RAHASIA DAN HIKMAH SERTA BIMBINGAN PERNIKAHAN DALAM ISLAM

A. Pengertian Pernikahan

Pernikahan merupakan serangkaian peristiwa yang mampu membangun sebuah komplikasi peradaban manusia, yang selama-lamanya harus dilestarikan, peristiwa itu ialah peristiwa fitrah; sebagai manusia pernikahan adalah Pertama, Pernikahan sebuah fitrah untuk menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan, diantaranya fitrah manusia itu adalah bertumbuh dan berkembang, nah dengan adanya wadah pernikahan, manusia dapat menjawab tuntutan itu. Kedua, Pernikahan adalah peristiwa fiqhiyah, menunjukkan seseorang telah melaksanakan suatu hukum agama yang asal hukumnya sunat. Ketiga, Pernikahan adalah peristiwa dakwah, seseorang yang telah melaksanakan akad pernikahan, berarti ia telah menegakkan syari`at dengan mendakwakan bahwa akad pernikahan itu harus dilakukan setiap orang Muslim yang akan mengarungi hidup Berumah Tangga. Dan Keempat, Pernikahan menunjukkan hubungan sosial yang semula adalah sebuah keluarga kecil, kemudian menjadi besar dengan bergabungnya dua keluarga kecil. Serta Kelima, Peristiwa Budaya, pernikahan dapat membentuk suatu budaya yang kokoh, dan mempunyai nilai keakraban yang asri, karena dua budaya yang berbeda, setelah terjadinya akad berarti peristiwa budaya akan menjadi berwarna-warni, yang nantinya akan dapat membentuk budaya yang satu, walaupun didalamnya terdapat banyak karakter, namun merupakan satu budaya, yaitu budaya Islam, “ummah al-wâhidah”. Inilah yang didambakan Islam sebagai agama Ilahiyah atau Tauhid.

Pernikahan adalah suatu jalan hidup yang berorientasi hubungan horizontal dan fertikal kepada ilâhi-rabbi. Yang dimulai dengan niat ibadah kepada Allâh, dengan pembentukan al-Usru “keluarga” yang terdiri dari suami, isteri, dan anak-anak. Kemudian menjadi suatu struktur sosial “al-Ijtima`i“.

Keluarga terbentuk dari rasa saling memperlukan, sebagaimana yang diungkapkan oleh Allâh dalam al-Qur`ân, surat al-A`râf ayat 189 maksudnya, “agar suami merasa tenang dan tenteram bersama isterinya”. Dan yang melindungi antara satu samalain (QS. Al-Baqarah/2: 187). Dalam ayat ini Imam al-Qurtubi menafsirkan kata “libas” yang asal maknanya berkenaan dengan pakaian. Kemudian menyatukan hubungan suami dan isteri tersebut, seperti melekatnya pakaian sekaligus fungsinya. Sebagian ulama berpendapat, “segala sesuatu yang menutupi sesuatu itu libas.

Keluarga sebagai ajang sikap yang saling memberi perhatian, apapun yang diberi misalnya oleh suami kepada isteri, tidak boleh diminta kembali (QS. Al-Nisâ/4: 20-21), hal ini membuktikan keikhlasan harus ditanamkan dalam diri suami sebelum ia berumah tangga. Keluarga juga untuk menyatukan perasaan, tenang dan tenteram “mawaddah wa rahmah“, serta akan membuat suami dan isteri berfikir jernih (QS. Al-Rûm/30: 21).

Nah, Islam berpicara tentang pernikahan, lalu apa saja yang menjadi substansi dan prosedural dari hal tersebut?, mari kita lihat. Dalam al-Qur`ân dan al-Sunnah, masalah yang diungkapkan adalah sakral berkisar sekitar masalah substansi, seperti masalah memilih jodoh, pernikahan, pembentukan keluarga beserta sikap-sikap yang harus ditempuh, pendidikan anak keturunan. Sedangkan masalah prosedural perkawinan tidak diatur, hanya saja itu menjadi lahan ijtihad baik ijtihad tathbiqy dan istinbathy. Seperti pelanggaran dalam masalah rumah tangga. Ini diatur dalam undang-undang mujtahid. Kita ambil contoh, masalah ta`liq thalaq, dalam undang-undang Perkawinan Indonesia ditentukan terutama undang-undang tahun 1975 tentang perceraian akibat tidak diberi nafkah oleh suami selama dua (2) tahun berturut-turut, ini tidak ditemukan dalam al-Qur`ân dan al-Sunnah[1]. Pasal 2 ayat 1 Undang-Undang No. 1 tahun 1974 mengatur sahnya pernikahan menurut agama masing-masing[2]. Undang-undang ini dirumuskan dan berlaku atas perjuangan untuk mengembalikan berlakunya hukum Islam di Indonesia, setelah hukum nasional dikuasai oleh hukum adat dan eks Barat. Jadi, pelanggaran dalam perkawinan itu diatur dalam undang-undang yang dimunculkan oleh mujtahid melalui kajian dalil-dalil, maka terwujudlah sebuah ijtihad diterapkan sebagai hukum yaitu hukum ta`zir[3].

Islam agama berlaku pada masa apapun, tujuannya adalah untuk menunjukkan keagungannya. Dengan aturan seperti di atas, maka memberi peluang pada perkembangan peradaban manusia yang sempurna. Agama islam tidak akan pernah terlibat dalam masa yang sia-sia, penuh dengan kepura-puraan, tidak ada keteguhan dalam mempertahankan prinsip-prinsip sakral.

