Ramadhan Memupuk Solidaritas Sesama

Oleh : Mas’oed Abidin

 

 Padang Ekspres • Kamis, 11/07/2013 12:09 WIB 

Mas’oed Abidin

Alhamdulillah Ramadhan di tahun 1434 H ini telah tiba. “Ya Allah kami telah dinaungi bulan Ramadhan, bulan Ra mad han telah tiba. Maka se rah kanlah ia bagi kami, dan serahkanlah kami ba gi nya. Dan kurniakanlah kami dalam bulan ini ke sungguhan, kerajinan dan motivasi yang tinggi. Lin dungilah kami dalam bu lan ini daripada berbagai cabaran dan fitnah.”

 

Ramadhan memiliki banyak julukan. Di antaranya berjulukan Bulan Keampunan dan Bulan Berlapang-lapang. Dalam upaya mendorong umat meraih keampunan Allah di bulan Ramadhan Mubarak ini ditemui pesan Rasulullah SAW yang maksudnya, ”Barang siapa berpuasa Ramadhan dengan dasar iman dan ihtisab, niscaya diampunkan dosa-dosanya terdahulu.”

 

Ada beberapa kaedah pendekatan memandu kita mencapai derajat kehati-hatian ibadah puasa Ramadhan untuk meraih maqam ihtisab itu. Antara lain hendaklah selalu bergiat dengan amalan yang baik agar bulan Ramadhan Mubarak dapat memberi peluang emas melakukan muhasabah terhadap amalan ibadah selama ini. Melalui ibadah di bulan Ramadhan dapat disimak perjalanan ibadah dalam kehidupan kita semua dan menyadari semasa merasakan “lapar” karena “menahan” dalam melaksanakan ibadah puasa, bahwa sesungguhnya kita makhluk yang lemah. Kita tidak akan mendapatkan berbagai makanan dan minuman serta nikmat yang ada di tangan sekarang ini, apabila bukan Allah Subhanahu wa Ta’ala yang memberikannya. Maka bergiatlah agar tetap memberi makanan untuk orang yang berbuka puasa. Keuntungannya amat besar dari sisi Allah Azza wa Jalla.

 

Bentuklah diri menjadi hamba Allah yang bersyukur. Keluarkan infak dan zakat dengan teratur. Jauhilah sifat “mubazir” dalam perbelanjaan, makan-minum, dan lain-lain di dalam bulan Ramadhan ini. Perbuatan mubazir adalah satu perbuatan yang amat dibenci oleh Allah karena mubazir itu perbuatan setan. Perilaku mubazir mengurangi amalan sedekah. Padahal, amalan sedekah akan mendapat ganjaran pahala yang besar dari sisi Allah Azza wa Jalla. Sedekah dan peduli sesama akan membuka berpuluh-puluh pintu kebaikan dan rezeki.

 

Hindari berlebih-lebihan dalam hal menyediakan makanan berbuka maupun sahur. Perbuatan berlebihan akan membuat ahli keluarga sibuk. Mereka akan kehilangan peluang di bulan Ramadhan untuk memperbanyak tilawah Al Quran. Tentulah pula masa keemasan Ramadhan akan hilang lenyap tanpa bekas dalam jiwa dan pembinaan karakter dengan shaum Ramadhan.

 

Kadar umat Islam meluncur disebabkan wabah “kemelaratan” dan “kebodohan” yang membelit kebiasaan meniru tanpa memilah bentuk yang ditiru dalam kerangka pikiran, pandangan, dan polah tingkah yang mewarnai fenomena kehidupan kekinian. Maka bergiatlah membimbing orang-orang di bawah penjagaan kita ke arah yang bermanfaat buat mereka dalam hal agama. Mereka akan lebih mudah menerima bimbingan dari orang yang menjaganya dibanding bimbingan dari orang lain.

 

Bercita-citalah dengan teguh hati melanjutkan kebiasaan baik di dalam bulan Ramadhan. Berharaplah meneruskan kebiasaan baik itu sesudah bulan Ramadhan meninggalkan kita. Masih banyak kesempatan berpuasa sunat di luar Ramadhan. Hendaknya mengambil iktibar bahwa peredaran waktu mengingatkan kita semua bahwa usia ini semakin berkurang. Maka pergunakanlah masa beristighfar di dalam bulan Ramadhan Mubarak ini.

 

Selanjutnya, tekunlah menunaikan shalat fardhu dan shalat sunat (Tarawih) berjamaah. Meramaikan masjid di mana pun kita berada. Ingatlah sabda Rasulullah SAW, “Sesiapa saja  shalat (berjamaah) bersama imam (lalu ditunggunya), sehingga imam beredar (beringsut dari tempat duduknya), niscaya akan ditulis baginya ganjaran beribadah satu malam”. Biasakan lidah untuk berzikir terus-menerus. Hindarilah diri tergolong ke dalam kategori orang-orang yang tidak mau berzikir. Pahamilah bahwa bulan Ramadhan adalah bulan ibadah dan beramal. Ramadhan bukan bulan untuk tidur dan bermalas-malasan.

 

Lakukan muhasabah dalam segala urusan. Terutama memelihara shalat berjamaah, menunaikan zakat, hubungan silaturahmi, berbakti kepada kedua ibu-bapak, memberi perhatian terhadap jiran tetangga, memaafkan orang-orang yang ada hubungan perselisihan dengan kita, menghindarkan diri dari perbuatan mubazir, mendidik orang yang di bawah tanggung jawab kita, mengambil perhatian yang sungguh-sungguh terhadap kehidupan sesama muslim, tidak menggunakan jabatan dan kepercayaan umat untuk kepentingan diri sendiri, tumbuhkan kerinduan dan perasaan gembira terhadap nasihat dan tunjuk ajar ke arah kebaikan, menjauhi sifat ria, mencintai saudara atau teman sejawat seperti mana sikap mencintai terhadap diri  sendiri, sentiasa berusaha untuk islah yakni menyelesaikan hubungan yang retak, menajauhighibah (gunjing), memperbanyak tilawah Al Quran, merenungkan maknanya, dan khusyuk semasa mendengarkan Kalamullah.

 

Berupayalah menjadi hamba yang disayangi Allah. Sabda Rasulullah SAW, “Apabila Allah mencintai si hamba, Allah berfirman menyeru Jibril, ’Wahai Jibril Aku telah mencintai si polan, maka kamu hendaklah mencintainya pula’. Lantas Jibril berseru di langit, ’Sesungguhnya Allah mencintai si polan, oleh itu kamu hendaklah mencintainya.’ Jika si hamba telah dicintai penghuni langit, penduduk bumi pun akan turut mencintainya.” (HR Imam Ahmad). Insya Allah bimbingan tersebut akan memudahkan meraih puasa yang“ihtisab” sehingga “ghufira lahuu maa taqaddama min dzanbihi”, yakni diampuni dosa-dosa terdahulu. Semoga kita mampu mengamalkannya. (*)

Leave a Reply