IBADAH QURBAN MENYIMPAN RAHASIA BESAR

ALHAMDULILLAH, kita baru saja melaksanakan ibadah Qurban yang menyimpan pelajaran yang sangat berharga bagi kaum Muslimin di manapun berada. Hikmahnya takkan pernah hilang dimakan rentang waktu. Dengan ibadah qurban dapat dijalin taqarrub ila Allah yakni mendekat diri kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Shalat hari raya termasuk khususiat atau keistimewaan umat Islam ini seperti juga shalat istisqa’ (minta hujan) dan kusuf (gerhana matahari). Di antara dua shalat hari raya itu maka shalat Idul Adha lebih afdal dari shalat Idulfitri karena terdapat nas al-Quran yang menyebut firman Allah SWT: “Oleh itu, kerjakanlah shalat (Idul Adha) karena Tuhanmu semata-mata, dan sembelihlah qurban (sebagai bersyukur).” (al-Kauthar: 2)

Maka ibadah yang dituntut pada Idul Adha bukan sebatas ibadah jasadi yaitu shalat tetapi juga ibadah yang melibatkan pengorbanan harta yaitu melakukan penyembelihan hewan qurban yang sunat muakkad bagi umat Islam dan makruh meninggalkan oleh orang yang berkemampuan,

Sesuai peringatan Rasulullah s.a.w.; “Siapa yang mempunyai kemampuan untuk berqurban tetapi tidak berqurban, maka jangan hadir di tempat shalat kami.” Semoga saja bagi yang melakukan qurban di hari tersebut diampunkan dosanya dan ahli rumahnya pada titik pertama darah sembelihan qurban tertumpah ke tanah. Berqurban adalah bukti taqwa dan tawakkal kepada Allah, yang akan menumbuhkan semangat hidup tidak pernah mengenal putus asa dari lindungan Allah Azza wa Jalla.

وَ مَنْ يَتَّقِ اللهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًا … وَ يَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لاَ يَحْتَسِبُ … وَ مَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللهِ فَهُوَ حَسْبُهُ إِنَّ اللهَ بَالِغُ أَمْرِهِ، قَدْ جَعَلَ اللهُ لِكُلِّ شَيْءٍ قَدْرًا

“ Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar, dan memberinya rezki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan) nya. Sesungguh nya Allah melaksanakan urusan yang (dikehendaki) Nya. Sesungguh nya Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu.” (QS.65, Ath-Thalaq :2-3)

Beruntunglah orang bertakwa. Berbahagia orang yang bertawakkal kepada Allah. Hidup didunia perlukan sikap teguh pantang menyerah. Setiap insan Muslim selalu hidup dalam sikap optimistis dengan taqwa yang benar kepada Allah swt dan senantiasa berserah diri.

Ujian kesabaran dan ketaatan

Berqurban ialah menyembelih hewan yang dikhususkan pada waktu yang dikhususkan dan syarat-syarat yang dikhususkan pula dengan niatan qurbah (mendekatkan diri kepada Allah). Namun di balik itu semua tersimpan sesuatu Pelajaran berharga yakni tauhid dan ikhlas semata untuk Allah. Ketahuilah bahwa kedudukan tauhid dalam ibadah adalah wajib dan menjadi landasan ibadah.

Maka tidak sah ibadah seseorang kecuali dengan tauhid. Allah memerintahkan kepada Rasul Nya yakni Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam agar menjadikan shalat dan sembelihannya ikhlas untuk Allah saja, tidak ada serikat bagi-Nya ; ” Katakanlah : “Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku, dan matiku hanyalah untuk Allah, Rabb semesta alam, tiada sekutu bagi-Nya. Dan demikian itulah yang diperintahkan kepadaku dan aku adalah orang yang pertama-tama menyerahkan diri (kepada Allah).” (QS. Al An’am : 162-163)

Menyembelih hewan qurban adalah salah satu syiar Islam terbesar karena kemenangan tauhid dalam peribadahan. Pelaksanaan penyembelihan qurban semata karena kecintaan kepada Allah, sesuai yang dicontohkan oleh Ibrahim AS yang sudah lama berdoa kepada Allah mengharapkan anak turunan pengulas generasinya;

وقال إني ذاهب إلى ربي سيهدين.. رب هب لي من الصالحـين .. فبشرناهُ بغلامٍ حليــمٍ

“ dan Ibrahim berkata: “Sesungguhnya aku pergi menghadap kepada Tuhanku, dan Dia akan memberi petunjuk kepadaku. Ya Tuhanku, anugerahkanlah kepadaku (seorang anak) yang termasuk orang-orang yang saleh. Maka Kami beri Dia khabar gembira dengan seorang anak yang amat sabar (lapang dadanya, yakni Ismail AS)..” (QS.37, Ash-Shaffat : 99-101). Akan tetapi nikmat yang didapatkan ini akhirnya diuji dengan ujian yang berat.