Makna Pernikahan

1. Pernikahan Menurut Bahasa

Pernikahan dalam Bahasa Arab disebut dengan nikah atau tazwij. Lafazh nikah atau tazwij artinya; kawin, berkumpul atau menghimpit ( تَزْوِجٌ ), marriage (pernikahan) seperti “yâ ma`syara al-syabâb” atau marriageable.

2. Pernikahan Menurut Istilah

1) Menurut Jalaluddin Al-Mahally

Nikah adalah ‘akad yang mengandung kebolehan melakukan hubungan seksual dengan mempergunakan lafazh nikah atau tazwij.

2) Menurut Hasby Ash Shiddieqiy

Nikah adalah ‘aqad yang mengandung kebolehan melakukan hubungan seksual dengan lafazh nikah atau tazwij dan lafazh yang semakna dengannya.

3) Menurut Undang-undang No. 1 Tahun 1974 Pasal 1

Perkawinan ialah ikatan lahir bathin antara seorang pria dengan seorang wanita sebagai suami isteri dengan tujuan membentuk keluarga (rumah tangga) yang bahagia dan kekal berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa.

Berdasarkan pengertian dan definisi di atas dapat disimpulkan bahwa Pernikahan atau Perkawinan itu adalah `aqad atau perjanjian yang membolehkan bergaulnya seorang laki-laki dengan seorang perempuan sebagai suami isteri dengan lafadz nikah, tazwij atau kawin guna membentuk keluarga bahagia dan kekal atau langgeng menurut yang diatur oleh syari’at[4] Islam dan hukum yang berlaku. Karena pernikahan menyangkut masalah biologis, psikologis, pendidikan, ekonomi, yuritis, moral, dan agama.

Dorongan Untuk Melangsungkan Pernikahan

Mengenai pernikahan ini Rasul Allâh sall Allâhu `alaihi wa sallam (570-632 H)[5], memberi dorongan kepada para Pemuda yang telah mampu, pesan itu diungkapkan dalam hadits berikut ini, “Rasul Allâh sall Allâhu `alaihi wa sallam bersabda : “Wahai para pemuda, siapa saja di antara kamu sudah mampu (lahir dan bathin) untuk berkeluarga, maka kawinlah. Sesungguhnya hal yang demikian lebih memelihara pandangan mata, memelihara kehormatan, dan siapa yang belum mampu untuk berkeluarga, dianjurkan baginya untuk berpuasa, karena hal itu akan menjadi pelindung dari segala perbuatan memperturutkan syahwat.” (HR. Mutafaqq `alaihi).

Hadits ini tercantum dalam Shahih Bukhari pada kitab al-Nikah, Jilid tiga, juz tujuh halaman tiga dan Shahih Muslim pada kitab al-Nikah, Juz 2, halaman 118-119. Dan Allâh meridhai akan hal ini, serta memberikan statemen yang patut diyakini yaitu; “Kesulitan dalam pelaksanaan nikah, sebagaimana firman Allâh: Yakinlah, jika kamu miskin Allâh akan memampukan kamu dengan karunia (rezki-Nya), dan Allâh Maha luas (pemberian-Nya).” (Bukhâriy, Jilid 3, Juz 7, halaman 8)

Kandungan hadits di atas adalah sebagai berikut :

Dorongan untuk menikah bagi generasi muda yang telah mampu lahir bathin untuk melangsungkan pernikahan atau berkeluarga.
Pernikahan itu lebih mampu memelihara kehormatan diri.
Dorongan untuk berpuasa sunat bagi pemuda yang belum mampu kawin untuk membentengi diri dari syahwat.

Dorongan ini muncul karena begitu pentingnya melangsungkan sebuah pernikahan yang akan melanggengkan kehidupan ketika manusia dalam keadaan berduka cita, kemiskinan bukanlah penghalang untuk melangsungkan pernikahan, karena Allâh menjamin rizkinya (QS. Al-Nûr/24: 32). Hal itu akan padam dengan adanya keseimbangan yaitu suami-isteri. Dan dianjurkan memilih calon isteri/suami yang jauh dari hubugan keluarga, seperti anjuran Umar bin Khaththab radiy Allâhu `anhu, “Aghribu wa lâ tadhawwu” (carilah yang jauh/asing dan jangan kamu menjadi lemah), karena hal ini akan menjadi salah satu perekat tali persaudaraan kita sebagai muslim semakin besar.

Bahaya kalau tidak melakukan pernikahan pada saat ia mampu, dan bahaya itu juga dipaparkan Rasul Allâh sall Allâhu `alaihi wa sallam berikut;

أَكْثَرُ مَا يُدْخِلُ النَّاسَ النَّارَ الْفَمُ وَالْفَرْجُ

(رَوَاهُ التُّرْ مُذِىوَإِبْنُ حِبَّانٌ فِى صَحِيْحِهِ)

“Yang paling banyak menjerumuskan manusia kedalam neraka adalah mulut dan kemaluannya.” (HR. Al-Tirmidziy dan dia berkata hadits ini shahih).

Dan, “Sabda Rasul Allâh sall Allâhu `alaihi wa sallam: “Ada tiga faktor yang membinasakan manusia yaitu mengikuti hawa nafsu, kikir yang melampaui batas dan mengagumi diri sendiri.” (HR. al-Tirmidziy).

