FUNGSI DAN PERANAN TUNGKU TIGO SAJARANGAN DALAM PERSPEKTIF SYARAK MANGATO ADAIK MAMAKAIKAN

1.     Kekayaan Budaya Minangkabau pada Langgo Langgi

TATANANlanggo langgi (struktur) Masyarakat Hukum Adat di Minangkabau adalahkekayaantamadun masyarakat Sumatera Barat yang dibingkai kearifan local (localwisdom) menampakkan kecerdasan local (local genius) masyarakatnya yangdalam rentang waktu amat panjang telah terbukti banyak memberikan kontribusibagi membangun daerah dalam bentuk fisik maupun karakter masyarakat SumateraBarat dengan kekuatan nilai-nilai filosifi adat budayanya ABSSBK yang terikatkuat dengan penghayatan Islam.

 

Langgo Langgi MHA Minangkabau itu tampak jelas di Nagari yangterdiri dari suku, kampuang, jurai  yangbermula dari rumah tangga.

 

Padasemua tingkatan itu ada pengawalan pada posisi dan fungsinya. Adanya kaidah,karajoba umpuak surang surang, urang ba jabatan masieng masieng. Artinyaada pembagian pekerjaan dalam menjaga watak generasi dalam tatanan langgolanggi  sebagai awal dari pendidikanberkarakter.

 

Padasemua tingkatan itu ada pengawalan pada posisi dan fungsinya dalam kaidah,karajoba umpuak surang surang, urang ba jabatan masieng masieng. Artinyaada pembagian pekerjaan dalam menjaga watak generasi dalam tatanan langgo langgi  sebagai awal dari pendidikan berkarakter.

 

 

 

2.     AdatMinangkabau Unik

Minangkabau tidak saja unikdengan garis keturunannya, tetapi juga unik pada sistem kepemimpinannya dalam konsepTungku Tigo Sajarangan yang terdiri dari tiga unsur.

 

Pertama, Kepemimpinan ninik mamak, merupakan kepemimpinantradisional, sesuai pola yang telah digariskan adat secaraberkesinambungan, dengan arti kata “patah tumbuah hilang baganti” dalamkaum masing-masing, dalam suku dan nagari, karena tinggitampak jauh, gadang tampak dakek (jolong basuo) dan Padangnyo leba,alamnyo laweh. Tinggi dek dianjuang, gadang dek diambak.

 

KeduaKepemimpinanalim ulama suluah bendang di nagari — suluhyang terang benderang dalam nagari –, . Alim ulamalah yang mengaji hukum-hukumagama, yang akan menjadi pegangan di dalam syarak mangato adaik mamakaikan,tentang sah dan batal, halal dengan haram dan mengerti tentang nahu dan sharaf.Secara umumnya, alim ulama akan membimbing rohani untuk menempuh jalan yangbenar dalam kehidupan di dunia menuju jalan ke akhirat karena adat Minang ituadat Islami, adat bersendi syarak, syarak bersendi kitabullah. 

 

Ketiga,Kepemimpinan cerdik pandai yang tumbuh darikelompok masyarakat yang mempunyai ilmu pengetahuan dan cerdik memecahkanmasalah yang ada dalam masyarakat. Ia pandai mencarikan jalan keluarnya,sehingga ia dianggap pemimpin yang mendampingi ninik mamak dan alim ulama.

Kepemimpinan dan kharismaalim ulama dan cerdik pandai tidak terbatas pada lingkungan masyarakat tertentusaja, dan malahan peranannya jauh di luar masyarakat nagarinya. Ketiga sistemkepemimpinan tadi dalam masyarakat Minangkabau disebut “tungku nan tigosajarangan, tali nan tigo sapilin”. Mereka saling melengkapi danmenguatkan. Tungku tigo sajarangan, tali tigo sapilin juga merupakan filosofidalam kepemimpinan masyarakat Minangkabau.

 

Ketiga unsur tersebut menjadisimbol kepemimpinan yang memberi warna dan mempengaruhi perkembangan masyarakatMinangkabau. Keberadaan tiga pemimpin informal tersebut terlembaga dalam idiomadat ;

Tungku nan tigo sajarangan (Tungku yang tiga sejerangan), 

Talinan tigo sapilin (Tali yang tiga seikatan),

Nan tinggi tampak jauah (Yangtinggi tampak jauh), 

Tabarumbun tampak hampia (Tersembunyi tampakhampir).

Ketiga bentuk kepemimpinan ini lahir dan ada, tidak terlepas dariperjalanan sejarah masyarakat Minangkabau sendiri yang dituntun oleh akhlak,sesuai bimbingan ajaran Islam, dalam adagium “Adat basandi Syara’ “,dan “syara’ mamutuih, Adat memakai !”.

 

Nilai-nilai budaya dalam sistimkepemimpinan ini, telah menjadi pegangan hidup dalam hubungan atau tatananbermasyarakat yang positif, bahkan mendorong dan merangsang, atau menjadi forceof motivation, penggerak mendinamiseer satu kegiatan masyarakat dalambernagari. Termasuk dalam menjaga dan memelihara karakter anak nagari denganmemiliki sifat dan kebiasaan-kebiasaan untuk mengembangkan kegiatan ekonomisseperti menghindarkan pemborosan, kebiasaan menyimpan, hidup berhemat,memelihara modal supaya jangan hancur. Melihat jauh kedepan daripemahamansyarak dalam budaya Minangkabau adalah kekuatan dahsyat darikekayaanbudaya masyarakat yang tidak ternilai besarnya.

