Ciri Khas Adat Budaya Minangkabau

MASYARAKAT ABS-SBK  DI SUMATERA BARAT memiliki ciri khas adat Minangkabau yaitu Masyarakat Beradat dengan ABS-SBK  dan Beradab yang  Beragama Islam. ABS-SBK menjadi  konsep dasar Adat Nan Sabana Adat, diungkap dalam Bahasa yang direkam dalam Kato Pusako itu memengaruhi sikap umum dan tata-cara pergaulan masyarakat dalam tatanan dan tataran kekerabatan masyarakat menurut tatanan nilai dan norma dasar sosial budaya membentuk Pandangan  Dunia danPanduan  Hidup (perspektif).

 

GAMBARAN BUDAYA MINANGKABAU BERDASARABS-SBK memengaruhi seluruh aspek kehidupan masyarakat nagari  dalam kabupaten (kota) di Sumatera Barat,berupa  Sikap Umum seperti, Nan Rancak / Elok, Tanah Ulayat, Harta milik kaum,Hukum/Cupak, Tigo Tungku Sajarangan, Balai Adat, Surau/musajik, Taratak danNagari yang memengaruhi perilaku serta  Tata-cara PergaulanMasyarakat seperti, Musyawarah/mupakaik, Adat istiadat, Sistimkekeluarga-an, hubungan kekerabatan Matrilinial, peran dan posisi Pangulu,Mamak, Tungganai, Pidato Adaik, Komunikasi informal dan juga Komunikasinon-verbal, menjadilandasan pembentukan pranata sosial keorganisasian dan pendidikan yangmelahirkan berbagai gerakan, permainan, produk budaya yang dikembangkan secaraformal ataupun informal dan menjadi  petunjuk perilaku bagi setiapdan masing-masing anggota masyarakat di dalamkehidupan sendiri-sendirimaupun bersama-sama..

 

Pemantapan agama dan adat “syarakmangato adaik mamakaikan” adalah Tatanan Nilaidan NormaDasar Sosial Budaya dibentuk oleh Nilai-nilai Islam sebagai pandangan hidup yang menjadilandasan dasar pengkaderan re-generasi di nagari di Minangkabau.

 

Tata nilai inidijaga melalui Sinerjitas dalam kawalan pelaksanaan oleh lembaga ”tigo tungku sajarangan” yang menata danmengawasi kebijakanumum yakni adat nanteradatkan, adat istiadat, adat nan di adatkan.

 

SyarakMangato Adaik Mamakaikan ini memberi ruang bagi pengembangankreatif potensinagari dan penduduknya di Sumatera Barat dalammenghasilkan buah karya sosial budaya yang berdampak kepada peningkatan ekonomi anak nagari, serta karya-karyapemikiran intelektual serta keragaman tambo yang terlihat nyata sebagai folklore yangtelah dan akan menjadi mesin pengembangan dan pertumbuhan Sumatera Barat disegala bidang, yaitu“saciok bak ayam sadancieng bak basi, barek sapikue,ringan sa jinjieng atau “Kaluak paku kacang balimbieng, sayak timpuruanglenggang lenggangkan, ba sugi timbakau jao. Anak dipangku kamanakan dibimbieng,urang kampuang di patenggangkan, barugi mangko ka balabo”.

 

Semangat itu sesungguhnya mendorong kepada sikap gotong royong sebagai localgenius masyarakat hukum adat Minangkabau itu.

 

 

Norma Dasar Sosial Budaya ini jadi aturan dalam kegiatan kehidupan “anak nagari” di Minangkabau dalam menjaga tumbuhnya generasi pengganti yang lebih sempurna, melalui beberapa langkah terpadu. Seperti ;

  1. Mengupayakanberlangsung proses timbang terima kepemimpinan dalam satu estafetta alamiah –patah tumbuh hilang berganti –
  2. Teguhdan setia melakukan pembinaan – retransformasi adat basandi syarak-syarakbasandi kitabullah yang sudah lama di miliki –
  3. Mampuberinteraksi dengan lingkungan secara aktif – artinya ada kesiapan melakukandan menerima perubahan dalam tindakan yang benar – karena sebuah premis syarakmengatakan bahwa segala tindakan dan perbuatan akan selalu disaksikan olehAllah, Rasul dan semua orang beriman.

***

 

Nagaritumbuh dengan konsep tata ruang yang jelas. Ba-balerong (balaiadat) tempat musyawarah, ba-surau (musajik) tempat beribadah. Ba-gelanggangtempat berkumpul. Ba-tapian tempat mandi. Ba-pandam pekuburan. Ba-sawahbapamatang, ba-ladang babintalak, ba-korong bakampung.

 

Konsep tata-ruang ini adalah salah satu asset sangat berharga.Idealisme nilai budaya di Minangkabau. Nan lorong tanamitabu,  Nan tunggang tanami bambu, Nangurun buek kaparak, Nan bancah jadikan sawah, Nan munggu pandam pakuburan,  Nan gauang katabek ikan, Nan padang kubangankabau, Nan rawang ranangan itiak.

Nagari di Minangkabauadalah juga wilayah kesepakatan antar komponen masyarakat dalam menjaga keseimbangan hidup rohani dan jasmani. Sikapini mendorong kegiatan di bidang ekonomi dengan sikap tawakkal  bekerja dan tidak boros.Sikap hidup tersebut telahlama berurat dalam jiwa masyarakatnya.

 

 

Strategi Pengamalan Syarak Mangato AdaikMamakaikan

 

Strategi Pengamalan ABSSBK di Nagari adalah denganmenerapkan syarak mangato adaik mamakaikan melalui upaya menggalipotensi dan asset nagari. Mengabaikannya pasti mendatangkan kesengsaraan bagimasyarakat adat itu. Penerapannya dimulai dengan memanggil potensi unsurmanusia yang ada di masyarakat nagari. Kesadaran akan adanya benih kekuatandalam diri anggota masyarakat hukum adat untuk kemudian digali dan digerakkanmelalui penyertaan aktif dalam proses pembangunan nagari.

