Mensyukuri Nikmat Kemerdekaan NKRI ke 70

الْحمدُ لله الذي َجَعَلَنَا خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ للنَّسِ. أَحْمَدُهُ عَلَى تَوْفيِقِهِ وَهِدَايَتِهِ. أشْهدُ أنْ لآإِله إلاَّالله وحدَهُ لآشَريك له، و أشْهدُ أنَّ محمَّدًا عبدُهُ ورسولهُ وحبيبهُ وخليلُهُ. أللهمَّ صلِّ وسَلِّم وبارك عليهِ و على آله وصَحْبِهِ وَمَنِ اتَّبَعَ هُدَاهُ, بِرَحْمَتِكَ يَا أرْحمَ الرَّاحمينَ.
يَأًيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا اِتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ، وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَ أَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ …

Alhamdulillah, besok hari Insyaallah kita semua akan merayakan Hari Proklamasi Republik Indonesia ke 70. Mengingatkan kita akan sejarah besar bangsa ini dengan Proklamasi Kemerdekaan RI, 17-08-1945 yang terjadi pada bulan Ramadhan. Kesyukuran itu wajib kita jaga dan pelihara, karena Bangsa Indonesia, dibulan Agustus menyimpan sejarah besar lepasnya bangsa ini dari cengkeraman penjajahan, dari berbagai penindasan hingga pembuangan. Berjibun penderitaan sampai dikucilkan, bahkan lama pula bangsa ini dikuasai paham tak bertuhan, atheis… dan saat ini kita semua bersyukur karena cengkeraman telah sirna. Dimanakah sebenarnya rahasia kekuatan kita ini? Adakah pada senjata bedil meriam dan kapal perang? Sama sekali tidak. Kalau hendak mengaji rahasia kekuatan ini lebih mendalam, lihatlah kedalam bathin. Tengoklah kedalam jiwa bangsa yang kokoh. Kekuatan kesatauan yang berurat berakar pada cinta negeri dan tanah air. Kekuatan yang lahir karena mahabbah, kecintan dan keyakinan kepada Keesaan Allah Yang Maha Kuasa. Kita kuat karena kuatnya Iman dan akidah kita dan selalu ingat akan Allah yang menjadi pangkal ketentraman, ketenangan dan kedamaian. Allah adalah sumber ketenangan dan kedamaian. Allah SWT berfirman:

.. فاذْكُرُونِي أَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوا لِي وَلاَ تَكْفُرُونِ
“… Karena itu, ingatlah kamu kepada-Ku, niscaya Aku ingat (pula) kepadamu…” (Q.S. Al Baqarah: 152).

Ingatlah moyang kita sejak ribuan tahun lalu, walau tidak pernah bertemu dengan Rasulullah Saw, telah menyatakan iman kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan mengikuti ajaran dan Sunnah Nabi Muhammad Shallalahu ‘alaihi wa Sallam dengan sepenuh hati, serta menjadikannya panduan di dalam kebiasaan kehidupan mereka.

طُوْ بَي لِمَنْ يَرَانِى وَأمَنَ بِي , ثُمَّ طُوْ بَي لِمَنْ أمَنَ بِي وَ لَمْ يَرَانِى
“Berbahagialah orang orang yang telah sempat melihat wajahku, lalu ia beriman kepada ku (Muhammad SAW); tetapi lebih berbahagia lagi (7x) bagi barangsiapa yang beriman kepadaku, padahal dia belum pernah melihat wajahku”.

Itulah kita sekarang disini mengamalkan ajaran tauhid dengan akhlak mulia yang masuk kedalam perilaku budaya anak bangsa, jadi bukti keimanan yang sempurna dalam kerukunan dan teguhnya iman. Islam tidak bangga dengan banyak bilangan tidak berkualitas. Dasar hidup muslim adalah Tauhid. Menyerahkan segenap kepercayaan kepada Allah Azza wa Jalla. Kepercayaan ini menempatkan takut hanyalah kepada Dia. Sehingga terasa tanggung jawab besar dalam menegakkan kebenaran dan menolak segala perbuatan munkar. Ingatlah bahwa satu perjuangan selalu menempuh penderitaan. Namun tujuan tidak boleh berubah karena penderitaan. Percaya kepada Allah, adalah pangkal segala kekuatan yang melebihi segala kekuasaan di dalam alam ini. Kekuasaan manusia amat terbatas. Rencana manusia dapat digagalkan oleh rencana Allah. Kita dapat belajar dari sejarah kekuasaan Firaun yang dihadapi oleh Musa tidak dengan peperangan. Tidak ada senjata pada Nabi Musa. Kejatuhan Firaun adalah karena tenggelam di tengah laut. Nabi Musa sendiri pun tidak akan berdaya membuat balasan seperti itu. Kejadian itu semata karena kekuasaan Allah Azza wa Jalla. Inilah rahasia doa Rasulullah Saw ketika berada dalam penganiayaan manusia di Thaif,”Allahummahdi Qaumiy Fa innahum Qaumun Laa Ya’lamuun”. Maka adalah kewajiban kita berjihad bekerja keras memperdalam iman dan memperteguh keyakinan. Dan jihad yang paling dahsyat ialah melawan diri sendiri. Memerangi kehendak nafsu. Memerangi sifat pengecut dan pemalas. Memerangi loba tamak dan sikap menipu yang melahirkan korupsi.