 

 

3.     KepemimpinanNinik Mamak

Ninik Mamak atau yang lebihdikenal dengan nama Penghulu[1]adalah pemimpin adat (fungsional adat) di Minangkabau. Kepemimpinan ninikmamak, merupakankepemimpinan tradisional, sesuai pola yang telahdigariskan adat secara berkesinambungan, dengan arti kata “patah tumbuahhilang baganti” dalam kaum masing-masing, dalam suku dan nagari. Seseorangtidak akan dapat berfungsi sebagai ninik mamak dalam masyarakat adat,seandainya dalam kaum keluarga sendiri tidak mempunyai gelar kebesaran kaumyang diwarisinya. Penghulu terpilih karena tinggitampak jauh, gadang tampak dakek (jolong basuo). Tinggi karena disentakkanruweh (ruas), gadang dilintang pungkam. Dia tinggi bukan karena diganjal jaditinggi. Dia tinggi karena ruasnya yang menyentak.

 

Maksudnya, peribadinyaberkembang terus, dia berilmu, punya wawasan yang luas, mempunyai kelebihandari yang lainnya, mempunyai kemampuan dan punya kapabilitas, punya wibawa,disegani anak kemenakan, kukuh dengan pendirian, tidak terombang ambing dansolid (dia besar karena dilintang pungkam), punya uratdanakar tunggang yang dalam, punya teras kayu yang kuat serta utuh.Padangnyoleba, alamnyo laweh. Tinggi dek dianjuang, gadang dek diambak.Pengangkatannya atas persetujuan bersama untuk jadi pemimpin (akseptabilitas). 

 

Landasantempat berpijak seorang penghulu adalah undang-undang, hukum adat.Menjaditugas seorang penghulu adalah menuruti alur yang lurus, menampuah jalan umum,memelihara harta pusaka serta membimbiang anak kamanakan. Alur atauhukum yang benar, melakukan kebiasaan, melihara harta pusaka serta membimbinganak kemenakan.

 

Jabatan Ninik Mamak adalah sebagaipemegang sako datuk (datuak) secara turun temurun menurut garisketurunan ibu dalam sistem matrilineal. Sebagai pemimpin adat maka lamemelihara, menjaga, mengawasi, mengurusi dan menjalankan seluk beluk adat. laadalah pemimpin dan pelindung kaumnya atau anak kemenakannya menurut sepanjangadat. Keberadaan Ninik Mamak di tengah masyarakat lebih jauh terlihat dalam petatahpetitih kato pusako ;

 

Bakbaringin di tangah koto,

Ureknyotampek baselo,

Batangnyotampek basanda.

Dahannyotumpek bagantuang,

Daunnyotampek bataduah kahujanan,

Tampekbalinduang kapanehan,

Nandidahulukan sulangkah,

Nanditinggikun sarantiang,

Kapai tampek bantanyo,

Kapulungtampek barito

(Sepertipohon beringin di tengah kota Akarnya tempat bersiladuduk Batangnya tempatbersandar Dahannya tempat bergantung Daunnya tempat berteduh bila hujan Tempatberteduh bila kepanasan Yang didahulukan selangkah Yang ditinggikan serantingKalau pergi tempat bertanya Kalau pulang tempat berita).

 

Ninik Mamakmempunyai kedudukan yang lebih tinggi dibanding jabatan lainnya yang ada dalammasyarakat, merupakan tempat sandaran dan tempat bertanya tentang berbagaipermasalahan yang dihadapi warga dalam suatu nagari.

 

Penghulu menurutAdat AlamMinangkabau, yaitu orang yang tinggilantaran dianjung, yaitu diangkat dan dibesarkan oleh kaumnya dan bergelardengan himbauan “datuk”, memimpin kaumnya, yang dipilih di antaraanggota kaumnya menurut waris nasab keturunan ibu. Semua waris nasabberhak menjadi penghulu dan berhak pula menurunkan penghulu itu jika ia bersalah tidak menunaikan kewajiabannya.Gelar penghulu itu adalah hak kaumnya, yang disebut ”nan sepayung sepatagak, nan selingkungcupak adat”. Gelar danjabatan itu dipusakai turun temurun sampai ke anak cucu selama waris nasabmasih ada dan sepakat pula mendirikannya. Jadi, orang yang menjunjung pangkatpenghulu adat Minangkabau, tinggi karena diangkat atau dipilih. Dia sederajatdengan anggota kaum yang mengangkat dan memilihnya.

 

Pemilihanseorang pemimpin di Minangkabau dilakukan dalam proses yang panjang, berlicakpinang, bertepung batu lebih dahulu, artinya, penghulu yang akandipilih itu dipertimbangkan masak-masak, diteliti dengan saksama, sehingga bulattelah dapat digolongkan, pipih dapat dilayangkan. Pemilihannnya ditentukanoleh watak peribadinya.

 

Ciri seorangpemimpin di Minangkabau adalah orang yang tinggi tampak jauh. Lebih dari itu, budayaMinangkabau menggabungkan antara kapabilitas yakni kemampuan, denganakseptabilitasyaitu persetujuan atau penerimaan masyarakat atas dirinya.

 

Pengangkatanseorang penghulu yang bergelar datuk yang akan menyandang gelar sako.Maka,harus dilihat lebih dahulu, apakah ia tinggikarena disintakkan ruas, besar(gadang)karena dilintang pungkam.

 

Maknanya, dia tinggi, bukan karena meninggikan diri, tetapi karena ruasnyatelah menyentak ke atas; integritas peribadinya yang tinggi, mempunyaiwawasan yang luas, sebagaimana dikatakan,berpadang lapang, beralam luas. Dia kukuh dan kuat, mempunyaipengaruh dan wibawa, karena batangnya dilintang pungkam. Maksudnya batangnyadiperkokoh (dilintang) oleh pangkal batang yang kuat (pungkam).Inilah syarat kemampuan seorang pemimpin yang menyangkut kepribadiannya. Syaratkedua,akseptabilitas yang berarti ia diterima oleh anak kemenakan.Korong kampung dan masyarakat nagari. Ia disetujui karena ia menjadi idolamasyarakatnya sehingga lahirlah kesepakatan untuk mengangkatnya. Inilah yangdikatakan tinggi karena dianjung, dinaikkan ke anjungan, gadang karenadiambak.