Sabda Nabi sall Allâhu `alaihi wa sallam, “Rasa malu dan iman itu sebenarnya berpadu menjadi satu, bilamana lenyap salah satunya hilang pulalah yang lain.” (Hadits Qudsi)[7]

Maka dari pada ini semua, islam sangat mengecam pola hidup yang lebih menyukai membujang (celibat), yaitu hidup tanpa ada ikatan perkawinan yang sah. Islam juga bahkan melarang kalau keadaan tersebut terjadi dalam kondisi ia mampu untuk nikah, kecuali ada alasan biologis, seperti impoten[8].

Hidup membujangkan memberi peluang untuk berbuat serong, jauh dari fitrah manusia yang sesungguhnya. Seperti berbuat zina. Maka pantaslah Imam Ahmad mengatakan, “Aku tidak tahu ada dosa yang lebih besar setelah membunuh jiwa daripada zina”.

Selanjutnya manusia akan berjuang untuk menghalalkan Zina seperti yang diprediksi oleh Rasul Allâh sall Allâhu `alaihi wa sallam berikut ; “Pasti akan ada dari umatku suatu kaum yang (berusaha) menghalalkan zina, sutra, khamar (segala yang dapat merusak akal), dan alat-alat musik !” (HR. Al-Bukhâriy).

Dengan peringatan-peringatan Rasul Allâh sall Allâhu `alaihi wa sallam di atas, maka beliau sekaligus membatasi pergaulan umatnya hal itu dapat kita ketahui pada hadits berikut : “Janganlah sekali-kali (diantara kalian) berduaan dengan wanita, kecuali dengan mahramnya.” (HR. Al-Bukhâriy dan Muslim).

Hal ini semua adalah untuk mengantisipasi timbulnya pelanggaran hukum yang pada asalnya diharamkan dan perlindungan hak-hak bagi setiap sendi kehidupan. Baik pribadi muslim maupun antar manusia dengan Sang Khaliq. Rasul Allâh sall Allâhu `alaihi wa sallam sendiri lewat hadits-hadits beliau telah menyatakan batasan-batasan tersebut yang berlaku sebagai syari`at.

Macam-macam Zina

Zina sebagai mana di ketahui lewat hadits berikut: “Dari Abi Hurairah radhiy Allâhu `anhu dari Nabi sall Allâhu `alaihi wa sallam, bahwa beliau bersabda : “Telah ditulis atas anak adam nasibnya (bagiannya) dari zina, maka dia pasti menemuinya, zina kedua matanya adalah memandang, zina kakinya adalah melangkah, zina hatinya adalah berharap dan berangan-angan, dan dibenarkan yang demikian oleh farjinya (kemaluannya) atau di dustakan.” (HR. Al-Bukhâriy, Abû Dâud, dan al-Nasâ’i).

Dan dalam riwayat lain beliau bersabda, “Kedua tangan berzina dan zinanya adalah meraba, kedua kaki berzina dan zinanya adalah melangkah kearah yang salah (maksiat), dan mulut berzina dan zinanya adalah mencium (yang tidak halal baginya).” (HR. Muslim dan Abû Dâud).

Demikianlah Rasul Allâh sall Allâhu `alaihi wa sallam selalu membimbing umatnya, tiada petunjuk yang lebih baik selain petunjuk beliau, walaupun beliau sudah tiada, tapi pusaka beliau masih tetap ada dalam hati sanubari paling dalam umatnya yang taat dan patuh untuk menjalankan Syari`ah al-Islam sebagai tuntunan hidup yang tenang dan tentram. Dan Allâh tidak akan pernah memerintah kita untuk berbuat jahat, sebagaimana firman Allâh subhânahu wa ta`âlâ berikut: “Dan apabila mereka melakukan perbuatan keji, mereka berkata: “Kami mendapati nenek moyang kami mengerjakan yang demikian itu, dan Allâh menyuruh kami mengerjakannya. Katakanlah: “Sesungguhnya Allâh tidak menyuruh (mengerjakan) perbuatan yang keji.” Mengapa kamu mengada-adakan terhadap Allâh apa yang tidak kamu ketahui?.” (QS. Al-A`râf/7: 28)

Ketahuilah saudaraku bahwa Allâh dan Rasul-Nya tidak pernah menginginkan manusia susah, malahan memberikan keringanan-keringanan yang sesuai dengan situasi dan kondisi hambanya. Inilah menjadi dasar bagi kita bahwa Allâh tidak akan pernah merugikan manusia, dimana hadits di atas berlaku apabila manusia tidak mengindahkan peringatan-peringatan tersebut di atas. Dan ini bukanlah menjadi takdir yang muthlak tapi sebagai gambaran berkuasanya Allâh terhadap manusia.

Masalah apapun yang dialami hambanya pasti ada jalan keluar, dan itupun tidak ada yang bersifat permanen. Hukum yang diberlakukan sesuai dengan situasi dan kondisi. Setiap pemberlakuan syari`at, terbatasi oleh tiga keadaan mendasar, yaitu sebagai sabda Rasul Allâh sall Allâhu `alaihi wa sallam; sesungguhnya Allâh mengampuni umatku dalam keadaan tiga hal: tersalah, lupa, dan apa yang dipaksakan atasnya[9]. Sangat fleksibel bukan ajaran islam? Apa yang membuat saudaraku untuk jauh dari ajaran Islam?. Padahal islam jauh sebelum manusia memikirkan masalah moral telah menjadi program utama Nabi Muhammad shall Allâhu `alaihi wa sallam.