Kita wajib menentangnya. Agar pergaulan hidup selamat. Agar Negara kita aman damai. Orang Islam punya kesadaran penuh dengan akidah tauhidnya. Orang bertauhid tetap tegak pada pendirian yang benar atas dasar Laa ilaaha Illa Allah. Orang bertauhid akan tetap saja berani mengatakan yang benar itu benar, dan menyatakan yang salah itu adalah salah. Walau senjata yang ada padanya hanyalah lidah dengan kekuatan Iman. Orang bertauhid hidup terus, walaupun telah hancur tulang belulangnya dalam kubur. Sedangkan orang musyrik, berarti telah mati, walaupun tampaknya berkeliaran di muka bumi. Orang bertauhid senantiasa menampakkan Rasa Cinta Kepada Allah Yang Maha Agung. Rasa cinta sesama hamba Allah Yang Maha Pengasih. Rasa cinta sesama penghuni bumi untuk meraih kasih sayang penghuni langit. Karena ternyata, yang membina kasih sayang akan disayangi oleh Yang Maha Pengasih Maha Penyayang

الرَّاحِمُوْنَ يَرْحَمُهُمُ الرَّحْمَنُ، اِرْحَمُوْا مَنْ فِي الأَرْضِ يَرْحَمْكُمُ اللهُ مَنْ فِى السَّمَاءِ (رواه أبوداود)
.. sayangilah sesama penduduk bumi agar menyayangi kamu pula apa yang ada dilangit. (HR.Abu Daud)

Kita semua wajib mengisi kemerdekaan RI ini dengan Perpaduan umat tanpa membedakan antara satu dan lainnya, karena yang paling mulia disisi Allah ialah yang bertaqwa kepadaNya. Semua komponen bangsa harus dapat membuktikan betapa kuatnya tali silaturahim sebagai bukti tanda orang muttaqin yang semestinya bersih dari kedurhakaan dan kemunafikan. Jembatan rasa akan kokoh kuat, bila di ikat oleh hati dalam kemasan kalimat tauhid. Kesatuan hati dan hati menjadi sumber kekuatan yang ampuh dalam ukhuwah yang integrative. Kita tidak dapat membayangkan betapa rusaknya masyarakat yang berlabel ukhuwah tetapi hati mereka tidak mau bertemu. Mempertemukan hati dengan hati hanya mungkin dengan kekuatan tauhid. Keyakinan kepada Allah SWT. Kekuatan kalimah tauhid, atau kalimatun thayyibah, dapat membentengi umat dan mampu menjadi kekuatan dalam membina persaudaraan atas dasar ukhuwah imaniyah. Kalimah tauhid adalah seumpama pohon yang kokoh kuat dengan urat menghunjam bumi dan pucuk melembai awan. Bentuk kerukunan umat bertauhid digambarkan oleh Allah SWT:

”Tidakkah kamu perhatikan bagaimana Allah telah membuat perumpamaan kalimat yang baik seperti pohon yang baik, akarnya teguh dan cabangnya (menjulang) ke langit, pohon itu memberikan buahnya pada setiap musim dengan seizin Tuhannya. Allah membuat perumpamaan-perumpamaan itu untuk manusia supaya mereka selalu ingat.” (QS.14, Ibrahim : 24-25). Maka tugas kita semua adalah senantiasa menjaga generasi kita agar tidak menjadi golongan yang melupakan Allah dan lupa diri.

”Dan janganlah kamu seperti orang-orang yang lupa kepada Allah, lalu Allah menjadikan mereka lupa kepada diri mereka sendiri. Mereka itulah orang-orang yang fasik. Tiada sama penghuni neraka dengan penghuni-penghuni surga; penghuni surga itulah orang-orang yang beruntung.” (QS.59, Al Hasyr :19-20).

Ciptakan suasana bahagia disekitar lingkungan kita dengan menguatkan silaturahim sesama. Silaturahim adalah perangai mulia penghuni dunia dan akhirat dan bukti dari keimanan dan ketaqwaan. Mustahil ketaqwaan dapat dicapai jikalau urusan kita sesama manusia belum beres dan hati masih dihinggapi berbagai penyakit khizid. Tiada yang kita harapkan selain derajat taqwa yang dijanjikan Allah bagi hamba-Nya.Sungguh orang bertaqwalah yang paling mulia disisi Rabbul ‘Izzah, Allah SWT, yang selalu menyorakkan dengan lantang; “Tuhan kami adalah Allah, tiada bersyarikat DIA, dan untukNYA kami hidup dan kepadaNya pula kami akan kembali.

قُلْ إِنَّ صَلاَتِي وَ نُسُكِى وَ مَحَيَاىَ وَ مَمَاتِي ِللهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ – لاَ شَرِيْكَ لَهُ، وَ بِذَلِكَ أُمِرْتُ وَ أَنَا أَوَّلُ الْمُسْلِمِيْنَ
“ Katakanlah: Sesungguhnya sembahyangku, ibadatku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam. Tiada sekutu bagiNya; dan demikian itulah yang diperintahkan kepadaku dan aku adalah orang yang pertama-tama menyerahkan diri (kepada Allah)”. (QS.6, al An’am : 162-163).

اللَّهُمَّ اصْلِحْ لَنَا دِيْنَنَا الَّذِي هُوَ عِصْمَةُ أَمْرِنَا، وَ اصْلِحْ لَنَا دُنْيَانَا الَّتيِ فِيْهَا مَعَاشِنَا، وَ اصْلِحْ لَنَا آخِرَتِنَا الَّتيِ إِلَيْهَا مَعَادُنَا، وَ اجْعَلِ اْلحَيَاةَ زِيَادَةً لَنَا فيِ كُلِّ خَيْرٍ، وَاجْعَلِ المَوْتَ رَاحَةً لَنَا مِنْ كُلِّ شَرٍ،

Leave a Reply