 

Gabungan antara kemampuan kepribadian dan persetujuan untukmengangkat seorang pemimpin sehingga terpilih menjadi pemimpin atau penghuludigadangkan dikatakan  kelapo tumbuah di mato no.Maksudnya pilihan atas dirinya tepat pada orang yang sanggup memikulnya. Denganlain perkataan pilihan atas penghulu itu sudah meletakkan sesuatu padatempatnya. Makin sempurnalah sifat penghulu sebagai pemimpin anak kemenakan,korong kampung dan nagari dengan memakai sifat penghulu umat Tuhan.  Mulailah pula adat dan syarak sedundun.Artinya banyak aturan adat itu dikuatkan (kewi=qawiy) dengan aturan agama, sampaikedalam tata pergaulan hubungan bermasyarakat, berjual beli, berijab qabul,sehingga lahirlah ungkapan: berbalai bermesjid; balai mengaji adat, sedangkanmasjid tempat beribadah.

 

“Pendidikan karakter” wajib adanya untuk mempersiapkan patah tumbuahhilang bagantidari anak kemenakan melalui satu manajemen sukuyang terarah dalam kehidupan bernagari. Maksudnya, seorang Ninik Mamakmempunyai kepedulian yang tinggi terhadap anak dan kemenakan. Terhadap anaknyasendiri dia pangku, kemenakannya ia bimbing dan selanjutnya ia arif pulaterhadap orang kampungnya yang harus ditenggang atau diperhatikan pula denganpenerapan adat istiadat yang berlaku.

 

Sifat-sifat yang harus dimiliki oleh NinikMamak yaitu Siddiq (benar)Tabligh(menyampaikan)kepada anak kemenakan yang dipimpinnya tentang suruhan dan larangan yang harusdiketahui dan diamalkan oleh anak kemenakannya. Diperlukansifat Amanah (kepercayaan), dipercayai lahir dan batin, karenabersifat jujur, lurus, benar, tidak menipu dan tidak lain di mulut lain dihati, karena hal itu dapat merugikan masyarakat anak kemenakan dan kaumnya, danFathonah (berilmu dan cerdas) dan tidak boleh bodoh atau dungu.Kecerdasan dapat dimiliki seseorang dengan menuntut ilmu pengetahuan baik ituilmu agama, ilmu tentang adat istiadat, maupun ilmu pengetahuan umum lainnya.Ilmu yang dimiliki tersebut dapat dipergunakan untuk memimpin masyarakat, anakkemenakan ke arah untuk mencapai kemakmuran lahir dan batin.

 

Kepemimpinan Ninik Mamak itu di sampingarif bijaksana, la juga harus pintar memilah-milah di antara sekian banyakkasus yang terjadi di kalangan anak kamanakan atau masyarakatnya. la akanmengambil suatu keputusan yang bijak, masuk akal dan menyenangkan denganukuran-ukuran (norma) yang umum. Prinsip kepemimpinannya adalah: bapantangkusuik indak salasai (berpantang kusut yang tidak selesai),bapantangkaruah indak janiah (berpantang keruh yang tidak jernih). Artinyasetiap persoalan yang tumbuh dalam kaum, sukudan nagari dapat dicaripemecahannya melalui musyawarah dan mufakat.

 

Sedangkan dalam praktek kehidupansehari-hari, seorang Ninik Mamak mempunyai kewajiban terhadap anak kemenakan,korong kampuang dan nagari. Dalam mengantisipasi berbagai tantangan dankendala sejak dini, serta dengan menjalankan beberapa kewajiban di atas,diharapkan Ninik Mamak tetap menjadi tokoh panutan yang sangat berperan ditengah-tengah lingkungan anak kamanakan, terutama dalam menyelesaikan berbagaimasalah, seperti sengketa, baik yang timbul dalam kaum sendiri, antar kaumdalam suku atau antara nagari dalam satu kecamatan atau antar nagari padakecamatan yang berbeda.

 

 

4.    Kepemimpinan Alim Ulama

Kepemimpinan alim ulama suluah bendang di nagari — suluhyang terang benderang dalam nagari, yang mengaji hukum-hukum agama, yang akanmenjadi pegangan di dalamsyarak mangato adaik mamakaikan, tentang sahdan batal, halal dengan haram dan mengerti tentang nahu dan sharaf.

 

Secaraumumnya, alim ulama akan membimbing rohani untuk menempuh jalan yang benardalam kehidupan di dunia menuju jalan ke akhirat karena adat Minang itu adatIslami, adat bersendi syarak, syarak bersendi kitabullah. Kekuatan filosofi “Adat Basandi Syarak, Syarak BasandiKitabullah” (ABS SBK) merupakan dasar bagi kehidupan masyarakat Minangkabau.ABS SBK yang merupakah buah penghayatan yang dalam, diharapkan tercermin dalambentuk perilaku yang luhur (akhlak yang mulia) dan tidak hanya sebataskebanggaan asshabiyyah (kebanggaan sukuisme) Minangkabau semata.

 

Nilai-nilai budaya inilah yang menjadipegangan hidup yang positif, mendorong dan merangsang masyarakat Minang untukterus berprestasi, force of motivation, dan menjadi penggerak yangmendinamiseer satu kegiatan masyarakat bernagari. Sikap jiwa yang lahir daripemahaman syarak dalam budaya Minangkabau, menjadi kekuatan besar dari kekayaanbudaya masyarakat yang tidak ternilai harganya. Berdasarkan filosofi ini, makakeberadaan alim ulama di Minangkabau tidak bisa dipandang sebelah mata, tetapimenjadi bagian penting dalam tatanan kehidupan di masyarakat, mengingat kuatnyatradisi keagamaan yang mengikat kehidupan bermasyarakat Minangkabau.