Hukum dan Penerapan Hukum Zina

Makhluk yang diciptakan Allâh, semuanya disertakan dengan hukum. Baik Pertama: itu hukum alam (kauniyah), seperti Allâh telah menjadikan segala sesuatu dengan ukuran tertentu, seperti diterangkan dalam firman-Nya; “Dan kami telah menghamparkan bumi dan menjadikan padanya gunung-gunung dan kami tumbuhkan padanya segala sesuatu menurut ukuran.” (QS. Al-Hijr/15: 19), bahkan air yang diturunkan Allâh pun sesuai kadarnya (QS. Al-Mukminûn/23: 18). Kedua: hukum yang sifatnya tertulis sebagai syari`at yaitu al-wahy.

Kemudian mengikuti perkembangan pemikiran dikalangan manusia sejak zaman penyembahan alam, Roh nenek moyang mereka, berhala atau fetisisme yaitu kepercayaan bahwa setiap benda mempunyai roh (jiwa). Pemilik benda itu dapat menggunakan roh yang ada disitu untuk keperluan-keperluannya. Dan seterusnya manusia sampai pada Penyembahan Sesuatu Yang Lebih Tinggi. Ini adalah proses terakhir dari evolusi agama.

Hukum syari`at seperti tersebut di atas itulah yang akan menjadi pengatur manusia. Berlaku bagi mukallaf (manusia yang memenuhi syarat untuk dibebankan hukum syari`at). Hukum syari`at agama Islam tidak berlaku bagi mukallaf yang berada dalam keadaan gila, tidak sadar (pingsan), tidur, dan dipaksa. Dibawah ini penulis coba untuk menguraikan sedikit tentang hukum syari`at mengenai perzinahan dan penerapannya:

Pengertian Hukum

Sulit mendefinisikan hukum secara tuntas, sehingga Imanuel Kant menulis, “Noch Suchen die Juristen eine Definition zu ihrem Begriffe von Recht” (Tidak seorang ahli hukumpun yang mampu membuat definisi tentang hukum). Yang lain berpendapat, “Kalau anda meminta kepada sepuluh ahli hukum untuk membuat definisi tentang hukum, maka bersiap-siaplah anda untuk mendengarkan sebelas jawaban. Namun hal itu tidak menciutkan usaha ahli hukum untuk mendefinisikannya, berikut tinjauannya;

1) Hukum menurut bahasa (etimologi)

Secara bahasa hukum itu diartikan sama dengan ugeren, patokan atau kaidah. Dalam bahasa Belanda hukum itu disebut recht (berarti lurus), ini mempunyai kandungan “kewibawaan dan keadilan”. Bahasa Latinnya hukum adalah ius, Prancisnya loi dan Inggrisnya law, serta bahasa Belandanya wet.

Dalam bahasa Arab, berasal dari kata kerja “hakama” (حَكَمَ) artinya sama dengan “qadha” (قَضَى) dan “qarrara” (قَرَّرَ) yang artinya menghukum, memutuskan, dan menetapkan. Sesuatu yang ditetapkan itulah hukum atau hukuman.

2) Hukum menurut istilah (terminologi)

Melihat arti hukum secara etimologi, maka dapat dipahami bahwa makna hukum yang tersimpul dalam pengertian secara etimologi tersebut di atas terkandung dua unsur utama, yaitu unsur Kewibawaan dan Keadilan.

Asas-asas Hukum

Asas-asas hukum secara umum dibagi atas tiga; Asas Keadilan, Asas Kepastian Hukum, dan Asas Kemanfaatan. Dalam ikatan perkawinan sebagai salah-satu bentuk perjanjian (suci) antara seorang pria dengan seorang wanita, yang mempunyai segi-segi perdata, berlaku beberapa asas; (1) kesukarelaan, (2) persetujuan kedua belah pihak, (3) kebebasan memilih, (4) kemitraan suami-isteri, (5) untuk selama-lamanya, dan (6) monogami terbuka (karena darurat).

Semua segi asas hukum di atas menunjukkan ketelitian dan cermatan dalam penerapan hukum terhadap pelaku kejahatan. Dengan sikap demikian diharapkan akan diperoleh keadilan. Bagi korban kejahatan dan pelaku kejahatan bahkan bagi masyarakat.

Penerapan Hukum Zina

Sebelum menerapkan hukum tentunya harus pasti dulu apa itu zina?. Zina adalah hubungan kelamin di antara seorang lelaki dengan seorang perempuan yang satu sama lain tidak terikat dalam hubungan perkawinan yang sah, baik agama atau pun hukum negara. Walaupun salah satu pihak atau keduanya telah memiliki pasangan masing-masing (nikah) atau belum nikah. Kata Zina ini juga sering dipakai secara majaziy yaitu pergaulan bebas. Sama saja!, hanya objeknya secara kolektif (kelompok), lebih ekstrim lagi Free Sex.

Menurut Islam perbuatan Zina akan menghancurkan landasan keluarga secara mendasar, memperbesar perselisihan dan akan mengarah pada pembunuhan, meruntuhkan nama baik dan kekayaan, memperluas peluang terjangkitnya penyakit baik jasmani maupun rohani. Zina adalah perbuatan keji dan suatu jalan yang terburuk (QS. Al-Isrâ’/17: 32-33).

