MEMUNGSIKAN SURAU MENGHIDUPKAN UMAT

Oleh Masoed Abidin

Agama Islam juga mendorong agar Tawakkal dengan  bekerja dan tidak borosTawakkal, bukan “hanya menyerahkan nasib” dengan tidak berbuat apa-apa, Bertawakkal lah kamu, seperti burung itu bertawakkal (Atsar dari Shahabat). Umat pun mesti diajarkan memiliki kesadaran kepada ruang dan waktu. Peredaran bumi, bulan dan matahari, menanamkan kearifan adanya perubahan. Yang perlu dijaga ialah supaya dalam segala sesuatu harus pandai mengendalikan diri. Agar jangan melewati batas, dan berlebihan. Artinya bekerja sepenuh hati, dengan mengerahkan semua potensi yang ada.

Di dalam kearifan local di Minangkabau fungsi masjid disebutkan, “Musajik tampek ba ibadah,tampek balapa ba ma’ana, tampek balaja al Quran 30 juz, tampek mangaji sah jo batal”. Dari surau atau masjid disauk hikmah dan kepandaian-kepandaian hidup mengarungi dunia fana ini guna mempersiapkan hidup abadi di akhirat. Artinya surau atau masjid dibangun jalinan kuat hubungan bermasyarakat yang baik (hablum-minan-naas) dan ibadah dengan Khalik (hablum minallah).

Masjid (surau) menjadi lambang utama terlaksananya hukum. Keberadaannya tidak dapat dipisah dari denyut nadi kehidupan masyarakat. Masjid yang berperan sempurna mendorong kehidupan masyarakat kelilingnya berakhlaqul-karimah sebagai buah dari tauhid dan ibadah.

Firman Allah menjelaskan peran masjid, “dan Sesungguhnya mesjid-mesjid itu adalah kepunyaan Allah. Maka janganlah kamu menyembah seseorangpun di dalamnya di samping (menyembah) Allah. Dan bahwasanya tatkala hamba Allah (Muhammad) berdiri menyembah-Nya (mengerjakan ibadat), hampir saja jin-jin itu desak mendesak mengerumuninya.” (QS.72, al Jin ayat 18-19).

Gambar

Tata ruang menetapkan posisi pengaturan dan jamaah.

Masjid atau surau di Sumatera Barat mempunyai sistim pengelolaan (manajemen) sendiri secara transparan. Masjid juga memiliki asset sendiri, wilayah kerja sendiri ditunjang oleh sumber penghasilan sendiri dari jamaahnya yang terikat aturan dan norma sendiri.

Mengelola masjid di titik beratkan kepada mehidupkan manhaj Islami dengan kebersamaan jamaah atau kegotongroyongan. Kembali Ba-Surau ditengah perubahan global mestinya dimaknai membangun kekuatan menghidupkan kemandirian sesuai kearifan local dan kecerdasan local yang menjadi kekayaan di daerah ini.

Mengelola masjid adalah melakukan penguatan umat  dengan mengedepankan kesepakatan antar berbagai komponen masyarakat dengan spirit keterpaduan dan saling mendukung bagi tatanan kehidupan. Pengelolaan masjid mesti dihindar dari melewati batas-batas yang patut dan pantas. Mengelola masjid adalah satu bentuk persembahan manusia kepada Maha Pencipta sebagai bukti adanya keseimbangan antara kemajuan di bidang rohani dan jasmani. Hasilnya tergantung kepada sikap hidup bertuhan dan bertauhid yang terhunjam dalam jiwa masyarakat sesuai tingkat kecerdasan yang dicapai.

Gambar

Mengelola Masjid berarti tetap menjadikannya pusat pembinaan umat.

Masjid mesti menjadi salah satu jenjang melaksanakan prinsip musyawarah sebagai pondasi utama adat istiadat Islami mencari redha Allah. Menjaga perinsip musyawarah atas dasar keimanan kepada Allah SWT dan  kecintaan lingkungan tidak boleh terlupakan. Manajeman Masjid bermula dari kesediaan merujuk kepadahukum dan norma yang berlaku.

Langkah Penting Mengelola Masjid adalah menguasai informasi substansial dengan menerapkan keterbukaan dan jujur mencakup keuangan sehingga kepercayaan umat tetap terjaga. Memperkuat kesatuan dan persatuan di nagari-nagari. Muaranya adalah ketahanan masyarakat yang dibangun dari keyakinan iman kepada Allah serta kuatnya ibadah.

Masalah ekonomi dan kemajuan pendidikan tidak boleh dilupakan. Generasi kedepan selalu dapat dibangun melalui pendidikan dan keteguhan perinsip keyakinan iman kepada Allah Yang Maha Kuasa.

Dari sisi ini akan ditumbuhkan kekuatan rohani pemimpin bangsa masa dating. Insyaallah.***

Leave a Reply