 

Ulama lebih banyak berfungsi sebagaiPembina Iman dan akhlak anak nagari, ulama bukan punya kaum atau suku sajatetapi adalah milik nagari. Sifat pelayanannya adalah kenagarian.

 

Konsep kepemimpinan alim ulamadijelaskan dalam pepatah adat ; Suluah bendang dalam nagari (Suluhpenerang dalam negeri), Palito nan tak namuah padam(Pelitayang tak kunjung padam), Duduaknyo bacamin kitab (Duduknyabercermin Kitabullah), Tagak nan rintang jo pituah (Tegaknyasibuk memberi petuah), maksudnya alim ulama bertindak sebagai obor (suluah)yang menerangi dari kegelapan. Ia harus tahu akan halal dan haram, tahu akanyang hak dan yang bathil, dan tahu akan syariat dan hakikat, serta mampu menjadipenenang bagi setiap kerusuhan yang terdapat di masyarakat nagari.

 

Dalamsistem pemerintahan nagari, ulama perlu diberikan posisi tawar yang kuat,terutama sekali dalam mengontrol akhlak penyelenggara pemerintahan nagari.

 

 

5.    Kepemimpinan CadiekPandai

Kepemimpinan cerdik pandailahir dari kelompok masyarakat yang mempunyaiilmu pengetahuan dan cerdik memecahkan masalah yang ada dalam masyarakat. Ia pandaimencarikan jalan keluarnya, sehingga ia dianggap pemimpin yang mendampingininik mamak dan alim ulama. Orang tersebut dibawa ikut berunding memecahkanberbagai masalah di nagari atau di kalangan masyarakat karena mereka memahamiundang-undang dan peraturan atau ketentuan yang berlaku dalam hidup bernagari,bangsa dan bernegara.

 

Pendidikan bagi masyarakat Minangkabaumerupakan sesuatu yang sangat penting. Ungkapan kok nak mambantuak batuangiyolah dari rabuang (jika hendak membentuk bambu mulailah dari rebung)merupakan salah satu wujud dari pentingnya pendidikan bagi masyarakatMinangkabau. Ungkapan tersebut memiliki makna yang sangat substansial.

 

Bagi masyarakat Minangkabau pendidikanharus sudah dimulai dari usia dini, yang dalam hal ini dikiaskan dengan rebung.Pembentukan watak manusia harus dimulai dari kecil, sejak manusia belummemiliki karakter yang sesungguhnya, bila telah dewasa (menjadi bambu)sangatlah sulit membentuk watak manusia. Hal ini dikuatkan dengan ungkapanketektaaja-aja, gadang tabao-bao, tuo talupo tido (kecilterajar-ajar, besar terbawa-bawa, tua terlupakan tidak).

 

Secara formal dalam sistemkepemimpinan di Sumatera Barat dipegang oleh kalangan cerdik pandai sebagaikalangan yang berilmu pengetahuan dalam arti yang luas. Dalam kenyataannyasehari-hari Cerdik Pandai adalah orang yang menguasai ilmu, baik ilmu adat,ilmu agama maupun ilmu pengetahuan. Sebagai kalangan yang berilmu, dalam sistemkepemimpinan Tungku Tigo Sajarangan,yang disebut cerdik (cadiak)adalah kemampuan menggunakan akal dalam mengatasi keadaan yang rumit. Hal inierat hubungannya dengan akal pikiran atau kecerdasan otak. Cerdikadalah pengetahuan tentang seluk beluk hidup dan kehidupan dalam masyarakatdemi tercapainya tujuan yang sempurna lahir dan batin. Pandaiberhubungan erat dengan keahlian profesional atau keterampilan seseorang. Olehkarena itu, orang cerdik belum tentu pandai, sebaliknya orang pandai belumtentu cerdik. Jadi, orang cerdik pandai adalah orang cerdas yang mempunyaikemampuan mengatasimasalah rumit, mempunyai keterampilan profesional untuk menunjang kehidupanekonominya.

 

CerdikPandai mempunyai tugas dalam membuat undang-undang atau membuat peraturan(hukum). Sebagai orang yang berilmu dan dipandang arif bijaksana, tahu dek rantiang nan ka mancucuak (Tahu dengan ranting yangakan menembus ),tahu di dahan nan ka maimpok (Tahu dengandahan yang akan menimpa), artinya dalam proses kepemimpinannya,

 

Cerdik Pandaiharus bisa mengantisipasi berbagai kemungkinan yang akan terjadi dan mencaripemecahan masalah dari berbagai persoalan yang timbul di masyarakat.

Sebagai pemimpin dalam strukturpemerintahan bajorong ba nagari di Sumatera Barat, kalangan Cerdik Pandai harusbisa menjadi jembatan bagi masyarakatnya dengan dunia luar. Jalinan komunikasi yangefektif dengan lingkungan yang berasal dari luar daerahnya ikut menentukankemajuan daerah yang dipimpinnya.