Penerapan hukum terhadap pelaku Zina dalam islam akan adil, dan mempunyai kepastian hukum, serta memiliki manfaat, baik terhadap pribadi, keluarga, dan masyarakat, apalagi agama, dan seterusnya bagi negara.

Banyak orang menilai, bahwa hukum bagi pelaku zina yaitu di rajam sampai mati, bagi yang sudah pernah menikah. Dan di dera 100 kali bagi yang belum pernah nikah. Kalau perbuatan zinanya pasti menurut hukum melalui kesaksian empat orang yang terpercaya, dan bukti-bukti otentik lainnya. Kalau buktinya terdapat kecacatan maka hal tersebut akan meringankan si tertutuduh.

Bukti lain misalnya dari pengakuan si tertuduh sebanyak empat kali yang diungkapkannya secara sukarela dalam satu majlis. Jika pada pengakuan yang keempat ia membatalkan pengakuannya, maka tidak boleh dirajam.

Laki-laki atau perempuan yang mengakui perbuatannya itu harus sehat pikiran, puber, dewasa dan telah menikah. Penerapan hukum terhadap mereka dikatakan oleh atsar shahabat Umar bin Khatthab yang diriwayatkan oleh Ibnu Abbas; harus dibuktikan oleh saksi-saksi (empat orang), adanya kehamilan, atau pengakuannya. Khusus untuk wanita yang berbuat demikian hukuman rajam dilakukan setelah ia melahirkan. Serta hukuman tersebut dilaksanakan di depan umum, agar masyarakat mengetahui sekaligus mengambil pelajaran bahwa Islam ingin mensucikan hubungan pernikahan, bukan perzinahan. Hukuman ini dipandang kejam oleh sebagian umat Islam. Namun hanya hukuman inilah yang akan dapat menentramkan, dan melestarikan keluarga sakinah mawaddah wa rahma. Ingatlah zina merupakan dosa yang terbesar setelah syirik kepada Allâh.

Ampunan Allâh Terhadap Manusia

Segeralah kepada ampunan Allâh, sebab Ia Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Islam adalah agama yang benar (lihat QS. al-Taubah/9: 33) menurut yang kita pahami. Semua isme-pun menganggap ialah yang benar. Jadi untuk itu kita punya argumen yang benar tentang masalah ini bahwa selain Islam akan tertolak dan ia termasuk orang yang merugi (lihat QS. Ali `Imrân/3: 85). Hal ini berlaku, karena Allâh telah memberi kesempatan untuk bertobat sesudah kafir (lihat QS. Ali `Imrân/3: 89 dan al-Nisâ’/4: 146) mengapa lagi Allâh menyiksa mereka jika mereka telah beriman dan bersyukur (lihat QS. al-Nisâ’/4: 147). Kecuali orang-orang yang kafir dan bertambah kekafirannya dan mati dalam keadaan kafir, Allâh tidak akan menerima tobatnya (lihat QS. Ali `Imrân/3: 90-91).

B. Hukum Nikah

Nikah hukum asalnya menurut ahli fiqih adalah sunat (lihat surat al-Nisâ’/4: 3). Ini pendapat Jumhur Ulama termasuk Imam Syafi’i. Adapun hukum nikah wajib, sunat, mubah, makruh, dan haram hanyalah berdasarkan keadaan saja.

1. Wajib

Seseorang wajib nikah apabila ia mampu (lahir bathin), kuat keinginan untuk kawin dan dikhawatirkan ia akan jatuh pada perbuatan dosa/zina jika tidak melaksanakan pernikahan atau tidak kawin.

2. Sunat

Seseorang sunat nikah apabila seseorang itu mempunyai kemampuan (lahir bathin) untuk kawin, dan punya keinginan yang kuat untuk kawin, tapi jika ia tidak nikah, maka ia tidak akan terjerumus pada perbuatan dosa.

3. Mubah

Seseorang mubah hukumnya melakukan akad perkawinan apabila tidak ada hal-hal yang mendorongnya untuk kawin. Ia hanya mampu lahir bathin.

4. Makruh

Makruh terhadap orang yang mampu lahir bathin, tapi tidak mampu memberi nafkah atau menghalangi bagi seseorang kepada memenuhi kewajibannya seperti seseorang dalam keadaan menuntut ilmu (belum punya penghasilan untuk menafkahi isterinya).

5. Haram

Seseorang haram menikah apabila dilakukan perkawinan, akan terzalimi kehidupannya. Atau Seseorang haram nikah apabila ia bermaksud jahat terhadap perempuan yang akan menjadi isterinya.

C. Tujuan Pernikahan

Perkawinan dalam Islam bukan saja bertujuan untuk menghalalkan hubungan seks antara seorang pria dengan seorang wanita, tapi perkawinan mempunyai tujuan yang sangat mulia dihadapan Allâh subhânahu wa ta`âlâ. Adapun tujuan perkawinan itu adalah:

Menyalurkan libido seksualitas (lihat firman Allâh QS. al-Baqarah/2: 233).

Penyaluran libido (nafsu seks) keperluan manusia yang harus dipenuhi. Menurut Piere Janet (1859-1947), kemudian dikuatkan oleh Siegmund Freud mengatakan bahwa manusia hidup digerakkan oleh dua keperluan utama yaitu:

a. Keperluan kepada makan dan minum, untuk mempertahankan kesehatan jasmani.

b. Keperluan kepada seks untuk mempertahankan keturunan

Oleh sebab itu haram bagi perempuan jika ia menolak ajakan suaminya berhubungan seks. Sabda Rasul Allâh shall Allâhu `alaihi wa sallam, “Bila seorang suami memanggil isterinya untuk memenuhi keperluan seksualnya hendaklah ia penuhi sekalipun ia di atas cerobong yang tinggi”.

