Jangan Dikhianati Amanat Kepemimpinan

Di Riwayatkan dari Imam Ahmad dan Athabbarani, dari Abi Mas’ud Radhiallahu ‘anhu, ia berkata, aku bertanya kepada Rasulullah. “wahai Rasulullah”Kedzaliman apakah yang lebih dzalim dari kedzaliman itu sendiri? ,

Rasulullahpun menjawab :” Sedepak (segenggam) tanah/harta yang dikurangi seseorang dari haknya seorang muslim, ataupun diambilnya tanah tersebut, kecuali kelak dihari kiamat dia akan mengelilingi tanah /harta tersebut sampai kedasar tanah yang paling dalam, dan sampai dimana dasar/bawah tanah tersebut batasnya, tak ada seorangpun yang mampu mengetahuinya kecuali Allah Ta’ala.”
Dia akan menggali/mengelilingi, dan menggantikan sejengkal tanah tadi sampai kedasarnya sekali, dimana sampai mana dasar tersebut berakhirnya tak ada seorangpun yang tahu, kecuali Allah Ta’ala.

Begitu besar dosa, dan ganjaran seseorang yang mengambil harta/tanah milik orang lain, ataupun menguranginya.
Mengurangi apalagi sampai mengambil harta seseorang, sangatlah besar dosanya disisi Allah Ta’ala.
Karena Allah Ta’ala sangat menghargai jerih payah harta seseorang yang dicarinya dari hasil kerja tangannya sendiri, sementara ada yang mengambil seenaknya saja.

Di kehidupan dunia sekarang ini, karena harta orang mampu melakukan segalanya, apa sajapun itu.
Manusia banyak hancur terjerumus, bahkan menjerumuskan orang lain, karena harta, karena factor ekonomi, factor uang, harta dan kedudukan, jabatan.
Mungkin, karena itu pula, betapa banyak ayat-ayat Allah Ta’ala, maupun hadits2 Rasulullah yang mengingatkan kita dalam masalah ini.

Lihatlah, betapa Allah Ta’ala menggantungkan amalan seseorang masih dalam kuburnya, belum lagi di padang mahsyar kelak, seseorang yang meninggal dunia, dan dia masih meninggalkan hutang yang belum sempat dibayarkannya.

Dari Anas ra berkata: Suatu ketika Rasulullah didatangkan dengan jenazah seseorang, untuk dishalatkan. Kemudian Rasulullah bertanya? :”Apakah dia punya hutang?” Mereka menjawab:”Iyah”. Rasulullah bersabda:Sesungguhnya Jibril melarang aku menshalatkan orang yang masih punya hutang, karena sesungguhnya orang yang masih punya hutang, nasibnya akan terkatung2 sampai hutangnya dilunasi”

Ketahuilah, bahwa memperlambat hutang menghilangkan keberkahan hidup.
Betapa banyak diantara kita yang hakikatnya sudah mampu membayar hutang-hutang kita, namun kita sengaja memperlambatnya dengan berbagai alasan yang tidak begitu penting. Ada-ada saja kebutuhan kita yang kita sampaikan pada yang memberikan hutang, untuk menunda hal tersebut, yang mana itu bukanlah sebuah kebutuhan dan primer, tapi sekunder, bahkan kebutuhan lux, yang memberikan kita hidup kelihatan lebih mewah dan wah, padahal semua itu, kita masih menggantungkan hutang kita pada orang lain.

Keberkahan hidup kita sendiri akan punah pada akhirnya, karena kesengajaan kita, bukan karena kondisi kita.
Seharusnya kita mampu hidup sesuai dengan kondisi financial kita, namun demi sebuah gaya hidup, gengsi, kita usahakan kelihatan mewah dikhalayak ramai, menyedihkan sekali. Semoga hal ini, tidak terjadi untuk diri kita, anak cucu dan keturunan kita, karena hakikatnya hal inilah yang menjadi darah daging dari sikap bangsa kita, yang terbiasa mau kelihatan mewah, hakikatnya kita masih banyak hutang yang bisa menggantungkan amalan kita diakhirat kelak, bahkan masih dalam kuburpun, kita dibuat terkatung-katung olehnya. Kalau kondisi benar-benar sulit dan tak berdaya, agamapun memberikan solusi yang tepat dan baik. Kitanya saja yang terkadang tak mau mematuhi hukum agama, tetapi lebih condong pada kehidupan dunia dan mata orang lain, ketimbang ridha Allah Ta’ala.