 

 

6.     KeberhasilanPemimpin di Minangkabau

Tolok ukur keberhasilan sebagai pemimpinbagi seorang pangulu dalam melaksanakan tugasnya dan kewajibannya terhadap anakkemenakan, korong kampung dan nagari disebutcupakCupak bagiseorang penghulu ialah berundang-undang. Maksudnya ia harusmemakai dan mempergunakan undang-undanguntuk kebahagiaan anak kemenakan, korong kampung dan nagari, lahir dan batin.Untuk itu kedudukan penghulu itu diperlukan sifat  bicarayang halus dan budi yang dalam.Seorang penghulu harus dapat membedakan antara ucapan dengan pembicaraan.Suara yang dikeluarkan si berunding terdiri dari huruf tersusun menjadi kalimatdisebut ucapan. Sedangkan bicara tidak dapat ditangkapsemata-mata dengan telinga sebagai alat pendengaran saja, tetapi bicara ituditangkap dengan jalan memahaminya. ‘Bicara” ialah hasil olahan akal[2]denganbudi[3].Akhir perjalanan budi dengan akal itulah yang merupakan kesimpulannya yangdikatakan “bicara” itu.

 

Inti sari dari kata-kata yang disampaikan itulah yang dikatakanbicara. Bicara yang halus merupakan inti dari suatu sari pembicaraan, yaituhasil penemuan akal dengan budi halus, sehingga menjadi bagian sifat terpuji,tidak tercela. Karenanya seorang penghulu itu seharusnya memahami sifat yangterkandung dalam budi yang dalam. Untuk mencapai bicara halus dan budi yangdalam maka  seorang penghulu – tidakdapat tidak mesti — memahami adat Minangkabau yang secara garis besar dibagiatas 4 bagian kajian, yakni:penghulu, cupak, adat, dan undang-undang.

 

Sifat penghulu di dalam adat Minangkabau — Datuak Perpatih NanSabatang dan Datuk Katumanggungan — ada dua saja, pertama, lurus dan kedua, benar Kedua sifat ini terasasederhana sekali, tidak sudah cukup bagi sifat seorang pemimpin. Walaupunpemimpin kaum yang berarti sekelompok kecil ulayat dan rakyatnya, namunpemimpin kaum itu adalah orang yang bertanggungjawab dalam kaum dan  dalam nagarinya, maka kedua sifat itu amatlahluas dan dalam artinya.

 

Sifat “benar”, mengandung arti benardalam segala hal, benar pada lahir dan batin, benar dalam berkata, benar dalamkepribadian, benar dalam pemikiran, dan lain sebagainya. Sementara itu sifat “lurus”mengandung maksud lurus dalam segala bidang.

 

Lurus mengandung arti tidak menyimpang dari garis-garis adat,karena dalam adat Minangkabau untuk setiap-tiap bidang sudah ada ukuran dan jangkanya. Baik dalam adat secara umumnya di seluruh Minangkabauatau adat setempat tetap ada garis atau ketentuan seperti kata adat: barih menahan tiliak, balabeh utangmenentukan(= lurus baris di pandangan, belebas yang menentukan).Misalnya lurus alur yang diturut, lurus hilang (yang) dicari, lurussalah (yang) ditimbang.

 

Sungguh amat luas pengertian dan tujuansifat lurus itu.

Ajaran Islammenjadi pegangan hidup bagi orang Minangkabau, ternyata agama Islam menguatkan adat,bahkan Islam menyempurnakan adat.

 

Sifat nabi Muhammad sebagai penghulu umat,harus pula menjadi sifat penghulu di Minangkabau. Sifat-sifat itu ialah siddikartinya benartabligh artinya menyampaikan, danamanahartinya kepercayaan. Kedua sifat lurus dan benar yang telah menjadi sifatpenghulu sebelum Islam tercakup dalam ketiga sifat nabi, siddik, tabligh danamanah. Artinya, setelah Islam datang, Penghulu memiliki artiyang lebih luas lagi, yakni orang yang sanggup memelihara kaumnya, duniadan akhirat. Namun sifat bicara yang halus dan budi yang dalam tetap menjadipegangannya. Sedangkan fatanah artinya kesempurnaan cerdik, dalam memeliharaagama dan harta.

Sifat cerdik cendekia adalah sifat orang yang pandai melaksanakansegala sesuatu. Orang yang cerdik ialah orang sanggup melaksanakankewajibannya, baik terhadap diri sendiri, maupun terhadap orang yang dipimpinnya,seperti anak kemenakan, korong kampung dan nagari.

 

Cerdik dalam dakwa dan jawab, maksudnya kewajiban menuntut haknya kepada orang lain danmempertahankan dirinya membela anak kemenakan, korong kampung dan anak nagari.

 

Cerdik dalam  berkata-kata, yaitu ahli dalam berunding, berbicara dan berpidato, dengan pandaimenggunakan kata-kata dalam musyawarah dan perundingan. Seorang pemimpin ataupenghulu yang tidak mempunyai sifat tablig tidak akan sanggup menunaikantugasnya, menyampaikan sesuatu persoalan (berkomunikasi) dengan anak kemenakandengan cukup pengertian yang dapat diterima oleh yang berhak menerimannya.Perundingan yang tidak tepat mungkin menyebabkan orang salah terima sehinggasalah tujuannya. Artinya menyimpang dari apa yang seharusnya disampikan.

 

Cerdikdalam  kaji mengaji, yaitu sanggup menganalisa segala sesuatu hal,mengaji baik atau buruk dampaknya, serta mengaji awal. dan akhir. Seseorangpenghulu harus sanggup mengaji membuat masa kini dan perkiraan di masa datang. Andaikataada sesuatu hal yang tidak sesuai dengan garis adat, akan ditarik dandiluruskannya kepada yang benar. Termasuk orang cerdik cendekia ialah orangyang tidak pernah menyinggung perasaan orang lain, selalu menyenangkanorang lain dalam bergaul dan mau mendengar kata.

