Umat Islam dan Kristen Harus Saling Menghormati

Toleransi beragama seringkali banyak disalahartikan oleh beberapa pihak. Baik itu dari kalangan ekstrem kanan yang menolak toleransi sama sekali hingga ekstrem kiri yang ingin menghilangkan batas-batas antar agama. Bagaimanakah Islam memandang toleransi antar umat beragama? Dalam reportase ini, kami akan menyajikan pandangan Buya Mas’oed Abidin yang dipublikasikan oleh GATRA pada tahun 2000 yang lalu, ┬ádimana ketika itu perayaan Idul Fitri beriringan dengan Natal.

 

Umat Islam dan Kristen Harus Saling Menghormati

Jakarta, 24 Desember 2000 12:05

Tokoh Ulama Sumbar, Buya H. Mas’oed Abidin menegaskan, kerukunan dan toleransi antar umat beragama dalam menyikapi kedatangan hari raya besar Islam (Idul Fitri) dan Kristen (Natal) jangan disalah artikan dengan cara saling mengunjungi ibadah pada tempat suci antar umat berbeda agama.

“Namun harus ditunjukkan dengan sikap nyata untuk menciptakan suasana saling menghormati yang pada gilirannya menciptakan suasana batiniah yang tenang, nyaman dan damai bagi masing-masing umat untuk menjalankan ibadah dengan khusuk,” ujarnya di Padang, Minggu.Ia menekankan perilaku toleransi jangan disalahartikan bahwa umat Islam ikut ke Gereja saat Natal, atau sebaliknya umat Kristiani ikut ke Masjid saat Idul Fitri, karena jika hal ini dilakukan berarti kita telah mencampuradukkan ibadah antar agama.

“Dalam ajaran Islam setiap perilaku mencampuradukkan ibadah antar agama harus dijauhi, karena dilarang Allah sebagaimana yang tersurat dan tersirat dalam kitab suci Alqur’an” ujarnya.

Buya Mas’oed Abidin mengatakan merasa perlu memberikan penekanan sehubungan kedatangan dua hari raya besar keagamaan yang hampir bersamaan dalam tahun ini yakni Natal yang jatuh pada 25 Desember dan Idul Fitri pada 27 dan 28 Desember 2000.

Menurut dia, toleransi itu perlu diwujudkan dengan cara umat Islam menjaga keamanan dan ketertiban lingkungannya disaat umat Kristiani menjalankan ibadah di hari Natal, sehingga mereka bisa merayakan Natal dengan baik sesuai ajaran agamanya.

Begitu pula pada hari raya Idul Fitri, toleransi umat Kristen juga bisa diwujudkan dengan ikut menjaga keamanan dan ketertiban lingkungan agar umat Islam bisa beribadah dengan khusuk.

Ia menjelaskan, apabila ibadah Natal dan Idul Fitri telahdilaksanakan dengan khusuk oleh masing-masing umat, maka barulah dilakukan silaturrahmi dengan saling mengunjungi untuk bersalaman sekaligus menyampaikan permohonan maaf.

“Tetapi silaturrahmi antar umat berbeda agama tidak dilakukan tepat pada saat ibadah Natal dan Idul Fitri,” ujar Wakil Ketua Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia (DDII) Sumbar itu.

Jika telah selesai melaksanakan ibadah hari raya masing-masing, silahkan saling bersilaturrahmi sebagi wujud kerukunan antar umat beragama, tambahnya.

Menurut dia, hikmah yang bisa dipetik dari kedatangan dua hari raya besar keagamaan tersebut, adalah bagaimana setiap umat berbeda agama bisa “pandai-pandai” menjaga diri dan dan tetap melaksanakan perintah agamanya masing-masing.

“Jadi umat Islam harus teguh dengan ibadahnya tanpa harus menghadiri ibadah Natal, dan begitu pula sebaliknya bagi umat Kristen tidak perlu menghadiri ibadah Idul Fitri,” tambahnya.

 

Leave a Reply