Makan harta dari harta yang haram, salah satu penyebab dari tidak dikabulkannya do’a seseorang
Diriwayatkan dari Imam Attabbarani, dari Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhuma, ia berkata :”Tatkala dibacakan ayat “Wahai sekalian manusia, makanlah dari apa-apa yang ada dimuka bumi ini dengan cara yang baik dan halal”, maka berdirilah Sa’ad bin Abi waqas. “Wahai Rasulullah, berdo’alah kepada Allah Ta’ala, agar do’ do’aku dikabulkanNya”, kemudian Rasulullah menjawab :”Wahai Sa’ad, perbaikilah makananmu, niscaya do’a kamu terkabul, sungguh dimana jiwaku yang berada ditanganNya, apabila seseorang memakan sesuap makanan kedalam mulutnya dengan sesuatu dari harta yang didapatkannya dengan cara yang haram, sungguh, Allah tidak akan menerima amalannya selama 40 hari(itu baru sesuap, gimana kalau 10 suap, apalagi 10 piring?), dan barang siapa yang darah dagingnya tumbuh dari daging didapatnya dari cara yang haram, maka neraka lebih berhak untuknya”.

Bayangkanlah, kalau saja tanah/harta seseorang yang sejengkal, dan sangat sedikit itu, kita kurangi/ kita ambil saja, hukuman yang akan kita terima, dihari kiamat kelak(hati-hati bagi para pejabat/atasan/tuan rumah yang terkadang kita sering mengurangi hak bawahan, pembantu, faqir miskin, hak ortu kita), kita harus mengelilingi/menggali tanah tersebut sampai kedasar tanah yang penghabisan, dimana letak penghabisannyapun tak ada yang bisa mengetahuinya kecuali Allah Ta’ala.
Harus berapa puluhan tahun kita melunasi untuk membayarkan harta yang kita ambil, tersebut?
Mengerikan bukan?
Betapa Allah ta’ala sangat menghargai harta benda milik manusia itu sendiri, padahal harta itu jelas-jelas milikNya, tapi sebegitunya kita dilarang mengurangi hak dari harta benda seseorang apalagi mengambilnya dengan cara yang haram, bukan cara yang halal.

Agama Islam mengatur kehidupan manusia dari segala lini kehidupan.
Mulai dari bangun tidur, sampai tidur kembali, semua ada aturannya.
Tinggal manusianya saja lagi yang harus memilih, pilih dunia beserta keindahannya, atau pilih akhirat dengan segala keindahannya pula. Dan setiap pilihan hidup pasti memiliki resiko dan konsekwensi.

Ingatlah pula bahwa Allah Ta’ala sudah banyak memberikan kita peringatan bahwa “Walalaakhiratu, khairullaka minaluula, dan akhirat itu jauh lebih baik bagimu, ketimbang dunia”, “Dan tidaklah kehidupan di dunia ini hanyalah permainan dan senda gurau belaka”.

Tak berapa tahun yang silam kita dilahirkan dengan tangisan kita tatkala bayi, menjelang berapa saat kita jalan, sekolah, kawin, punya anak, dan tua, akhirnya keliang lahat kembalinya.

Allah Ta’ala berfirman, dengan mengingatkan kita aka nasal kita darimana, “Dari tanah kami menciptakan kamu, didalam hamparan tanah itu juga kamu hidup, dan pada akhirnya kamu kembali kedalam tanah juga”.

Apabila kamu mengurangi harta/hak seseorang, apalagi kamu mengambilnya dengan cara yang tidak halal, kelak kamu akan menggali/mengelilingi tanah tersebut sampai kedasarnya, dan apabila kamu meninggal masih memiliki hutang, kelak didalam tanah yang kamu dikubur didalamnya, nasib kamu juga terkatung-katung.

Dari tanah saja, kita bisa mengambil pelajaran yang sangat banyak dan mendalam, apatah lagi dari yang lainnya.

Dari paparan ayat-ayat serta hadits-hadits diatas, bisa kita ambil kesimpulan:
1. Hati-hati terhadap harta orang lain
2. Hati-hati terhadap hutang kita
3. Hati-hati terhadap harta kita sendiri
4. Hati-hati terhadap bawahan/pembantu kita, jangan sampai haknya kita kurangi, dan jangan sampai membebani pekerjaan seseorang diluar batas kemampuannya, apalagi sampai kita tak membayar haknya sesuai dengan tenaganya.

Allahu ‘Alam bi – shawaab,

Leave a Reply