 

 

7.     PetaBudaya Minangkabau

Peta Budaya Minangkabau itu tergambarpada ASPEK SIMBOLIS  ABS-SBKyang disebutSyarak Mangato Adaik Mamakai, Alam Takambang Jadi Guru sebagaisatu WARISAN BUDAYA yang dibangun berdasarkan  PetatahPetitih  (klasifikasi), peradaban (historis),  Peta realitas alam  (inti pemahaman hukum alam) dan Keyakinan  Agama Islam  (anutankepercayaan). Kehidupan sosial berteras kebersamaan ataumusyawarah– sebagai salah satu landasan mengemuka di dalam prinsip ABS-SBK –  bergeser menjadi individualis dan konsumeristis– atau hanya condong kepada memelihara kepentingan sendiri sendiri  dari anggota masyarakatnya. 

 

Melemahnya peran ninik mamak tungku tigo sajarangantali tigo sapilin lebih disebabkan karena mengabaikan ajaran Syuariat Islam dan disertai lemahnya penegasan undang adat disalingka nagari dan kurang pemahaman pola pelaksanaan Peraturanberpemerintahan di nagari di Sumatera Barat.

 

 

8.  Hubungan Kekerabatan Harmonis.

Keunikan dengan Nilai-nilai ideal kehidupan ini, mesti dihidupkan terus dalam kehidupanbernagari.

a. rasa memiliki bersama,

b. kesadaran terhadap hak milik,

c. kesadaran terhadap suatu ikatan,

d. kesediaan untuk pengabdian,

e.menjaga hubungan positif pernikahan.

 

Pembangunan masyarakat di Jorong dan Nagariharus memakai pola keseimbangan dan pemerataan. Nilai kepemimpinan di dalam Nagari, adalahketeladanan. Kita memerlukan generasi yang handal,dengan beberapa sikap;  berakhlak, berpegang pada nilai-nilai  imandan taqwa,  memiliki daya kreatif daninnovatif, menjalin kerja sama berdisiplin, kritis dan dinamis,  memiliki vitalitas tinggi, tidak mudahterbawa arus,  sanggup menghadapi realitabaru di era kesejagatan.

 

Fungsionaris Tungku Tigo Sajarangan mesti memahaminilai‑nilai budaya luhur karena pounya makna jati diri yang jelas, dengannyamampu  menjaga martabat, patuh dantaat beragama,  menjadi agen perubahan,dengan motivasi yang bergantung kepada Allah, mengamalkan nilai‑nilai ajaranIslam sebagai kekuatan spritual, dinamis dalam mewujudkan sebuah kemajuan fisik‑material,tanpa harus mengorbankan nilai‑nilai kemanusiaan.

Naifnya, di alam kebebasan ini pula tumbuh persainganantar nagari tanpa kawalan dari peran ideal dari ninik mamak tungku tigosajarangan tali tigo sapilin yang berakibat kepada tindakan anarkis anak nagariyang dengan pasti bergerak kepada yang kuatakan bisa bertahan dan yang lemah akan mati sendiri”. Padahal,fatwa adat diMinangkabaumengungkapkan  “Pawang biduak nakrang Tiku, Pandai mandayuang manalungkuik, Basilang kayu dalam tungku, Di sinanapi mangko hiduik”.

 

Tataruang yang jelas haruslah memberi posisi strategis kepada peran pengatur danpendukung sistim banagari yang terdiri dari orang ampek jinih, yaitu ninik mamak, alim ulama, cerdikpandai, urang mudo, bundo kanduang dalam limbago tungku tigo sajarangan itu.

 

 

9.  Sedang Terjadi Perubahan.

Ditengah keunikan adat budaya Minangkabau itu, kita menghadapi ada beberapakendala— dalam implementasi penerapannilai-nilai budaya adaik basandi syarak, syarak basandi Kitabullah(ABS-SBK), dan syarak mangato adaik mamakaikan, di antaranya ;

a). Generasimuda terabaikan dalam pewarisan nilai budaya Minangkabau,

b). Hubungan kekerabatankeluarga mulai menipis,

c). Peran ninik mamak kini,sebatas seremonial,

d). Peran substantif dariulama mulai kehilangan wibawa,  

 

Sebenarnya pergeseran budaya itu terjadi ketika mengabaikan nilai-nilai agama.Pengabaian nilai-nilai agama,menumbuhkan penyakit social yang kronis, seperti kegemaran berkorupsi, aqidahtauhid melemah, perilaku tidak mencerminkan akhlak Islami, serta suka melalaikan ibadah.

Kelemahan tumbuh disebabkan pembinaan akhlak anak nagari seringtercecerkan, pendidikan surau hampir tiada lagi, atau peran pendidikan surau dirumah tangga juga melemah, dan peran pendidikan akhlak berdasarkan prinsipbudaya ABS-SBK menjadi kabur.

 

Janji Allah SWT sangat tepat, ” apabila penduduk negeri beriman dan bertaqwadibukakan untuk mereka keberkatan langit dan bumi “.

 

Lengah menghadapi derasnya intervensibudaya luar, dapat berakibat jalan di alieh urang lalu, sukatan di tukaurang panggaleh, lebih ketika adaik indak dipagang taguah, agamoindak dipacik arek.  Kondisi tercerabutnya agama dari diri masyarakat Minangkabau akanberakibat kepada perubahan perilaku masyarakatnya.

 

 

10. Ciri Khas Adat BudayaMinangkabau

MASYARAKATABSSBK  DI SUMATERA BARAT memiliki cirikhas adat Minangkabau yaitu Masyarakat Beradat dengan ABSSBK  dan Beradab yang  Beragama Islam. ABSSBK menjadi  konsepdasar Adat Nan Sabana Adat, diungkap dalam Bahasa yang direkam dalamKato Pusako itu memengaruhi sikap umum dan tata-cara pergaulan masyarakat dalamtatanan dan tatarankekerabatan masyarakat menurut tatanan nilai dan norma dasar sosial budayamembentuk Pandangan  Dunia danPanduan  Hidup (perspektif).

