Hiduplah Berbekal Taqwa, Kuatkan Iman kepada Allah Yang Maha Kuasa (Khutbah Idul Fitri 1434 H))

Pada 8 Agustus 2013/1 Syawwal 1434 yang lalu, Buya Mas’oed Abidin berkesempatan menyampaikan Khutbah ‘Ied di Air Tiris, Kecamatan Kampar, Bangkinang, Riau. Jika para jama’ah di sana berkesempatan mendengarkan khutbah ini secara langsung, maka kali ini kami mempersembahkannya dalam rangkaian kata dalam tulisan. Selamat menikmati…

Hidup akan hampa tanpa Iman kepada Allah Yang Maha Esa

Allah Subhanahu waTa’ala telah memberi kesempatan di pagi hari ini, untuk menumpahkan rasa gembira dan syukur kepada Allah Tuhan Yang Maha Esa dalam merayakan Idul Fitri. Id artinya kembali dan Fitri artinya “agama yang benar”. Fitrah berarti kesucian yang dirasakan dengan berlimpah nikmat dan kesempatan yang diberikan Allah Azza Wa Jalla dalam kehidupan ini. Suara nurani mengajak kita berdialog dengan Sang Pencipta, sehingga menyadari betapa lemahnya manusia di hadapan-Nya. Betapa kuasanya Sang Khalik Yang Agung Maha Perkasa.

Allahu akbar Allahu akbar wa lillahil hamd.
Allah Maha Besar dan baginya semua pujian.

Kalimat takbir dan tahmid itu terhunjam kedalam kalbu dan jiwa. Hilanglah segala kebergantungan kepada unsur kebendaan kecuali hanya kepada Allah semata. Inilah suatu demonstrasi menampakkan rasa cinta. Bukan demonstrasi menabur rasa benci. Rasa cinta kepada Allah Yang Maha Agung. Rasa cinta sesama hamba Allah Yang Maha Pengasih. Rasa cinta sesama penghuni bumi untuk meraih kasih sayang penghuni langit.
الرَّاحِمُوْنَ يَرْحَمُهُمُ الرَّحْمَنُ، اِرْحَمُوْا مَنْ فِي الأَرْضِ يَرْحَمْكُمُ اللهُ مَنْ فِى السَّمَاءِ (رواه أبوداود)

Karena ternyata, yang membina kasih sayang akan disayangi oleh Yang Maha Pengasih Maha Penyayang .., maka sayangilah sesama penduduk bumi agar menyayangi kamu pula apa yang ada dilangit. (HR.Abu Daud)

Hari ini adalah hari perpaduan. Berpadu antara rakyat dan pemerintah.
Perpaduan antara buruh dengan majikan. Perpaduan antara atasan dan bawahan. Perpaduan antara semua keluarga. Perpaduan tanpa membedabedakan antara satu dan lainnya. Sematamata karena mensyukuri nikmat Allah yang ada. Berpadu dalam mengumandangkan kalimat Allahu Akbar wa Lillahil hamd.

Berhimpunnya umat di pagi ini disaksikan Allah Azza wa Jalla. Kaya dan miskin sama bersujud kepada Allah. Menampakkan antara prajurit dan jenderal adalah sama disisi Allah Tuhan Yang Maha Esa. Sama sama hambaNya. Dan yang paling mulia disisi Allah ialah yang bertaqwa kepadaNya. Dihari ini umat membuktikan betapa kuatnya tali silaturahim dengan sikap maaf-memaafkan.

Firman Allah menegaskan tanda orang muttaqin adalah maaf memaafkan. “ .. (yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan mema’afkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.” (QS. Ali Imran ayat 134).

Silaturahim adalah perangai mulia penghuni dunia dan akhirat. Rasulullah SAW bersabda:
يا عقبة ألا أخبرك بأفضال الأخلاق أهل الدنيا و الآخرة؟ تصل من قطعك وتعطى من حرمك وتعفو عمن ظلمك
« Wahai ‘Uqbah, maukah engkau aku beritahukan akhlak penghuni dunia dan akhirat yang paling mulia? Yaitu: Menyambung silaturahim (hubungan kekeluargaan dan persaudaraan) dengan orang yang memutuskan hubungan silaturahimnya denganmu. Memberi kepada orang yang tidak mau atau tidak pernah memberimu. Memaafkan orang yang pernah menzhalimimu atau menganiayamu. » (H.R. Al-Hakim)

Allah SWT berfirman, « … dan janganlah orang-orang yang mempunyai kelebihan dan kelapangan di antara kamu bersumpah bahwa mereka (tidak) akan memberi (bantuan) kepada kaum kerabat (nya), orang-orang yang miskin dan orang-orang yang berhijrah pada jalan Allah, dan hendaklah mereka mema’afkan dan berlapang dada. Apakah kamu tidak ingin bahwa Allah mengampunimu? dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang ». (QS.an Nuur ayat 22).