Memperoleh keturunan yang shaleh (QS. al-Syûra/42: 49-50).
Memperoleh kebahagiaan dan ketenteraman (QS. al-A’râf/7: 189).
Mengikuti sunnah Nabi shall Allâhu `alaihi wa sallam.
Menjalankan perintah Allâh subhânahu wa ta`âlâ (QS. al-Nisâ`/4: 3 dan hadits Nabi Muttafaqq ‘alaih).
Untuk berdakwah (QS. Ali Imrân/3: 104).
Menjaga diri dari berbuat serong, seperti free sex.
Dari tujuh point di atas dapat dipahami, bahwa menyalurkan nafsu seksual bukanlah satu-satunya tujuan dari sebuah perkawinan, tapi lebih dari itu semua adalah untuk beribadah kepada Allâh subhânahu wa ta`âlâ. Lebih spesifiknya mengembangkan keturunan, mewujudkan suatu kehidupan yang sakinah, tenteram, bahagia lahir-batin dunia yang insya Allâh juga di akhirat.
D. Hikmah-hikmah Pernikahan

Hikmah-hikmah Pernikahan ini sudah dijelaskan oleh al-Qur’ân dan Hadits Nabi Muhammad shall Allâhu `alaihi wa sallam, dengan mengetahui hikmah-hikmah tersebut akan mendorong seseorang untuk berusaha untuk melaksanakannya dengan benar dan penuh rasa sejuk, serta ridha apapun yang akan ia hadapi setelah itu. Hikmah-hikmah pernikahan juga akan menambah keyakinan bagi orang yang akan melaksanakannya, secara singkat dapat dijelaskan sebagai berikut:

Menumbuh kembangkan naluri kebapakan bagi laki-laki dan naluri keibuan bagi perempuan. Dengan demikian sikap laki-laki dan perempuan yang punya anak berbeda dengan yang tak punya anak.

Menumbuhkan aktivitas untuk berusaha dan mencari rizki yang halal (QS. al-Baqarah/2: 233).
Memperteguh rasa kasih sayang (QS. al-Rûm/30: 21).
Menjalin rasa persaudaraan antara dua keluarga (suami dan isteri).
Mempererat persatuan dan kesatuan umat Islam pada umumnya.
Secara khusus hikmah pernikahan ini diterangkan dalam al-Qur’ân sebagai berikut: “Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya di antaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir.” (QS. al-Rûm/30: 21)

Jadi, pernikahan merupakan suatu hal yang mulia, disamping ia menjadi penyempurna subtansi agama juga ibadah, serta pelestarian kehidupan manusia secara berkesinambungan. Nabi Muhammad shall Allâhu `alaihi wa sallam juga menekankan masalah pernikahan ini dalam banyak hadits beliau, ini tentu menunjukkan suatu yang penting bagi kelayakan hidup kemanusiaan.

Kehidupan tidak akan lestari tanpa adanya ikatan pernikahan yang diridhai Allâh, karena apapun macam agama dan kepercayaan pasti mempunyai sebuah ikatan masalah ini, dan pernikahan memperlukan hal tersebut sebagai manusia. Dengan bangga mengatakan, “Saya adalah anak si Anu, dan Cucu si Anu”, dengan adanya ikatan tersebut, maka akan muncul nilai-nilai dan pandangan yang beragam tentang kehidupan. Hal itu jelas, akan memperindah hidup dan kehidupan kemanusiaan.

Alangkah indahnya hidup ini sekiranya pernikahan itu dijadikan sebagai tujuan mulia bukan tujuan pelepas rasa cinta pada nafsu semata, namun untuk menjadi kebanggaan sebagai manusia. Nabi Muhammad shall Allâhu `alaihi wa sallam bersabda, “Tanda kenabianku adalah wahyu yang Allâh turunkan, aku harapkan pengikutku di hari kiamat yang terbesar.” (HR. Bukhâriy dan Muslim, dari Abu Hurairah radhiy Allâhu `anhu). Demikianlah masalah pernikahan ini mendapat tempat yang mulia dalam agama Islam, sebagai agama fitrah.

Perkembangan keluarga yang baik akan membantu memperbesar dan menambah kualitas kekukuhan islam dalam perobahan watak dan pemikiran perkembangan islam yang lebih kuat. Dengan demikian akan tercipta tatanan hidup yang harmonis. Islam pada awal perkembangannya bertolak dari pernikahan untuk mendekatkan, dan membentuk suatu kelompok islam yang dekat dan dapat dipertahankan dengan baik, yaitu dengan pernikahan antar sahabat dekat. Setelah hijrah dilakukan pernikahan antar kaum (anshar dengan muhajirin), dengan inilah tumbuh suatu masyarakat islam yang kokoh dan bermartabat, salah satu contoh, nabi menikahkan sepupunya Zainab binti Jakhsy dengan anak angkatnya Zaid bin Harisah pada tahun ke-5 hijriyah atau tahun ke-18 kenabian. Dengan tujuan untuk mengangkat derajat budak, dimana diketahui bahwa Zaid bin Harisah pada awalnya adalah budak, walaupun pada akhirnya beliau menikahi Zainab, karena sikap Zainab, yang membuat Zaid bin Harisah minder. Dan keadaan beginilah nabi dengan pertimbangan tanggungjawab beliau menikahi Zainab. Ini juga dikabarkan oleh Allâh dalam al-Qur’ân;