 

GAMBARAN BUDAYA MINANGKABAU BERDASARABS-SBK memengaruhi seluruh aspek kehidupan masyarakat nagari  dalam kabupaten (kota) di Sumatera Barat,berupa  Sikap Umum seperti, Nan Rancak / Elok, Tanah Ulayat, Harta milik kaum,Hukum/Cupak, Tigo Tungku Sajarangan, Balai Adat, Surau/musajik, Taratak danNagari yang memengaruhi perilaku serta  Tata-cara PergaulanMasyarakat seperti, Musyawarah/mupakaik, Adat istiadat, Sistimkekeluarga-an, hubungan kekerabatan Matrilinial, peran dan posisi Pangulu,Mamak, Tungganai, Pidato Adaik, Komunikasi informal dan juga Komunikasinon-verbal, menjadilandasan pembentukan pranata sosial keorganisasian dan pendidikan yangmelahirkan berbagai gerakan, permainan, produk budaya yang dikembangkan secaraformal ataupun informal dan menjadi  petunjuk perilaku bagi setiapdan masing-masing anggota masyarakat di dalamkehidupan sendiri-sendirimaupun bersama-sama..

 

Pemantapan agama dan adat “syarakmangato adaik mamakaikan” adalah Tatanan Nilai dan NormaDasar Sosial Budaya dibentuk oleh Nilai-nilai Islam sebagaipandangan hidup yang menjadilandasan dasar pengkaderan re-generasi di nagari di Minangkabau. Tata nilai inidijaga melalui Sinerjitas dalam kawalan pelaksanaan oleh lembaga ”tigo tungku sajarangan” yang menata danmengawasi kebijakanumum yakni adat nan teradatkan, adat istiadat, adat nan di adatkan.

 

SyarakMangato Adaik Mamakaikan ini memberi ruang bagi pengembangankreatif potensinagari dan penduduknya di Sumatera Barat dalammenghasilkan buah karya sosial budaya yang berdampak kepada peningkatan ekonomi anak nagari, serta karya-karyapemikiran intelektual serta keragaman tambo yang terlihat nyata sebagai folklore yangtelah dan akan menjadi mesin pengembangan dan pertumbuhan Sumatera Barat disegala bidang, yaitu“saciok bak ayam sadancieng bak basi, barek sapikue,ringan sa jinjieng atau “Kaluak paku kacang balimbieng, sayak timpuruanglenggang lenggangkan, ba sugi timbakau jao. Anak dipangku kamanakan dibimbieng,urang kampuang di patenggangkan, barugi mangko ka balabo”.

Semangat itu sesungguhnya mendorong kepada sikap gotong royong sebagai localgenius masyarakat hukum adat Minangkabau itu.

 

Norma Dasar Sosial Budaya ini jadi aturan dalam kegiatan kehidupan “anak nagari” di Minangkabau dalam menjaga tumbuhnya generasi pengganti yang lebih sempurna, melalui beberapa langkah terpadu. Seperti ;

  1. Mengupayakanberlangsung proses timbang terima kepemimpinan dalam satu estafetta alamiah –patah tumbuh hilang berganti –
  2. Teguhdan setia melakukan pembinaan – retransformasi adat basandi syarak-syarakbasandi kitabullah yang sudah lama di miliki –
  3. Mampuberinteraksi dengan lingkungan secara aktif – artinya ada kesiapan melakukandan menerima perubahan dalam tindakan yang benar – karena sebuah premis syarakmengatakan bahwa segala tindakan dan perbuatan akan selalu disaksikan olehAllah, Rasul dan semua orang beriman.

 

Nagaritumbuh dengan konsep tata ruang yang jelas. Ba-balerong (balaiadat) tempat musyawarah, ba-surau (musajik) tempat beribadah. Ba-gelanggangtempat berkumpul. Ba-tapian tempat mandi. Ba-pandam pekuburan. Ba-sawahbapamatang, ba-ladang babintalak,ba-korong bakampung.

 

Konsep tata-ruang ini adalah salah satu asset sangat berharga.Idealisme nilai budaya di Minangkabau. Nan lorong tanamitabu,  Nan tunggang tanami bambu, Nangurun buek kaparak, Nan bancah jadikan sawah, Nan munggu pandam pakuburan,  Nan gauang katabek ikan, Nan padang kubangankabau, Nan rawang ranangan itiak. Nagari di Minangkabauadalah juga wilayah kesepakatan antar komponen masyarakat dalam menjaga keseimbangan hidup rohani dan jasmani. Sikapini mendorong kegiatan di bidang ekonomi dengan sikap tawakkal  bekerja dan tidak boros.Sikap hidup tersebut telahlama berurat dalam jiwa masyarakatnya.

 

 

11.   Strategi PengamalanSyarak Mangato Adaik Mamakaikan

Strategi Pengamalan ABSSBK di Nagari adalah denganmenerapkan syarak mangato adaik mamakaikan melalui upaya menggalipotensi dan asset nagari. Mengabaikannya pasti mendatangkan kesengsaraan bagimasyarakat adat itu.

 

Penerapannya dimulai dengan memanggil potensi unsurmanusia yang ada di masyarakat nagari. Kesadaran akan adanya benih kekuatandalam diri anggota masyarakat hukum adat untuk kemudian digali dan digerakkanmelalui penyertaan aktif dalam proses pembangunan nagari. Melalui kegiatanbermasyarakat itu pula observasinya dipertajam. Daya pikirnya ditingkatkan.Daya geraknya didinamiskan. Daya ciptanya diperhalus. Daya kemauannya dibangkitkan untuk kembalikan kepercayaan diri sendiri. Optimismebanagari  mesti selalu dipelihara. Alahbakarih samporono, Bingkisan rajo Majopahik, Tuah basabab bakarano, Pandaibatenggang di nan rumik.