Ayat ini berhubungan dengan sumpah Abu Bakar r.a. yang berjanji tidak akan memberi apa-apa kepada kerabat -nya ataupun orang lain yang terlibat dalam menyiarkan berita bohong tentang diri ‘Aisyah. Maka turunlah ayat ini melarang beliau melaksanakan sumpahnya itu dan menyuruh mema’afkan dan berlapang dada terhadap mereka sesudah mendapat hukuman atas perbuatan mereka itu semata karena mencari redha Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Allahu Akbar wa Lillahil hamd.

Inilah hari Idul Fitri yang kita lakukan sebagai suatu ibadah rutin tiap tahun guna mencapai kemurnian jiwa dan diikuti zakat fitrah untuk fakir miskin, agar dihari ini mereka ikut bergembira berhari raya.
أ غنوهم عن السوأل في هذ ا ليوم
Kayakan mereka para dhu’afak yang larat melarat itu dari kehinaan meminta minta di hari raya ini.
Agar sama dapat merasakan nikmat hari raya, dan tidak ada yang lapar lagi.

Allahu Akbar wa Lillahil hamd.

Kita sekarang tengah bersyukur. Syukur karena puasa Ramadhan ditahun ini telah selesai dikerjakan. Moga tiada kurang satu apapun. Bagaimanapun masa ini diantara kita mengeluh karena ekonomi sulit dan kehidupan payah. Bahkan diperparah oleh bertumpuknya musibah. Namun puasa berjalan terus. Lebih meriah dengan lantunan suara muazzin setiap saat waktu shalat masuk, dari puncak puncak menara masjid yang tinggi. Kumandangnya menembus awan gemawan biru, menjulang kelangit ketujuh. Sehingga seluruh isi langit pun tahu, bahwa di pulaupulau Nusantara Indonesia yang berserak kemilau penaka qith’ah minal jannah fil-ardhi — separti layaknya sepotong sorga yang terhampar di persada bumi ini –, yang dihuni oleh satu umat besar, pencinta Nabi Muhammad SAW yang tengah menyeruak kemelut hidup. Menyorakkan dengan lantang; “Tuhan kami adalah Allah, tiada bersyarikat DIA, dan untukNYA kami hidup dan kepadaNya pula kami akan kembali, dengan semua amal perbuatan nanti.
قُلْ إِنَّ صَلاَتِي وَ نُسُكِى وَ مَحَيَاىَ وَ مَمَاتِي ِللهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ – لاَ شَرِيْكَ لَهُ، وَ بِذَلِكَ أُمِرْتُ وَ أَنَا أَوَّلُ الْمُسْلِمِيْنَ
“ Katakanlah: Sesungguhnya sembahyangku, ibadatku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam. Tiada sekutu bagiNya; dan demikian itulah yang diperintahkan kepadaku dan aku adalah orang yang pertama-tama menyerahkan diri (kepada Allah)”. (QS.6, al An’am : 162-163).

Allahu Akbar Wa Lillahil hamd.

Pada 1 Syawal 1434 H ini, bagai ombak di lautan beralun bergelombang, umat berduyun-duyun menuju tempat shalat hari raya Idul Fitri, berbaris khusyuk merendah diri kehadapan Allah Ta’ala. Hapus semua keangkuhan sama mengumandangkan seruan Allahu Akbar … Hanya DIA Allah Yang Maha Besar, DIA Yang Maha Kuasa, Maha Agung. Maka yang paling utama di antara kamu adalah yang paling bertaqwa kepadaNYA. Sungguhlah amat besar rahmat dan nikmat dari Allah Azza wa Jalla.

Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allah Maha Besar, Allah Maha Agung, wa lillahil hamd.