Sudah nyata kesabaran dan ketaatan Ibrahim dan Ismail, maka Allah mengganti dengan sembelihan yang besar dan menjadi dasar syariat Qurban pada setiap hari raya haji atau idul Qurban.

إنآكَذَالِكَ نَجْزِى ألْمُحْسِنِـيْنَ … إنَّ هذا لَهُوَالْبَلآ ؤُا الْمُبِينَ , وفَدَيْنَاهُ بِذِبْحٍ عَظِيمٍ

Sesungguhnya, demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian yang nyata. Dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar .. “. (QS.Ash.Shaffat :108-109).

Pelajaran besar bagi umat Islam bahwa keberhasilan melaksanakan perintah Allah dapat dilakukan hanya dengan tawakkal kepada Allah melalui ujian yang berat umat terdidik menjadi sabar serta mampu meningkatkan rasa syukur agar nikmat berlipat ganda sesudah itu. Firman Allah ; “Dan bagi tiap-tiap umat telah kami syariatkan penyembelihan (qurban) supaya mereka menyebut nama Allah terhadap binatang ternak yang telah dirizkikan Allah kepada mereka, maka Tuhanmu ialah Tuhan Yang Maha Esa, karena itu berserah dirilah kamu kepada-Nya. Dan berilah khabar gembira kepada orang-orang yang tunduk patuh (kepada Allah).” (QS. Al Hajj : 34).

Syiar paling besar di dalam ibadah qurban sebagai millah Ibrahim membawa kepada puncak akhlak yakni tauhid dan ikhlas karena cinta kepada Allah. Makin mulia akhlak yang dimiliki semakin damai hidup dibumi. Sabda Rasul saw ;

أَكْمَلُ الْمُؤْمِنِيْنِ إِيْمَانا أَحْسَنُهُمْ خُلُقًا، اَلْمُوَطِؤُّوْنَ أَكْنَافًا، الذِين يَألَّفُوْن و يُؤْلَفُوْنَ (رواه الطبراني و أبو نعيم)

Artinya, “Iman orang-orang mukmin yang paling sempurna adalah yang paling baik akhlaknya, lembut perangainya, bersikap ramah dan disukai pergaulannya” (HR.Thabrani).

Pelajaran penting lainnya ialah kesabaran dan keteguhan hati Ibrahim dalam membela akidah tauhid : “ “Sesungguhnya pada mereka itu (Ibrahim dan umatnya) ada teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (pahala) Allah dan (keselamatan pada) hari kemudian. Dan barangsiapa yang berpaling maka sesungguhnya Allah, Dialah Yang Maha Kaya lagi Maha Terpuji.” (QS. Al Mumtahanah : 6).

Sungguh besar anugerah yang Allah berikan kepada kita berupa petunjuk agama yang lurus. Allah berfirman; ” Katakanlah : “Sesungguhnya aku telah ditunjuki oleh Tuhanku kepada jalan yang lurus, yaitu agama yang benar, agama Ibrahim yang lurus, dan Ibrahim itu bukanlah termasuk orang-orang yang musyrik.” (QS. Al An’am : 161)

Allah juga memuliakan para pengikut millah Ibrahim dan menghinakan orang-orang yang membencinya : Firman Allah menyatakan ; ” Dan tidak ada yang benci kepada agama Ibrahim melainkan orang yang memperbodoh dirinya sendiri dan sungguh Kami telah memilihnya di dunia dan sesungguhnya dia di akhirat benar-benar termasuk orang-orang yang shalih. Ketika Tuhannya berfirman kepadanya : “Tunduklah, patuhlah.” Ibrahim menjawab : “Aku tunduk patuh kepada Tuhan semesta alam.” (QS. Al Baqarah : 130-131).

