SUBSTANSI HIJRAH, MEMBENTUK GENERASI MAJU

Oleh : H.Mas’oed Abidin

Hijrah berarti pindah ke negeri lain – emigrasi /eksodus – ( Lihat Al‘Ashry, Kamus Kontemporer Arab Indonesia, Atabik Ali, Ahmad ZuhdiMudhor, Yayasan Ali Maksum Pondok Pesantren Krapyak Yogyakarta, CetakanPertanma, 1996, hal.1966. dan lihat juga Ahmad Warson Munawwir, Kamus AlMunawwir Pustaka Progressif Surabaya 1997, hal. 1489.). Dalam sejarah Islam, hijrahRasul adalah satu peristiwa SirahNabawi (sejarah Rasulullah SAW) bersama-sama Mukminin pindah dari Makkah keMadinah pada satu setengah millenium yang lalu, dan kemudian menjadi awalpenghitungan tahun baru Islam di zaman Sahabat Umar Ibnu Al-Khattab RA di saatmenjabat Khalifah III sesudah wafatnya Rasulullah SAW.

Hijrah bukan melarikan diri karena takut siksaan, atau karena tekanan musyrikin Quraisy semata. Hijrah adalah satu peristiwa penting yang menjadi titik awal — starting-point — kebangkitan Dakwah Islam, dedikasi keyakinan Tauhid — beriman kepada Allah, bukti kepatuhan, buah kesetiaan –, ketaatan kepada prinsip-prinsip ajaran tauhid. Hijrah adalah jawaban tegas seorang mukmin atas seruan Allah, tandakecintaan sejati – mahabbah — kepada Muhammad Rasulullah SAW. Cinta akan Allah dan Rasul SAW dibuktikan oleh kemampuan menundukkan kecintaan kepada harta benda, sanak keluarga dan kerelaan menggantinya dengan keikhlasan menerima Ajaran Islam.

Hijrah adalah wadah latihanketahanan umat. Citra ajaran Rasulullah SAW, serta ujian menghadapi krisis yang akantersua sepanjang masa. Allah berfirman, artinya ; “ Dan ingatlah (hai paraMuhajirin) ketika kamu masih berjumlah sedikit, lagi tertindas dipermukaan bumi(Makkah), kamu takut orang-orang (Makkah) akan menculik kamu, maka Allahmemberi kamu tempat menetap (di Madinah) dan dijadikan-Nya kamu kuat denganpertolongannya, dan diberinya kamu rezeki dari yang baik-baik, agar kamubersyukur” (QS.8, al-Anfaal :26).

Hijrah adalah penerjemahan nyatadari Wahyu Al Quran. Hijrah adalah kebenaran perjalanan sejarah manusia pemilikkeyakinan tauhid — berakidah Islam — sepanjang masa, siap sedia melaksanakan reformasi actual — menanggalkan kehidupan jahili — menumbuh biasakankarakter masyarakat Sunnah – Islami — dalam membentuk generasi Qurani.

Membentuk Militansi Khayra Ummah. Hijrahpada hakekatnya melahirkan militansi – bersemangat, penuh ghairah dalammelakukan sesuatu (lihat KUBI, hal.898) –di tengah ummat tauhid itu.
Militansi menampilkan sosok umat bermutu — khaiyr-ummah –, yakni umat yang siap memikul tanggung jawab manusiawi – menjadi khalifah Allah di muka bumi – itulahpuncak kewibawaan ajaran Islam. Setiap upaya menjadikan Islam sebagai agamayang haq (benar) dari Allah oleh ummat yang militan — secara pasti tidak bisadirusak oleh perdayaan dan tekanan dari golongan musyrikin – atheism — Quraisy.

Dalam fenomena kekinian — di eraglobal dan arus kebebasan informasi – tekanan paham-paham – atheis, sekuler,anarchism, permissivism – dalam bentuk neo-communism bergenetika tidakberakhlaq. Militansi ummat mengamalkanajaran Islam – di antaranya menampilkan akhlak Islami yang karimah –menjadi satu-satunya benteng terkuat melindungi harkat-martabatkemanusiaan.

Militansi Muhajirin –umat yang tidak cemas dan takut – berhadapan dengan penangkapan, pemenjaraan,pembunuhan, pengusiran, penculikan, pengucilan, intimidasi — dari pihakJahiliyah Qureisy –, tidak takut menentang kemusyrikan maupun atheis – laadiniyah –, walau dalam masa yang panjang tidak boleh berhubungan dagang –embargo ekonomi — serta bermacam usaha makar yang diperlakukan terhadapRasulullah SAW dan orang-orang Mukmin di masa itu. Firman Allah menyebutkan,artinya : “Dan (ingatlah), ketika orang-orang kafir (Quraisy)memikirkan daya upaya terhadapmu untuk menangkap dan memenjarakan kamu atau membunuhmu,atau mengusirmu. Mereka memikirkan tipu daya dan Allah menggagalkan tipu dayaitu. Dan Allah sebaik-baik Pembalas tipu daya” (QS.8,al Anfal :30).