Khusus bangsa Indonesia di tahun ini (1434H/2013M), syukur kita berlapis-lapis. Tidak berapa hari lagi kita semua merayakan Hari Kemerdekaan RI ke 68. Mengingatkan kita akan sejarah besar bangsa ini dengan Proklamasi Kemerdekaan RI, 17-08-1945 oleh Soekarno Hatta yang terjadi pada bulan Ramadhan pula. Masa itu kini berulang kembali. Berlapis syukur kita kepada Allah, dan kesyukuran itu wajib kita jaga dan pelihara.
وَ إِذْ تَأَذَّنَ رَبَّكُمْ لَئِنْ شَكَرْتُمْ َلأَزِيْدَنَّكُمْ وَ لَئِنْ كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيْدٌ
“dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), Maka sesungguhnya azab-Ku sangatlah pedih”. (QS. 14, Ibrahim : 7).

Bagi bangsa Indonesia, bulan ini menyimpan sejarah. Berabad lamanya negeri ini dijajah. Berbagai penderitaan dirasakan bangsa. Dari penindasan hingga pembuangan. Lama pula bangsa dikuasai paham tak bertuhan, atheis materialism. Berjibun penderitaan umat. Difitnah diadu domba sampai dikucilkan. Bersyukurlah kita ketika kekuatan cengkeraman itu hilang sirna karena kesatuan bangsa ini. Walau kini berganti dengan kebingungan karena meruyaknya penyakit korupsi. Dimanakah sebenarnya rahasia kekuatan kita ini? Adakah pada senjata bedil meriam dan kapal perang? Sama sekali tidak. Kalau hendak mengaji rahasia kekuatan ini lebih mendalam, lihatlah kedalam bathin. Tengoklah kedalam jiwa bangsa yang kokoh. Kekuatan kesatuan yang berurat berakar pada cinta negeri dan tanah air. Kekuatan yang lahir karena mahabbah, kecintan dan keyakinan kepada Keesaan Allah Yang Maha Kuasa.Kita kuat karena kuatnya Iman dan akidah kita.

Allahu Akbar wa Lillahil hamd.

Ingatlah sejak 1400 tahun yang lalu, gema Al-Quran telah sampai kenegeri ini. Nenek moyang kita sejak beratus tahun, walau tidak pernah bertemu dengan Rasulullah Saw, namun mereka telah menyatakan iman pada ajaran Nabi Muhammad itu.
طُوْ بَي لِمَنْ يَرَانِى وَأمَنَ بِي , ثُمَّ طُوْ بَي لِمَنْ أمَنَ وَ لَمْ يَرَانِى
“Berbahagialah orang orang yang telah sempat melihat wajahku, lalu ia beriman kepada ku (Muhammad SAW); tetapi lebih berbahagia lagi (7x) bagi barangsiapa yang beriman kepadaku, padahal dia belum pernah melihat wajahku”.

Hadist ini diucapkan Rasulullah Saw di hadapan para sahabat termasuk Abu Bakar, Umar, Utsman, Ali dan sahabat utama lainnya. Baginda ingatkan bahwa kelak nun di tempat yang jauh, setelah Beliau meninggalkan dunia ini, akan ada umat mengimani ajaran Islam. Mengerjakan perintah dan menghentikan larangan, walaupun umat itu tidak pernah bertemu wajah dengan Beliau. Itulah kita sekarang disini. Bertakbir, menunaikan zakat fitrah, dan shalat idul fithri. Berbaris menyusun shaaf mengerjakan shalat dengan merendahkan diri kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Semata mengikuti ajaran dan sunnah Rasulullah Saw.

Kita ini umat Muhammad yang tidak dapat melihat wajah Beliau. Tetapi kita mencintai Rasulullah sebagaimana umat dan sahabat Beliau terdahulu mencintai Rasulullah Saw. Walau amalan kita masih kurang dibanding umat terdahulu, namun kita tetap mencintai Muhammad Rasulullah Saw. Insyaallah kita akan berjumpa Rasulullah saw;
فَإِ نَّ مَوْ عِدَ هُمُ الْحُوْ ضُ
Disana kelak kita akan berjumpa. Di pinggir telaga bernama “al Haudh”. Dipinggir jalan menuju sorga. Ketika orang bertanya bagaimana Beliau akan dapat menandai umat yang banyak laksana buih di laut atau seperti pasir di pantai, triliunan jumlahnya dari zaman ke zaman. Beliau jawab, bahwa “aku dapat mengenali mereka, sebab si maa hum fii wujuhihim min atsaris-sujuud. Ada tanda pada wajah mereka. Tanda bekas sujud kepada Tuhan Allah Yang Kuasa. Allahu Akbar wa Lillahil hamd.