“Dan (ingatlah), ketika kamu berkata kepada orang yang Allâh telah melimpahkan nikmat kepadanya dan kamu (juga) telah memberi nikmat kepadanya: “tahan teruslah isterimu dan bertakwalah kepada Allâh”, sedang kamu menyembunyikan di dalam hatimu apa yang Allâh akan menyatakan, dan kamu takut kepada manusia, sedang Allâh-lah yang lebih berhak untuk kamu takuti. Maka tatkala Zaid bin Harisah telah mengakhiri keperluan terhadap isrerinya (menceraikannya), Kami kawinkan kamu dengan dia (setelah habis iddahnya), supaya tidak keberatan bagi orang mukmin untuk (mengawini) isteri-isteri anak-anak angkat mereka, apabila anak-anak angkat itu telah menyelesaikan keperluannya daripada isterinya. Adalah ketetapan Allâh itu pasti terjadi (QS. Al-Ahzab/33: 37).

Contoh ini menggambarkan suatu penunaian tanggungjawab, untuk mempertahankan penerapan hukum. Yaitu tidak sama perlakuan hukum antara anak angkat dengan anak kandung. Hal ini juga untuk menjaga hubungan kekerabatan yang berbasiskan saling mendukung sikap, saling menghargai dan menjaga kelanggengan ikatan keagamaan.

Perobahan seperti ini akan kita lanjutkan sebagai khasanah hukum islam yang bersifat universal dan lebih kepada mempertahankan ikatan kekeluargaan dalam menerapkan rasa saling memperlukan antara pengukuhan tanggungjawab dengan kepentingan agama di atas kepentingan rasa pesimisme. Ini terbukti dalam pernyataan Zaid yang selalu mengeluhkan sikap Zainab, namun nabi menasehati untuk mempertahankan pernikahan itu, tapi gagal. Disamping itu perintah Allâh.

Saudaraku yang memiliki keimanan kepada Allâh, kewajiban yang mutlak bagi komponen rumah tangga menjaga keutuhan dan kelanggengan keluarganya. Begitu banyak berita bahkan kejadian nyata yang sampai ketelinga kita tantang keretakan rumah tangga, seperti berita yang dimuat surat kabar Republika: terbitan Rabu, 2 Maret 2005, tentang kasus perceraian sebagai berikut;

“Jumlah permohonan cerai di Pengadilan Agama (PA) Jakarta Timur meningkat menjadi 170 permohonan per bulan pada awal tahun 2005 dari sebelumnya tercatat paling banyak 120 permohonan per bulan. Dari permohonan cerai yang masuk sebanyak 15 persen dicabut kembali dan perceraian dibatalkan, sisanya berlanjut hingga putusan. Sebagian besar, pasangan suami isteri yang mengajukan permohonan cerai di Pengadilan Agama Jakarta Timur adalah pasangan muda yang baru dua hingga tiga tahun menikah. “Biasanya mereka berusia 21 hingga 27 tahun, masih dibawah 30 tahun. Itu baru di Pengadilan Agama Jakarta Timur, belum di daerah-daerah lain. Na`udzubi Allâhi min dzâlik.

Semoga keluarga-keluarga yang lain menjadikan ini sebagai pelajaran yang berarti. Dan mampu memacu semangat untuk menjaga keutuhan keluarga yang merupakan anugerah Allâh yang sangat terhormat ini.

Begitu hati-hati dan mulianya Islam mengatur masalah pernikahan ini, karena disamping bernilai ibadah, juga bernilai sosial yang terpenting untuk membangun sebuah masyarakat madani atau beradab dan bermartabat.

Masalah pernikahan bukanlah perbuatan main-main, setelah akad nikah boleh melakukan apa saja, itu bukan ajaran islam, dan tidak pula tertutup kemungkinan untuk berpisah (thalaq), atau dapat rujuk kembali. Apa, bagaimana syarat yang harus dipenuhi dalam proses perpisahan tersebut apakah boleh atau apakah haram, berikut kita bahas.[10]

Penulis mengkhususkan pembahasan setelah ini dengan orientasi Akad Nikah dan Permasalahannya yang mempunyai komponen Rukun dan Syarat Nikah serta sebab putusnya pernikahan.

——————————————————————————

Catatan kaki :

[1]Pasal 39 ayat (2) huruf b Jo PP No. 9 Tahun 1975 pada pasal 19 huruf b dinyatakan; salah satu sebab atau alasan perceraian ialah salah satu pihak meninggalkan pihak lain selama dua (2) tahun berturut-turut tanpa izin pihak lain dan tanpa dasar yang sah. Dan inilah yang kemudian yang menjadi salah satu janji ta`liq thalaq hingga kini. (Al-Hikmah & DITBINBAPERA Islam, Mimbar Hukum; jurnal dua bulanan: aktualisasi Hukum Islam, (Jakarta : PT. Internusa, 1995), No. 21 tahun VI (juli-Agus), hal. 93.

