Konspirasi Internasional

Asas agama sering dijadikan salah satu ujud sasaran tembak dalam pertentangan-pertentangan di antara pemegang kekuasaan dunia, percaturan politik sejagat yang mengarah persekongkolan kekuatan anti agama. Persekongkolan kekuatan ini sering bergulir menjadi konspirasi internasional. Kebenaran bimbingan wahyu Allah dapat disimak dengan sangat jelas dalam percaturan memperebutkan umat diantara kalangan Salibiyah (Christ society) dan Yahudiyah (Lobi Zionis Internasional).

Dua kelompok yang tidak pernah berdiam diri, untuk mempengaruhi paham dan pikiran manusia, sampai semua orang bisa mengikuti ajaran (millah) nya. Sasaran utama lebih di arahkan kepada kelompok Muslim sejagat. Sasaran utama ditujukan untuk melumpuhkan kekuatan Islam secara sistematik. Berkembangnya citra (imaj) bahwa paham-ajaran Islam adalah musuh bagi kehidupan manusia dan tatanan dunia, merupakan bukti dari hasil uopaya gerakan Salibiy Yahudi ini.

Penerapannya sering terlihat dalam bingkai ethnic cleansing, Tuduhan-tuduhan teroris kepada gerakan dakwah Islam, fundamentalis, radikalisme, keterbelakangan, tuduhan tidak sesuai dengan kemajuan zaman. Sasaran akhirnya umat Islam menjadi enggan menerima ajaran Islam dalam kehidupan kesehariannya.

Konsepsi Islam dilihat mereka hanya sebatas ritual dan seremonial. Konsepsi ajaran Islam dianggap tidak cocok untuk menata kehidupan sosial ekonomi dan politik. bangsa-bangsa. Hubungan manusia secara internasional dinilai tidak pantas di kover oleh ajaran agama Islam. Pemahaman picik bahwa ajaran agama hanya bisa di terapkan untuk kehidupan akhirat, bukan untuk tatanan masa kini, merupakan gejala lain dari kehidupan sekuler materialisma. Begitulah suatu tadzkirah (warning dan peringatan) wahyu, bila mampu dipahami secara jelas tertera dalam Al Quran (lihat QS. Al-Baqarah 120).

Diniyah atau laa diniyah. Pertentangan pemahaman dalam menerapkan ajaran Islam bermuara kepada memecah umat manusia (firaq) yang pada mulanya telah di ikat oleh kewajiban kerja sama (ta’awun) menjadi dua pihak (diniyah dan laa diniyah). Satu sama lain, atau kedua-duanya seakan harus berhadapan dalam satu satuan perang yang dipertentangkan secara bengis dan ganas, penuh kecurigaan dan intimidasi, akhirnya memungkiri segala keuatamaan budi manusia.

Bertalian dengan agama lain, semestinya pula umat Islam berpedoman kepada (QS.al-Baqarah 256). Bahwa tidak ada paksaan dalam agama. Iman diperoleh sebagai rahmat dan karunia Ilahi bukan melalui pemaksaan Umat Islam berkewajiban menolak pemahaman kepada adanya permusuhan antara golongan dalam masyarakat yang terkam menerkam serta terlepas dari tali Allah.

Hak asasi manusia. Hak asasi ini akan selalu terpelihara dan terjamin, selagi kemerdekaan itu selalu bertumpu kepada terpeliharanya kesopanan umum dan ketertiban negeri.

Hak asasi manusia secara pribadi tetap akan terlindungi bila setiap orang memandang dengan sadar bahwa setiap orang memiliki hak untuk tidak berbuat sesuka hati. Bila sesorang dalam mempertahankan hak asasinya mulai bertindak dengan tidak mengindahkan hak-hak orang lain disampingnya, maka pada saat yang sama semua hak asasi itu tidak terlindungi lagi.

Kewajiban asasi untuk tidak melanggar kehormatan orang lain akan memberikan penghormatan kepada kemerdekaan orang lain, senyatanya adalah bingkai dari hak asasi manusia yang sebenarnya.

Leave a Reply