Ajaran Nabi Muhammad adalah tauhid dengan akhlak mulia masuk kedalam perilaku dan budaya anak bangsa di negeri ini. Akhlak itu menjadi bukti dari keimanan yang menjadikan bangsa ini bersatu dalam kerukunan dan persaudaraan.

Akhlak menjadi bukti keimanan sempurna.
أَكْمَلُ الْمُؤْمِنِيْنِ إِيْمَانا أَحْسَنُهُمْ خُلُقًا، اَلْمُوَطِؤُّوْنَ أَكْنَافًا، الذِين يَألَّفُوْن و يُؤْلَفُوْنَ (رواه الطبراني و أبو نعيم)
Sesempurna iman seorang mukmin itu adalah yang paling baik (ahsan) akhlaknya, yang saling melindungi, saling peduli berbagi dan bersatu serta menyatukan. (HR. ath-Thabarany dan Abu Nu’aim)

Keunggulan Mukmin itu ada pada teguhnya iman.
Islam tidak bangga dengan banyak bilangan tetapi tidak berkualitas.

Rasulullah bersabda ;
تَدَاعَى عَلَيْكُمُ اْلأُمَمُ كَمَا تَدَاعَى اْلأُكُلَهُ عَلَى قَصْعَتِهَا. قَلُوْا : أَوَمِنْ قِلَّةٍ فِيْنَا يَا رَسُوْلَ اللَّهِ, قَالَ بَلْ أَنْتُمْ كَثِيْرٌ غُثَاءٌ كَغُثَاءِ الْسَّيْلِ. وَلَيَنْزِغَنَّ اللّهُ تَعَلى مِنْ قُلُوْبِ عَدُوِّكُمُ الْمَهَابَةََ مِنْكُمْ وَلَيُرْزِقَنَّكُمُ الْوَهْنَ. قَالُوْا وَمَاالْوَهْنُ يَا رَسُولَ اللّهِ ؟ قَالَ صلعم حُبُّ الدُّ نْيَآ وَكَرَاهِيَّةُ الْمَوْتِ. (رواه الْلإمام أحمد)
“Menyeru kepadamu musuh laksana serbuan semut lelatu memakan kayu mumuk. Lalu orang bertanya ; “Apakah karena kita sedikit pada waktu itu, Ya Rasulullah? Beliau menjawab; “Bahkan kamu pada waktu itu banyak sekali, tetapi laksana buihnya air bah waktu banjir saja. Telah dicabut oleh Allah Ta’ala dari hati musuh-musuh kamu “rasa segan” kepada kamu dan kamu kian lama kian lemah. Lalu mereka bertanya lagi; “Apakah penyebab kami jadi lemah, Ya Rasulullah?” Beliau menjawab; “Karena cintamu telah lekat kepada dunia dan kamupun menjadi takut akan mati”. (HR.Imam Ahmad).

Demikianlah keadaan kita kini. Bilangan kita banyak. Nilai tidak ada. Menjadi budak hawa nafsu. Berlomba mengejar kekayaan, walaupun tidak halal. Korupsi terjadi di manamana. Kita kehilangan agama dan kehilangan budi, penyebab datangnya bencana.
Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala mengingatkan, “Dan apabila Kami telah bermaksud hendak merusakkan suatu negeri, maka Kami beri kuasalah orang orang yang ingin hidup mewah, lalu mereka membuat fasiq dan durhaka padanya. Lantaran itu pastilah berlaku pada mereka kehendak Tuhan, lalu Kami hancurkanlah mereka sehancur-hancurnya.” (QS.Al Isra’:16).

