PERPADUAN ADAT DAN SYARAK dalam budaya Minangkabau

Urgensi Ajaran Islam jelas tampak pada PERPADUAN ADAT DAN SYARAK dalam budaya Minangkabau.

Firman Allah menyatakan eksistensi kaum dan suku,
“ Hai manusia, sesungguhnya Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berkabilah-kabilah (bangsa-bangsa)dan berpuak-puak (suku-suku) supaya kamu saling kenal mengenal …”,
(QS.49, al Hujurat : 13).

Kehidupan dunia selalu berubah. Nabi Muhammad SAW memesankan bahwa “innaz-zaman qad istadara”, bahwa sesungguhnya zaman berubah masa berganti.

Kato pusako dalam adat Minangkabau menyebut,
“Pawang biduak nak rang Tiku,
Pandai mandayuang manalungkuik,
Basilang kayu dalam tungku,
Di sinan api mangko hiduik”.

Sebagai masyarakat beradat dengan adat bersendi syariat dan syariat yang bersendikan Kitabullah, maka kaedah-kaedah adat memberikan pelajaran strategi dalam penerapannya yang tampak pada ;
1. “Mengutamakan prinsip hidup keseimbangan” dan
2. “Kesadaran kepada bagaimana luasnya bumi Allah.”.

Allah telah menjadikan bumi mudah untuk digunakan.
Ditanamkan betapa pentingnya kehati-hatian,
“Ingek sa-balun kanai,
Kulimek sa-balun abih,
Ingek-ingek nan ka-pai,
Agak-agak nan ka-tingga”.

Dengan mengamalkan syariat Islam, maka orang Minangkabau memiliki jati diri, self help dengan tulang delapan kerat walau dengan memakai cara amat sederhana sekalipun “lebih terhormat”, daripada meminta-minta dan menjadi beban orang lain.

Membiarkan diri hidup dalam kemiskinan dengan tidak berusaha adalah salah.

“Kefakiran (kemiskinan) membawa orang kepada kekufuran (ke-engkaran)” (Hadist).

Maka wajib memerankan nilai-nilai tamaddun (madaniyah) dalam adat budaya Minangkabau, yakni adatnya bersendi kepada Syariat agama Islam dan Syariat bersendikan kepada Kitabullah (di-implementasi-kan sesuai Sunnah Rasulullah SAW), yakni aqidah tauhid, berakhlak karimah, beribadah dan bermualamah menurut syariat agama Islam …

Leave a Reply