[2]Pasal 2 ayat 1 undang-undang No. 1 tahun 1974 Menyatakan; bahwa perkawinan adalah sah apabila dilakukan menurut hukum agama dan kepercayaannya. Dengan pernyataan ini Hukum Islam menjadi hukum yang berdiri sendiri setara dengan hukum barat. Ibid. hal. 18. Tahun 1981 Menteri Kehakiman Ali Said menegaskan, “Hukum Islam merupakan salah satu komponen tata hukum di Indonesia dan menjadi salah satu sumber baku pembentukan hukum nasional, ini ditegaskan oleh Menteri Kehakiman Ismail Saleh (tahun 1989), “… karena mayoritas rakyak Indonesia memeluk agama Islam. Ibid. hal. 19.

[3]Kata “Ta`zîr”, secara bahasa berarti pengajaran, kebesaran, sedangkan secara istilah berarti hukuman yang bersifat pengajaran terhadap kesalahan-kesalahan yang tidak diancam hukum had (khusus), atau kejahatan-kejahatan yang sudah pasti ketentuan hukumnya, tetapi syarat-syaratnya tidak cukup (seperti tidak cukupnya empat orang saksi dalam kasus pidana). Hukuman ini diserahkan pada hakim atau penguasa. Dapat berubah sesuai dengan kemashlahatan.

[4]Ketentuan-ketentuan yang membuat batasan-batasan bagi mukallaf baik mengenai perbuatan, perkataan, dan i`tiqad mereka. Itulah kandungan hukum Islam.

[5]Muhammad sall Allâhu `alaihi wa sallam, adalah orang nomor satu dunia dalam sejarah peradaban manusia, beliau seorang pemimpin yang tangguh, tulen, dan efektif. Lihat Michail H. Hart, Seratus Tokoh yang Paling Berpengaruh dalam Sejarah, (Jakarta : PT. Dunia Pustaka Jaya, 1988), Cet. Ke-8. judul asli: The 100`s, a Ranking of The Most Influential Persons in History.

[6]Al-Bukhâriy, Shahih al-Bukhâri, (Bairut : Dâr al-Ihyâ’ al-Turâts al-`Arabiy, [tth]), Juz 7, h. 3

[7]Menurut bahasa kata Qudsi adalah dinisbatkan pada lafazh “al-Qudsu” atau “al-Qudusu”. Artinya suci dan bersih. Disebut juga hadits Ilahiy, dinisbatkan pada lafazh “al-Hilâhu”. Atau disebut juga hadits rabbaniy, dinisbatkan pada lafazh “al-Rabbu”. Menurut istilah sesuatu yang didasarkan dan di-isnadkan oleh Nabi shall Allâhu `alaihi wa sallam kepada Allâh, tapi bukan al-Qur’ân.

[8]Kecuali dalam ajaran Nasrani khususnya Rum katolik, yang menganggap hal tersebut suatu hal yang mulia, bahkan mencerminkan kesempurnaan agamanya (seperti yang dialami oleh Yesus hingga disalib dan Maryam yang tetap perawan). Dasar mereka adalah Injil Matius 19: 12, 27-29; Korintus 7: 32-33 dan Surat Paulus, Rum 12: 1 yang isinya: “karena itu, saudara-saudara demi kemurahan Allâh aku menasehati kamu, supaya kamu mempersembahkan tubuhmu sebagai persembahan hidup yang kudus dan berkenan kepada Allâh; itu adalah ibadahmu yang sejati.” (Lembaga Al-Kitab Indonesia, Al-Kitab, ( Jakarta: LAI, 1990), h. 203- PB, tapi sebagian mereka membolehkan. Yang menentang sikap celibat adalah Kristen Protestan, menganggap ini pernikahan sebagai sunnah Allâh. (lihat Abu Jamin Rohan, Garam Dunia, (Jakarta : Yayasan Garam Dunia, 2001), No. 180, Th. V, juga No. 181. Namun ajaran islam tidak mengajarkan pola hidup yang egois ini.

[9] Sayyid Sabiq, Fiqh Sunnah, (Jakarta : Kalam Mulia, 1991), Cet. II, Jil. 14, hal. 126

[10]Pernikahan bukanlah seperti disangkakan oleh orang Nasrani, yang tidak mengenal perpisahan setelah pernikahan terjadi. Dan juga tata aturan dan petunjuk tentang nikah bahkan tentang rumahpun tidak begitu jelas, hanya berupa simbol-simbol. Seperti yang tertuang dalam Matius 29: 6, “Demikianlah mereka bukan lagi dua, melainkan satu. Karena itu apa yang telah dipersatukan Allâh, tidak boleh diceraikan manusia. Ditambah lagi “Sebab seorang isteri telah terikat oleh hukum kepada suaminya itu (Roma 7: 2-3). Seperti itu juga sebelum masalah sebelum pernikahan atau dikenal dengan masa pertunangan, yang menurut ajaran Islam adalah masa penjajakan, pendekatan dan penilaian yang diawasi kedua belah pihak keluarga, agar tidak menyalahi aturan syari`at islam, karena dalam masa yang sensitif ini, belum tentu akan terlaksana pernikahan. Tapi Nasrani menganggap, “Dan siapa yang telah bertunangan (betrothed a wife = terikat nikah dengan seseorang), dengan seorang perempuan, tetapi belum mengawininya (hidup bersama) ia boleh pergi dan pulang ke rumahnya, supaya jangan ia mati dalam pertempuran dan orang lain mengawininya.” (Kitab Ulangan 20: 7).

Leave a Reply