Islam adalah agama yang mewajibkan kita beramar ma’ruf bernahyi munkar. Mewajibkan kita menyeru dan mengajak berbuat yang baik. Melarang dari berbuat jahat. Dasar hidup muslim adalah Tauhid. Menyerahkan segenap kepercayaan kepada Allah Azza wa Jalla. Kepercayaan ini menempatkan takut hanyalah kepada Dia. Sehingga terasa tanggung jawab besar dalam menegakkan kebenaran dan menolak segala perbuatan munkar. “Barangsiapa diantara kamu ada melihat sesuatu perbuatan yang munkar, hendaklah tegur dengan tangannya. Jika tidak sanggup menegur dengan tangan, hendaklah tegur dengan lidahnya dan jika tidak sanggup pula menegur dengan lidah, hendaklah dengan hati. Tetapi dengan hati itu adalah yang selemah lemah iman.”.

Inilah yang terjadi. Hilang keberanian menegur dan menyatakan suatu perbuatan itu salah. Tidak berani karena lidah sudah terhimpit. Tinggal hanya mengeluh dalam hati. Inilah iman yang lemah. Kalimat Tauhid tidak berdaulat lagi dalam hati. Bahkan umat muslimin yang jumlahnya banyak makin terjauh dari nilai nilai Islam yang luhur. Maka tiada lain upaya yang tersisa adalah kembali “menegakkan Iman” dari diri dan keluarga serta lingkungan agar kemulian Muslim tidak hilang dari negeri ini.

Allahu Akbar Wa Lillahil Hamd.

Wahai kaum Muslimin. Tidak ada satu perjuangan dalam dunia ini yang tidak menghadapi kesukaran. Tidak ada seorang Nabi dan Rasul pun yang tidak menempuh penderitaan. Namun tujuan mereka tidak pernah berubah karena penderitaan itu. Percaya kepada Allah dan beriman kepada Nya adalah pangkal segala nur dan kekuatan. “ Allah semata pelindung bagi orang-orang yang beriman; Dia mengeluarkan mereka dari kegelapan (kekafiran) kepada cahaya (iman). Dan orang-orang yang kafir, pelindung-nya ialah syaitan, yang mengeluarkan mereka daripada cahaya kepada kegelapan (kekafiran). Mereka itu adalah penghuni neraka. Mereka kekal di dalamnya.” (QS.AlBaqarah:257).

Kekuatan Allah muthlak melebihi segala kekuasaan dalam alam ini. Kekuasaan manusia amat terbatas. Rencana manusia dapat digagalkan oleh rencana Allah. Kekuasaan Firaun dihadapi Musa tidak dengan peperangan. Tidak ada senjata pada Nabi Musa.Kejatuhan Firaun adalah karena tenggelam di tengah laut. Nabi Musa sendiri pun tidak akan berdaya membuat balasan seperti itu. Kejadian itu semata karena kekuasaan Allah Azza wa Jalla. Inilah rahasia doa Rasulullah Saw ketika berada dalam penganiayaan manusia di Thaif, … “Ya Tuhanku, saya ini lemah, maka kuatkanlah; Saya ini rendah maka muliakanlah; Saya ini miskin, maka kayakanlah saya.”

Allahu Akbar wa lillahil hamd.

Oleh sebab itu wahai kaum Muslimin, hendaklah kita berjihad memperkuat iman dan keyakinan kita akan kekuasaan Allah Yang Maha Kaya. Jihad bukanlah semata-mata berkelahi. Tetapi arti jihad adalah kerja keras memperdalam iman, memperteguh keyakinan. Imam Ibnu Taiymiyah didalam Kitab Zaadul Ma’ad membagi jihad kepada empat perkara. Jihad yang paling ringan, adalah menghadapi musuh di medan perang. Jihad yang lebih besar dari itu ialah menghadapi orang munafik. Jihad ketiga yang lebih besar ialah jihad melawan setan iblis yang hendak membelokkan jalan hidup kepada yang salah. Dan jihad yang paling dahsyat ialah melawan diri sendiri. Memerangi kehendak nafsu. Memerangi sifat pengecut dan pemalas. Memerangi loba tamak dan sikap menipu yang melahirkan korupsi. Semuanya ada dalam diri masing-masing. Kita wajib menentangnya. Agar pergaulan hidup selamat. Agar Negara kita aman sejahtera. Agar kita kelak dapat berjalan di atas Shiratal Mustaqim dengan selamat.Maka kalau tauhid telah pecah, harga diri kita tidak ada lagi.