Dengan keistimewaan ‘Iedul Qurban ini hendaknya kita lebih dekat kepada Allah dengan ketakwaan mengikuti millah hanifiyah dari Nabi Ibrahim dengan satu ajaran yang dibangun diatas landasan tauhid yakni beribadah hanya kepada Allah saja, dan mengikhlaskan agama untuk-Nya. Oleh karena itu syiar yang besar dan pelajaran yang berharga dari ‘Iedul Qurban adalah tauhid. Maka seluruh kaum Muslimin dituntut untuk memantapkan akidah tauhid ini dalam jiwa dan beramal dengan tuntunan kalimat laa ilaaha illallah menjadi kewajiban yang pertama dan terakhir dalam Islam mengharap redha Ilahi. Maka ibadah pada umumnya adalah tekad atau sikap selalu siap melaksanakan perintah Allah dengan jujur dan taat. Setia dalam menunaikan semua aturan Tuhan. Teguh (istiqamah, konsisten). Ingin selalu berbuat baik (al-khair) sesuai bimbingan Islam yang dibawa oleh Nabi Muhammad SAW.

يَأَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا ارْكَعُوْا و اسْجُدُوْا و اعْبُدُوْا رَبَّكُمْ وافْعَلُوا الْخَيْرَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَ

Artinya, “Wahai orang yang beriman, rukuklah dan sujudlah (artinya patuh, taat, setia kepada aturan Allah), dan sembahlah tuhanmu, dan lakukanlah al-khair,(artinya yang baik, sesuai dengan ajaran dan syariat Islam), agar kamu berjaya menang” (QS.22, al Hajj : 77).

Mengharap redha Allah bukti ketakwaan adalah kekayaan jiwa dan sabar adalah sumber kekuatan. Kaya jiwa mematuhi semua perintah Allah dengan senang hati itulah bukti sabar yang benar dan berbuat yang di redhai Allah. Firman Allah menunjukkan bagaimana Nabi Ya’kub alaihissalam mengajari anak anaknya yang pergi mencari berita tentang Yusuf dan saudaranya dengan bekal kesabaran dan teguh hati.

وَلاَ تَايْئَسُوا مِنْ رَوْحِ اللهِ إِنَّهُ لاِ يَايْئَسُ مِنْ رَوْحِ اللهِ إِلاَّ الْقَوْمُ الْكَافِرُوْنَ.

“ dan jangan kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya tiada berputus asa dari rahmat Allah, hanyalah orang-orang yang kafir” (QS.12, Yusuf:87).

Sabda Rasulullah membimbing kita semua.

إياكم والظن فإن الظن أكذب الحديث ولا تجسسوا ولا تنافسوا ولا تحاسدوا ولا تباغضوا ولا تدابروا وكونوا عباد الله إخوانا

“Jauhilah oleh kalian akan dzan (prasangka), karena prasangka itu adalah dusta yang amat besar. Janganlah kalian mencari kesalahan orang lain, jangan pula mencari-cari aib (keburukan) orang lain, janganlah pula kalian bersaing (dengan tidak sehat), janganlah kalian saling iri dan dengki, jangan saling benci, jangan saling bermusuhan, dan jadilah hamba-hamba Allah yang bersaudara.” (H.R. At Tirmizi).

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ حَقُّ الْمُسْلِمِ عَلَى الْمُسْلِمِ سِتٌّ قِيلَ مَا هُنَّ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ إِذَا لَقِيتَهُ فَسَلِّمْ عَلَيْهِ وَإِذَا دَعَاكَ فَأَجِبْهُ وَإِذَا اسْتَنْصَحَكَ فَانْصَحْ لَهُ وَإِذَا عَطَسَ فَحَمِدَ اللَّهَ فَسَمِّتْهُ وَإِذَا مَرِضَ فَعُدْهُ وَإِذَا مَاتَ فَاتَّبِعْهُ

Dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu, Rasulullah shalla-Allahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Kewajiban seorang muslim atas muslim yang lain ada enam.”

Lalu ada yang bertanya, “Apa itu ya Rasulullah.”

Maka beliau menjawab ;

“Apabila kamu bertemu dengannya maka ucapkanlah salam kepadanya.

Apabila dia mengundangmu penuhilah undangannya.

Apabila dia meminta nasehat kepadamu maka berilah nasehat kepadanya.

Apabila dia bersin lalu memuji Allah maka doakanlah dia — dengan bacaan yarhamukallah —.

Apabila dia sakit maka jenguklah dia, dan

Apabila dia meninggal maka iringilah jenazahnya.” (HR. Muslim).

Leave a Reply