 

Pembentukan karakter atau watak berawal dari penguatan unsur unsurperasaan, hati (qalbin Salim) yang menghiasi nurani manusia dengan nilai-nilailuhur yang tumbuh mekar dengan kesadaran kearifan serta memperhalus kecerdasanemosional dan dipertajam oleh kemampuan periksa evaluasi positif dan negatifyang dilindungi oleh kesadaran keyakinan (kecerdasan spiritual) yakni hidayahIslam.

 

Kelemahan mendasar karenakurang teguh terhadap nilai-nilai luhuragama. Kelemahan internal masyarakat adat akan menutup peluang berperan sertadalam kesejagatan karena pembiaran tanpa kawalan. Teramat pentingmempersiapkan generasi Sumatera Barat yang mempunyai bekal mengenali budayadan adat-istiadat dengan berbudi bahasa yang baikNan kuriak kundi, nan sirah sago, nanbaik budi nan indah baso. Atau dapat disebut sebagai karakterbuilding.

 

 

12.  Indikator KeberhasilanPenerapan ABSSBK

Pranatasosial Masyarakat maju dan beragama  diSumatera Barat yang didiami masyarakat adat Minangkabau tampak dalam pengamalan Praktek Ibadah, Pola Pandang dan Karakter Masyarakatnya,Sikap Umum dalam Ragam Hubungan Sosial penganutnya. Kekerabatan yang erat menjadi benteng yang kuat dalammenghadapi berbagai tantangan.Strategimembangun masyarakat adat akan berhasil manakala selalu kokoh denganprinsip, qanaah dan istiqamah. Berkualitas, dengan iman dan hikmah. Berilmu danmatang dengan visi dan misi. Amar makruf nahyun ‘anil munkar dengan teguh danprofessional. Research-oriented dengan berteraskan iman dan berilmu pengetahuan.

MengembalikanMinangkabau keakar Islam tidak boleh dibiar terlalai. Belajar kepada sejarah amatlah perlu adanyagerak pembangunan yang terjalin dengan net-work (ta’awunik) yang rapi (bin-nidzam),untuk penyadaran kembali generasi di Minangkabau tentang peran syarak (Syari’atIslam) dalam membentuk tatanan hidup duniawiyah yang baik.

 

Sebagaimana dipahami bahwa Adat Minangkabau dinamis, menampakkan raso (hati, arif, intuitif) dan pareso(akal, rasio, logika), hasil nyata dari alamtakambang jadi guru.Keyakinan Islam menekankan pentingnya sikapmalu (haya’ – raso pareso), dengan dasar iman kepada Allah, yakin kepadaakhirat, mengenali hidup akan mati, beraqidah (tauhid).


Inilah yang menjadi Benteng kuat menjagaumat menjadi cerdas  dengan nilai nilai luhur (akhlaqulkarimah) ini akan melahirkan tindakan terpuji, yang tumbuh dengan motivasi(nawaitu) yang bersih (ikhlas). 

 

Tidak ada yang lebih indah daripada budidan basabasi. Yang dicari bukan emasdan bukan pula pangkat, akan tetapi budi pekerti yang paling dihargai. Hutangemas dapat di bayar, hutang budi dibawa mati. Agar jauh silang sengketa,perhalus basa dan basi (budi pekerti yang mulia). Jika ingin pandai rajinbelajar, jika ingin tinggi  (mulia),naikkan budi pekerti.

 

Begitulah semestinya perananTungku Tigo Sajarangan yang amat strategis di dalamlimbagoAdat Ninik Mamak, Alim ulama,Cerdik Pandai, Bundo Kanduang di dalam mewujudkan TaliTigo Sapilin yang akan menjadi suluah bendang di alam Minangkabau yang adatnyaberfilosofi ABSSBK dalam selingkar nagari-nagari yang ditata secara rapi dalammenapak alaf baru. Insya Allah.

 

 

Bukittinggi, 09Nopember 2013 M / 18 Dzulhijjah 1434 H

 

[1] Kata pangulu (bahasa Indonesia : penghulu)menurut adat Minangkabau berasal dari‘pengenggamhulu” atau “pangkal hulu“.Penggenggam mengandung arti seorang pemimpin. Jadi, menurut adat Minangkabau,yang disebut penghulu ialah orang yang berbicara dan berbudi halus. Hal inidijelaskan oleh pepatah adat yang mengatakan, Elok nagari dek pangulu, elok kampuang dek nan tuo. Panguluitu  menjadi penggenggam hulu anakkemenakan, penggenggam hulu dan pangkal hulu korong, kampung dan nagari.Artinya ia seorang pemimpin dan pelindung bagi anak kemenakan, korong kampungdan nagarinya. Ini pun sesuai dengan asal kata pangulu dari bahasa Malayu Kuno,  pang = kepala dan hulunrakyat.

[2]  Akal, ialah cahaya yang ditanamkan Alah di dalam hati manusia,kemudian bersinar ke otak, sehingga dapat membedakan atau pareso yangmenuntun kepada memilih dan memilah antara mudah dan sulit. Sifat akal itumenjalar bagaikan air, mengalir ke bagian yang rendah. Itulah sifat dan gerakakal. Setelah suatu cita-cita yang menimbulkan gerak hati, kemudian budi itumerangkak menjadi maksud dan diusahakan oleh akal sampai tercapai apa uangdicita-citakan itu.

[3]  Budi ialah gerakhati yang ditimbulkan oleh cita-cita, mengalir untuk mencapai tujuan yangdiharapkan. Sedangkan yang dimaksud dengan budi yang dalam  ialahgerak hati atauraso yang telah merangkak dan  langsung mencapai tujuan yang diharapkan yangberpantang kandas, sehingga cita-cita itu tercapai dan terlaksana dengansebaik-baiknya.

Leave a Reply