Allahu Akbar wa Lillahil hamd.

Orang Islam yang mempunyai kesadaran penuh dengan agamanya, yang mendalam kesadaran tauhidnya, tidaklah dia akan merasa enggan untuk melawan nafsu syaithaniyah yang bersemayam dalam dirinya. Orang bertauhid tetap tegak pada pendirian yang benar atas dasar Laa ilaaha Illa Allah. Tidak ada yang benar melainkan kebenaran Allah. Tidak ada yang ditakuti melainkan hanya Allah. Allahu Akbar wa lillahil hamd. Bahkan orang yang bertauhid tidak akan pernah takut menghadapi maut yang pasti akan dating menjelang. Sebab maut bagi orang yang beriman adalah Liqaa Allah. Pertemuan dengan Allah. Berjumpa dengan kekasih yang Maha Kasih. Itulah puncak cinta seorang Mukmin. Orang yang teguh imannya kepada Allah, akan berarti dalam hidupnya walaupun jumlahnya sedikit. Merekalah pemenang. “Berapa banyak terjadi golongan yang sedikit dapat mengalahkan golongan yang banyak dengan izin Allah. dan Allah beserta orang-orang yang sabar.” (QS.al Baqarah :249).

Allahu Akbar wa lillahil hamd.

Dihari yang mulia ini kita ucapkan Minal ‘Aidin wal Faizin yang terangkai dari kata ‘Aidin adalah bentuk pelaku Id. Dan Al Faizin adalah bentuk jamak dari Faiz yang berarti orang yang beruntung. Kita telah melalui Ramadhan yang penuh dengan rahmat Allah. Maghfirah Allah dan itqun minannar. Kita telah lalui Ramadhan dengan melaksanakan puasa yang dilandasi keimanan yang murni dan ikhlas lillahi ta’ala. Untuk menyempurnakan keimanan dan kematangan taqwa kita lakukan puasa sebagai amalan ritual vertikal kita kepada Allah (Hablun Minallah). Kini kita sempumakan dengan melakukan amal horizontal kita sesama manusia (Hablun Minannas). Mustahil keimanan dan ketaqwaan dapat dicapai jikalau urusan kita sesama manusia belum beres. Bagaimana mungkin kita dapat dikatakan termasuk orang-orang yang bertaqwa bila dalam hati masih dihinggapi berbagai penyakit hati itu. Tiada yang kita harapkan selain derajat taqwa yang dijanjikan Allah bagi hamba-Nya yang mau menggapainya. Sesungguhnya orang yang bertaqwalah yang paling mulia disisi Rabbul ‘Izzah, Allah SWT.

Allahu Akbar wa lillahil hamd.

Itulah Khutbah yang dapat saya berikan pada hari yang berbahagia ini. Terutama saya tujukan kepada diri saya sendiri dan kepada saudara saudaraku kaum muslimin semoga tetap menjadi orang bertauhid yang selalu berdiri pada kebenaran, walaupun dia akan tinggal sendirian. Orang bertauhid akan tetap saja berani mengatakan yang benar itu benar, dan menyatakan yang salah itu adalah salah. Walau senjata yang ada padanya hanyalah lidah dengan kekuatan Iman. Orang bertauhid hidup terus, walaupun telah hancur tulang belulangnya dalam kubur. Sedangkan orang musyrik, berarti telah mati, walaupun tampaknya dia berjalan berkeliaran di tengah-tengah masyarakat.

Rasulullah SAW berpesan kepada kita semua melalui hadits :
إياكم والظن فإن الظن أكذب الحديث ولا تجسسوا ولا تنافسوا ولا تحاسدوا ولا تباغضوا ولا تدابروا وكونوا عباد الله إخوانا
“Jauhilah oleh kalian akan dzan (prasangka), karena prasangka itu adalah dusta yang amat besar. Janganlah kalian mencari kesalahan orang lain, jangan pula mencari-cari aib (keburukan) orang lain, janganlah pula kalian bersaing (dengan tidak sehat), janganlah kalian saling iri dan dengki, jangan saling benci, jangan saling bermusuhan, dan jadilah hamba-hamba Allah yang bersaudara.” (H.R. At Tirmizi).