 

Melalui kegiatanbermasyarakat itu pula observasinya dipertajam. Daya pikirnya ditingkatkan.Daya geraknya didinamiskan. Daya ciptanya diperhalus. Daya kemauannya dibangkitkan untuk kembalikan kepercayaan diri sendiri.Optimismebanagari  mesti selalu dipelihara. Alahbakarih samporono, Bingkisan rajo Majopahik, Tuah basabab bakarano, Pandaibatenggang di nan rumik.

 

Pembentukan karakter atau watak berawal dari penguatan unsur unsurperasaan, hati (qalbin Salim) yang menghiasi nurani manusia dengan nilai-nilailuhur yang tumbuh mekar dengan kesadaran kearifan serta memperhalus kecerdasanemosional dan dipertajam oleh kemampuan periksa evaluasi positif dan negatifyang dilindungi oleh kesadaran keyakinan (kecerdasan spiritual) yakni hidayahIslam. Kelemahan mendasarkarenakurang teguh terhadap nilai-nilai luhuragama. Kelemahan internal masyarakat adat akan menutup peluang berperan sertadalam kesejagatan karena pembiaran tanpa kawalan.

 

Teramat pentingmempersiapkan generasi Sumatera Barat yang mempunyai bekal mengenali budayadan adat-istiadat dengan berbudi bahasa yang baik.  Nan kuriak kundi, nan sirah sago, nanbaik budi nan indah baso. Atau dapat disebut sebagai karakterbuilding.

 

 

 

Indikator Keberhasilan Penerapan ABSSBK

Pranatasosial Masyarakat maju dan beragama  diSumatera Barat yang didiami masyarakat adat Minangkabau tampak dalam pengamalan Praktek Ibadah, Pola Pandang dan Karakter Masyarakatnya,Sikap Umum dalam Ragam Hubungan Sosial penganutnya. Kekerabatan yang erat menjadi benteng yang kuat dalammenghadapi berbagai tantangan. Strategimembangun masyarakat adat akan berhasil manakala selalu kokoh denganprinsip, qanaah dan istiqamah. Berkualitas, dengan iman dan hikmah. Berilmu danmatang dengan visi dan misi. Amar makruf nahyun ‘anil munkar dengan teguh danprofessional. Research-oriented dengan berteraskan iman dan berilmu pengetahuan.

 

MengembalikanMinangkabau keakar Islam tidak boleh dibiar terlalai. Belajar kepada sejarah amatlah perlu adanyagerak pembangunan yang terjalin dengan net-work (ta’awunik) yang rapi (bin-nidzam),untuk penyadaran kembali generasi di Minangkabau tentang peran syarak (Syari’atIslam) dalam membentuk tatanan hidup duniawiyah yang baik. Sebagaimana dipahami bahwa Adat Minangkabau dinamis, menampakkan raso (hati, arif, intuitif) dan pareso(akal, rasio, logika), hasil nyata darialamtakambang jadi guru. Keyakinan Islam menekankan pentingnya sikapmalu (haya’ – raso pareso), dengan dasar iman kepada Allah, yakin kepadaakhirat, mengenali hidup akan mati, beraqidah (tauhid).

            

 

Inilah yang menjadi Benteng kuat menjagaumat menjadi cerdas  dengan nilai nilai luhur (akhlaqulkarimah) ini akan melahirkan tindakan terpuji, yang tumbuh dengan motivasi(nawaitu) yang bersih (ikhlas). 

 

Tidak ada yang lebih indah daripada budidan basabasi. Yang dicari bukan emasdan bukan pula pangkat, akan tetapi budi pekerti yang paling dihargai. Hutangemas dapat di bayar, hutang budi dibawa mati. Agar jauh silang sengketa,perhalus basa dan basi (budi pekerti yang mulia). Jika ingin pandai rajinbelajar, jika ingin tinggi  (mulia),naikkan budi pekerti.

 

 

Begitulah semestinya perananTungku Tigo Sajarangan yang amat strategis di dalamlimbagoAdat Ninik Mamak, Alim ulama,Cerdik Pandai, Bundo Kanduang di dalam mewujudkan TaliTigo Sapilin yang akan menjadi suluah bendang di alam Minangkabau yang adatnyaberfilosofi ABSSBK dalam selingkar nagari-nagari yang ditata secara rapi dalammenapak alaf baru. Insya Allah. v

 

 

 

Bukittinggi, 09Nopember 2013 M / 18 Dzulhijjah 1434 H

Tidak ada yang lebih indah daripada budi dan basabasi. Yang dicari bukan emas dan bukan pula pangkat, akan tetapi budi pekerti yang paling dihargai. Hutang emas dapat di bayar, hutang budi dibawa mati. Agar jauh silang sengketa, perhalus basa dan basi (budi pekerti yang mulia). Jika ingin pandai rajin belajar, jika ingin tinggi  (mulia), naikkan budi pekerti.

Tidak ada yang lebih indah daripada budi dan basabasi. Yang dicari bukan emas dan bukan pula pangkat, akan tetapi budi pekerti yang paling dihargai. Hutang emas dapat di bayar, hutang budi dibawa mati. Agar jauh silang sengketa, perhalus basa dan basi (budi pekerti yang mulia). Jika ingin pandai rajin belajar, jika ingin tinggi (mulia), naikkan budi pekerti.

Masjid Tuo Kayu Jao Kabupaten Solok

Masjid Tuo Kayu Jao Kabupaten Solok

Leave a Reply