya dari beban permasalahan besar ini hanya mengupayakan Pendidikan dengan pengenalan Iman dan Akhlaq Qurani serta penguatan peran perkerabatan dalam implementasi tatanan adat budaya Minangkabau.

GENERASI UNGGUL WAJIB LAHIR DENGAN BUDAYA LUHUR (TAMADDUN) YANG BERPAKSIKAN TAUHIDIK. Artinya generasi yang memiliki daya inovasi dan daya kreasi yang tinggi, ditupang oleh tamaddun yang luhur . Cahaya akal mesti diletakkan di bawah naungan wahyu agar berpadu kepintaran dengan kebijaksanaan, pengetahuan dengan hidayah. Dengan demikian rahmat dan barakah dapat diraih. Ihsan dan kasih sayang dapat dicapai. Dengan ilmu yang berteraskan iman, para pemimpin dan aktivis Generasi Unggul (khaira ummah) akan dapat merumus fikrah harakiah untuk merancang gerak sesuai visi dan misi di dalam membangun kehidupan yang diredhai Allah Azza wa Jalala.

1. Islam tidak mengenal ada “pengabdian kepada benda”. Pengabdian kepada benda apapun selain Allah adalah suatu sikap yang munafik dan musyrik. Konsekwensnya seorang muslim dituntut semata-mata mengabdi (menyembah) hanya kepada Allah saja. Ajaran Islam adalah Monotheisme berarti setiap Muslim memiliki konsep hidup tauhid, yakni Allah adalah al Ma’bud artinya sesuatu yang disembah. Konsepsi Tauhid Uluhiyah harus istiqamah terhadap hukum wahyu. Tanpa konsistensi keyakinan ini secara gagasan maupun gerak akan dinyatakan sebagai musyrik. Realisasi tauhid uluhiyah adalah semata mengakui kedaulatan Allah di bumi.

2. Seluruh Rasul diutus dengan Misi Tauhid. Maka, konsepsi Tauhid adalah konsepsi tertinggi dalam ajaran agama. Karenanya apabila syarak telah mengata, maka adat mesti memakai. Disini terlihat peranan Akhlaqul Karimah. Perpaduan Adat dan Syarak di Minangkabau menjadi undang-undang nagari. Undang-undang tersebut dilaksanakan dengan sempurna. Karena itu, kehidupan bermasyarakat terjamin aman dan tenteram.

Apabila kedua sarana ini telah berperan sempurna, maka akan didapati di kelilingnya masyarakat yang hidup dengan memiliki akhlaq perangai yang terpuji dan mulia (akhlaqul-karimah) sesuai bimbingan syarak.

Dalam tatanan masyarakat adat Minangkabau di Sumbar dirakitkan keyakinan tauhid kedalam filosofi hidup anak nagarinya dengan adat basandi syarak syarak basandi Kitabullah, guna melahirkan sikap cinta dan sikap positif menjaga batas-batas patut dan pantas membentuk umat yang kuat, sehat fisik, sehat jiwa, sehat pemikiran, dan sehat social, ekonomi, konstruktif (makruf).
Wallahu a’lamu bis-shawaab. Wabillahit taufiq wal hidayah.

Padang, 6 Dzulqa’edah 1436 H / 21 Agustus 2015 M

Leave a Reply