اللٌه أكبر اللٌه أكبر اللٌه أكبر اللٌه أكبر اللٌه أكبر اللٌه أكبر, اللٌه أكبرولله الحمد.. اللٌه أكبركبيرًا والحمد لله كثيرًا وسبحان الله بكرةً وأصيلآ. الْحمدُ لله الذي وَفَّقَنَا لإِتْمَامِ الشَّهْرِ الصِّيَامِ رمضان وَأَعَانَنَا عَلَى الْقِيَامِ لَيلِه. وَجَعَلَنَا خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ للنَّسِ. أَحْمَدُهُ عَلَى تَوْفِقِهِ وَهِدَايَتِهِ. أشهدُ أن لآإِله إللهُ وَحدهُ لآشريكَ لَهُ الْمَلِكُ الْحَقُّ الْمُبِيْنَ. وَأشهدُ أنَّ سَيِّدِنَا ونَبِيَّنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ ورَسُولُهُ خَاتَمُ النَّبِيِّيْنَ

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَأَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ حَقُّ الْمُسْلِمِ عَلَى الْمُسْلِمِ سِتٌّ قِيلَ مَا هُنَّ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ إِذَا لَقِيتَهُ فَسَلِّمْ عَلَيْهِ وَإِذَا دَعَاكَ فَأَجِبْهُ وَإِذَا اسْتَنْصَحَكَ فَانْصَحْ لَهُ وَإِذَا عَطَسَ فَحَمِدَ اللَّهَ فَسَمِّتْهُ وَإِذَا مَرِضَ فَعُدْهُ وَإِذَا مَاتَ فَاتَّبِعْهُ
Dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu, Rasulullah shalla-Allahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Kewajiban seorang muslim atas muslim yang lain ada enam.” Lalu ada yang bertanya, “Apa itu ya Rasulullah.” Maka beliau menjawab ; “Apabila kamu bertemu dengannya maka ucapkanlah salam kepadanya. Apabila dia mengundangmu maka penuhilah undangannya. Apabila dia meminta nasehat kepadamu maka berilah nasehat kepadanya. Apabila dia bersin lalu memuji Allah maka doakanlah dia — dengan bacaan yarhamukallah —. Apabila dia sakit maka jenguklah dia, dan apabila dia meninggal maka iringilah jenazahnya.” (HR. Muslim).

اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَ المُؤْمِنَاتِ وَ المُسْلِمِيْنَ وَ اْلمُسْلِمَاتِ، اَلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَ اْلأَمْوَاتِ. رَبَّنَا اغْفِرْلَنَا وَِلإِخْوَانِنَا الَّذِيْنَ سَبَقُوْنَا بِاْلإِيـْـمَانِ وَلاَ تَجْعَلْ فيِ قُلُوْبِنَا غِلاًّ لِلَّذِيْنَ آمَنُوْا رَبَّنَا إِنَّكَ رَءُوْفٌ
رَحِيْمٌ

اللَّهُمَّ اصْلِحْ لَنَا دِيْنَنَا الَّذِي هُوَ عِصْمَةُ أَمْرِنَا، وَ اصْلِحْ لَنَا دُنْيَانَا الَّتيِ فِيْهَا مَعَاشِنَا، وَ اصْلِحْ لَنَا آخِرَتِنَا الَّتيِ إِلَيْهَا مَعَادُنَا، وَ اجْعَلِ اْلحَيَاةَ زِيَادَةً لَنَا فيِ كُلِّ خَيْرٍ، وَاجْعَلِ المَوْتَ رَاحَةً لَنَا مِنْ كُلِّ سَرٍ، رَبَّنَا آتِنَا فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَ فِى الآخِرَةِ حَسَنَةً وَ قِنَا عَذَابَ النَّارِ. رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّا إِنَّكَ أَنْتَ السَّمِيْعُ العَلِيْمِ وَ تبُ ْعَلَيْنَا إِنَّكَ أَنْتَ التَّوَّابُ الرَّحِيْمِ. سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ العِزَّةِ عَمَّا يَصِفُوْنَ وَ سَلاَمُ عَلَى الْمُرْسَلِيْنَ وَ اْلحَمْدُ للهِ رَبِّ العَالَمِيْنَ. وَ لَذِكْرُ اللهِ أَ ْكـبَرُ

Wassalamu’alaikum wa rahmatullahi wa barakatuh.

Leave a Reply