Tantangan Ummat Sepanjang Masa Di Masa Depan

Kebiasaansikap Masyarakat Jahiliyah yang selalu menyembahberhala, hilangnya batas halal-haram, berkelakuan keji tercela — zina, sadis,miras, korupsi, kolusi, manipulasi, hedonis dan riba, dan segala bentukp[enyakit masyarakat –, menjadi ancaman terhadap jiran, memutus silaturrahimdengan membahayakan ketenteraman tetangga, yang kuat menelan yang lemah. ( Lihat“Al Islam Ruhul Madaniyah”, berisi jawaban Sahabat Ja’far bin Abi Thalibkepada Kaisar Negus di Habsyi.)

Strukturisasiruhaniyah Risalah Muhammad SAW, dikenal shiddiq(lurus, transparan), amanah (jujur), tabligh (dialogis), fathanah (ilmiah), memancangkan keyakinan bersih kepada kekuasaanAllah Yang Esa (tauhidiyah), percayakepada hari berbangkit (akhirat),disiplin dalam beribadah (syari’at),memiliki optimisme yang tinggi terhadap luasnya bumi (rezki), hidup dalam kesaudaraan mendalam (mu-akhah), — sesungguhnya adalah bentuk-bentuk militansi yangdikiatkan dan di kaitkan kepada setiap pribadi mukmin –, siap sedia untukberhijrah – tidak ada hijrah lagi sesudah futuh Makkah, dan yang sebenarhijrah itu adalah meninggalkan apa-apa yang dilarangkan oleh Allah – makahijrah sedemikian semata-mata dikerjakan hanya mengharapkan balasan (pahala) dari Allah semata.

Firman Allahmenjelaskan artinya ; “ Barangsiapaberhijrah di jalan Allah, niscaya mereka mendapati dimuka bumi ini tempatberhijrah yang luas dan rezeki yang banyak. Barangsiapa keluar dari rumahnyadengan maksud berhijrah kepada Allah dan Rasul-Nya, kemudian kematianmenimpanya (sebelum sampai ketempat yang dituju), maka sesungguhnya telah tetappahalanya disisi Allah. Dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”. (QS.4,an-Nisa’:100).

Hijrah telah menjadi ketetapanoperatif yang berlangsung terus menerus dalam proses restrukturisasi masyarakatbaru, — tegak dengan ikatan kepercayaan, dengan prinsip dasar yang lebihtinggi dari sekedar hubungan solidaritas kelompok ‘ashabiyah, nepotisme –. Kemudian, tumbuh-kembang menjadimasyarakat majemuk pertama yang hidup diatas landasan keadilan berkemakmurandengan kekayaan — iman, harta dan ilmu – menjadi sumber kekuatan dalam membangun. Sejarahkemudian membuktikan betapa Shahabat Ali bin Abi Thalib pernah diadili atasaduan seorang Yahudi dengan dakwaan pemilikan seperangkat baju besi olehseorang hakim Muslim dan akhirnya demi hukum dan keadilan Ali bin Abi Thalibbisa di kalahkan lantaran tidak dapat mengetangahkan bukti-bukti di pengadilan(mahkamah).

Nash (teks) Al Quran membuktikanpula bahwa masyarakat Madinah tumbuh berkeamanan yang tenteram sertadihuni tidak hanya oleh umat Mukmin — homogrenitas agama –, tapi jugaoleh Yahudi-Nashara (Judeo-kristiani) dan bahkan kalangan Munafik (hipokrit).

Hijrahtelah membentuk tatanan masyarakat yang terbuka untuk semua. Kesempatanberkembang mencari kehidupan berdasar hak asasi yang sama bagi semua anggota masyarakatnya– tidak ada kelompok yang bisa mencegah berbagai anggota masyarakatnya untukmaju –, menjadi salah satu keutamaan yang ditampilkan Islam membangun satumasyarakat yang kuat berdasarkan sikap saling mengasihi (ukhuwwah dan mahabbah) dan saling membantu (ta’awun). Peradaban Islami yang tinggi melahirkan suatu lingkunganyang sehat politik, ekonomi, kebudayaan dan materil, memungkinkan manusiamengarahkan dirinya untuk menyembah Allah dalam semua kegiatan — lihat QS.Tahrim,ayat 6 — tanpa rintangandari institusi-institusi yang memerintah di masyarakat itu.

Simpulannya adalah masyarakat akan tetap dianggapterbelakang sepanjang ia gagal menciptakan satu lingkungan yang tepat untukmenyembah Allah sesuai dengan syari’at-Nya. Tidak dapat disangkal bahwa Islamdan Iman mampu membangkitkan motivasi kuat dengan keyakinan diri yang unggul dengan militansipenghayatan dan pengamalan syari’at agamanya.

Hijrah mengajarkan umat untuk memilikikebebasan terarah dan bertanggung jawab, baik secara moral maupun intelektualadalah menjadi satu catatan kaki dari sejarah hijrah yang tak boleh di abaikan.Generasi umat Islam hari ini harus mampu mencapai visi baru dalam gelombangkesadaran Islam. Pengaruhnya akan tampak jelas dalam tatanan kehidupan duniawi.Hanya kelompok Yahudi (zionis) yang tidak akan pernah diam. Mereka akan selaluberupaya sekuat daya agar manusia senantiasa mengikut millah (konsepsi dancara-cara) mereka. Walan tardha ‘ankal yahauudu walan-nashara hatta tattabi’ millatahum (QS.2:120).

Wallahu a’lamu bis-shawaab

Leave a Reply